Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Gairah Duda Sewaan

Gairah Duda Sewaan

Delisa | Bersambung
Jumlah kata
29.1K
Popular
1.4K
Subscribe
354
Novel / Gairah Duda Sewaan
Gairah Duda Sewaan

Gairah Duda Sewaan

Delisa| Bersambung
Jumlah Kata
29.1K
Popular
1.4K
Subscribe
354
Sinopsis
PerkotaanSlice of life21+HaremKonglomerat
Tawaran menggiurkan nyata di hadapan Juna dengan konsekuensi harga dirinya jatuh diinjak Rega. Diiming-imingi imbalan uang ratusan juta rupiah, Juna harus berhasil menghamili Lana- istri Rega. Logika dan moralnya menolak keras, tapi kesempitan ekonomi keluarga yang tidak bisa ditunda memaksa Juna setuju atas tawaran gila Rega. Gairah Juna berhasil menenggelamkan Lana dalam sensasi mendebarkan malam itu. Sehingga Lana terjebak dalam ikatan terlarang bersama Juna. Bukan hanya Lana, banyak wanita cantik dan kaya nekat menawarkan imbalan serupa demi mendapatkan kepuasan dari duda tampan itu. Juna yang dulu direndahkan dan dianggap kampungan, kini diperebutkan banyak wanita. Uang bukan lagi masalah baginya. Wanita manapun yang diinginkannya pasti akan jatuh ke dalam pelukan. Tapi, sampai kapan Juna akan menjalani kesenangan semu itu?
Bab 1 Hamili Istri Saya!

“Uang ini akan jadi milikmu kalau kamu berhasil menghamili Lana.”

Pendengaran Juna tidaklah salah. Dengan gamblangnya Rega Subekti menawarkan uang ratusan juta rupiah asalkan ia berhasil membuat Lana—istri Rega, hamil.

Gila!

Itulah respons Juna saat mendengar tawaran Rega. Awalnya Juna sama sekali tidak mempercayai hal itu, tapi alasan Rega tentang dirinya yang divonis mandul sejak dua tahun lalu bukanlah sesuatu yang layak jadi bahan candaan.

“Tapi ini tidak masuk akal, Pak Rega. Saya masih punya moral. Saya tidak bisa memenuhi permintaan Bapak.”

Selembar cek di meja itu Juna geser ke arah Rega lagi. Suasana mendadak hening seketika. Di dalam ruangan sejuk itu, Juna seakan lupa caranya bernapas. Dadanya panas karena menahan amarah. Meski dirinya hanyalah karyawan biasa, tapi Rega tidak bisa seenaknya menginjak harga diri seorang Juna Wijaya. Tawaran gila itu membuatnya jijik.

Sesaat Juna sempat lupa jika di ruangan itu pun ada Lana yang duduk di samping Rega.

Wanita dengan wajah cantik dan tubuh bak model papan atas itu tidak bersuara sejak tadi. Ia hanya duduk di sana tanpa melihat ke arah Juna sekali pun.

“Begini saja. Anggap ini uang muka jika kamu setuju. Saya akan berikan setengahnya lagi setelah kepastian kehamilan Lana.” Rega tidak menyerah untuk meyakinkan Juna. “Ini kesempatan bagus buat kamu, Juna. Kamu nggak akan bisa punya uang sebanyak ini meski bekerja seumur hidup kamu. Saya tahu persis kalau kamu butuh uang.”

“Tapi, ini sesuatu yang-“

“Udahlah, Mas. Kalau memang dia nggak mau, nggak usah dipaksa lagi. Kita cari cara lain aja.”

“Cara lain? Cara lain apa maksud kamu?”

Rega malah membentak Lana, tepat di depan Juna.

Pasangan suami istri itu terus berdebat tanpa ada yang mau mengalah. Juna yang masih duduk di sana hanya diam dan memperhatikan. Ia sungkan menyela, bahkan untuk berpamitan pergi dari ruangan kerja Rega.

“Aku udah cukup direndahin sama keluarga kamu gara-gara vonis dokter sialan itu! Kamu tau mereka anggap aku ini apa? Lelaki nggak becus karena nggak bisa ngasih keturunan. Aku dianggap sebagai perusak reputasi nama besar Adiwangsa! Karier dan hidupku bisa sama-sama hancur kalau kita nggak berbuat sesuatu, Lana! Bahkan papa kamu mengancam bakalan ngeluarin aku dari perusahaan ini. Enggak! Aku nggak akan biarin itu terjadi.”

“Diagnosa dokter bisa aja salah, Mas. Kamu belum tentu beneran mandul.” Suara Lana terdengar bergetar.

“Dia bilang itu faktor genetik, Lan! Dua tahun! Kamu pikir aku diam saja setelah vonis dua tahun lalu itu? Enggak, Lan! Diam-diam aku melakukan tes di rumah sakit lain. Bukan cuma satu, tapi tiga rumah sakit besar. Hasilnya sama saja. Mereka bilang mustahil. Apa lagi yang harus aku lakukan sekarang? Coba bilang sama aku, Lan!”

Bibir Lana setengah terbuka. Seperti ingin mengucap sesuatu namun tertahan.

See? Kamu bahkan nggak bisa ngebantah omonganku, kan? Jadi, ini satu-satunya cara.”

Seperti yang pernah Juna lihat sebelumnya, mereka selalu bertengkar jika berbicara tentang urusan anak. Bukannya Juna ingin menguping pembicaraan orang lain, tapi beberapa kali secara tak sengaja Juna melihat percekcokan mereka di kantor. Salah mereka membawa urusan pribadi ke lingkungan kantor.

Akhir dari adu mulut di antara keduanya itu pasti selalu membuat Lana menangis. Persis yang dilihat Juna sekarang. Di depannya Lana terus sesenggukan sambil memalingkan wajah ke samping.

Meski agak ragu, Juna menyodorkan tisu di atas meja ke arah Lana. Sempat melirik sebentar pada Juna, Lana pun segera mengambil tisu itu dan buru-buru menghapus air matanya yang sudah membasahi pipi.

“Ini tawaran terakhir saya. Ingat anakmu di kampung, Jun. Keluarga kamu di sana akan sangat senang jika menerima uang sebanyak ini. Anggap saja ini keberuntunganmu.”

“Tapi saya sama sekali tidak pantas. Saya bukanlah siapa-siapa. Saya bukan orang yang setara dengan Ibu Lana.”

Seolah diberi celah oleh Juna, Lana kembali mengungkapkan keberatannya.

“Tuh, kan! Bukan cuma aku yang berpikiran begitu. Masa aku harus hamil dari benih laki-laki yang nggak sederajat sama aku, Mas? Dari status sosial aja kami beda jauh, Mas! Kalau sampai rahasia ini terbongkar, itu sama saja dengan mencoreng nama besar keluarga kita. Aku yakin pasti ada yang bisa kita lakukan selain ini. Aku bisa cari opsi dokter lain, bahkan kalau harus ke luar negeri pun nggak masalah.”

Rega menolak keras bantahan Lana. Ia kembali meyakinkan jika Juna satu-satunya orang yang bisa membantu mereka. Ia tidak segan mengeluarkan banyak uang demi membela harga dirinya di depan keluarga Lana.

“Nggak ada solusi lain kecuali ini. Keputusanku udah bulat, Lan.”

Lalu, Rega kembali beralih pada Juna. Dengan yakinnya ia berkata, “Kamu jadi satu-satunya solusi. Saya akan bayar berapa pun itu.”

Juna masih terdiam dengan isi pikirannya. Rega memang benar jika ia sangat membutuhkan banyak uang saat ini. Keluarganya di kampung tidak bisa menunggu lebih lama lagi.

“Lagi pula,” tambah Rega lagi. “Aku pikir Juna adalah pilihan yang tepat. Secara fisik dia memiliki kelebihan yang aku yakin sangat diidamkan wanita. Benih bagus seperti itu yang juga aku butuhkan. Aku nggak mau keturunanku nanti malah berujung membuatku malu secara fisik.”

Dengan refleksnya Lana mengamati penampilan fisik Juna. Memang persis seperti yang Rega katakan, Juna terlihat sempurna dengan proporsi badan atletis yang sekilas membuat Lana sempat terpana.

Karena sibuk dengan isi pikirannya sendiri, Juna tidak sadar jika sejak tadi Lana terus mengamatinya. Dengan teliti, mata wanita itu tengah memindai setiap bagian badan Juna yang bisa ditangkap matanya. Tubuh atletis dengan tinggi yang pas untuk lelaki. Tidak terlalu tinggi. Pandangan Lana juga sempat tertahan pada dada bidang Juna yang samar-samar tercetak oleh kemeja slim fit pria itu.

Namun Lana tampak ragu. Kelebihan Juna itu tertutup oleh penampilan sederhana dan asal-usulnya yang dari kampung. Jika dibandingkan dengan sang suami, status sosialnya berbanding terbalik.

Juna yang merasa tengah diamati pun menoleh ke arah Lana. Tidak sengaja tatapan keduanya saling beradu. Sunggingan tipis terbit di sudut bibirnya, namun Lana malah berpaling. Sedangkan Juna merasakan hal lain. Ada rasa iba yang tergurat dari sorot mata Juna ketika ia membayangkan Luna yang terus menangis setiap kali bertengkar dengan Rega.

“Juna, saya ulangi sekali lagi. Setujui kerja sama ini, maka uang itu akan saya berikan sekarang juga.”

Entah dorongan dari mana, sebuah anggukan lolos begitu saja. Juna akhirnya setuju.

“Tapi bagaimana saya bisa menghamili Ibu Lana?” tanya Juna dengan polosnya yang sontak membuat Rega tercengang tidak percaya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca