

Koper merah berukuran besar itu diseret Kevin dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Napasnya terengah-engah. Kemeja flanel yang ia kenakan sudah basah oleh keringat akibat menembus kemacetan kota metropolitan setelah menempuh perjalanan lima jam naik bus dari kampung halaman.
Kevin berhenti tepat di depan sebuah pagar rumah minimalis modern bercat putih bersih. Di atas gerbang, tanaman merambat memberikan kesan asri. Cowok berusia delapan belas tahun yang baru saja melepas seragam putih-abu-abunya itu menelan ludah. Kuliah di kota besar. Ini awal dari masa depannya.
"Oke, Kevin. Lo udah gede. Jangan bikin malu bapak sama emak di kampung," gumam Kevin pada diri sendiri, mencoba menyemangati jiwanya yang agak ciut. Dia melepas topi, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, lalu menekan bel rumah.
Ting tong!
Tidak butuh waktu lama, terdengar suara langkah kaki yang mendekat dari balik pintu kayu jati yang kokoh itu. Jantung Kevin tiba-tiba berdegup sedikit lebih kencang. Ibunya bilang, Tante Rosa adalah adik sepupu ayahnya yang sudah menjanda selama lima tahun. Terakhir kali Kevin melihat Tante Rosa adalah saat dia masih SD, dan memorinya tentang sang tante sudah sangat buram.
Klek.
Pintu terbuka. Kevin langsung memasang senyum paling ramah dan sopan yang dia punya. "Halo, Tan—"
Kata-kata Kevin langsung tersangkut di tenggorokan. Matanya melebar, pupilnya membesar drastis.
Sosok wanita yang berdiri di ambang pintu sama sekali tidak mirip dengan bayangan "tante-tante" di kepala Kevin. Wanita itu memiliki rambut bergelombang sebahu berwarna cokelat karamel. Wajahnya awet muda, sangat terawat, dan yang paling membuat pasokan oksigen di paru-paru Kevin mendadak menipis adalah pakaiannya.
Tante Rosa hanya mengenakan daster berbahan satin tipis berwarna merah marun bertali satu di pundak. Daster itu begitu pas membentuk lekuk tubuhnya yang masih sangat terjaga, bahkan potongannya di bagian dada sedikit terlalu rendah untuk ukuran menyambut tamu.
"Eh? Kamu... Kevin, ya? Ya ampun, anak lanang!" seru wanita itu dengan suara yang renyah dan manja.
Sebelum Kevin sempat menjawab atau mengendalikan ekspresi syoknya, Tante Rosa sudah melangkah maju dan langsung memeluk Kevin dengan erat.
Deg!
Wajah Kevin terbenam di antara bahu dan aroma parfum vanila yang sangat pekat nan menggairahkan. Kevin membeku. Seluruh otot tubuhnya menegang kaku seperti manekin toko baju. Sentuhan kehangatan yang terlalu frontal itu membuat adrenalinnya langsung melesat ke ubun-ubun.
"T-tante... iya, ini Kevin," cicit Kevin dengan suara yang mendadak sengau karena menahan napas.
Tante Rosa melepaskan pelukannya, lalu memegang kedua pundak Kevin sambil memperhatikannya dari atas sampai bawah. Matanya berbinar-binar. "Ya ampun, udah gede banget ternyata! Dulu memble, sekarang kok ganteng begini, sih? Kulitnya bersih lagi. Pasti jadi rebutan cewek-cewek di kampus nanti." Tante Rosa mencolek dagu Kevin dengan genit, membuat cowok itu refleks mundur selangkah sambil tersenyum canggung.
"Bisa aja Tante. Kevin biasa aja kok," jawab Kevin sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Pandangannya sebisa mungkin dialihkan ke arah tanaman di pot, karena jika dia menatap lurus, matanya rawan tersesat ke area dada sang tante yang bergoyang pelan saat wanita itu tertawa.
"Ayo masuk, Nak. Pasti capek banget kan? Anggap rumah sendiri ya, jangan sungkan-sungkan," kata Tante Rosa sambil membalikkan badan, berjalan mendahului Kevin.
Dari belakang, pemandangan daster satin tipis yang berayun mengikuti gerakan pinggul Tante Rosa membuat Kevin kembali menelan ludah dengan susah payah. 'Ya Tuhan... kuatkan iman hamba selama empat tahun ke depan,' doa Kevin dalam hati.
Kevin menyeret kopernya masuk ke dalam ruang tamu yang sejuk karena AC. Rumahnya sangat rapi, wangi, dan minimalis. Namun baru saja Kevin bernapas lega karena terbebas dari pandangan sensual Tante Rosa, sebuah kejutan lain sudah menantinya di ruang tengah.
Di atas sofa panjang berbahan kulit, seorang gadis sedang rebahan dengan posisi telentang sambil bermain ponsel. Gadis itu mengenakan hotpants jins yang sangat pendek dan tanktop hitam ketat. Kakinya yang mulus dan panjang diangkat ke sandaran sofa, memperlihatkan pose yang benar-benar tidak ramah untuk kesehatan mental seorang remaja laki-laki normal.
"Siska! Ini sepupu kamu udah dateng, kok malah asyik main HP," tegur Tante Rosa sambil berkacak pinggang.
Gadis bernama Siska itu menoleh. Dia adalah anak pertama Tante Rosa, usianya sembilan belas tahun, hanya terpaut satu tahun di atas Kevin. Siska memiliki mata yang tajam namun indah, tipikal cewek kota yang modis. Begitu melihat Kevin, Siska tidak buru-buru membetulkan posisinya. Dia justru menurunkan ponselnya perlahan, lalu menatap Kevin dengan senyum misterius yang tersungging di bibirnya.
"Oh... ini yang namanya Kevin?" Siska bangkit duduk dari sofanya secara perlahan. Gerakan bangunnya itu membuat tanktopnya sedikit melorot, dan dia membetulkannya dengan santai di depan Kevin tanpa ada rasa canggung sama sekali.
Kevin mematung di tempatnya. "H-halo, Mbak Siska. Saya Kevin." Kevin mengulurkan tangan dengan gemetar.
Siska tidak menyambut tangan Kevin untuk bersalaman. Dia justru berdiri, berjalan mendekati Kevin dengan langkah lambat, lalu meraih tangan Kevin dan menggenggamnya erat menggunakan kedua tangannya. Matanya menatap langsung ke manik mata Kevin dengan tatapan yang sangat provokatif.
"Jangan panggil Mbak, ah. Panggil Siska aja, kan cuma beda setahun. Lagian... tangan kamu anget ya, Vin? Grogi ya ketemu cewek kota?" goda Siska dengan nada berbisik, wajahnya sengaja didekatkan ke telinga Kevin.
Aroma karamel dan buah beri dari tubuh Siska langsung menyerang indra penciuman Kevin. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Kevin. Karakter Kevin yang aslinya ceria dan agak berani mendadak lumpuh total. Dia ingin membalas godaan itu agar tidak terlihat lemah, tapi otaknya mendadak blank.
"Eh, eng-enggak kok. Cuma capek aja bawa koper," kilih Kevin sambil menarik tangannya perlahan dengan senyum super kaku.
Tante Rosa tertawa melihat keponakannya yang salah tingkah. "Siska, jangan digodain terus ah Kevinnya. Sana panggil adekmu di kamar, suruh keluar."
"Keyla mah paling lagi dandan di kamar, Mah," sahut Siska malas, namun pandangannya tetap tidak lepas dari wajah Kevin yang memerah. "Vin, kamar kamu di atas ya, sebelahan sama kamar aku. Kalau malam-malam butuh sesuatu... atau ngerasa kesepian, ketuk aja kamar aku. Pintu aku jarang dikunci kok." Siska mengedipkan sebelah matanya sebelum berjalan menaiki tangga dengan santai.
Kevin rasanya ingin pingsan di tempat. Belum juga satu jam dia berada di rumah ini, jantungnya sudah dipaksa bekerja lembur bagaikan mesin motor balap.
Tepat setelah Siska menaiki tangga, sebuah pintu kamar di lantai bawah terbuka. Muncullah seorang gadis remaja yang lebih muda. Itu Keyla, anak bungsu Tante Rosa yang berusia tujuh belas tahun. Keyla keluar hanya dengan mengenakan kaos oversized longgar yang panjangnya hanya sebatas paha, membuat kesan seolah-olah dia tidak memakai celana sama sekali di bawahnya. Rambutnya dikuncir kuda asal-asalan, memberikan kesan berantakan yang justru terlihat sangat imut dan seksi.
"Eh, ada Kak Kevin?" Keyla langsung berlari kecil menghampiri Kevin.
"Hai, Keyla..." Kevin mencoba tersenyum, bertekad kali ini dia harus bisa bersikap biasa saja.
Namun dugaan Kevin salah besar. Keyla yang tampak polos itu tiba-tiba langsung menggelayutkan kedua tangannya di lengan kanan Kevin, memeluk lengan kekar Kevin dan menempelkannya erat-erat ke dadanya.
"Ya ampun Kak Kevin! Kulitnya kok bisa sawo matang keren gini sih? Beda banget sama cowok-cowok kota yang pucat. Nanti sore temenin Keyla jalan-jalan ke supermarket depan ya? Harus mau!" rengek Keyla sambil menggoyang-goyangkan lengan Kevin.
Kevin merasakan sentuhan lembut yang tak sengaja tertekan di lengannya. Sensasi itu seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang langsung membuat seluruh bulu kuduknya merinding. Kevin meneguk ludahnya yang terasa sekeras batu.
"I-iya, Key. Nanti kalau nggak capek ya," jawab Kevin, suaranya naik satu oktav karena menahan gejolak di dadanya.
Tante Rosa menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah kedua putrinya. "Sudah-sudah, Keyla. Lepasin dulu mas Kevin-nya. Biar dia taruh barang ke kamar dulu. Kevin, mari Tante anter ke kamar kamu di atas."
"Baik, Tan," jawab Kevin cepat, merasa diselamatkan dari situasi kritis tersebut.
Kevin mengangkat kopernya menaiki anak tangga satu per satu, mengekor di belakang Tante Rosa. Sepanjang jalan ke atas, Kevin terus merutuki nasibnya. Di satu sisi, ini adalah surga dunia yang diimpikan oleh setiap remaja laki-laki seumurannya. Di sisi lain, ini adalah ujian iman terbesar dalam hidupnya. Rumah ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sebuah labirin penuh jebakan batman yang siap membuat Kevin khilaf kapan saja.
Setibanya di depan kamar, Tante Rosa membuka pintu. Kamarnya cukup luas, dengan kasur springbed empuk, lemari pakaian, dan jendela yang menghadap ke halaman samping.
"Nah, ini kamar kamu. Gimana? Suka enggak?" tanya Tante Rosa berbalik badan, posisinya sekarang sangat dekat dengan Kevin karena area lorong yang agak sempit.
"Suka banget, Tan. Makasih banyak ya," kata Kevin jujur.
Tante Rosa tersenyum manis, jemarinya yang lentik tiba-kira bergerak merapikan kerah kemeja Kevin yang sedikit melipat. Sentuhan jarinya sempat menyapu kulit leher Kevin, membuat cowok itu menahan napas lagi untuk kesekian kalinya.
"Sama-sama, ganteng. Inget ya pesan Siska tadi. Kalau ada apa-apa, ketuk aja. Kamar Tante juga di bawah kok, kalau malam Tante sering haus dan suka ke dapur. Jadi kalau kamu lapar tengah malam, kita bisa masak bareng," ucap Tante Rosa dengan nada suara yang rendah dan penuh arti, matanya menatap bibir Kevin sekilas sebelum akhirnya melangkah pergi ke bawah.
Kevin segera masuk ke dalam kamar, menutup pintu rapat-rapat, dan langsung menguncinya dengan dua kali putaran kunci. Dia menyandarkan punggungnya di balik pintu, lalu merosot duduk di lantai sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang tak karuan.
"Gila... gila... gila! Ini rumah atau tempat pelatihan buat masuk neraka?!" pekik Kevin tertahan, wajahnya benar-benar merah padam. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, menyadari bahwa kehidupan kuliahnya tidak akan pernah berjalan dengan tenang.