Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
SISTEM MEMASAK SUPER MEMBUATKU KAYA RAYA!

SISTEM MEMASAK SUPER MEMBUATKU KAYA RAYA!

Fatzar | Bersambung
Jumlah kata
86.5K
Popular
404
Subscribe
87
Novel / SISTEM MEMASAK SUPER MEMBUATKU KAYA RAYA!
SISTEM MEMASAK SUPER MEMBUATKU KAYA RAYA!

SISTEM MEMASAK SUPER MEMBUATKU KAYA RAYA!

Fatzar| Bersambung
Jumlah Kata
86.5K
Popular
404
Subscribe
87
Sinopsis
PerkotaanSupernaturalAnak Yatim PiatuSistemMengubah Nasib
Arsena tidak pernah tau bahwa hari ini adalah pemecatan untuknya, hingga pada saat yang tidak terduga ponsel miliknya menyala dan memberikan sebuah tawaran jika dia berhasil memenangkan sebuah misi dia akan mendapat bonus dan jika dia salah dalam misi tersebut maka dia akan mendapatkan hukuman. Dan siapa yang menyangka sejak dia bekerja dengan sistem dalam ponselnya, kehidupan berubah drastis dari yang miskin menjadi kaya raya!
Bab 1 | Ponsel Ajaib

Bagi rakyat biasa, kerja di dalam perusahaan besar adalah sebuah prestasi yang luar biasa. Namun kita tidak pernah tau apa yang terjadi di dalamnya.

Arsena Wiratama, seorang pekerja perusahaan besar bagian administrasi keuangan hampir setiap hari stres karena kerasnya dunia kerja.

Hidup sudah yatim piatu dan harus menghidupi dua adiknya yang masih sekolah membuatnya mau tidak mau kerja banting tulang.

"Arsena!!!" suara teriakan dari bosnya membuat orang di sekitar menatap ke arah Arsena.

Lamunan Arsena seketika buyar. "Eh, iya, ada apa Pak?" tanyan Arsena seperti orang bingung.

"Data laporan kenapa jadi minus semua? Kamu nggak cek lagi sebelum setor ke saya?!"

Budi, bosnya itu sudah marah besar ketika mengetahui data yang diterima banyak minusnya. Bukan apa-apa, perusahaan miliknya ini bukan sekedar toko kelontong, jadi mau tidak mau data yang masuk harus benar, salah sedikit saja sudah membuat kerugian besar.

"Kalau kamu ulangi lagi, mau tidak mau saya keluarkan kamu secara terpaksa."

Tidak ada jawaban dari Arsena, di balik meja kerjanya pikiran lelaki itu kini sudah kemana-mana. Lupa jika masalahnya dengan Budi belum juga selesai.

"Arsena!!!"

Arsena mendongak karena terkejut. "Iya Bos. Saya janji nggak akan ulangi lagi!”

Budi menaikkan sebelah alisnya, dia menunggu penjelasan lebih lanjut.

Oke, Arsena akui dia kebanyakan memikirkan hal yang tidak pasti alhasil dia menjadi tidak konsentrasi.

Dia menghela napas kasar. “Saya sudah cek sebelumnya, Pak. Sudah saya pastikan benar semua sebelum saya kirim ke Bapak.”

“Saya mohon untuk tidak dipecat.”

Arsena jujur, dia sangat takut kehilangan pekerjaannya saat ini.

Dia menundukkan kepalanya. Menyesal karena teledor. Bukannya dimaafkan, Budi justru menertawakan secara terbahak-bahak.

"Hahahaha! Lihat! Anak ingusan ini memohon saya agar tidak saya, pecat." Budi memandang Arsena dengan sangat remeh.

Kali ini Budi mendatangi Arsena lalu melemparkan surat pemecatan.

"Lebih baik kamu keluar dari kantor saya saja! Pertama, kamu membuat kerugian sepuluh juta dan kedua kamu melamun saat saya memberikan pertegasan. Saya merasa tidak dihargai untuk kali ini."

Budi menatap ke seluruh karyawan yang ada di dalam ruangan, senyum menjatuhkan Arsena terlihat dengan jelas.

"Saya sumpahin setelah ini kamu nggak dapat pekerjaan! dan jadi pengangguran luntang-lantung," ucap Budi secara sadis dan terang-terangan di depan banyaknya karyawan.

***

Arsena keluar dari perusahaan yang sudah menemaninya selama lima tahun.

"Mau cari uang kemana lagi coba." Dia mengusap wajahnya kasar, pasrah dengan apa yang akan terjadi nanti.

Ponselnya berdering. Memunculkan satu pesan baru.

[A' Adek harus bayar uang sekolah akhir bulan ini kalau tidak dia terpaksa di drop out.]

Semakin di buat pusing kepalang dengan permintaan Kaira — adiknya yang nomor dua.

[Bentar, Aa mau cari pinjaman dulu, si Dd mah pasti bisa sekolah jangan pernah mikir biaya.]

Tanggal sudah akhir bulan, kos-kosan belum lunas, tagihan sudah menunjukkan kedatangannya. Dan sekarang Arsena harus melunasi tunggakan sekolah.

Dia memilih duduk di pinggir jalan, menatap gedung lamanya. Berharap mendapat panggilan kembali.

"Si kasep, kok duduk sendirian, kamu nggak kerja?" tanya Bi Ida — salah satu pedagang kaki lima langganan arsena beli nasi pecel.

Arsena menggeleng kecil."Nggak Bi, habis dipecat," jawabnya datar, dia juga menunjukkan beberapa berkas tanda telah dikeluarkan dari perusahaan.

Bi ida membulatkan mulutnya membentuk huruf o sambil manggut-manggut paham.

"Yang sabar ya, pasti setelah ini dapat pekerjaan yang lebih layak."

Arsena menoleh sekilas. "Iya, semoga saja ya, karena hidup di Bandung nggak semudah itu buat cari kerja dalam waktu dekat Bi."

Bi ida menepuk kecil pundak lalu meyakinkan dengan sepenuh hati. "Nggak ada yang nggak mungkin, kita dekatkan diri pada Tuhan. Nanti juga rezeki itu bisa ngalir sendiri."

***

Caraka menatap Arsena dengan sangat senang. Caraka adik paling kecil, sudah menunggu di dalam kontrakan.

"Aa hari ini bawa jajan?!" ucapnya dengan antusias menanti balasan dari Arsena yang tak kunjung datang.

"Aa dipecat dek, sementara jajannya ditahan dulu ya?" ucap Arsena menenangkan.

Arsena tersenyum getir, dirinya juga tidak tega kalau adeknya sampai tidak jajan.

Adik laki-laki yang paling dia jaga, anak paling kecil di keluarganya terpaksa harus merasakan imbas dari Arsena yang kehilangan pekerjaan.

"Kalau Aa nggak kerja nanti kita makan apa?" Wajah Caraka sudah menatap Arsena dengan cukup lesu. Bayangan tentang makan malam seakan sudah lenyap.

"Kamu kalau ngomong jangan aneh-aneh ya de! Aa itu masih bisa kerja. Jangan halusinasi kamu!" ucap Kaira menyahuti dengan nada tidak terima. Dia kemudian mendongak menatap Arsena. "A? Yang di omong Caraka tuh salah kan ya?"

Kaira terus menuntut penjelasan pada Arsena. Sebenarnya Kaira tidak sedang sekolah, Kaira bekerja. Namun, demi kebutuhan bersama mereka berdua harus patungan agar tidak memberatkan sang kakak.

"Aa dipecat Kaira. Maafin aa ya?" Arsena berjongkok di depan Kaira dengan pandangan bersalah. "Nanti akan aa usahakan cari pinjaman dulu, setidaknya untuk satu bulan kita bertahan hidup."

Arsena berusaha meyakinkan adik keduanya. Dia percaya sebentar lagi akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak.

Hidup di kota Bandung nggak semua harus enak ada pasang surut kehidupan yang harus mereka lewati.

Dan sayangnya kehidupan Arsena kebanyakan surut terus, senyum miliknya sekarang berubah menjadi senyum datar.

"Kayaknya aku harus tidur dulu deh siapa tau dapat hiburan satu miliar!"

Satu miliar, mimpi yang sangat tinggi.

Arsena mengacak rambutnya dengan sangat sebal, dia berjalan malas menuju kamarnya. Sesekali dia menatap ponsel miliknya berharap ada satu keajaiban, misalnya tiba-tiba mendapat pekerjaan.

Mimpi dulu kayaknya boleh, asal jangan ketinggian. Ya beginilah nasib pengangguran baru yang luntang-lantung. Hidup penuh kesengsaraan mati juga nggak ada kesiapan.

Di atas nakas tiba-tiba ponselnya berdering keras, dengan sedikit rasa malas tangannya kini sudah meraih ponselnya.

Ternyata yang menelpon adalah Suryo.

"Halo Sen, lu nggak papa? Maaf ya tadi di kantor gua nggak bisa belain lu,"

"Hahaha santai aja kali Sur aku nggak papa kali kaya gini. Nanti bakalan aku coba cari kerjaan di Kerja Cepat, Kalau nggak gitu ya apply di website lainnya."

Arsena menatap langit-langit di kamarnya, harapannya mungkin sedikit pupus karena usianya yang tidak lagi muda dan harus mencari lowongan yang memiliki pesaing cukup banyak.

"Gua yakin lu bakalan cepet ketemu sama kerjaan yang cocok, kalau kosong jangan lupa main ke tempat gua ya... Sepi banget sahabat gua harus resign."

"Bukan resign Sur, lebih tepatnya aku di pecat."

Arsena tertawa samar sembari menghibur dirinya yang saat ini sedang kacau.

Suryo tidak membalas tawa sahabatnya itu.

"Jangan sok menghibur diri, gua tau lu lagi kacau. Yaudah gua cuma bisa doa terbaik. Gua tutup dulu ya? Kerjaan gua masih banyak ini soalnya,"

Panggilan itu terputus, biasanya di jam segini Arsena akan mengerjakan data laporan perusahaan yang sedang menumpuk, namun kali ini berbeda dia hanya berbaring di atas kasurnya sambil membayangkan ada kerjaan jatuh dari langit.

Ting! Ting! Ting!

Arsena terbangun dari lamunannya, dia mencari sumber suara. Matanya melirik ke segala arah. Dan benar dugaannya, suara ponsel yang berdering cukup kencang.

Dia kemudian mendekat, ketika ponsel itu di buka, dalam layar menunjukkan sebuah tulisan yang membuat Arsena mengernyitkan keningnya.

Rasanya ini seperti mimpi, tidak mungkin ponsel Arsena tiba-tiba menjadi ponsel ajaib.

Tangannya berkali-kali mengucek matanya, berharap ini hanyalah sebuah mimpi.

Dan ternyata, dia tidak bermimpi, dia ada di dunia nyata.

'Sebuah pekerjaan akan datang kepadamu, dan ini Misi yang harus kamu selesaikan.'

Lanjut membaca
Lanjut membaca