Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sopir Kesayangan Majikan

Sopir Kesayangan Majikan

Busi Tromol | Bersambung
Jumlah kata
150.2K
Popular
5.7K
Subscribe
1.3K
Novel / Sopir Kesayangan Majikan
Sopir Kesayangan Majikan

Sopir Kesayangan Majikan

Busi Tromol| Bersambung
Jumlah Kata
150.2K
Popular
5.7K
Subscribe
1.3K
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifePria MiskinBalas Dendam21+
Menjadi sopir nyonya membuatku terjebak dalam pusaran gairah. Awalnya, Nyonya tidak pernah peduli padaku. Tapi begitu tahu aku adalah sopir yang bisa diandalkan di semua urusan, termasuk ranjang, Nyonya malah mempromosikanku pada teman-temannya!
Ketika Semua Bermula

'Gila, ini rumah konglomerat atau benteng pertahanan?' batin Rendra, sambil menelan ludah kasar. Jakunnya bahkan terlihat naik turun.

Hatinya masih terasa ngilu lantaran tunangannya mendadak minta putus sebulan lalu. Alasannya sangat klise, karena wanita itu memilih menikah dengan kontraktor tajir demi jaminan masa depan.

Padahal, Rendra sudah menabung mati-matian dari hasil kerja kasarnya di daerah. Rasa harga dirinya yang diinjak-injak membuat dia nekat merantau ke Jakarta dengan sisa uang di kantong.

"Hei, ngapain kamu berdiri di luar situ?" bentak seorang satpam bertubuh kekar dari balik celah pagar.

Rendra menoleh pelan. "Saya ada jadwal wawancara kerja dengan Bu Maura sore ini."

Satpam itu mengecek layar tabletnya, lantas mengangguk mengerti. "Oh, masuk saja, kamu disuruh nunggu di depan."

Rendra melangkah masuk melewati taman luas yang dipenuhi patung marmer mahal, matanya menyapu garasi kaca yang berisi deretan mobil mewah. Dia akhirnya duduk di kursi rotan teras sambil meremas ujung kemejanya.

Tiga puluh menit berlalu begitu saja di tengah kesunyian mansion. Pintu utama yang terbuat dari kayu jati berukir akhirnya terbuka lebar.

Seorang wanita berumur dua puluh tujuh tahun melangkah keluar. Rendra sampai menahan napas sejenak.

Wanita itu memiliki wajah eksotis dengan kulit sawo matang yang sangat menggoda. Apalagi, tubuhnya sangat sintal, dibalut kemeja putih ketat dan rok hitam sebatas lutut.

Rendra menahan napas kala melihat kemeja putih itu nampak kesulitan menahan dua melon kembar yang membusung penuh. Tiga kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka.

"Kamu yang namanya Rendra, ya?" Rania menyandarkan pinggulnya ke bingkai pintu.

"Iya, Mbak."

"Ayo masuk ke dalam. Bu Maura masih mandi di lantai atas."

Rendra mengekor di belakang wanita itu yang ternyata bukan Bu Maura, majikannya. Matanya tanpa sengaja menatap pergerakan pinggul sang wanita yang bergoyang erotis setiap kali melangkah.

'Duehh... cobaan apa lagi ini? Baru juga sampai Jakarta,' batin Rendra mengeluh.

"Duduk di sofa situ dulu. Aku ambilkan minuman." Wanita sintal itu berjalan ke arah dapur.

Rendra mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang tamu yang dipenuhi perabotan kristal dan lukisan abstrak mahal.

Tak lama kemudian, wanita itu kembali membawa nampan berisi segelas es teh dan sepiring kue nastar.

Saat meletakkan nampan di meja kaca, wanita itu sengaja menunduk agak dalam. Kerah kemejanya otomatis melebar mengikuti gravitasi.

Deggg!

Mata Rendra langsung disuguhi pemandangan belahan dada yang putih dan sangat padat, sedangkan jakunnya bergerak naik turun menahan ludah yang terasa seret.

"Diminum dulu tehnya, Mas Rendra. Biar ototnya nggak tegang."

"Terima kasih banyak, Mbak."

"Kenalin, namaku Rania. Aku kepala koki pribadi di rumah ini." Wanita itu menyodorkan tangan kanannya dengan senyum manis.

Rendra menyambut uluran tangan itu dengan sopan. Kulit Rania terasa sangat halus dan hangat di telapak tangannya. "Saya Rendra. Saya datang melamar jadi asisten rumah dan pengawal."

Rania tersenyum penuh arti. Jari telunjuk Rania mengusap pelan punggung tangan Rendra sebelum melepaskan jabatan hangat tersebut.

"Wah, pas banget lho. Rumah sebesar ini memang butuh pria gagah buat jaga-jaga. Apalagi kamu punya badan atletis begini."

Rania sengaja memajukan tubuhnya ke depan merapatkan jarak mereka. "Kulihat-lihat, kamu ini tampan sekali. Masa depanmu pasti cerah kalau kerja di sini. Kamu pasti punya pacar cantik di kampung, kan?"

Rendra cuma tersenyum tipis merespons pancingan itu. "Sudah putus, Mbak Rania. Calon istri saya memilih pria yang lebih berduit."

Rania melebarkan mata eksotisnya karena terkejut sambil berdecak heran mendengar pengakuan jujur Rendra.

"Wanita bodoh macam apa yang rela melepas pria jantan sepertimu? Dia pasti bakal menyesal tujuh turunan karena menyia-nyiakan pria setampan kamu. Justru, kamu ini bisa jadi incaran banyak wanita elit di ibu kota, lho."

Suara ketukan hak tinggi tiba-tiba menggema dari arah tangga melingkar di sudut ruangan.

Seorang wanita berumur tiga puluh tujuh tahun menuruni anak tangga dengan keanggunan luar biasa dan wanita itu adalah Bu Maura.

Rendra terkejut, ternyata Bu Maura memakai gaun sutra warna gelap yang memeluk tubuh sempurnanya. Wajahnya sangat cantik, padahal dia memancarkan aura intimidasi bak ratu es

"Rania, tinggalkan kami berdua. Aku mau menginterogasi pemuda ini."

Rania mengangguk patuh mendengar perintah itu, kemudian buru-buru memundurkan tubuhnya menjauhi Rendra. Sebelum pergi, dia melirik Rendra sekilas sambil mengedipkan sebelah mata sebelum menghilang ke dapur.

Bu Maura yang duduk di sofa tunggal yang terlihat seperti singgasana, menyilangkan kaki jenjangnya yang mulus.

Rendra balas menatap tanpa rasa takut sedikit pun. Sifat stoik pemuda ini membuat Maura sedikit mengangkat alisnya karena merasa tertantang.

Biasanya, semua laki-laki langsung salah tingkah saat berhadapan dengannya, tapi Rendra berbeda. "Kamu yang direkomendasikan oleh agen keamanan kenalanku?"

"Benar, Bu Maura."

"Kenapa kamu berani melamar jadi pelayan sekaligus pengawalku? Padahal, dari CV-mu, kamu tidak punya pengalaman di dunia korporat sebelumnya. Kenapa bisa seyakin itu?" Bu Maura melipat tangan di bawah dadanya.

Mendengar itu, Rendra menarik napas panjang. Dia menatap langsung ke mata tajam bos properti itu tanpa ragu. "Saya memang orang daerah, Bu. Walaupun miskin, saya punya insting tajam. Saya tidak banyak bicara dan saya sangat menghargai privasi majikan saya."

Maura terdiam cukup lama untuk menilai kejujuran Rendra. Wanita elegan itu terus memindai garis rahang Rendra yang tegas.

"Tugasmu sangat berat. Kamu akan mengurus kebutuhanku di mansion ini sekaligus mengawalku ke pertemuan bisnis. Gajimu sangat besar. Sebagai gantinya, aku menuntut kesetiaan penuh. Paham?"

"Saya paham. Saya tidak akan mengecewakan Ibu."

Maura mengangguk pelan. Dia merasa ada ketenangan emosional luar biasa dari sorot mata pemuda lusuh ini.

"Bagus. Kamu kuterima bekerja mulai besok pagi. Kamarmu ada di lorong belakang dekat taman dalam. Sana istirahat."

"Terima kasih atas kepercayaannya, Bu."

Malam harinya, Rendra merebahkan tubuh lelahnya di atas kasur empuk berukuran besar. Kamar pelayan yang diberikan Maura ternyata sekelas kamar hotel bintang lima.

Rendra menatap langit-langit kamar sambil memijat keningnya. Pikirannya melayang ke kejadian hari ini karena dia akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan bergaji fantastis.

Tok... tok... tok.

Suara ketukan pelan menyadarkan Rendra dari lamunannya. Pria tegap itu bangkit dari kasur dan berjalan ke arah pintu kayu.

Ceklek.

Rendra terpaku kaku. Rania berdiri di depan pintu membawa nampan berisi sepiring spageti daging dan segelas kopi hitam.

Masalahnya, penampilan wanita sintal itu sungguh menguji iman. Rania cuma memakai daster tidur warna merah menyala yang sangat tipis.

Bahan daster itu menempel super ketat di kulit sawo matangnya. Tali dasternya pun sangat tipis seolah siap putus jika disentuh sedikit saja.

"Mas Rendra belum tidur kan? Aku sengaja masakin makan malam spesial buat kamu."

Rendra menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Dia salah tingkah melihat tonjolan buah dada yang mencetak jelas di balik daster tipis itu.

"Ngerepotin banget, Mbak. Saya sebenarnya sudah niat mau tidur."

Rania tertawa renyah. Wanita itu lantas menerobos masuk ke dalam kamar Rendra tanpa permisi.

"Sama sekali nggak repot. Pintunya aku tutup ya, biar nggak ada nyamuk masuk ke sini."

Brakkk!

Pintu kamar ditutup rapat oleh Rania. Terdengar bunyi selot kunci diputar dua kali dari dalam.

Deggg!

'Bisa gila aku... dia ngapain pakai kunci pintu segala?' batin Rendra panik.

Rania meletakkan nampan itu di meja nakas dengan santai. Wanita gemoy itu lantas duduk di pinggir kasur sambil melebarkan pahanya sedikit.

Gara-gara posisinya duduk, daster super pendek itu terangkat tinggi. Paha Rania yang padat berisi terpampang jelas di mata Rendra.

"Sini duduk di sebelahku. Badanmu pasti pegal semua habis perjalanan jauh."

Rania menepuk ruang kosong di kasur. Aroma parfum melati bercampur aroma keringat alami wanita dewasa langsung menusuk penciuman Rendra.

Rendra berdiri kaku di tengah kamar. Pelatuk di balik celana pendeknya mendadak terasa sedikit menegang gara-gara godaan brutal ini.

"Nggak usah malu-malu begitu lho. Di lantai bawah ini cuma ada kita berdua malam ini. Bu Maura sudah pulas di kamarnya karena kelelahan."

Rania membasahi bibir bawahnya yang tebal menggunakan ujung lidah.

"Sini biar aku yang suapin kamu makan. Sekalian aku mau lihat seberapa keras perabotan kamu di balik celana itu."

Lanjut membaca
Lanjut membaca