
Mantan Jadi Ipar Hot
Dewa Pencipta|Bersambung
- Jumlah kata
- 102.6K
- Popular
- 3.4K
- Subscribe
- 592
- Jumlah kata
- 102.6K
- Popular
- 3.4K
- Subscribe
- 592
Sinopsis
Pernikahan impian Alvin (26) dan Putri (21) yang baru seumur jagung mendadak berubah menjadi ujian iman tingkat dewa. Alih-alih menikmati momen pengantin baru di rumah sendiri, mereka justru harus tinggal bersama ibu mertua (45) dan kakak ipar yang baru saja pulang dari luar negeri. Sialnya, kakak ipar tersebut adalah Monica (25)—mantan pacar Alvin yang hubungannya kandas beberapa tahun lalu karena jarak dan kesibukan. Pertemuan pertama di ruang tamu sukses membuat jantung Alvin copot. Bukan hanya karena status baru mereka sebagai ipar, tetapi juga karena transformasi fisik Monica yang berubah drastis 180 derajat: dari gadis biasa saja menjadi wanita bertubuh montok dengan pesona yang jauh lebih mematikan. Di bawah satu atap yang sama, di antara kehadiran sang ibu mertua yang galak dan Putri yang polos, Alvin harus berjuang menahan diri dari kecanggungan luar biasa. Ketika pandangan mata tak sengaja bertemu, rahasia masa lalu mengancam terbongkar, dan godaan iman datang setiap kali Monica lalu-lalang di hadapannya. Bisakah Alvin bertahan sebagai suami yang setia, atau justru terjebak dalam pusaran nostalgia bersama sang mantan yang kini menjadi kakaknya sendiri?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Kejutan di Ruang Tamu
Suara koper beroda yang bergesekan dengan lantai keramik menyambut kepulangan Alvin dan Putri ke rumah sang mertua. Karena rumah tangga mereka baru saja dimulai dan finansial masih merintis, keputusan tinggal bersama ibu mertua adalah jalan ninja terbaik—atau setidaknya, itulah yang Alvin pikirkan sebelum detik-detik mengerikan itu terjadi.
"Ibu, Putri sama Alvin pulang!" seru Putri riang, langsung melepas sepatu dan berlari memeluk wanita paruh baya berusia 45 tahun yang keluar dari dapur.
Alvin mengekor di belakang sambil menenteng dua koper besar. Rumah itu terasa hangat, khas rumah keluarga yang tenang. Tapi ketenangan itu langsung buyar seketika saat pintu kamar utama di lantai bawah terbuka, menampakkan sosok wanita berambut panjang ikal sebahu dengan kemeja oversized dan celana bahan ketat yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna.
"Nah, ini dia yang ditunggu-tunggu. Kakak kalian baru aja sampai dari bandara!" ucap sang ibu dengan senyum lebar.
Wanita itu berbalik. Menatap ke arah pintu depan.
Detik itu juga, waktu di ruang tamu terasa berhenti.
Mata Alvin membelalak selebar-lebarnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, lalu berdegup sepuluh kali lebih cepat. Di hadapannya, berdiri Monica. Mantan kekasihnya. Wanita yang ia putuskan hubungannya tiga tahun lalu karena memilih terbang ke luar negeri demi karier.
Dan yang membuat otak Alvin konslet... Monica yang dulu dikenal berpenampilan biasa-biasa saja dan cenderung tomboi, kini telah bermetamorfosis menjadi sosok wanita dewasa yang sangat menggoda. Tubuhnya kini jauh lebih montok, berisi di tempat yang tepat, dengan bagian dada yang tampak mendesak kemeja tipisnya hingga membuat siapa pun—terutama mantan pacarnya—sulit untuk tidak salah fokus.
"Alvin?" cicit Monica, matanya mengerjap kaget, nyaris melompat dari tempatnya berdiri.
"M-Monica?" balas Alvin terbata-bata, menelan ludahnya dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak kering kerontang.
Putri, yang sama sekali tidak tahu apa-apa, tersenyum lebar sambil merangkul lengan suaminya. "Kenalin, Mas Alvin. Ini Kak Monica, kakak kandungku yang baru pulang dari luar negeri. Mulai sekarang, kita tinggal bareng di sini!"
Alvin ingin pingsan saat itu juga. Tinggal satu rumah dengan istri polos, ibu mertua yang teliti, dan seorang mantan terindah yang bodinya kini sukses bikin iman goyah? Ini bukan rumah mertua, ini adalah neraka dunia yang dibungkus komedi romantis!
"Kamu... kenal sama Kakak?" tanya Putri polos, alisnya bertaut heran melihat ekspresi suaminya yang pucat pasi seperti melihat hantu di siang bolong.
Alvin buru-buru menelan ludahnya yang terasa tercekat di tenggorokan. Ia memasang cengiran paling kaku seumur hidupnya, berusaha mati-matian menetralkan debar jantungnya yang menggila. "E-eh? Kenal? Mana mungkin, Sayang. Cuma kaget aja, mendadak banget ada... ehm, penghuni baru di rumah ini. Kirain cuma kita berdua sama Mama."
"Ah, iya! Kak Monica baru nyampe tadi pagi, penerbangannya dari luar negeri dimajuin tanpa ngasih kabar," sahut Melda, sang ibu mertua, yang mendadak muncul dari arah dapur dengan membawa nampan berisi teh hangat dan pisang goreng. Wajah wanita 45 tahun itu sumringah, memancarkan kehangatan khas seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. "Makanya, rumah kita jadi rame lagi. Senang ya, Putri, suami kamu mau diajak tinggal di sini nemenin Ibu."
"Senang banget, Ma! Biar rumah nggak sepi," balas Putri riang, langsung bermanja-manja menyandarkan kepalanya di bahu Alvin.
Di sisi lain ruangan, Monica yang tadinya tampak salah tingkah kini perlahan-lahan menguasai keadaan. Sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman miring yang sarat akan rahasia. Wanita berumur 25 tahun itu melipat kedua tangannya di bawah dada, membuat bagian tersebut semakin terekspos menonjol di balik kemeja longgarnya. Tatapan matanya menyapu tubuh Alvin dari atas sampai bawah dengan penuh selidik, seolah sedang menilai seberapa banyak perubahan pada mantan kekasihnya setelah bertahun-tahun terpisah.
"Iya, dunia ini sempit banget ya, Alvin," suara Monica meluncur lembut, sengaja diberi penekanan penuh nada menggoda di ujung kalimatnya. "Nggak nyangka, mantan... eh, maksudnya, kenalan lama bisa ketemu lagi dengan cara seunik ini. Jadi, kamu sekarang udah jadi suami adik aku?"
Alvin meringis dalam hati. Nada bicara itu. Sifat usil Monica sama sekali tidak berubah, justru kini terasa sepuluh kali lebih berbahaya karena status baru mereka. Apalagi, dengan kenyataan bahwa Monica kini bekerja secara freelance di rumah, sama seperti dirinya yang mencari nafkah lewat layar laptop di ruang kerja. Ini resep bencana rumah tangga yang sempurna.
"Udah, yuk, pada duduk dulu! Jangan pada patung begitu kayak kurang ajar sama tamu," interupsi Melda sambil meletakkan nampan di atas meja. Wanita paruh baya itu memang sangat baik hati dan penuh perhatian, tapi cerewetnya juara satu. "Alvin, tasnya bawa ke kamar dulu sana, di kamar belakang dekat taman. Putri, bantu Ibu siapkan piring di dapur. Monica, temenin iparmu ngobrol, jangan malah berdiri kayak tiang listrik."
"Iya, Ma," jawab mereka hampir bersamaan.
Begitu Melda dan Putri berlalu menuju dapur, suasana di ruang tamu langsung berubah drastis menjadi sunyi senyap, diselingi suara detik jam dinding.
Alvin berdiri kaku sambil menenteng koper. Belum sempat ia melangkah, Monica sudah melangkah pelan mendekatinya. Aroma parfum manis bercampur wangi khas tubuh wanita itu menguar, menyerbu indra penciuman Alvin dan membuat konsentrasinya langsung buyar seketika.
Monica berhenti tepat satu langkah di depan Alvin. Ia mendongak, menatap manik mata pria itu dengan tatapan penuh selidik yang sarat makna.
"Kamar kamu di sebelah barat, dekat ruang kerja kita berdua nanti,"bisik Monica dengan suara rendah, sengaja mendekatkan wajahnya ke telinga Alvin. "Kira-kira... laptop kamu kuat nggak, Vin, nahan beban kerjaan berat? Atau jangan-jangan, fokus kamu bakal gampang buyar setiap kali dengar suara langkah kaki di lorong?"
Alvin meneguk ludahnya susah payah, bulu kuduknya meremang hebat. Ia mendapati dirinya tidak sengaja melirik ke arah dada sang mantan kakak ipar yang berada tepat di depan pandangannya. Sial, perubahan fisik ini benar-benar tidak main-main.
"Monica, jaga jarak. Kita sekarang iparan," desis Alvin setengah berbisik, berusaha mempertahankan sisa-sisa kewarasannya sebagai suami yang baik.
Monica terkekeh pelan, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat merdu namun sukses membuat punggung Alvin basah oleh keringat dingin yang membuat tubuh Alvin membeku . Ia mengangkat sebelah tangannya, dengan santai merapikan kerah kemeja Alvin yang sedikit terlipat. Sentuhan jemari lentik itu terasa sangat panas di kulit leher Alvin yang membuat Alvin sangat gugup setengah mati.
"Ipar, ya?" gumam Monica, menyeringai tipis sebelum menepuk pelan dada kiri Alvin dua kali. "Tenang aja, Bro... aku bakal jadi kakak ipar yang paling baik buat suami adik aku tersayang."
Daftar bab
95 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








