Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Hasrat Mama Tiriku

Hasrat Mama Tiriku

Dewa Pencipta | Bersambung
Jumlah kata
72.3K
Popular
3.8K
Subscribe
1.3K
Novel / Hasrat Mama Tiriku
Hasrat Mama Tiriku

Hasrat Mama Tiriku

Dewa Pencipta| Bersambung
Jumlah Kata
72.3K
Popular
3.8K
Subscribe
1.3K
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of life21+Romansa ManisRumah Tangga
Bima Nugraha (20 tahun) tadinya menjalani hidup sebagai mahasiswa biasa yang tenang, damai, dan jauh dari drama. Namun, ketenangannya hancur berkeping-keping di hari pernikahan ayahnya, Burhan (45 tahun), dengan seorang wanita berumur 33 tahun bernama Bella Kirana. Masalahnya bukan sekadar kehadiran orang tua baru, melainkan karena Bella adalah definisi nyata dari bencana estetika bagi kewarasan Bima. Dengan kecantikan luar biasa yang nyaris tidak masuk akal, dipadukan dengan gaya berpakaian yang super terbuka, modis, dan menggoda, Bella sama sekali tidak terlihat seperti seorang "ibu". Alih-alih merasa memiliki pelindung baru di rumah, Bima justru merasa hidup di bawah teror godaan berjalan setiap hari. Setiap kali Bella memanggilnya dengan sebutan "Sayang" atau sekadar melintas di ruang tamu dengan pakaian santai yang minimalis, jantung Bima langsung berdetak 100 kali lebih cepat. Di satu sisi ia harus menjaga norma sebagai anak tiri, tapi di sisi lain, iman pemuda 20 tahun itu benar-benar diuji habis-habisan di bawah satu atap yang sama. Sebuah kisah komedi romantis dewasa penuh salah paham, salah tingkah, dan debaran jantung yang kelewat batas. Berampunlah pada Bima, yang niatnya ingin berbakti, malah berujung hampir khilaf setiap hari!
Bab 1: Petaka Estetika di Ruang Tamu

"Jadi, mulai hari ini, panggil dia Mama, ya, Bim?"

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Ayah tadi pagi, sebelum beliau menyeret kopernya menuju taksi online yang membawanya langsung ke bandara untuk perjalanan dinas tiga hari ke Surabaya. Sialan memang. Burhan—atau yang kini harus kupanggil Ayah—benar-benar tipikal pria paruh baya yang hobi melempar granat ke tengah lapangan lalu kabur tanpa melihat ledakannya.

Bagaimana aku bisa memanggil wanita berumur 33 tahun dengan sebutan "Mama", sementara secara visual, wanita itu lebih pantas jadi gadis cover majalah mode ketimbang ibu-ibu PKK kompleks?

Rumah mendadak terasa jauh lebih sunyi sejak kepindahan Bella Kirana ke rumah ini, seminggu setelah pernikahan kilat mereka. Ayah, seperti biasa, adalah tipikal manajer proyek konstruksi yang jadwal pulangnya adalah sebuah mitos. Minggu ini saja, beliau sudah menghabiskan lima hari di luar kota. Praktis, hanya ada aku dan Bella di bawah satu atap seluas dua ratus meter persegi ini.

Aku, Bima Nugraha, mahasiswa semester empat yang hidupnya tadinya sangat lurus, tenang, dan minim dosa besar, kini harus menghadapi ujian terberat sepanjang sejarah peradaban umat manusia. Ujian itu bernama ibu tiri.

Sore ini, udara di luar terasa cukup gerah. Aku baru saja selesai sesi workout angkat beban di sudut ruang keluarga, mencoba melampiaskan energi frustrasi yang menumpuk akibat tugas kuliah dan tentu saja, pikiran-pikiran liar yang tidak diundang. Kaos hitam oblongku sudah basah oleh keringat, melekat erat di dada dan perut six-pack hasil jerih payah nge-gym rutin.

Sambil menenteng botol air mineral, aku melangkah menuju dapur untuk mendinginkan tenggorokan.

Namun, langkahku langsung terhenti mendadak di ambang pintu pantry. Jantungku yang tadinya berdetak normal mendadak melompat melewati kerongkongan. Tubuhku membeku seketika, dan dalam hitungan detik, darahku berdesir panas, memicu reaksi fisik spontan di area bawah sabuk celana training-nya yang longgar. Sial. Lagi-lagi benda itu menegang tanpa izin.

Di tengah ruang tengah yang luas, di atas sebuah matras yoga berwarna pink pastel, Bella sedang melakukan sesi peregangan sore.

Wanita itu mengenakan sports bra putih ketat yang nyaris tak sanggup menahan volume aset mahalnya, dipadukan dengan hot pants denim super pendek yang memperlihatkan paha mulus tanpa cela. Punggungnya melengkung membentuk kurva sempurna saat ia melakukan pose cat-cow, sementara rambut hitam panjangnya tergerai bebas menyentuh lantai keramik yang dingin.

Aku berdiri bagaikan patung pancoran. Menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokanku terasa kering kerontang.

Bella tidak bersuara. Sifat aslinya memang pendiam, cuek, dan dingin seperti kulkas dua pintu. Jarang sekali ia membuka percakapan lebih dari tiga kalimat jika tidak benar-benar penting. Tapi justru sifat dingin itulah yang membuatnya terlihat seratus kali lebih berbahaya. Ia tidak sedang mencoba mengggodaku; ia hanya sedang berolahraga di rumahnya sendiri. Masalahnya, rumah ini juga rumahku! Dan kapasitas imajinasiku sebagai pemuda dua puluh tahun yang hormonnya sedang berada di puncak kejayaan tidak diimbangi oleh mental yang cukup kuat untuk menghadapi pemandangan seindah ini.

Tiba-tiba, Bella menghentikan gerakannya. Ia membalikkan badan, duduk bersila di atas matras sambil menatapku lurus-lurus dengan mata tajamnya yang kecoklatan.

Aku tersentak kaget, salah tingkah, buru-buru mengalihkan pandangan ke arah vas bunga di sudut ruangan seolah-olah vas itu adalah benda paling menarik di muka bumi.

"Bima," panggil Bella. Suaranya rendah, sedikit serak, dan selalu berhasil membuat bulu kudukku meremang.

"Ya? Ya, Ma... eh, Tante... eh, Bella?" cicitku terbata-bata, nyaris menggigit lidah sendiri.

Bella bangkit berdiri dengan gerakan luwes bak kucing anggora. Ia berjalan mendekatiku perlahan. Aroma parfum beraroma vanilla musk yang manis langsung menguar, menusuk indra penciumanku. Jarak kami kini tinggal satu meter. Sialan, dalam jarak segini, aku bisa melihat butiran keringat tipis di leher jenjangnya dan naik turun dadanya yang terengah-engah usai yoga.

Aku bisa merasakan celana training-ku semakin terasa sempit dan menyesakkan. Sumpah demi nilai IPK-ku yang nyaris sempurna, aku ingin segera kabur ke kamar, tapi kakiku seperti di paku di lantai.

"Kamu keringetan banget. Habis nge-gym?" tanya Bella dengan nada datar, jemari lentiknya tiba-tiba terulur menyentuh ujung handuk kecil yang menggantung di leherku.

"Ah... i-iya. Biar nggak stres mikirin skripsi bayangan," jawabku jujur, blak-blakan karena memang otakku sedang tidak bisa diajak berpikir jernih. Mataku tanpa sadar melirik turun ke arah kakinya.

Seperti biasa, kalau di rumah dan tidak ada Ayah, Bella paling malas memakai atribut pakaian lengkap. Hari ini, ia bahkan tidak mengenakan sandal rumah, dan dari sudut pandangku yang sedikit lebih tinggi, celana pendeknya menyembunyikan kenyataan bahwa ia sepertinya sedang tidak memakai dalaman. Otakku langsung mengalami korsleting total. Sialan, tahan, Bim! Tahan! Dia itu istri sah bapakmu!

Bella mengerjap, rasa penasarannya yang besar tiba-tiba muncul. Alisnya yang terbentuk rapi terangkat sebelah.

"Skripsi bayangan gimana maksudnya? Kamu kan baru semester empat, Bima," ujarnya, kepalanya sedikit miring ke samping, menunjukkan gestur polos yang justru terlihat ribuan kali lebih menggoda bagi mata lelaki normal.

"Ya bayangan aja, Tante. Bayangin kalau lulus nanti, tapi tiap hari ujian imannya malah sama ibu tiri sendiri. Bisa-bisa aku lulus jadi penghuni RSJ," ucapku spontan, refleks menyembunyikan ketegangan di balik candaan garing khas cowok pemalu yang kalau gugup malah jadi sok asik.

Bella terdiam sejenak. Alih-alih marah atau tersinggung, sudut bibirnya justru sedikit tertarik membentuk senyuman tipis yang sangat misterius. Ia melangkah lebih dekat lagi, membuatku harus menahan napas agar dadanya tidak menyentuh dadaku.

"Kamu ini ya... makin hari makin aneh aja omongannya," bisik Bella tepat di depan telingaku, lalu dengan santai ia menepuk pelan dadaku yang bidang sebelum berlalu melewati tubuhku menuju dapur. "Ambilin minum dong, Sayang. Haus."

"Astaga naga..." gumamku pelan sambil memejamkan mata erat-erat, merutuki nasib sekaligus meratapi celanaku yang benar-benar sudah tidak bisa diajak kompromi lagi.

----

"Jangan bilang kamu mau menghabiskan hari ini cuma buat natap layar HP sambil nungguin mimpong kamu kalah, Bim?"

Suara itu melayang pelan menembus udara dapur yang masih terasa dingin oleh sisa embun pagi. Aku—Bima Nugraha, mahasiswa tingkat akhir yang hidupnya separuh hancur karena skripsi dan separuh lagi karena salah tingkah akut—hampir saja menjatuhkan cangkir keramik dari genggamanku. Sial. Jantungku langsung melompat ke tenggorokan.

Aku menelan ludah dengan susah payah, berusaha memasang wajah selurus mungkin sambil memutar badan menghadap sumber suara. Di sana, berdiri Bella Kirana—ibu tiri kesayanganku yang usianya baru 33 tahun, tapi aura kedewasaannya sanggup membuat cowok sepertiku merasa seperti bocah kemarin sore yang baru belajar pakai celana panjang.

Pagi ini, wanita berambut panjang yang dibiarkan tergerai berantakan secara artistik itu sedang berdiri di depan meja dapur. Ia mengenakan tank top putih berbahan tipis yang kelewat longgar dan celana pendek kain rumahan yang nyaris membuatku dosa besar hanya dengan meliriknya sekilas. Tanpa sadar, mataku sempat berkhianat turun ke bawah, menangkap kontur paha mulusnya yang terekspos bebas. Otakku langsung berteriak histeris, sementara bagian bawah tubuhku mendadak merespons dengan tegangan spontan yang membuatku harus berdiri sedikit membungkuk di balik meja pantri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca