
Sang Penguasa Kegelapan
moon_skyy|Bersambung
- Jumlah kata
- 102.6K
- Popular
- 233
- Subscribe
- 54
- Jumlah kata
- 102.6K
- Popular
- 233
- Subscribe
- 54
Sinopsis
Dikhianati oleh murid-muridnya sendiri, Kael, Sang Penguasa Kegelapan, terbangun ribuan tahun kemudian di dunia yang telah melupakan namanya. Kekuatannya lenyap, sementara musuh lama diam-diam membangun kekuasaan di balik bayangan. Berbekal pengalaman, kecerdikan, dan tekad yang tak tergoyahkan, Kael memulai perjalanan untuk memulihkan kekuatannya, mengungkap konspirasi kuno, menaklukkan berbagai wilayah berbahaya, serta menghadapi makhluk legendaris yang mengancam dunia. Setiap langkah membawanya semakin dekat pada kebenaran tentang kehancurannya di masa lalu. Kini, hanya ada satu tujuan yang menggerakkan hidupnya: bangkit kembali sebagai Sang Penguasa Kegelapan yang ditakuti seluruh dunia.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Kebangkitan Sang Penguasa Kegelapan
"Masih hidup?" gumam Kael dengan suara serak saat kelopak matanya terbuka perlahan.
Pandangannya dipenuhi langit batu berwarna hitam yang retak. Debu tipis berjatuhan dari langit-langit gua, sementara udara lembap menusuk paru-parunya. Tubuhnya terasa begitu berat, seolah telah terkubur selama ribuan tahun.
Kael berusaha menggerakkan jemarinya. Sedikit demi sedikit, jari-jari itu mengepal.
"Aneh... tubuhku masih bisa bergerak," bisiknya pelan.
Ia memaksakan diri bangkit. Batu-batu yang menindih bahunya berjatuhan ke lantai dengan suara keras. Napasnya memburu ketika rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh.
"Siapa pun yang menyegelku... pasti mengira aku sudah mati," ujar Kael sambil menyeringai tipis.
Tatapannya menyapu ruangan luas yang dipenuhi pilar-pilar kuno. Simbol-simbol berwarna merah tua memenuhi dinding, tetapi hampir semuanya telah memudar dimakan usia.
Kael mengangkat telapak tangannya.
"Mana kekuatanku?" tanyanya pelan.
Tak ada sedikit pun energi yang muncul.
Keningnya berkerut.
"Tidak mungkin," desis Kael.
Ia mencoba sekali lagi. Kali ini lebih serius.
"Kegelapan... bangkitlah," ucap Kael dengan nada tegas.
Hening.
Tak ada bayangan yang bergerak.
Tak ada aura yang muncul.
Yang terdengar hanya tetesan air dari kejauhan.
Kael menarik napas panjang.
"Segel itu bukan hanya mengurungku. Segel itu menghabiskan hampir seluruh kekuatanku," katanya dengan nada datar.
Ingatan lama mulai bermunculan.
Medan perang.
Langit yang dipenuhi kobaran api.
Puluhan muridnya berdiri mengelilinginya.
Mereka semua menundukkan kepala.
Lalu...
Pedang-pedang itu menembus tubuhnya secara bersamaan.
"Guru, maafkan kami."
Suara itu kembali menggema di kepalanya.
Kael mengepalkan tangan begitu erat hingga kuku-kukunya menancap ke telapak.
"Kalian mengkhianatiku," gumam Kael dingin.
Aura membunuh yang samar memenuhi ruangan.
Namun aura itu segera menghilang karena tenaganya terlalu lemah.
"Cih... bahkan amarahku pun tak mampu bertahan lama," keluh Kael sambil menggeleng pelan.
Ia melangkah keluar dari altar batu tempat dirinya tersegel.
Setiap langkah meninggalkan jejak debu tebal.
Di sudut ruangan, sebuah pedang berkarat tertancap di tanah.
Kael menghampirinya.
"Masih ada yang tersisa rupanya," ucap Kael sambil mencabut pedang itu.
Pedang tersebut langsung retak.
BRAK!
Bilahnya hancur berkeping-keping.
Kael menatap gagangnya beberapa saat.
"Bahkan senjata biasa tak mampu menahan sisa auraku," katanya lirih.
Ia membuang gagang itu begitu saja.
Beberapa langkah kemudian, telinganya menangkap suara geraman.
GRRR...
Kael menghentikan langkahnya.
"Ada penghuni lain?" tanyanya pelan.
Dari lorong gelap muncul seekor serigala raksasa bermata merah. Tubuhnya hampir dua kali lebih besar daripada manusia biasa.
Binatang itu memperlihatkan taringnya.
Raungan keras mengguncang gua.
"Auuuu!"
Kael tetap berdiri tanpa bergeming.
"Kau ingin memangsaku?" tanya Kael dengan tenang.
Serigala itu menerjang.
Kael memiringkan tubuhnya tepat sebelum cakar besar itu menyambar wajahnya.
"Gerakanmu lambat," komentar Kael dingin.
Ia menghantam rahang serigala menggunakan siku.
Buk!
Monster itu terpental beberapa meter.
Namun Kael ikut terhuyung.
"Napas ini... terlalu pendek," gumam Kael kesal.
Serigala itu bangkit kembali.
Matanya semakin merah.
"Hm, rupanya kau belum menyerah," ujar Kael sambil mengambil batu tajam dari lantai.
Monster itu kembali menyerbu.
Kael menghindar pada detik terakhir.
Ia langsung menusukkan batu tajam itu ke mata kanan serigala.
"Arooo!"
Monster tersebut mengamuk sambil menggelengkan kepala.
Kael tidak memberi kesempatan.
Ia melompat ke punggungnya.
"Berakhir sudah," ucap Kael tegas.
Dengan seluruh tenaga yang tersisa, ia menghantam batu tajam itu semakin dalam hingga menembus otak monster.
Tubuh serigala raksasa itu ambruk dan tak lagi bergerak.
Kael turun perlahan.
Napasnya memburu.
"Dulu, monster seperti ini bahkan tak layak menjadi peliharaanku," katanya sambil tertawa kecil penuh ironi.
Ia duduk bersandar pada dinding gua.
Tatapannya kosong.
"Kalau ingin bertahan hidup, aku harus memulai semuanya dari awal," ujar Kael pelan.
Ia memejamkan mata, merasakan aliran energi tipis dari bangkai monster yang perlahan masuk ke dalam tubuhnya.
Meski jumlahnya sangat sedikit, energi itu membuatnya tersenyum.
"Jadi masih bisa diserap," gumam Kael puas.
Ia membuka matanya kembali.
Kilatan dingin memenuhi sorot matanya.
"Kalau begitu, dunia ini akan menjadi batu pijakanku," ucap Kael dengan suara mantap.
"Aku akan merebut kembali semua yang pernah menjadi milikku," lanjut Kael sambil mengepalkan tangan.
"Dan kali ini..."
"Aku tidak akan memberi kesempatan kepada siapa pun untuk mengkhianatiku lagi," ujar Kael dengan senyum tipis.
Kael melangkah meninggalkan bangkai serigala raksasa tanpa sekali pun menoleh. Energi yang baru saja ia serap memang tidak banyak, tetapi cukup untuk mengurangi rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya.
"Setidaknya aku tidak lagi selemah orang sekarat," gumam Kael sambil mengusap darah yang mengering di sudut bibirnya.
Lorong gua semakin menyempit. Akar-akar pohon menembus celah bebatuan, menandakan tempat ini telah lama terlupakan.
Kael mengamati setiap sudut dengan tatapan tajam.
"Perangkap," ujar Kael pelan setelah melihat ukiran samar di lantai.
Ia mengambil sebuah batu kecil.
"Lihat apakah naluriku masih setajam dulu," ucap Kael sebelum melempar batu itu ke depan.
Klik!
Dalam sekejap, puluhan anak panah melesat dari kedua sisi dinding.
Sret! Sret! Sret!
Seluruh lorong dipenuhi suara benturan logam.
Kael menyeringai tipis.
"Masih sama. Para pembuat makam selalu terlalu percaya diri," katanya tenang.
Ia menunggu hingga semua perangkap berhenti bekerja sebelum kembali melangkah.
Tak lama kemudian, sebuah pintu batu raksasa berdiri di hadapannya.
Permukaannya dipenuhi lambang-lambang kuno.
Kael mengangkat alis.
"Lambang ini..."
Ia menyentuhkan telapak tangannya pada ukiran tersebut.
Seketika, serpihan ingatan melintas di kepalanya.
Beberapa orang berjubah putih sedang mengukir lambang itu sambil mengucapkan sumpah untuk menyegel seseorang selamanya.
"Mereka benar-benar menghabiskan seluruh hidupnya hanya untuk memastikan aku tidak pernah bangkit," ujar Kael dengan nada dingin.
Ia mendorong pintu batu itu.
Tidak bergerak.
"Hm."
Kael menarik napas panjang.
"Kalau tenaga tidak cukup, gunakan cara yang lebih sederhana," katanya santai.
Tatapannya segera menemukan retakan kecil di sisi kanan pintu.
"Itulah titik lemahnya," ucap Kael.
Ia memungut batu sebesar kepalan tangan.
BUK!
Retakan itu sedikit melebar.
BUK!
BUK!
BUK!
Setelah beberapa kali pukulan, seluruh pintu mulai bergetar.
BRAK!
Pintu batu runtuh menjadi kepingan besar.
Kael melangkah keluar.
Sinar matahari langsung menyinari wajahnya.
Ia berhenti sejenak.
"Sudah berapa lama aku tertidur?" tanya Kael lirih.
Di hadapannya terbentang pegunungan luas yang sama sekali asing. Hutan lebat menutupi kaki gunung, sementara sebuah kota kecil tampak samar di kejauhan.
Tak satu pun bangunan yang dikenalnya masih berdiri.
"Jadi semuanya benar-benar telah berubah," ujar Kael.
Angin berembus pelan, membawa aroma dedaunan yang belum pernah ia hirup sebelumnya.
Kael menundukkan kepala.
Tanah di sekitar pintu makam dipenuhi batu nisan yang telah patah.
"Hanya aku yang masih tersisa," gumam Kael.
Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki.
"Kalian yakin tempatnya di sini?" tanya seorang pria dari balik pepohonan.
"Aku melihat cahaya keluar dari gunung tadi," jawab pria lain dengan nada gugup.
"Mungkin ada harta karun kuno," sahut suara ketiga penuh semangat.
Kael memiringkan kepalanya.
"Pemburu harta?" bisiknya pelan.
Tiga pria membawa pedang pendek muncul dari balik semak.
Mereka langsung terkejut melihat sosok Kael berdiri di depan makam yang terbuka.
"Hei, siapa kau?" tanya pria berjanggut sambil menghunus pedangnya.
Kael menatap mereka tanpa ekspresi.
"Orang yang baru saja bangun," jawab Kael singkat.
Pria bertubuh besar itu tertawa keras.
"Jangan bercanda!" serunya sambil melangkah mendekat.
"Kau mengambil semua harta di dalam makam itu, bukan?" tuduh pria bermata sipit.
Kael menggeleng pelan.
"Tidak ada harta di sana," ujar Kael datar.
"Bohong!" bentak pria berjanggut.
"Kalau begitu, kami akan memeriksanya sendiri," ucap pria ketiga sambil mencoba melewati Kael.
Kael bergeser setengah langkah hingga menutup jalan masuk.
"Tidak ada yang boleh masuk," katanya tenang.
Pria berjanggut mendecak kesal.
"Kalau kau tidak mau menyingkir, kami akan membunuhmu!" ancamnya.
Kael memandang mereka satu per satu.
Tatapannya tetap dingin.
"Dengan kemampuan kalian?" tanya Kael pelan.
Ucapan itu membuat ketiga pria tersebut tersinggung.
"Habisi dia!" teriak pria berjanggut.
Ketiganya menyerbu secara bersamaan.
Kael menghela napas pendek.
"Sepertinya dunia ini masih dipenuhi orang-orang bodoh," ujar Kael sebelum tubuhnya melesat maju menyambut serangan mereka.
Daftar bab
75 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








