
Pewaris Ilmu Pengobatan Sakti
Rajawali Muda|Bersambung
- Jumlah kata
- 116.7K
- Popular
- 11.6K
- Subscribe
- 888
- Jumlah kata
- 116.7K
- Popular
- 11.6K
- Subscribe
- 888
Sinopsis
Baru saja kehilangan sang ibu, Aryo tiba-tiba diusir dari desa karena dianggap menyebarkan penyakit. Tak hanya itu, kekasihnya pun menikah dengan juragan desa. Di titik akhir hidupnya, darahnya mengalir mengenai sebuah cincin sakti. Seketika, ia berubah menjadi ahli pengobatan dan pewaris ilmu kanuragan tanpa tanding. Semua orang kini mengantre untuk mendapatkan pengobatan darinya. Para wanita berbondong-bondong menyerahkan diri untuk merasakan sentuhan sang tabib terhebat. Mereka yang dulu mengusirnya kini balik memujanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Dituduh menyebar Wabah penyakit
"Aryo! Aryo! Aryo! Keluar kamu!"
Suara teriakan lantang itu memecah keheningan pagi di halaman rumah berdinding papan milik Aryo.
Aryo dibantu oleh Ayu, kekasihnya, sedang membersihkan kasur kapuk bekas tempat tidur ibunya yang baru saja dikubur satu jam yang lalu.
Sisa-sisa aroma minyak kayu putih dan duka masih memenuhi ruangan sempit itu.
Ayu menghentikan gerakannya. Wajahnya seketika berubah pucat pasi. "Mas... banyak orang di luar," seru Ayu dengan suara yang bergetar. Tangan mungilnya mencengkeram ujung kaos Aryo.
Aryo mengerutkan kening. Ia marah dan terusik. Rasa sedih dan lelah belum hilang karena baru saja kehilangan seorang ibu membuat dadanya terasa sesak.
Tanpa menjawab, Aryo bergegas melangkah keluar. Baru saja kakinya menginjak ambang pintu, pemandangan di halaman rumahnya langsung membuat jantungnya berdegup kencang.
Di halamannya, puluhan warga desa sudah berkumpul. Mereka membawa kayu, batu dan golok dengan ekspresi wajah yang dipenuhi amarah dan kebencian. Seolah-olah sedang mengepung seorang penjahat yang sangat berbahaya.
"Aryo! Cepat pergi dari desa ini!" teriak salah satu warga dari barisan depan.
Aryo terkejut bukan main. Matanya langsung tertuju pada sosok pria tua bertubuh gempal yang berdiri paling depan dengan tatapan angkuh.
"Hei, kenapa Kang Jono mengusirku! Apa salahku!" seru Aryo Dengan suara lantang.
Mandor Jono, orang kepercayaan Juragan Reksa.
Laki-laki itu maju satu langkah, mengarahkan telunjuknya ke arah Aryo. "Aryo, kamu dan ibu kamu itu sudah menyebarkan penyakit kutukan di desa ini! Sekarang banyak warga yang tertular dan sakit-sakitan gara-gara ibumu! Ibumu mati karena penyakit kutukan itu dan kamu pembawa sialnya!"
"Iya, Yo! Cepat pergi! Jangan bawa sial di desa ini!" sahut warga lain dari belakang, memperkeruh keadaan.
"Usir! Usir! Usir dia sekarang juga!" seru warga yang sudah tersulut emosi.
Darah Aryo seketika mendidih mendengarkan fitnah keji yang keluar dari mulut warga, terutama dari mulut Jono. Mendiang ibunya adalah sosok wanita baik yang selama ini berjuang melawan sakit paru-paru , bukan seorang penyebar wabah apalagi kutukan.
"Jangan menuduh ibuku yang baru saja dikubur dengan sembarangan! Dia meninggal karena penyakit paru-paru yang sudah lama! Dokter rumah sakit sendiri yang bilang!" teriak Aryo dengan urat-urat leher yang menegang. Air matanya hampir menetes, bukan karena takut, melainkan karena rasa sakit yang teramat dalam melihat nama baik ibunya diinjak-injak saat baru saja jasadnya menyatu dengan tanah.
Seiring dengan amarahnya yang memuncak hingga ke ubun-ubun, sesuatu yang aneh terjadi. Cincin perak berkarat di jari manis tangan kanan Aryo, menurut ibunya sebuah peninggalan dari mendiang ayahnya yang tak pernah ia kenal, tiba-tiba terasa memanas.
Rasa panas itu bukan sekadar hangat. Hawa panasnya itu mulai menjalar perlahan ke pergelangan tangan, lalu naik ke lengan pemuda itu, membuat otot-otot lengannya menegang dan berdenyut aneh.
Namun, di tengah kepungan massa, Aryo lebih fokus pada amarahnya untuk menyadari perubahan tersebut.
"Bohong! Ibumu mengidap penyakit menular yang mematikan! Ayo warga, jangan percaya sama anak haram ini, kita usir dia sekarang dari desa ini!" Jono kembali menghasut warga, matanya berkilat penuh kelicikan yang kebencian.
Ayu yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Aryo akhirnya tidak tahan lagi. Dengan keberanian yang dipaksakan, ia maju selangkah melindungi kekasihnya.
"Kalian jangan bertindak semena-mena! Ibu Mas Aryo tidak menularkan penyakit berbahaya! Saya setiap hari merawat beliau dan saya sehat-sehat saja! Kalian semua sudah termakan fitnah!" teriak Ayu, suaranya melengking tinggi mencoba meredam gemuruh amarah warga.
Di tengah kekacauan itu, sesosok pria paruh baya berpakaian rapi merangsek maju ke depan kerumunan. Pria itu adalah Pak Harmoko, pemilik kebun karet dan peternakan kambing tempat Aryo bekerja serabutan selama ini.
"Benar kata Ayu! Kita tidak boleh main hakim sendiri!" sahut Pak Harmoko dengan tegas, merentangkan kedua tangannya di depan warga yang mulai merangsek maju.
"Aryo ini anak baik, ibunya sakit menahun bukan karena wabah. Jangan membuat dosa dengan mengusir anak yatim piatu yang sedang berduka!"
Namun, suara kebenaran Pak Harmoko tenggelam oleh hasutan yang sudah mengakar. Tiba-tiba, dari arah belakang kerumunan, muncul Pak Danang, ayah kandung Ayu. Wajahnya merah padam melihat putrinya berdiri membela Aryo.
"Ayu! Pulang kamu!" Teriak Pak Danang dengan suara menggelegar. Ia menerobos kerumunan dan menatap Ayu dengan pandangan murka. "Buat apa kamu membela pemuda miskin, penyakitan, dan tidak punya masa depan itu?! Ingat Ayu, tiga hari lagi kamu akan menikah dengan Juragan Reksa!"
Deg!
Dunia seakan berhenti berputar bagi Aryo. Kata-kata Pak Danang bagai petir yang menyambar tepat di dadanya. Pemuda itu menoleh cepat ke arah Ayu, matanya menatap tajam penuh ketidak percayaan.
"Apa itu benar, Ayu? Kamu... mau menikah dengan Juragan Reksa?" tanya Aryo, suaranya mendadak melemah, menyiratkan luka yang jauh lebih dalam daripada fitnah warga desa. Juragan Reksa adalah pria kaya raya paruh baya di desa itu yang terkenal beristri banyak, kejam dan suka menindas orang miskin.
Ayu langsung memegang tangan Aryo dengan gemetar, air matanya kini benar-benar tumpah. "Tidak, Mas... tidak! Itu maunya bapak! Aku tidak mau, Mas! Aku hanya mau menikah dengan kamu..."
"Kurang ajar! Anak tidak tahu diuntung!" Pak Danang maju dan mencengkeram pergelangan tangan Ayu dengan kasar.
Jono yang melihat situasi semakin memanas tidak ingin kehilangan kesempatan. Ia berteriak memotong drama keluarga itu, "Aryo! Cepat pergi dari desa ini atau kami yang akan menyeret mayatmu dan membuangnya ke hutan biar dimakan macan!"
Belum sempat Jono menyelesaikan seluruh ucapannya, sebuah batu sekepalan tangan melesat dari arah kerumunan, disusul oleh batu-batu lainnya.
Plak!
Sebuah batu mengenai bahu Aryo.
Pemuda itu tidak gentar sedikit pun. Rasa sakit di bahunya justru menyalakan kembali hawa panas dari cincin di jarinya yang kini merambat semakin cepat ke seluruh tubuhnya.
Dengan raungan kemarahan, Aryo maju menerjang ke depan. Ia menggunakan tubuhnya yang cukup kekar untuk mendorong beberapa warga hingga mereka terjatuh terjungkal ke tanah.
"Mas Aryo!!" jerit Ayu histeris. Namun, tubuhnya kurusnya ditarik dengan paksa dan kasar oleh Pak Danang, menjauhi halaman rumah Aryo yang kini telah berubah menjadi medan pengeroyokan yang brutal.
Ayu menangis dan menjerit, tetapi tenaganya kalah jauh dari cengkeraman ayahnya yang dibantu oleh dua orang pemuda suruhan Jono.
"Bunuh! Bunuh si pembawa penyakit ini! Hancurkan rumahnya!"
"Bakar sekalian!"
Teriakan warga berubah menjadi semakin liar dan menyeramkan. Kehilangan akal sehat, massa mulai bergerak serempak bagai binatang buas yang kelaparan.
Karena hanya seorang diri dan kalah jauh dalam jumlah, Aryo dengan cepat terdesak.
Beberapa batu besar kembali melayang dan mengenai dada serta rusuknya.
Aryo terbatuk.
Pak Harmoko yang tidak tega melihat anak buahnya dikeroyok, mencoba merangsek masuk ke dalam lingkaran massa untuk melindungi Aryo.
"Hentikan! Kalian semua sudah gila! Ini pembunuhan!" teriak Pak Harmoko. Naas, sebuah tendangan keras dari salah satu warga mengenai pinggang Pak Harmoko, membuatnya terkapar di tanah dan meringis kesakitan, tak mampu lagi memberikan bantuan.
"Aku tidak akan pergi! Ini rumahku! Ini tanah ibuku!" teriak Aryo dengan sisa-sisa tenaganya. Ia berhasil bangkit dan melayangkan satu pukulan yang mengenai rahang salah satu warga hingga giginya tanggal, tetapi setelah itu, amukan warga langsung menenggelamkannya.
Kini, Aryo benar-benar menjadi bulan-bulanan warga. Pukulan kayu, tendangan, dan lemparan batu menghujani tubuhnya yang sudah melemah. Ia berlutut di atas tanah, kedua tangannya melindungi kepala, sementara hawa panas dari cincin di jarinya kini terasa membakar kulitnya, berdenyut selaras dengan detak jantungnya yang semakin melemah.
Jono berjalan mendekat dengan senyum kemenangan yang licik. Di tangannya, ia memegang sebuah batu kali yang besar dan tajam. Dari jarak dekat, dengan penuh kebencian, Jono mengayunkan batu tersebut ke arah kepala Aryo yang sudah bersimbah darah.
Brakk!
Batu itu mendarat atas telinga Aryo.
Rasa sakit yang teramat sangat menyengat seluruh sarafnya, disusul oleh sensasi dingin yang aneh. Suara teriakan warga, terdengar semakin menjauh dan rasa sakit di tubuhnya semakin menyiksa.
Pandangan mata Aryo menjadi kabur.
Seketika, dunia Aryo menjadi gelap gulita. Tubuh pemuda itu ambruk, terjerembap di halaman tak lagi bergerak di bawah tatapan dingin warga desa.
Warga desa kemudian pergi meninggalkan begitu saja tubuh Aryo yang terkapar di halaman.
Dalam kegelapan itu, Aryo merasa dirinya mengambang. Tidak ada rasa sakit, tidak ada suara teriakan warga. Hanya ada keheningan yang sangat sunyi.
Rasa terbakar di jari manisnya tiba-tiba meledak. Cincin tua yang tadinya berkarat itu, seakan hancur menjadi serpihan cahaya putih yang langsung meresap ke dalam pori-pori kulitnya.
Bersamaan dengan itu, sebuah aliran energi yang sangat besar mengalir ke dalam pembuluh darahnya, memperbaiki setiap tulang yang retak, memulihkan jaringan daging yang luka dan memar, serta menghentikan pendarahan di kepalanya dalam hitungan detik.
Di saat kesadaran mulai pulih, sebuah suara memanggilnya.
Daftar bab
94 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








