

Lampu OK-7 menyala putih terang. Udara dingin merayap dari ubin ke kaki, lalu ke tengkuk. Di luar kaca, koridor rumah sakit masih tenang. Di dalam, waktu sudah mulai berhitung mundur.
Dr. Kael Arvendra membasuh tangan sampai siku. Bau antiseptik pedas menusuk hidung. Ngantuk sejak jam tiga pagi masih menempel, tapi dia abaikan. Di cermin di atas wastafel, rahangnya rapi. Tahi lalat kecil di bawah sudut kiri bibirnya kelihatan jelas. Rambut hitam ikalnya basah di pelipis.
Dia tersenyum pada bayangannya sendiri.
“Jangan ganteng-ganteng,” gumamnya. “Nanti pasiennya minder, terus tensinya turun.”
Senyum itu tipuan. Di balik candaan, ada pantangan lama: jangan pakai tangan itu kecuali benar-benar terpaksa. Jangan sampai malam Nio terulang—dan jangan sampai orang lain tahu.
Pintu ayun terbuka. Bunyi roda brankar memukul ambang. Bau darah menyusul, campur keringat orang yang takut mati tapi malu mengaku. Aroma oli motor basah menempel di jaket korban—bau jalanan Distrik Kaldera.
“Trauma tembak, Dok!” suara perawat nyaring. “Laki-laki, tiga puluh-an. Luka masuk dada kiri. Tekanan darahnya jelek.”
Kael berbalik. Gerakannya santai, seolah baru dipanggil ambil kopi, bukan nyawa. Sarung tangan lateks berbunyi snap di pergelangannya.
Di balik kaca, Dr. Sera Qamarina sudah memasang monitor. Layar di sampingnya menampilkan detak dan napas pasien dalam angka yang terus bergerak. Baju operasi hijaunya menempel di tubuh ramping berisinya. Pinggulnya tegas saat dia beringsut mengatur selang. Bukit kembarnya besar dan padat, menekan kain setiap kali dia mengangkat tangan. Rambut sebahunya diselipkan di balik topi, sehelai keluar di pelipis. Mata Sera tajam—hanya fokus.
Sera melirik Kael lewat kaca. Alisnya naik sedikit.
“Kalau mau grebek hati orang, antri,” celetuk Kael pelan. “Aku masih ada jadwal di dada pasien.”
“Fokus, Dr. Arvendra,” balas Sera datar. “Godaan di luar. Sekarang jangan.”
Tim berkumpul. Sebelum pisau menyentuh kulit, mereka berhenti sebentar. Nama pasien diulang. Jenis operasi diulang. Sisi dada yang benar ditunjuk. Antibiotik dan alergi dicek. Baru setelah itu semua mengangguk.
Kael mengucapkannya dengan suara tenang. Beberapa perawat junior pura-pura batuk. Ibu Marni Lestari, kepala OK, memicing dari sudut. Tubuhnya berisi dan tegap. Clipboard di tangannya siap menertibkan siapa saja yang main-main dengan kebersihan.
“Insisi,” kata Kael.
Pisau pertama menyentuh kulit. Darah menyembur sebentar, lalu ditarik alat hisap sampai lapangan kembali kelihatan. Bunyi monitor berdetak teratur, lalu lebih cepat. Bau tipis seperti daging terbakar naik dari ujung alat yang menghentikan perdarahan kecil. Di bawah lampu, tangan Kael bergerak tanpa drama—tangan dokter biasa yang sangat piawai. Tidak tergesa. Tidak lambat.
“Tekanan turun,” kata Sera. Rahangnya mengeras. Angka di layar jatuh. “Isi. Cepat.”
“Sudah kudengar,” sahut Kael. “Jantungnya masih mau bertahan.”
Seseorang di tim menahan tawa. Ibu Marni berdehem sekali.
Daerah operasi semakin kotor oleh darah. Peluru tidak mudah. Pembuluh bandel. Waktu menipis. Kael mengulurkan tangan.
“Clamp.”
Alat penjapit berpindah ke jarinya. Dia minta cahaya lebih terang, minta diam sebentar. Jari-jarinya bekerja sesuai ilmu—bukan sihir. Keringat merembes di pelipisnya di balik topi.
Lalu angka di monitor jatuh lagi.
Sera bersuara lebih keras. “Kael. Kita kehilangan dia.”
Detik itu, sesuatu yang dia benci bangkit di ujung jarinya. Bukan karena ingin pamer. Karena tubuh di meja ini mengingatkannya pada tubuh Nio lima tahun lalu—hangat yang tinggal hitungan napas.
Jangan, pikirnya. Jangan di sini.
Tapi tangan lebih dulu dari akal.
Jari telunjuknya menempel sebentar di tepi luka, di kulit yang masih hangat. Kepalanya bergetar.
Kemampuan yang dia sembunyikan itu aktif—Mata Jari.
Begitu jarinya menyentuh kulit pasien, Kael langsung “melihat” kondisi di dalam tubuh itu. Bukan lewat layar. Langsung di kepalanya. Rasa logam di lidah. Bau gang basah. Takut yang mulas di perut—takut milik pasien, numpang masuk. Peluru tersangkut di dekat tulang rusuk; serpihannya mengarah ke kantung jantung.
Dan sekejap, kilas lama ikut nyelinap: lampu OK lain, darah lain, suara Nio yang memanggil namanya pelan sebelum garis di monitor jadi lurus.
Kael mengedip keras. Bukan sekarang. Jangan hancur sekarang.
“Clamp,” katanya lagi, suara masih datar.
Alat berpindah. Ilmu dan pengalaman menahan pendarahan utama. Tapi di satu sudut dalam, darah masih bandel. Cairan dan darah donor sudah masuk lewat selang. Tangan biasa hampir kehabisan jalan.
Kael menghembuskan napas pelan di balik masker.
Maaf, Nio, gumamnya dalam hati. Aku pakai lagi.
Dia mengizinkan sedikit saja—Resleting Daging. Luka dalam yang bandel tertarik menutup tanpa benang yang kelihatan. Hangat tubuh Kael hilang setelapak tangan. Dingin naik ke bahu dan tengkuk. Dia menggigil sekali, cepat, disamarkan jadi gerakan merapikan lampu.
Sera melirik angka. “Stabil sebentar. Jangan bikin aku kaget dengan ulah ajaibmu, Kael.”
Kalimat itu menusuk. Sera hanya tidak mau dia main sulap sampai tim kewalahan. Tapi Kael barusan memang curang. Sera tidak tahu tuduhannya nyaris kena.
“Kalau mau kesal sama aku, kesal saja di luar,” sahutnya tanpa menoleh, menutup takut dengan godaan. “Nanti. Kalau kamu mau. Dan harus kamu yang bilang boleh.”
Seseorang menyembunyikan tawa jadi batuk. Ibu Marni berdehem lebih keras.
Peluru keluar. Bunyinya kecil di nampan metal. Darah dikendalikan. Jantung pasien menolak mati. Kael menutup luka seolah tidak ada yang aneh. Padahal jari-jarinya masih dingin, dan di dada ada rasa bersalah yang familiar: dia curang pada kematian lagi.
“Tutup,” katanya. “Rapi. Jangan sampai pacarnya bilang jahitanku jelek. Aku sensitif.”
Sera menyuntik, mengatur napas pasien, memandang Kael terlalu lama. Matanya bilang curiga. Mulutnya bilang:
“Pindah ke ICU. Pantau ketat. Dan ganti scrub. Kamu bau keringat dan darah. Jangan keliling koridor seperti itu.”
“Bilang saja aku ganteng meski basah,” sahut Kael pelan.
“Bilang saja otakmu basah sepanjang tahun,” balas Sera.
Mereka mendorong brankar keluar. Roda berdecit. Lampu koridor berkedip sekali. Kelopak pasien bergetar. Seharusnya dia masih tertidur oleh obat. Tapi bibir pria itu bergerak.
Kael condong. Napas gangster itu berbau besi dan permen mint murah.
“Marrow…” bisiknya. “Jangan… dijahit… Marrow…”
Lalu dia tenggelam lagi.
Kael tegak. Nama itu asing dan dingin. Di saku scrub-nya, pager bergetar. Bukan alarm henti jantung. Satu baris dari pengirim tidak dikenal:
CANTIK, JAHITANMU.
Perutnya mulas. Bukan karena godaan. Karena ada yang melihat curangnya.
Dia tersenyum miring—otomatis, palsu—lalu masuk lift menuju ICU. Di balik pintu yang menutup, satu nama lama kembali menempel di lidahnya, pahit seperti kopi hangus.
Nio.
Kalau malam ini dia masih waras, dia harus mengingat lagi bagaimana semuanya dimulai. Bukan untuk nostalgia. Untuk memastikan tidak ada orang lain mati karena tangannya datang terlalu lambat—atau terlalu kelihatan.