
Ramuan Hasrat Tabib Ilahi
prettyies|Bersambung
- Jumlah kata
- 68.5K
- Popular
- 1.9K
- Subscribe
- 600
- Jumlah kata
- 68.5K
- Popular
- 1.9K
- Subscribe
- 600

prettyies|Bersambung
Warning area 21++!! 🔞🔥 Kalandra Wiratama kehilangan segalanya dalam satu malam. Istrinya berselingkuh lalu menceraikannya dengan alasan yang begitu menyakitkan—ia dianggap tak mampu memuaskan kebutuhan biologis sang istri karena menderita ejakulasi dini. Hancur oleh pengkhianatan, Kalandra mengalami kecelakaan tragis yang hampir merenggut nyawanya. Namun, takdir membawanya pada keajaiban yang tak pernah dibayangkan. Jiwa seorang tabib legendaris dari ribuan tahun lalu, yang gugur saat meneliti ramuan kehidupan, menyatu ke dalam tubuhnya. Sejak saat itu, Kalandra mewarisi pengetahuan kuno tentang ribuan ramuan herbal yang telah lama hilang. Tak hanya mampu menyembuhkan penyakit yang dianggap mustahil, ia juga berhasil menciptakan Ramuan Hasrat Ilahi, sebuah formula langka yang mengubah dirinya menjadi pria dengan stamina luar biasa dan pesona yang sulit ditolak. Nama Kalandra melambung sebagai tabib ajaib yang mampu menyelamatkan nyawa para konglomerat, pejabat, hingga tokoh berpengaruh. Kekayaan, kekuasaan, dan wanita-wanita cantik mulai berdatangan, masing-masing ingin memiliki pria misterius itu. Namun di balik kemampuan luar biasanya, tersembunyi rahasia besar tentang warisan sang tabib ilahi yang menjadi incaran organisasi gelap. Di saat Kalandra membangun kembali hidupnya dan membalas pengkhianatan masa lalu, ia harus memilih: menggunakan ilmunya demi menyelamatkan banyak orang, atau membiarkan dunia jatuh ke tangan mereka yang ingin memanfaatkan ramuan ilahi demi ambisi tanpa batas.
1 ulasan
Nur_Azizah_354
2/9/26 10:31
semangat Thor ramuannya pasti bikin sesuatu yaaa, jadi penasaran thor, gimana itu,....🤭🤭🤭🤭 di tunggu update nya ya, 🫠
""Ugh... Ahh… Enak sekali.... Kamu benar-benar tahu bagaimana cara memuaskanku di ranjang."
Ajeng mendesah sambil menggeliat di bawah kungkungan pria yang terus menggerakkan tubuhnya dengan penuh gairah.
"Kamu jauh lebih perkasa daripada suamiku," ucap Ajeng di sela nafasnya yang memburu.
"Dia baru masuk sebentar, belum ada lima menit sudah keluar."
"Aku sama sekali tidak pernah merasakan kepuasan dengan permainannya."
Di saat yang bersamaan, Kalendra baru saja tiba di rumah mendengar ucapan istrinya.
Urat-urat di lehernya menonjol. Rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram kusen pintu begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Harga dirinya sebagai seorang pria seolah diinjak-injak. Tanpa mampu lagi menahan amarah, Kalendra menghempaskan pintu kamar dengan keras.
Brakk...!
Suara benturan itu membuat keduanya menghentikan aktivitas mereka dan menoleh ke arah pintu.
"Mas... kamu sudah pulang..." ucap Ajeng dengan wajah pucat sambil menelan ludah susah payah.
Pria yang berada di atas tubuh Ajeng justru menyunggingkan senyum sinis penuh ejekan.
"Bajingan keparat kalian!" bentak Kalendra.
Dengan amarah yang meluap, ia langsung menendang Ardan hingga tubuh pria itu terlempar dari atas ranjang.
Bugh!
"Mas! Apa yang kamu lakukan?" teriak Ajeng panik saat Ardan terjatuh ke lantai.
Kalendra tidak menggubrisnya.
Ia langsung menghampiri Ardan, lalu menghujani pria itu dengan pukulan bertubi-tubi.
Bugh! Bugh!
"Aghkk...!" Ardan sama sekali tidak sempat memberikan perlawanan.
Pria itu berusaha melindungi wajahnya, tetapi pukulan demi pukulan terus mendarat. Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.
"Berani sekali kau tidur dengan istriku!"
"Bugh!"
"Kau pikir aku akan diam saja?"
"Bugh!"
"Mas, stop! Mas, Ardan sudah kesakitan. Dia bisa meninggal!" teriak Ajeng.
Ajeng segera turun dari ranjang dan berlari menghampiri Ardan. Dengan tubuh gemetar, ia mendorong Kalendra lalu berdiri di depan Ardan, berusaha melindunginya.
Kalandra menepis tangan istrinya. Tatapannya penuh luka.
"Kamu... masih membelanya? Kamu membela selingkuhan mu di depan suamimu sendiri?"
Ajeng berdiri di depan Ardan seolah melindunginya. Kalandra menatap istrinya dengan mata memerah.
"Apa maksud semua ini, Jeng? Aku bekerja dari pagi sampai tengah malam."
"Aku rela menjadi staf kantoran siang hari dan narik ojek malam hari."
"Semua demi memenuhi keinginanmu. Aku membelikan apapun yang kamu mau. Aku menahan lapar dan lelah. Ini balasan yang kamu berikan?"
"Kamu mengkhianatiku?"
Ia mencengkram kedua bahu Ajeng.
"Jawab aku!"
Ajeng menatap suaminya tanpa rasa bersalah sedikit pun.
"Aku selingkuh karena kamu tidak pernah bisa memuaskanku di ranjang."
"Tiga tahun kita menikah kamu selalu saja keluar cepat saat berhubungan intim."
"Kamu memang merasa puas."
"Tapi aku? Aku tidak pernah merasakan apa pun."
"Kamu pikir aku sanggup terus hidup seperti itu?"
Harga diri Kalandra terasa diinjak-injak.
"Aku sudah berkali-kali mengajakmu ke dokter. Aku ingin mengobati ejakulasi diniku."
"Tapi siapa yang selalu menolak?"
"Kamu! Kamu bilang itu cuma buang-buang uang ,uangnya lebih baik dipakai untuk kebutuhan lain."
"Aku menurut. Aku terus bekerja. Aku berusaha berubah. Tapi ternyata selama ini kamu malah berselingkuh."
"Kurang apa pengorbananku, Jeng?"
"Apa kurang cintaku? usahaku?"
Kalandra mengangkat dagu istrinya. Matanya berkaca-kaca.
Ajeng menepis tangan suaminya dengan kasar.
"Uang masih bisa dicari, Mas. Tapi kepuasan itu nomor satu."
"Mas Ardan bisa memberikannya. Dia tahu bagaimana memperlakukanku."
"Dia jauh lebih hebat darimu. Dan satu lagi..."
"Dia seorang CEO perusahaan. Dia kaya. Aku selalu dibelikan barang-barang mahal olehnya."
"Bukan seperti kamu. Hanya staf biasa. Gajimu pas-pasan."
"Hidupmu tidak akan pernah membuatku bahagia. Lebih baik kita bercerai. Kamu angkat kaki dari rumah ini sekarang juga."
Kalandra tertawa getir. Air matanya hampir jatuh.
"Baik. Aku akan pergi tapi ingat kata-kataku. Suatu hari nanti kamu akan menyesal."
Lalu ia menatap Ardan dengan tatapan tajam.
"Dan kamu… CEO?"
"Hah! Jangan bercanda."
"CEO mana yang setiap hari punya waktu berduaan dengan istri orang sampai tengah malam begini?"
"Menurutku kamu cuma CEO gadungan."
Ardan yang wajahnya penuh lebam berdiri sambil mengusap darah di bibirnya.
"Jaga ucapanmu. Saya bisa menuntut Anda atas tindakan penganiayaan."
Kalandra tersenyum sinis memotret mereka tanpa busana.
"Silakan. Saya juga bisa melaporkan kalian atas dugaan perzinaan."
"Saya punya bukti."
"Saya memergoki kalian dengan mata kepala sendiri."
Ardan dan Ajeng langsung terdiam. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Kalandra membuka lemari. Ia mengambil beberapa helai pakaian.
Memasukkannya ke dalam tas ransel.Tidak ada lagi yang ingin dipertahankan. Rumah kecil itu kini terasa asing baginya.
Sebelum pergi, ia menoleh untuk terakhir kalinya. Tatapannya dipenuhi luka, kecewa, dan amarah.
"Mulai malam ini… Kita bukan siapa-siapa lagi."
Ia melangkah keluar. Suara mesin motornya memecah kesunyian malam.
Motor itu melaju meninggalkan rumah kontrakan yang selama ini menjadi saksi perjuangannya.
Di sepanjang perjalanan, Kalandra menggenggam stang motornya begitu erat. Air mata akhirnya jatuh tanpa bisa dibendung.
"Aku tidak akan pernah menerima pengkhianatan ini… Aku bersumpah… Suatu hari nanti kalian akan menyesal…”
Motor yang dikendarai Kalandra Wirautama melaju tanpa arah pasti.Pikirannya dipenuhi bayangan pengkhianatan Ajeng.
Dadanya terasa sesak.Air mata terus mengaburkan pandangannya.
"Aku sudah memberikan segalanya… Kenapa harus seperti ini..."
Saat melewati sebuah perempatan yang sepi...
Braaak!
Sebuah mobil melaju kencang dari arah samping dan menghantam motor Kalandra.
Tubuhnya terpental beberapa meter. Motornya berguling hingga menghantam pembatas jalan.
Darah mengalir dari pelipisnya. Kesadarannya perlahan menghilang. Dalam waktu singkat, warga yang melihat kejadian itu segera menghubungi ambulans.
"Cepat! Masih bernapas!"
"Bawa ke Rumah Sakit!"
---
Di saat yang sama… Di sebuah dunia yang berbeda.
Bisma, seorang Tabib Ilahi yang namanya begitu disegani di masanya, tengah berada di ruang eksperimen.
Di hadapannya terdapat berbagai ramuan langka.
"Hanya tinggal satu langkah lagi..."
"Aku hampir berhasil menyempurnakan ramuan ini."
Ia menuangkan cairan terakhir ke dalam tungku.
Namun...
Boom!
Ledakan besar mengguncang ruangan.
"Asal... jangan..."
Tubuh Bisma tertelan kobaran cahaya. Kesadarannya menghilang.
---
Beberapa hari kemudian. Di sebuah ruang perawatan Rumah Sakit Medika Raya.
Kelopak mata seorang pria perlahan bergerak.
Jemarinya ikut bergetar. Perlahan ia membuka mata. Pandangannya langsung tertuju pada langit-langit putih yang terasa begitu asing.
"Aku… Dimana ini?"
Bisma mengerutkan dahi. Ruangan itu dipenuhi benda-benda yang belum pernah ia lihat seumur hidupnya.
Lampu yang menyala tanpa minyak. Suara alat-alat medis. Pendingin ruangan.
Pakaian orang-orang di sekitarnya. Semuanya terasa aneh. Seorang perawat yang sedang memeriksa infusnya tersenyum lega.
"Syukurlah.Bapak Kalandra sudah sadar."
Bisma menoleh.
"Kalandra? Siapa itu?"
Perawat tampak kebingungan.
"Bapak Kalandra Wiratama. Nama Bapak sendiri."
Bisma menatap dirinya. Tangannya. Tubuhnya.
"Wajah ini… Ini bukan tubuhku..."
Ia bergumam pelan.
"Aku... berada di mana?"
Perawat mengira pasiennya masih linglung.
"Bapak sekarang berada di rumah sakit."
"Bapak mengalami kecelakaan lalu lintas beberapa hari yang lalu."
"Kepala Bapak sempat terbentur cukup keras. Kami sempat khawatir Bapak tidak akan sadar."
Bisma semakin bingung.
"Kecelakaan? Rumah sakit? Istilah apa itu?"
Perawat kembali menjelaskan dengan lembut.
"Kami juga sudah menghubungi istri Bapak."
"Tapi beliau mengatakan kalau hubungan kalian sudah berakhir."
"Beliau bilang kalian sudah bercerai. Karena itu... tidak ada keluarga yang datang menemani Bapak."
Mata Bisma membelalak.
"Istri? Bercerai?"
Tiba-tiba...
"Aghh...!"
Kepalanya terasa seperti akan pecah. Serangkaian ingatan asing membanjiri pikirannya.
Kenangan masa kecil. Masa sekolah. Pekerjaan sebagai staf kantoran. Menjadi pengemudi ojek online.
Pengkhianatan Ajeng. Pertengkaran di kamar.
Hingga kecelakaan di perempatan.
"Agh! Sakit… Sakit sekali..."
Bisma memegangi kepalanya. Perawat panik.
"Bapak! Jangan memaksakan diri."
"Bapak baru saja sadar. Tolong tetap tenang."
"Saya akan memanggil dokter."
Perawat segera berlari keluar ruangan. Setelah ruangan kembali sunyi… Bisma menarik napas panjang. Ia memejamkan mata.
Sedikit demi sedikit, ia mulai memahami keadaan yang sedang dialaminya.
"Jadi… Aku sudah mati saat eksperimen itu."
"Lalu jiwaku bereinkarnasi… Ke dalam tubuh seorang pria bernama Kalandra."
Ia kembali mengingat seluruh kehidupan pemilik tubuh ini. Pria pekerja keras. Suami yang dikhianati. Hidup penuh penderitaan.
Bahkan… Ia juga mewarisi seluruh kondisi fisik Kalandra. Tatapan Bisma berubah serius.
"Selain luka akibat kecelakaan… Tubuh ini juga memiliki penyakit."
"Ejakulasi dini. Tak heran rumah tangganya hancur."
Bisma mengepalkan tangannya.
"Namun sekarang… Pemilik tubuh ini adalah aku. Aku adalah Tabib Ilahi."
"Tak ada penyakit yang tidak bisa ku sembuhkan."
"Mulai hari ini… Aku akan mengubah hidup Kalendra Wiratama.”
52 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







