

"Ah... iya, Mas... begitu..."
Klara mendesah, tetapi nadanya datar bagaikan mantra yang dibaca tanpa penghayatan. Matanya sama sekali tidak terpejam, malah menatap kosong ke arah langit-langit kamar tidur yang dihiasi lampu kristal. Di atas tubuhnya, Rian, suaminya yang baru menikahinya dua tahun lalu tampak bersusah payah, napasnya tersengal-sengal seolah sedang mendaki gunung yang amat terjal. Peluh membasahi dahi Rian, namun gerakan tubuhnya semakin lama semakin lambat, lunglai, dan akhirnya terhenti begitu saja.
Rian terkulai di samping Klara, menyandarkan kepalanya pada bantal dengan wajah pucat penuh rasa bersalah. "Maafkan aku, Klara. Aku... aku tidak tahu kenapa belakangan ini selalu begini."
Klara tidak menjawab. Dia hanya menarik napas panjang, lalu menghembuskannya lewat mulut dengan kekecewaan yang sudah menumpuk di dada.
Tanpa sepatah kata pun, wanita itu bangkit dari kasur empuk mereka. Dia mengabaikan tatapan memohon dari suaminya dan berjalan santai menuju lemari pakaian. Klara mengenakan gaun malamnya, menarik sebuah koper besar dari sudut ruangan, lalu mulai memasukkan pakaian-pakaian terbaiknya satu per satu.
"Klara, kau mau ke mana? Ini sudah tengah malam!" suara Rian bergetar, panik melihat tindakan istrinya.
"Aku lelah, Rian," sahut Klara dingin tanpa menghentikan jemarinya yang sibuk melipat baju. "Aku bosan berpura-pura mendesah setiap malam hanya untuk menjaga perasaanmu. Rumah tangga ini sudah dingin, dan aku tidak bisa terus hidup dengan pria yang bahkan tidak bisa membuatku merasa menjadi seorang wanita seutuhnya."
Klara menutup kopernya dengan bunyi dentupan keras yang menggelegar di kamar itu. Tanpa menoleh lagi ke arah Rian yang tertunduk lesu di tepi tempat tidur, wanita itu melangkah keluar rumah, membawa pergi seluruh harapan pernikahan mereka dan meninggalkan Rian dalam kehampaan.
Hal yang menimpa Rian bukanlah kasus pertama di kota itu.
Selama enam bulan terakhir, sebuah penyakit misterius menyerang metropolitan ini bagaikan kutukan yang tak kasat mata. Tanpa sebab medis yang jelas, organ vital kaum pria di seluruh sudut kota mendadak kehilangan fungsinya secara permanen. Dokter spesialis terhebat hingga herbalis alternatif angkat tangan; tak ada obat, vitamin, atau terapi yang mampu membangkitkan kembali kejantanan yang telah padam.
Kota yang dahulu dipenuhi dinamika kehidupan malam kini berubah menjadi lautan keputusasaan. Ribuan pasangan suami-istri mengalami keretakan, angka perceraian melonjak tajam, dan emosi para wanita berada di ambang ledakan karena kebutuhan biologis mereka yang tak pernah lagi terpuaskan.
Pria-pria kota berjalan dengan kepala tertunduk, kehilangan rasa percaya diri, sementara para wanita hidup dalam dahaga gairah yang terpendam.
...
Di tengah keputusasaan kota yang sedang sekarat itu, sebuah bus antarkota perlahan memasuki kawasan terminal utama. Di dalam bus yang pengap itu, duduk seorang pemuda bertubuh tegap bernama Arjuna.
Arjuna baru saja meninggalkan desanya yang terisolasi di balik pegunungan.
Kematian kakeknya, satu-satunya kerabat yang ia miliki membuat Arjuna memutuskan untuk merantau ke kota besar demi mencari pekerjaan sebagai buruh atau lapangan kerja apa saja yang mengandalkan tenaga fisiknya. Kemeja flanel kusam dan celana jins tebal yang ia kenakan tampak kesempitan membungkus dada bidang serta otot tangannya yang terukir alami dari kerja keras memotong kayu dan membajak sawah.
Namun, begitu bus memasuki jalanan pusat kota, mata Arjuna membelalak kaget. Ia menempelkan wajahnya ke kaca jendela, meragukan penglihatannya sendiri.
Di trotoar jalan, wanita-wanita kota lalu lalang dengan gaya pakaian yang belum pernah Arjuna lihat seumur hidupnya di desa. Mereka mengenakan atasan berpotongan rendah yang memperlihatkan belahan dada dengan sangat jelas, rok mini yang nyaris tidak menutupi paha, serta celana ketat yang membingkai setiap lekuk tubuh dengan sempurna. Kulit-kulit mulus yang terpapar sinar matahari sore itu seolah memancarkan pesona magis yang menghantam indra penglihatan Arjuna secara beruntun.
Darah muda Arjuna mendidih seketika. Jantungnya berdegup kencang, dan hawa panas yang mendadak membakar dadanya menjalar turun ke bagian bawah perutnya.
Di balik celana jins tebalnya, 'Tom', julukan yang secara jenaka ia berikan pada aset paling berharganya sejak masa pubertas mulai bereaksi terhadap rangsangan dahsyat tersebut.
Tom, yang selama ini dipelihara oleh udara segar pegunungan, makanan alami, dan keperkasaan fisik tanpa cela, tidak terpengaruh sedikit pun oleh wabah misterius kota. Sebaliknya, Tom justru terbangun dengan kekuatan penuh, menegak tegak dan membesar hingga meregangkan kain celana jins Arjuna sampai batas maksimal.
Bentuk benjolan yang sangat mencolok dan berukuran di luar nalar itu seketika menarik perhatian tiga orang wanita muda yang duduk di deretan kursi sebelah Arjuna. Salah satu wanita, yang tadinya sedang mengeluhkan suaminya lewat telepon, mendadak menghentikan pembicaraannya. Matanya tertuju tepat pada pangkuan Arjuna.
Dua wanita di sampingnya ikut menoleh, dan seketika itu pula napas mereka tertahan.
Di kota yang sudah berbulan-bulan bersih dari tanda-tanda keperkasaan pria, pemandangan di depan mereka seperti sebuah keajaiban yang tak masuk akal. Benjolan di celana Arjuna terlihat sangat keras, hidup, dan memancarkan aura kejantanan murni yang sudah lama hilang dari kehidupan mereka.
Arjuna yang menyadari arah pandangan mata wanita-wanita itu langsung merasa serba salah. Wajahnya memerah karena malu, dan ia bergegas mengambil tas ransel lusuhnya untuk menutupi bagian pangkuannya. Namun, usaha itu terlambat; tatapan lapar dari para wanita di dalam bus itu sudah terkunci rapat padanya.
Karena merasa tidak nyaman dengan tatapan yang kurang sopan itu, Arjuna terpaksa turun di perhentian berikutnya. Padahal itu bukan tempatnya turun; tetapi karena merasa sangat tidak nyaman, akhirnya ia terpaksa turun.
Namun yang mengejutkan adalah: Wanita-wanita itu kini justru mengikuti Arjuna dan tidak mau melepaskannya. Bahkan, ketika Arjuna mempercepat langkah kakinya, para wanita itu pun juga mempercepat langkah kaki mereka hingga tiba-tiba Arjuna menemui jalan buntu dan tidak bisa lagi lari ke mana-mana.
"Mbak ... ini ada apa, ya?" Arjuna berusaha untuk bicara—dengan harapan para wanita itu akan melepaskan dirinya dan tidak melakukan hal-hal aneh pada dirinya.
Saat Arjuna bicara, mata para wanita itu terus fokus pada satu titik, dan titik itu tidak lain adalah 'Tom'!
"Yang di bawah itu ... barusan dia bangun? Itu asli kan?"
Salah seorang wanita yang tampak sangat bernafsu langsung bertanya tentang 'Tom'. Dan jujur saja, saat itu Arjuna bingung. Ia bingung dengan penduduk kota itu.
Kenapa semua wanitanya seperti orang yang haus akan belaian dan kepuasan?
"Maaf, Mbak. Tapi pertanyaan itu sepertinya kurang sopan," ucap Arjuna, berusaha untuk menutupi 'Tom' yang pada saat itu masih saja tegak dan tidak ingin bekerjasama.
"Bukan hanya aku saja kan yang barusan lihat senjata dia bangkit?"
"Iya. Aku juga lihat."
"Ini benar-benar keajaiban."
Ketiga wanita itu saling bicara satu sama lain. Dan topik pembicaraan mereka adalah 'Tom' milik Arjuna. Dan saat itu, Arjuna hanya bisa diam tanpa melakukan apa-apa. Dan lagipun, ia tidak bisa melarikan diri karena jalan keluar di hadang oleh tiga wanita itu.
"Satu-satunya cara untuk memastikan adalah dengan memeriksanya secara langsung!" ucap salah satu wanita itu dengan penuh semangat mengambil beberapa langkah mendekati Arjuna.
"Memeriksa?! Mbak, ini nggak bener, Mbak!"
Arjuna berusaha melarikan diri, tetapi dua wanita lain memegangi tangannya dan satu wanita lain melorot celananya hingga tampaknya sosok 'Tom' yang saat itu sedang bangkit dengan begitu perkasanya.
...
-BERSAMBUNG-