
Harga Takdir -Aku Bisa Melihat Harga Semua Orang-
Eadhere|Bersambung
- Jumlah kata
- 31.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 24
- Jumlah kata
- 31.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 24
Sinopsis
"Semua Keajaiban Selalu Meminta Bayaran." Setelah selamat dari sebuah kecelakaan misterius, hidupku tak pernah sama lagi. Aku mulai melihat tulisan aneh melayang di atas kepala setiap orang. "Harga menjadi miliarder: kehilangan istri." "Harga menjadi penyanyi terkenal: kehilangan suara di usia empat puluh." "Harga menyelamatkan anak itu: seseorang harus mati menggantikannya." Awalnya kukira aku sedang berhalusinasi. Sampai aku melihat tulisan di atas kepalaku sendiri. Harga untuk tetap hidup: bunuh satu orang sebelum matahari terbit. Saat berusaha melawan takdir, aku justru menemukan sebuah dunia yang selama ini bersembunyi di balik gemerlap kota modern—tempat umur, keberuntungan, bakat, bahkan masa depan diperjualbelikan kepada penawar tertinggi. Lalu aku bertemu seorang wanita. Cantik. Misterius. Dan untuk pertama kalinya... Di atas kepalanya tidak ada satu pun Harga Takdir. Semakin dekat dengannya, semakin banyak rahasia dunia ini terungkap. Namun ketika akhirnya aku berhasil membaca takdir wanita itu, hanya ada satu kalimat yang membuatku berharap aku tetap menjadi pria biasa. "Untuk menyelamatkan dunia, dia harus mati di tangan orang yang paling mencintainya."
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Harga Untuk Tetap Hidup
"Harga untuk tetap bisa hidup adalah melenyapkan nyawa satu orang, sebelum matahari terbit."
Aku berharap, itu hanyalah sekedar mimpi, atau mungkin cuma efek kurang tidur, karena aku sudah 3 hari terlalu sibuk menghabiskan waktu mengejar deadline freelance sambil tetap menarik ojek setiap malam.
Sayangnya, tulisan-tulisan itu tetap ada; melayang, diam, dan terlihat begitu jelas, tepat di atas kepalaku.
Aku usap mataku berulang kali, tetapi deretan hutuf berwarna emas itu masih tetap ada, seolah memang ditujukan untukku.
Namaku: Raka Mahardika.
Usiaku 24 tahun, lulusan dari teknik informatika dengan predikat cumlaude, meski ijazahku sampai detik ini masih tersimpan rapi di dalam laci, di kamarku, tidak pernah ku gunakan.
Siang hari aku menerima proyek keamanan siber lepas, malam harinya aku jadi driver ojek online.
Bukannya maruk, aku cuma sedang mengejar target, melunasi kredit rumah peninggalan orang tuaku, sebelum adikku lulus kuliah.
Jam digital di dashboard motorku sudah menunjukkan pukul 22.47. Hujan masih cukup deras di kota Arunika ini, dan aku masih terus berteduh sambil menunggu jika masih ada orderan dari orang-orang yang mungkin membutuhkan.
"Nyanyi saja enak kali ya, dingin-dingin begini."
Aku bicara sendiri sambil mencari lagu favoritku dari aplikasi musik yang terbilang cukup mahal harga langganannya, tetapi tetap aku pakai karena memang sudah hobiku mendengarkan musik.
Namun, setelah dua lagu aku dengarkan, aku pun mulai bosan. Belum setengah jam aku mendengarkan, aku beralih ke aplikasi film dan drama pendek Cina, yang akhir-akhir ini menyita waktu luangku juga.
"Cowok kok sukanya nonton dracin!"
Aku tersenyum sendiri saat mengingat celetukan adikku, yang merasa geli saat tahu aku sering menonton dracin di sela waktuku, di rumah.
"Daripada nonton drama politik, terlalu membosankan," jawabku saat itu. "Kakak sudah muak, toh nggak ada manfaat apapun buat kita, mau pemimpinnya sebaik apapun itu, kita masih tetap begini-begini saja."
"Jangan skeptis gitu, tetaplah berpikir dan berharap yang baik-baik, siapa tahu nantinya adikmu ini yang jadi pemimpin."
Aku tertawa sumbang. Bukannya tidak mendukung, aku sudah terlanjur tidak percaya dengan semua hal yang berkaitan dengan urusan politik atau apapun itu yang menyangkut urusan negara. Bagiku saat ini hanyalah tetap gigih berjuang, mencari nafkah, untuk melanjutkan hidup kami.
"Kak, aku tahu kamu sudah lelah dengan semuanya, tapi jangan khawatir, suatu saat nanti adikmu ini bakal bahagiakan Kakak. Doakan aku selalu."
"Pasti. Dalam setiap keringat yang keluar dari tubuh kakak, akan selalu ada doa buatmu." Jawabku waktu itu.
"Nanti kalau aku sudah lulus kuliah, kakak harus mikir buat hidup kakak sendiri, cari cewek sana ..., sudah waktunya buat nikah, jangan menjomblo terus, adikmu ini nggak mungkin bisa bersama kakak selamanya, bukan?"
"Nikah? Ntar aja, kakak masih betah sendirian."
Gantian adikku yang tertawa sumbang. "Jangan bilang kalau kakak sebenarnya nggak pede buat cari pasangan hidup," katanya, disela tawa. "Hidup cuma sekali. Menikah lah, Kak, biar keluarga kita lengkap lagi."
Dan aku lagi-lagi hanya tertawa menanggapinya. Aku sendiri pun tidak tahu, kenapa aku lebih suka sendiri, meski sudah ada beberapa teman wanita yang berusaha mendekat, aku masih menutup diri. Bagiku saat ini, kebahagiaan adikku jauh lebih penting dan utama. Perkara hidupku, itu soal nanti, bisa dipikirkan belakangan.
Aku baru saja merenggangkan ototku dan bersiap untuk pulang, ketika tiba-tiba ada notifikasi masuk. Kebetulan, mungkin ini adalah orderan terakhir yang ku ambil sekalian pulang setelahnya.
Aku baca notif itu, alamat penjemputan jelas: jembatan Aruna, dan alamat tujuannya Nox Lounge.
Aku menghela napas sebelum menekan tombol terima. Nox Lounge adalah daerah elit, lumayan, karena tarifnya cukup mahal ke arah sana.
Cuma dalam lima menit, aku sudah sampai ke jembatan Aruna. Jembatan tua yang nyaris tidak pernah ku lewati, tapi aku tahu, di tempat ini biasanya cukup ramai, tapi aneh, kali ini kelihatan sepi.
"Dimana orangnya?" gumamku, mencari sosok pelanggan itu.
Aku melihat seorang pria berpostur tubuh tinggi dan mengenakan hoodie hitam, serta topi yang menutupi wajahnya, berjalan menghampiriku. Udara tiba-tiba terasa lebih dingin.
Aku memberinya helm dan ia menerima serta membukanya dalam diam.
"Malam, Mas, tujuan Nox Lounge?" sapaku, seperti biasa yang sering ku lakukan.
Pria itu hanya mengangguk tanpa bicara sedikitpun. Dan di sepanjang perjalanan kami hanya diam, dan aku sesekali mencoba untuk mencairkan suasana.
"Dingin-dingin begini masih harus keluar ya, Mas," ucapku. Pria itu tetap diam. "Mau ada acara di Nox?" lanjutku lagi, sekedar bertanya.
Orang itu tetap diam, seolah tidak mendengarku. Aku menghela napas panjang. Kalau bukan karena aplikasi sedang menunjukkan penumpang aktif, mungkin aku sudah menganggap dia hantu.
Sekitar dua puluh menit, kami pun sampai di depan sebuah bangunan mewah bergaya klasik, yang berdiri diantara deretan gedung modern.
Pada papan namanya hanya ada satu tulisan besar NOX, yang anehnya, meskipun terlihat seperti lounge ekslusif, dari dalam bangunan itu sama sekali tidak terdengar suara berisik.
Tidak ada musik atau antrean, cuma ada pintu kayu besar dengan lambang timbangan emas di bagian tengah agak ke atasnya.
Pria itu turun dari motor dan mengembalikan helm padaku. Ongkos sudah ia bayar via dompet digital. Namun, sebelum ia melangkah pergi, ia berhenti sejenak dan berdiri diam di tempatnya.
Lalu, untuk pertama kalinya ia pun bicara dengan suara datar dan tenang, tapi entah kenapa justru membuat bulu tubuhku meremang.
"Kalau besok pagi kau masih hidup ...." Ia berhenti sejenak, lalu menoleh sedikit ke arahku. "Berarti matamu sudah terbuka."
Aku mengernyit. "Maksudnya?" tanyaku, bingung.
Tidak ada jawaban. Pria itu berjalan memasuki pintu hitam yang terbuka, dan begitu pintu tertutup, sosoknya menghilang. Benar-benar hilang seolah tidak pernah ada sebelumnya.
"Orang aneh," gumamku, sembari menghela napas dan menggeleng pelan. Mungkin dia cuma seorang pelanggan yang eksentrik, dan kupikir sudah selesai sampai disitu, tetapi ternyata aku salah. Benar-benar salah.
Karena tiga menit setelah meninggalkan Nox, sebuah cahaya putih menyilaukan memenuhi kaca spionku. Aku refleks menoleh. Aku begitu terjejut saat melihat sebuah truk kontainer melaju kencang tak terkendali dari arah belakang, menuju ke arahku.
Terlalu kencang, jarak kami terlalu dekat, dan aku tidak sempat menghindar.
"WOIY ...!"
Suara benturan terdengar sangat keras. Tubuhku terlempar, dunia seolah berputar dan telingaku baru saja terpukul oleh godam, lalu gelap. Sangat gelap dan dingin. Aku tidak tahu lagi apa yang terjadi setelahnya.
Dan sebelum kesadaranku benar-benar hilang, aku merasa seperti ada seseorang yang sedang berbisik, tepat di telingaku.
"Selamat datang ..., Sang Pengamat Takdir!"
Daftar bab
29 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








