
Mahkota Nikmat
Puji Setyawan|Bersambung
- Jumlah kata
- 151.1K
- Popular
- 21.0K
- Subscribe
- 1.9K
- Jumlah kata
- 151.1K
- Popular
- 21.0K
- Subscribe
- 1.9K
Sinopsis
Wawan benar-benar beruntung, akibat kejadian pemaksaan saat siang hari di rumahnya, membuat dia bisa menjalin asmara dengan mama temannya sendiri. belum lagi ai mulai kecanduan dan mencoba wanita-wanita lain di sekitarnya.
Ulasan
2 ulasan
Batman Night
7/9/26 16:26
ayo lach min.. km pasti bisa jangan terlalu lama kita menunggu. gimana kabar nya bizey dan tanmay nya min.. kasian mereka udah becek
Wengweng
6/9/26 07:18
Lanjut min..Jngn ksih kendor cerita nya .mantp bnget..Jadi ketagiahn ni mbaca jalan cerita..top dah.
Pemaksaan Berujung Nikmat
Maya, yang sore itu berkunjung ke rumah sahabatnya dan terlelap di ruang keluarga, sama sekali tidak menyangka bahwa kunjungan sederhana ini akan mengubah seluruh sisa hidupnya.
Sahabatnya, Siti, sebaya dengannya — keduanya hampir menginjak usia empat puluh tahun. Anak-anak mereka pun bersahabat akrab, sering kali saling menginap di rumah satu sama lain. Rumah mereka pun berdekatan, hanya berjarak lima menit berjalan kaki.
Namun sore itu, setelah mereka menonton film bersama di sofa yang luas, Maya tertidur pulas. Di saat yang sama, Siti menerima telepon dari suaminya yang memintanya segera ke kantor. Tanpa sempat membangunkan Maya, Siti bergegas berangkat meninggalkan rumah.
Dalam tidurnya yang lelap, Maya tidak menyadari bahwa daster yang ia kenakan ikut tersibak, menampakkan bagian belakang serta paha putih mulusnya yang terbuka.
Kebetulan pula, Wawan pulang dari kampus saat itu. Ia masuk begitu saja tanpa mengetuk atau memberi salam.
Wawan, pemuda yang kuliah mengambil jurusan bisnis dengan harapan kelak dapat meneruskan usaha ayahnya yang bergerak di bidang distribusi ban mobil. Ia satu kampus dengan Doni, putra semata wayang M4ya.
Kembali pada Maya yang terlelap, ia sama sekali tidak sadar bahwa sepasang mata muda kini terpaku menatapnya. Pemuda yang baru melewati masa peralihan menuju kedewasaan, di mana gejolak di dalam dadanya sedang berkobar hebat, kini terpaku pada pemandangan yang terbuka di hadapannya.
Suara televisi yang menayangkan adegan romantis seolah turut mengantarnya ke dalam tidur yang semakin dalam. Ia sudah biasa berada di rumah ini; biasanya Siti akan membangunkannya. Namun hari itu berbeda — hari itu sungguh sial baginya, karena hidupnya tak akan pernah sama lagi. Mulai saat itu, ia harus hidup menyembunyikan rasa yang tak seharusnya tumbuh, serta rahasia kelam yang harus dijaga rapat-rapat dari siapa pun.
Maya adalah wanita yang cantik. Di usianya yang memasuki tiga puluh sembilan tahun, ia berada di puncak kematangan pesona seorang wanita — usia di mana keindahan dan kemolekan fisiknya tampak semakin sempurna. Namun sayang, suaminya, seorang nakhoda kapal penyeberangan Bakauheni–Merak, hanya dapat menemaninya lima hari dalam kurun waktu tiga bulan sekali.
Di tengah tidurnya, tiba-tiba ia merasakan sebuah tarikan pada pakaian dalam yang ia kenakan, diikuti tekanan lembut namun kuat di punggungnya, membuat dadanya semakin menekan permukaan sofa.
Maya mulai terbangun, namun kesadarannya belum pulih sepenuhnya. Ia belum paham apa yang sesungguhnya terjadi. Tiba-tiba sebuah tangan menutup mulutnya — tangan yang beraroma maskulin, lembut, dan diselimuti wangi parfum yang mahal.
Segalanya berlangsung begitu cepat. Sosok itu menindihnya dari belakang, berada di antara kedua kakinya, menekan tubuhnya dengan posisi yang membuatnya tak berdaya.
Maya berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, namun kekuatan pemuda di atasnya jauh lebih besar. Ia sempat menoleh ke belakang sejenak, dan seketika darahnya seakan berhenti mengalir.
Yang menindihnya adalah W4wan — sah4b4t karib Doni, Doni adalah putr4ny4. Pemuda yang sudah begitu sering ia temui di rumahnya, bahkan tetangga pun kerap mengira Wawan adalah kepon4kannya.
Ia mengenal Wawan sebagai pemuda yang ramah, sopan, dan cerdas. Pemuda yang sering menemaninya serta suaminya bermain catur saat suaminya pulang berlayar. Ia bahkan menganggapnya seperti 4n4knya sendiri. Tak pernah terbayang sedikit pun di benaknya bahwa Wawan akan berani melakukan hal sedemikian rupa.
Dengan tenaga yang sulit dilawan, Wawan membuka ritsleting cel4nanya. Ia teringat adegan yang pernah ia tonton bersama Doni, lalu dengan penuh keraguan namun didorong oleh dorongan yang tak tertahankan, ia mulai mencoba menyatukan dirinya dengan Maya.
Maya tak pernah membayangkan hal ini akan terjadi. Sosok yang diperlakukan seperti keluarga, yang diterima dengan sepenuh hati di rumahnya, kini justru melakukan hal yang paling memalukan.
Wawan berulang kali mencoba menyatukan dirinya dengan tubuh wanita yang dianggapnya seperti ibu sendiri. Beberapa kali usahanya gagal — ia belum memiliki pengalaman seperti ini, hanya berbekal apa yang pernah dilihatnya dari tontonan.
Ia kembali mencoba dengan lebih hati-hati, membasahi ujung dirinya, lalu menggesekkan perlahan di gerbang tubuh Maya, sementara Maya terus berusaha memberontak dan berteriak. Namun tangan Wawan tetap menutup mulutnya dengan erat, sehingga yang terdengar hanya gumaman tertahan yang tak jelas.
"Mmmhhpppp..."
"Ssttt... diamlah..." desis Wawan, berusaha menenangkan sekaligus menahan napas saat akhirnya ia berhasil masuk.
Maya tersentak hebat. Ia merasakan sesuatu yang berbeda sepenuhnya dari yang biasa diberikan suaminya. Sesuatu yang penuh, padat, dan menekan setiap sudut di dalamnya hingga terasa sampai ke pangkal.
Ia sempat tertegun sejenak, di antara rasa sakit dan sensasi yang tak mampu ia tolak sepenuhnya, sebelum akhirnya kesadarannya kembali dan ia berusaha mendorongnya lagi. Namun posisinya yang terjepit membuat segala usahanya sia-sia. Perlahan, tenaganya habis, dan ia hanya bisa pasrah menerima apa yang terjadi padanya.
Bagi Wawan, ini adalah pengalaman pertamanya. Ia belum mampu mengendalikan rasa yang meledak-ledak di dalam dirinya. Seperti orang yang kehausan menemukan mata air jernih, ia menikmati setiap detiknya dengan rakus, bergerak tanpa mampu mengatur tempo.
Anehnya, Maya yang semula berontak, perlahan ikut terbawa suasana.
Suaminya memang jarang pulang. Dan sekalipun pulang, waktu yang ia habiskan bersamanya sangat singkat, tak pernah benar-benar memuaskannya di usia yang sedang mencapai puncak gairahnya ini. Di tengah rasa malu dan bersalah yang menghujam hatinya, tubuhnya justru merespons dan menikmati sentuhan yang diberikan pemuda itu.
Wawan semakin bergerak cepat, napasnya memburu, hingga akhirnya ia mencapai puncak kenikmatan dan melepaskan segalanya di dalam tubuh Maya.
Ia segera menarik diri, mengenakan kembali pakaiannya dengan tergesa-gesa, lalu bergegas naik ke lantai atas, mengunci pintu kamarnya rapat-rapat.
Maya ditinggalkan dalam keadaan terpaku. Ia masih tak percaya — pemuda yang sudah dianggapnya 4n4k sendiri, sah4bat putr4nya, berani melakukan hal yang begitu terlarang. Perlahan ia bangkit, mencari celana dalamnya yang terlempar ke meja.
Ia mengambilnya bersama beberapa lembar tisu. Saat hendak mengenakannya kembali, cairan yang meleleh di antara kedua kakinya membuatnya lengket. Ia membersihkan dirinya sebaik mungkin, lalu berpakaian kembali dengan tangan yang masih gemetar.
Ia tidak menangis, tidak berteriak, tidak pula menegur Wawan yang baru saja melanggar batas kesopanan dan kesusilaan. Bahkan ia tidak terbesit keinginan menelepon suaminya.
Dengan langkah yang dipercepat, ia bergegas meninggalkan rumah sahabatnya dan pulang ke rumahnya sendiri. Sesampainya di rumah, ia langsung masuk ke kamar mandi, menyalakan air, melepaskan pakaiannya, dan berusaha sekuat tenaga untuk membersihkan sisa-sisa kejadian tadi dari tubuhnya. Ia membersihkan setiap sudutnya, berharap tak ada jejak yang tersisa, terutama saat mengingat suaminya akan pulang dalam dua hari lagi.
Setelah merasa cukup bersih dan tidak menemukan tanda yang mencurigakan di kulitnya, ia mandi dan keramas cukup lama. Sambil membiarkan air mengalir, pikirannya kembali melayang pada apa yang baru saja terjadi.
Selesai mandi, ia mengeringkan tubuhnya dengan handuk, lalu membawa seluruh pakaian yang dikenakannya tadi ke ruang cuci di lantai bawah. Meski ada pembantu rumah tangga, ia mencucinya sendiri, termasuk pakaian dalamnya. Setelah memastikan mesin cuci bekerja cukup lama, ia menjemurnya sendiri di halaman belakang.
***
Sementara itu, di lantai atas rumah Siti:
Wawan duduk di tepi ranjang, menenggelamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Ia terus merenungi apa yang baru saja diperbuatnya terhadap ibu dari sahabatnya sendiri.
Ia membayangkan seandainya orang tuanya mengetahui hal ini — ia bisa saja diusir dari rumah, dikucilkan, dan kembali hidup sebatang kara seperti saat ayahnya belum berhasil.
Sebenarnya tadi Doni mengajaknya bermain bola, kegiatan yang biasanya paling ia nantikan. Namun entah mengapa, sore itu ia menolak dengan alasan lelah setelah kuliah.
"Apa yang sudah aku lakukan!" gerutunya dalam hati sambil menarik-narik rambutnya sendiri.
Kepalanya terasa pening membayangkan segala kemungkinan terburuk. Maya pasti akan mengadu pada Doni dan ayahnya. Doni pasti akan sangat marah, dan ayah Doni pasti akan melaporkannya ke polisi — sesuatu yang akan merusak nama baik keluarganya serta usaha ayahnya yang dibangun bertahun-tahun.
Tok... tok... tok...
Pintu kamarnya diketuk. Jantungnya seketika berpacu kencang.
"Wan! Wawan, buka dulu!" suara ibunya terdengar dari balik pintu.
Dengan langkah gemetar dan tangan yang dingin karena takut, Wawan berjalan menuju pintu. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum membukanya.
"Eh, Ibu... Ada apa?" tanyanya, berusaha agar suaranya tidak terdengar bergetar.
"Tante Maya tadi sudah pulang? Tadi Ibu harus ke kantor Ayah sebentar, ada urusan mendesak," tanya Siti, yang wajahnya terlihat biasa saja, tidak ada tanda kemarahan.
"Ta... Tante Maya? Ehmm... Tadi aku tidak melihatnya, Bu. Aku habis pulang kampus langsung tidur soalnya, badan terasa tidak enak," jawab Wawan dengan alasan yang sekenanya.
Keringat mulai menetes di pelipisnya. Melihat wajah anaknya yang tampak kacau, Siti meletakkan punggung tangannya di dahi Wawan.
"Loh, badanmu panas!" katanya cemas.
"Iya, Bu," jawab Wawan pelan, berpura-pura lemas.
Siti melirik ke arah plastik yang dibawanya. Tadi ia membeli martabak kesukaan Maya. "Padahal Ibu mau menyuruhmu mengantar ini ke rumah Tante Maya. Yah... Kamu malah sakit."
"Ehm... Iya, Bu. Badanku terasa lemas sekali," sahut Wawan lagi.
Siti pun menyuruhnya beristirahat dan minum obat. Wawan segera menutup pintu, lalu menjatuhkan dirinya ke atas kasur dengan pikiran yang terus berputar tanpa arah.
***
Di rumah Andrew:
Maya baru saja masuk ke rumah dan berpapasan dengan Doni yang sedang mencari makanan di dapur.
"Mama, tumben sudah mandi jam segini? Biasanya jarang sekali. Apa karena Papa mau pulang, jadi Mama rajin?" canda Doni.
Langkah kaki Maya terhenti. Ia sama sekali belum mendengar kabar itu.
"Memangnya Papa mau pulang hari ini?" tanyanya dengan wajah serius.
"Loh, Mama belum tahu? Tadi Papa sudah menelepon. Katanya sudah sampai stasiun. Sebentar lagi sampai, mungkin setelah Maghrib," jawab Doni.
Tanpa menjawab, Maya langsung berjalan cepat menuju kamarnya di lantai atas dan mengunci pintu rapat-rapat. Ia kembali memeriksa tubuhnya, memastikan tidak ada jejak yang tertinggal.
"Ya ampun..."
Yang ditakutkannya terjadi. Di bagian belakang pahanya, terdapat goresan merah kecil. Mungkin terkena ritsleting celana Wawan. Ia mulai berpikir alasan apa yang akan ia berikan jika suaminya menanyakannya nanti.
Memang lukunya kecil, namun kulit Maya yang putih bersih membuatnya tampak sangat jelas. Maya memang memiliki keturunan Tionghoa, sehingga kulitnya halus dan cerah, tanpa noda sedikit pun. Setiap tanda di atasnya akan terlihat sangat mencolok.
"Semoga saja Papa tidak menyadarinya," keluhnya pelan sambil menghela napas panjang.
***
Kembali ke kamar Wawan:
Ia masih terus diliputi kekhawatiran. Ia merasa sangat bersalah pada Maya yang selama ini begitu baik padanya.
Ia melihat ponselnya. Saldo rekeningnya hanya tersisa lima belas juta. Pikirannya sempat melayang — entah ke mana ia harus pergi jika harus kabur. Namun kemudian ia membuka WhatsApp, tidak ada pesan masuk. Ia melihat status kontaknya.
Status Doni sepuluh menit yang lalu memamerkan makanan sehat. Matanya terbelalak saat melihat status Maya — hanya berupa gambar jidat dan mata berkaca-kaca.
"Hahh..." rasa bersalah semakin menyergap dadanya. Ia sempat hendak mengetik permintaan maaf, namun dibatalkannya.
Karena terlalu gelisah, ia mengambil rokok, lalu duduk di balkon sambil menghisapnya dalam-dalam. Rasa takut dan bersalah beradu di dalam dadanya. Ia sadar betul bahwa ayah Doni adalah orang yang berpengaruh, dan kerabat Maya seorang perwira polisi — akan sangat mudah baginya untuk dipenjara. Ia hanya bisa meratapi dirinya sendiri karena tak mampu menahan hawa nafsunya.
Setelah dua batang rokok habis, ia kembali ke kamar, menelungkup di atas kasur, dan tanpa sadar menangis tersedu-sedu menyesali perbuatannya.
***
Kembali di rumah Andrew:
Ternyata Doni salah memperkirakan kedatangan ayahnya. Andrew datang lebih cepat dari yang dikira.
Sebuah taksi berhenti di depan rumah. Bi Narsih yang sedang menyapu langsung berseru, "Nak Doni, Papamu pulang!"
Doni berlari ke teras. "Serius, Bi?"
Di sana sudah berdiri sosok yang dikenalnya — ayahnya.
"Papa! Kok bisa secepat ini? Tadi katanya habis Maghrib sampai rumah!" seru Doni sambil mencium tangan dan memeluk ayahnya.
"Hehe... Mau memberi kejutan. Ini, bawakan ke ruang keluarga, jangan dibuka dulu. Eh, Mamamu di mana?" tanya Andrew sambil menyerahkan tas besar yang dibawanya.
"Di kamar, Pa! Sebentar aku panggil!" Doni meletakkan tas itu di meja, lalu berlari naik ke lantai atas.
Dok... dok... dok...
"Ma! Papa sudah pulang, tunggu di bawah!" seru Doni dari balik pintu.
Di dalam kamar, Maya segera berpakaian rapi. "Iya, Mama turun sekarang!"
Doni kembali duduk di samping ayahnya, membantu membuka oleh-oleh yang dibawanya.
"Wah, banyak sekali, Pa! Ada untuk aku dan Wawan juga?" tanyanya.
Saat itulah Maya turun dan langsung memeluk suaminya dari samping.
"Papa bilang ke Mama tiga hari lagi baru pulang, ke Doni habis Maghrib, ternyata sudah sampai sekarang. Mau memberi kejutan ya?" katanya sambil tersenyum manja.
Andrew tertawa kecil. "Berhasil kan kejutannya?"
"Berhasil sampai Mama lupa menjawab pertanyaanku," sahut Doni kesal.
Doni memang sudah berusia dua puluh tahun, namun ia sangat dekat dan manja pada ayahnya. Kepada ibunya, ia justru sebaliknya — merasa ibunya tegas dan galak.
"Hahaha... Sampai lupa! Ini lho, ada sepatu bola baru untuk kamu dan Wawan," kata Andrew sambil menyerahkan dua kotak besar.
"Asyik! Wawan pasti senang sekali. Sepatunya sudah hampir sobek, tahu sendiri dia sangat hemat, padahal Ayahnya pengusaha," ucap Doni sambil tersenyum membayangkan wajah sahabatnya.
Di tengah candaan itu, wajah Maya tiba-tiba memerah. Nama Wawan disebut begitu saja, dan ingatan akan kejadian sore itu kembali menyergapnya dengan cepat.
Doni langsung mengambil ponselnya dan menelepon Wawan.
***
Di rumah Wawan:
Wawan masih cemas membayangkan hal terburuk. Ketika ponselnya berdering dan nama Doni muncul, tubuhnya menegang. Ia yakin Doni sudah tahu. Dengan tangan gemetar ia mengangkatnya.
"Ha... Halo, Don..." suaranya bergetar.
"Ya ampun, Wawan! Kenapa suaramu seperti ketakutan? Cepat ke sini sekarang! Papaku pulang dan membawakan sepatu bola edisi terbaru untuk kita berdua!" seru Doni riang.
Seketika beban di dada Wawan terangkat. Maya belum menceritakannya. Ia menghela napas panjang, namun tetap waspada.
"Loh... Eh, iya Don... Tapi badanku sedang tidak enak. Besok saja aku ke sana kalau sudah sembuh," jawab Wawan terbata-bata.
"Ya ampun, sakit. Ya sudah kalau begitu, besok aku yang ke rumahmu. Dadah!" Doni menutup telepon.
"Kenapa Wawan tidak datang? Biasanya dia paling semangat kalau aku pulang," tanya Andrew.
"Katanya sedang sakit, Pa," jawab Doni sambil membuka sepatunya.
Maya mengernyitkan dahi. Wawan sakit... atau takut? batinnya.
"Wa... Wawan sakit apa, Don?" tanyanya sedikit terbata-bata.
"Mama kenapa bicara terbata-bata?" heran Doni menatap ibunya.
Daftar bab
95 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








