
Gelandangan dengan cincin ajaib pemikat hati wanita
The Soloist|Bersambung
- Jumlah kata
- 28.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 6
- Jumlah kata

The Soloist|Bersambung
Di usia 27 tahun, ia hidup sebagai gelandangan, tidur di emperan toko, mengais makanan dari tempat sampah, dan bekerja serabutan demi bertahan hidup. Tidak ada keluarga yang mencarinya, tidak ada teman yang peduli, bahkan orang-orang di jalan sering kali melewatinya seolah Andre hanyalah bagian dari pemandangan kota. Sampai suatu malam, ketika mencari barang bekas di sebuah tempat pembuangan sampah, Andre menemukan sebuah cincin hitam tua dengan ukiran aneh. Begitu cincin itu melingkar di jarinya, sesuatu yang mustahil terjadi. Wanita yang biasanya tidak pernah meliriknya mulai tersenyum. Pelayan kafe tiba-tiba menawarkan makanan gratis. Seorang wanita cantik menyelamatkannya dari polisi. Bahkan perempuan yang terkenal dingin dan sulit didekati tiba-tiba menunjukkan ketertarikan kepadanya. Andre awalnya mengira dirinya sedang beruntung. Namun sebuah suara misterius dari cincin itu akhirnya memberitahunya: “Aku tidak membuat mereka mencintaimu. Aku hanya membuat mereka mampu merasakan apa yang tersembunyi di dalam hatimu.” Sejak saat itu, kehidupan Andre berubah menjadi kekacauan. Wanita cantik dari berbagai latar belakang mulai masuk ke dalam hidupnya. Ada seorang pewaris perusahaan, wanita karier yang dingin, dokter muda, artis terkenal, hingga perempuan misterius yang tampaknya mengetahui rahasia cincin tersebut. Namun semakin Andre menggunakan kekuatannya, semakin ia menyadari bahwa cincin itu memiliki harga. Setiap kali ia membuat seseorang jatuh hati kepadanya, sebagian dari emosinya sendiri perlahan menghilang. Lebih buruk lagi, ternyata cincin tersebut pernah dimiliki oleh beberapa pria sebelum dirinya. Tak satu pun dari mereka berakhir bahagia. Ketika seorang pria misterius bernama Adrian datang untuk mengambil kembali cincin itu, Andre mengetahui kebenaran mengerikan: Cincin tersebut bukan ditemukan secara kebetulan. Andre memang dipilih. Dan alasan dia dipilih bukan karena dia adalah orang yang paling kuat... melainkan karena hatinya pernah mengalami kehancuran yang membuatnya menjadi wadah sempurna bagi kekuatan cincin tersebut. Kini Andre harus memilih. Apakah ia akan menggunakan kekuatan itu untuk mendapatkan kehidupan yang selama ini tidak pernah dimilikinya? Ataukah ia akan menghancurkan cincin tersebut dan kembali menjadi pria yang tidak dianggap siapa pun? Karena pada akhirnya, ada satu pertanyaan yang jauh lebih sulit daripada membuat semua wanita jatuh cinta kepadanya: “Jika suatu hari cincin itu tidak lagi bekerja, siapa yang masih akan memilih Andre?”
Malam itu, Andre menemukan sebuah cincin di tempat sampah.
Ia tidak tahu bahwa benda kecil itulah yang akan mengubah hidupnya.
Atau mungkin...
menghancurkannya.
Hujan turun deras di tengah kota.
Air mengalir di sepanjang trotoar, membawa puntung rokok, bungkus makanan, dan lumpur menuju selokan. Lampu-lampu kendaraan memantul di jalanan basah, sementara orang-orang bergegas mencari tempat berteduh.
Di antara kerumunan itu, seorang pria berjalan sendirian.
Namanya Andre.
Jaket tipis yang dikenakannya sudah terlalu lusuh untuk disebut jaket. Celananya penuh noda. Sepasang sandal yang dipakainya bahkan berbeda warna.
Di tangan kanannya terdapat sebuah kantong plastik hitam.
Isinya?
Beberapa botol plastik.
Hanya itu.
Bagi kebanyakan orang, benda-benda tersebut adalah sampah.
Bagi Andre, benda-benda itu bisa berubah menjadi beberapa ribu rupiah.
Dan beberapa ribu rupiah berarti...
makan malam.
"Semoga masih ada yang bisa dijual."
Andre berhenti di depan sebuah tempat sampah besar di belakang pusat perbelanjaan.
Ia menatap ke dalam.
Kemudian menarik napas panjang.
Tidak ada rasa malu lagi.
Rasa malu sudah lama mati dalam dirinya.
Andre memasukkan tangannya ke dalam tempat sampah dan mulai mencari.
Botol plastik.
Kardus.
Kaleng minuman.
Sebuah kotak makanan yang masih menyisakan sedikit nasi.
Andre berhenti.
Matanya menatap nasi tersebut.
Perutnya berbunyi.
"Maaf."
Ia tersenyum getir.
"Terpaksa."
Andre duduk di samping tempat sampah dan mulai memakan nasi dingin itu.
Beberapa orang yang keluar dari pintu belakang mal melirik kepadanya.
Ada yang jijik.
Ada yang kasihan.
Ada pula yang pura-pura tidak melihat.
Andre sudah terbiasa.
Yang paling menyakitkan bukan ketika orang menghina dirinya.
Yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang menatapnya...
lalu beberapa detik kemudian lupa bahwa dia pernah ada.
Andre menundukkan kepala.
Dulu kehidupannya tidak seperti ini.
Ia pernah memiliki pekerjaan.
Pernah memiliki rumah.
Pernah memiliki seseorang yang memanggilnya dengan sebutan keluarga.
Tetapi semuanya hilang dalam waktu kurang dari satu tahun.
Dan sejak saat itu, Andre belajar satu hal:
dunia tidak peduli apakah kau jatuh atau tidak. Dunia hanya peduli apakah kau masih bisa berdiri.
Andre menghabiskan makanannya.
Kemudian ia kembali mencari barang bekas.
Sampai tangannya menyentuh sesuatu yang keras.
"Apaan ini?"
Ia menarik benda itu keluar.
Sebuah kotak kayu kecil.
Kotak tersebut kotor dan hampir seluruh permukaannya tertutup lumpur.
Andre membukanya.
Kosong.
"Hanya kotak."
Ia hampir membuangnya.
Namun saat hendak melemparkannya kembali, terdengar suara kecil.
Klik.
Andre berhenti.
Ia menatap bagian bawah kotak.
Ada sebuah celah kecil.
Dengan kuku jarinya, ia membuka lapisan kayu yang terlepas.
Sesuatu jatuh ke telapak tangannya.
Sebuah cincin.
Warnanya hitam pekat.
Tidak ada batu permata.
Tidak ada hiasan berlebihan.
Hanya sebuah simbol aneh menyerupai dua mata yang saling bertumpuk pada bagian dalamnya.
Andre mengangkat cincin itu mendekati lampu.
"Aneh."
Entah mengapa, ia merasa benda itu seperti sedang memperhatikannya.
Konyol.
Sebuah cincin tidak mungkin memiliki mata.
Andre tertawa kecil.
"Mungkin aku sudah terlalu lapar."
Ia mencoba memasukkan cincin itu ke jari telunjuk.
Pas.
Terlalu pas.
Kemudian—
BRAK!
Tubuh Andre tersentak.
Tangannya gemetar.
Cincin tersebut tiba-tiba menjadi panas.
"Ah!"
Andre menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
Sakit.
Bukan seperti terbakar.
Lebih seperti ribuan jarum menusuk seluruh tubuhnya sekaligus.
Ia mencoba menarik cincin itu.
Tidak bisa.
"LEPAS!"
Andre menariknya sekuat tenaga.
Tidak bergerak.
Kemudian sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.
Bukan suara manusia.
Bukan suara laki-laki.
Bukan pula suara perempuan.
Suara itu terdengar seperti bisikan dari tempat yang sangat jauh.
[Sinkronisasi berhasil.]
Andre membeku.
"Apa?"
[Pemilik baru terdeteksi.]
"Siapa yang bicara?"
Tidak ada jawaban.
Kemudian tulisan aneh muncul di dalam pikirannya.
[Cincin Asterion telah memilih Anda.]
Andre menatap cincin tersebut.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
"Cincin Asterion?"
[Kemampuan pertama telah dibuka.]
[Heart Dominion.]
Andre mengernyit.
"Apa itu?"
Tidak ada jawaban.
Hujan masih turun.
Suara kendaraan masih terdengar.
Kota masih berjalan seperti biasa.
Seolah tidak ada sesuatu yang baru saja terjadi.
Andre berdiri perlahan.
Ia melihat pantulan dirinya di genangan air.
Wajahnya masih sama.
Rambut berantakan.
Janggut tipis.
Pakaian lusuh.
Tubuh kurus.
Tidak ada perubahan.
"Sepertinya aku benar-benar mulai gila."
Andre menghela napas.
Ia berjalan meninggalkan tempat sampah.
Namun baru beberapa langkah...
"Hei."
Andre berhenti.
Seorang wanita berdiri di belakangnya.
Wanita itu mengenakan pakaian kantor. Rambutnya panjang, wajahnya cantik, dan di tangannya terdapat payung merah.
Andre melihat ke belakang.
"Ya?"
Wanita itu menatapnya beberapa detik.
Kemudian bertanya,
"Kamu belum makan?"
Andre mengerutkan kening.
"Sudah."
"Benarkah?"
Andre mengangguk.
Wanita itu melihat kantong plastik di tangannya.
Kemudian melihat pakaian Andre.
Wajahnya berubah iba.
"Kalau begitu..."
Ia membuka tas.
Mengeluarkan sebuah kotak makanan.
Dan menyerahkannya kepada Andre.
"Ambillah."
Andre tidak langsung menerimanya.
"Untuk saya?"
Wanita itu tersenyum.
"Iya."
"Kenapa?"
Wanita itu sendiri tampak bingung.
Ia menatap Andre cukup lama.
"Aku juga tidak tahu."
Andre semakin bingung.
Wanita itu kemudian berkata,
"Entah kenapa... aku merasa kamu sedang membutuhkan seseorang."
Andre terdiam.
Kalimat sederhana itu menusuk sesuatu di dalam dadanya.
Sudah berapa lama tidak ada orang yang mengatakan hal seperti itu kepadanya?
Wanita tersebut menyerahkan makanan itu.
"Jangan tidur di sini. Udara malam dingin."
Setelah itu ia pergi.
Andre berdiri sendirian di bawah hujan.
Ia menatap kotak makanan di tangannya.
Kemudian menatap cincin hitam di jarinya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Andre tersenyum.
Namun senyum itu hanya bertahan beberapa detik.
Karena dari kejauhan, seorang pria berpakaian hitam berdiri di bawah lampu jalan.
Pria itu tidak melihat Andre.
Ia melihat cincin di tangan Andre.
Wajahnya langsung berubah pucat.
"Mustahil..."
Pria itu berbisik.
"Cincin Asterion sudah memilih pemilik baru?"
Tangannya mengepal.
"Kalau begitu..."
Ia mengeluarkan ponsel dan menelepon seseorang.
"Dia sudah ditemukan."
Hening beberapa detik.
Kemudian pria itu berkata dengan suara rendah,
"Ya."
"Pemilik baru Asterion adalah seorang gelandangan."
Ia menatap Andre yang masih berdiri di tengah hujan.
Dan tersenyum tipis.
"Persiapkan semuanya."
"Karena sebelum pria itu mengetahui kekuatan sebenarnya dari cincin tersebut..."
kita harus membunuhnya.
Di sisi lain jalan, Andre tidak mengetahui apa pun.
Ia hanya menatap kotak makanan di tangannya.
Tidak mengetahui bahwa malam itu adalah malam terakhir ketika hidupnya masih sederhana.
Karena mulai besok pagi...
semua wanita yang ditemuinya akan melihat Andre dengan cara yang berbeda.
Dan tidak semuanya akan datang dengan niat baik.
21 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







