
Kultivator Bodoh Idaman Janda Desa
Dragon_Fly|Bersambung
- Jumlah kata
- 89.6K
- Popular
- 12.0K
- Subscribe
- 1.7K
- Jumlah kata
- 89.6K
- Popular
- 12.0K
- Subscribe
- 1.7K
Sinopsis
Surya hanyalah pemuda kampung yang bodoh, tapi tubuhnya yang kekar dan seksi selalu membuat para janda di desa meneteskan air liur. Suatu hari, ia secara tak sengaja memergoki dua orang yang sedang “bermain” di hutan. Setelah ketahuan, ia dipukuli hingga pingsan dan dilempar ke jurang. Di ambang maut, liontin warisan kakeknya tiba-tiba aktif. Surya mewarisi teknik kultivasi kuno yang sangat langka. Tubuhnya yang hancur dan pikirannya yang bodoh pulih dalam sekejap. Dari pemuda bodoh, Surya kini bangkit sebagai kultivator yang berbahaya. Dengan teknik kultivasi ganda, ia siap menaklukkan dunia dan membuat para wanita tergila-gila padanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
"Gede banget ya kayaknya punya dia ...." gumam Ida Danuraja sambil menggigit bibir bawahnya menahan gejolak yang bergemuruh di dada.
Matanya tertancap lurus pada sosok Surya Lintang yang sedang olah raga di halaman dengan hanya mengenakan celana pendek sepak bola dan bertelanjang dada.
"Aku juga penasaran. Kok bisa kayak lagi ngumpetin anak kucing gitu di dalam celana," Puspa Wijaya yang duduk di sebelah Ida ikut berkomentar.
Keduanya sedang duduk santai di teras rumah Ida, menunggu tukang sayur langganan lewat.
Ida Danuraja, janda muda yang perkakasnya sebenarnya masih segel itu merasa jantungnya berdegup liar melihat tubuh atletis Surya yang berkilat karena keringat dibawah cahaya mentari pagi yang keemasan.
Surya Lintang berusia 23 tahun, memiliki tinggi badan 181 cm dan berat 77 kg. Terlihat begitu proporsional di mata Ida yang penasaran dan juga sekaligus merindukan kehangatan tubuh seorang pria.
Tanpa sadar Ida membasahi bibir dengan ujung lidahnya demi melihat dada bidang Surya yang berbulu dan juga perutnya yang kotak-kotak seperti roti sobek.
"Kalau dikasih, aku juga nggak bakal nolak ...." bisik Puspa sambil menggosok-gosok dadanya yang berukuran jumbo saat Surya selesai olah raga dan memutuskan pergi ke arah ujung desa.
"Heh! Inget, kamu sudah punya suami!" Ida melotot galak memperingatkan Puspa.
"Hehe. Bercanda. Makanya kamu jangan lelet, Ida. Banyak yang mau sama Surya. Kamu kan sudah banyak keluarin biaya buat dia. Kalau kamu nggak gerak cepat, keburu dipakai sama orang lain itu anak. Barang bagus soalnya say ...."
Puspa bangkit berdiri dan berjalan tergesa pulang menuju rumahnya, membuat dadanya yang berukuran jumbo itu terlihat berguncang-guncang seirama langkah kakinya seolah ia sedang menyembunyikan dua bola voli di balik kaosnya yang ketat.
Ida duduk melamun menatap punggung kokoh Surya yang berjalan menjauh menuju ujung desa.
Surya Lintang yang baru lulus kuliah kedokteran dari universitas nomor satu di ibu kota, mendadak diantar pulang ke Desa Mawar dalam keadaan bodoh dan linglung.
Setiap hari ia selalu keluyuran keliling desa dengan hanya mengenakan celana pendek klub sepak bola favoritnya, Fluminense, dan bertelanjang dada.
Surya jadi tontonan para janda-janda kesepian dan istri-istri yang sudah bosan dengan permainan suami mereka.
Sementara para gadis dengan malu-malu mencuri pandang penasaran, sambil diam-diam menyayangkan Surya yang tampan harus mendadak jadi idiot seperti itu.
Ida bangkit berdiri dan berjalan gontai masuk ke rumahnya begitu sosok Surya menghilang dari pandangan matanya.
Akhir-akhir ini Ida terus dihantui mimpi yang berulang. Leluhur Keluarga Lintang mendatanginya lewat mimpi dan memintanya untuk melahirkan keturunan keluarga mereka.
Tapi, mengingat Surya yang kini bodoh, ia pun jadi berpikir ulang tentang permintaan dari leluhur tersebut.
Ida bergidik ngeri membayangkan omongan warga desa tentang dirinya sebagai wanita yang tak bisa menjaga kehormatan dan memanfaatkan seorang pria bodoh untuk menghangatkan tubuhnya yang berkarat karena sudah lama tidak diminyaki.
Sementara itu di saat yang sama, Surya sedang berlarian di lereng bukit mengejar burung-burung sampai hari beranjak siang dan akhirnya kelelahan.
Malas pulang ke rumah karena matahari yang bersinar terik, Surya memutuskan memanjat salah satu pohon jambu air dan tertidur di salah satu dahan sambil memeluk batang pohon seperti seekor monyet.
Tak lama kemudian, datanglah sepasang pria dan wanita yang berteduh di bawah pohon jambu tempat Surya tertidur.
Mereka adalah Dedi dan Mirna, selingkuhannya.
"Di sini saja yok. Aman nih. Tengah hari bolong gini nggak akan ada yang lewat," Dedi langsung membuka baju dan menggunakannya untuk menyeka keringat.
Mirna tersenyum malu-malu, duduk bersandar pada pohon jambu.
"Ayo sayang ...." Dedi menggelar bajunya di atas rumput, memeluk dan meraih tubuh Mirna, lalu merebahkan tubuh wanita itu di atasnya.
"Pelan-pelan, Bang ...." Mirna mendesis pelan dengan mata terpejam saat Dedi merogoh isi di dalam rok pendeknya.
"Sudah siap pun ini punyamu rupanya!" Dedi menggeram tak sabar dan menarik lepas celana dalam Mirna.
Dedi menjilati jari jemarinya yang basah lengket, lalu memelorotkan celananya sendiri, dan langsung menerkam Mirna seperti singa lapar.
"Aw!" Mirna memekik kaget saat benda tumpul tapi keras itu menerobos masuk ke dalam tubuhnya tanpa permisi.
Suara pekikan Mirna memecah keheningan siang di lereng bukit membuat Surya terkejut dan terjaga dari tidurnya.
Surya mengerjapkan matanya kebingungan. Menoleh ke kiri dan kanan mencari sumber suara terengah seperti orang sedang push up, sebelum akhirnya ia menunduk, dan menemukan Mirna sedang digarap oleh Dedi.
"Hey! Kalian ini main kuda-kudaan nggak ngajak-ngajak ya. Ikutan dong!" Tanpa rasa bersalah, Surya langsung melompat dari pohon.
"Ikutan apaan? Dasar bocah tolol! Pergi sana!" Dedi bangkit berdiri dengan wajah murka.
"Dedi jangan!" Mirna melompat menahan Dedi yang sebelah tinjunya sudah terangkat siap menghajar Surya.
Dedi menoleh dan menatap Mirna dengan pandangan penuh tanya.
"Kayaknya seru juga kalau main bertiga ... sesekali kan ... buat selingan. Hehe." Mirna tersenyum binal.
Tanpa menunggu jawaban Dedi, Mirna langsung maju merangkul Surya hingga membuat Dedi muntab karena cemburu.
"Haha. Itu punya Bang Dedi pendek berurat manggut-manggut kayak kepala kura-kura! Masih gedean juga punya aku. Haha!" Surya tertawa-tawa seperti anak kecil lihat mainan lucu sambil menunjuk ke arah pangkal paha Dedi.
Dedi yang gelap mata mengambil sebongkah batu dan langsung menghantamkannya sekuat tenaga ke belakang kepala Surya.
Crasssss!
Darah segar muncrat di udara. Tubuh Surya langsung jatuh merosot, lepas dari pelukan Mirna.
"Dedi! Apa yang kamu lakukan!" Mirna menjerit ketakutan. Mundur menjauh sambil mengibaskan tangannya yang berlumuran darah Surya.
Melihat Surya meringkuk dengan darah mengucur dari kepalanya seperti keran bocor, sadarlah Dedi kalau dia sudah kelewatan.
"Diam! Jangan berisik. Kalau ada yang tahu aku membunuh si goblok ini, kamu juga bakal kena seret!" Dedi terlihat panik. Celingukan ke segala arah seperti tikus yang cari jalan keluar dari dalam jebakan.
Mirna duduk meringkuk di tanah dengan tangan membekap mulutnya sendiri. Matanya memandang ngeri pada Surya yang terkapar dan tak bergerak sama sekali.
Ekspresi wajah Mirna terlihat aneh. Gabungan antara rasa takut dan juga sekaligus kecewa. Takut kalau Surya mati dan kecewa karena tadi sudah selangkah lagi sebelum ia bisa mencicipi tubuh gagah Surya.
Dalam kepanikannya, Dedi membungkuk dan dengan sempoyongan menggendong tubuh Surya yang jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri.
Terseok-seok Dedi membawa tubuh Surya ke tebing curam dan melemparkannya begitu saja ke jurang, lalu balik badan melanjutkan kegiatannya menggenjot Mirna seolah tidak pernah apa-apa.
Tubuh Surya meluncur cepat ke dasar jurang. Darah dari luka di kepalanya mengalir membasahi liontin giok hijau zamrud yang ia kenakan dan ....
Blarrrrr!
Cahaya hijau memancar dahsyat dan seketika tubuh Surya lenyap tak berbekas sebelum sempat mendarat di dasar jurang.
Surya siuman dan mendapati dirinya sedang berbaring di antara asap hijau yang membentang hingga sejauh mata memandang.
Ia bangkit duduk dan mendapati sesosok wanita cantik jelita dengan kulit putih bersinar melayang di depan matanya.
"Siapa kau?!" Surya kaget dan spontan bergerak mundur menjauhi wanita cantik jelita yang mengambang di udara seperti layang-layang itu.
Kecantikan wanita itu membuat Surya mengerjapkan matanya beberapa kali untuk memastikan kalau dia tidak salah lihat.
"Surya ... kau tidak perlu takut. Aku peri peliharaan leluhurmu ... aku ini Peri Keluarga Lintang ...." dengan suara merdu seperti sedang bernyanyi, wanita cantik yang ternyata adalah bangsa peri itu menjelaskan kalau dia adalah peri milik nenek moyang Surya.
Peri itu tersenyum manis membuat wajahnya seperti memancarkan cahaya, lalu menjelaskan bahwa Leluhur Surya telah menyegel dirinya di dalam liontin giok itu sejak bertahun-tahun yang lalu.
"... hanya darah dari keturunan Tuan Lintang yang bisa membuka segel liontinnya, dan aku juga sudah menyembuhkan luka di kepalamu." Peri itu merentangkan dua lengannya seperti orang menari, membuat cahaya berkerlipan di sekeliling tubuhnya.
Spontan Surya meraba belakang kepalanya yang tadi dihantam batu oleh Dedi dan ia benar mendapati kepalanya sudah mulus seperti sedia kala. Tak ada luka atau pun rasa sakit.
Surya termenung sejenak memikirkan semua ini.
Lalu ia mendongak memandang sosok peri di hadapannya yang pakaiannya terlihat transparan sehingga terlihat jelas lekuk tubuhnya yang indah dan menggoda.
"Memangnya siapa nama tuanmu yang sudah menyegel kamu di dalam liontin ini?" Tanya Surya akhirnya di tengah kebingungannya.
Karena memang belum pernah ia melihat ada wanita secantik itu seumur hidupnya!
"Adit Lintang," sahut peri dengan senyum manisnya membuat tubuh Surya terasa memanas karena terbakar gairah.
Meski memakai pakaian berupa gaun panjang yang terus berkibar-kibar seperti tertiup angin, tapi bahan gaunnya terlihat seperti terbuat dari plastik transparan, sehingga setiap sudut tubuh peri itu dapat dengan jelas terpampang nyata di hadapan Surya.
Puncak dua bukit di dadanya yang mencuat menantang, perutnya yang mulus rata, pinggangnya yang berlekuk ramping, dan mata Surya akhirnya berhenti pada area di antara dua paha si peri yang tembem mulus indah terawat.
Surya menelan ludah untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak terasa kering dan minta dibasahi.
Mendengar jawaban si peri, Surya langsung ingat kalau memang ada nama Adit di pohon silsilah keluarganya.
"Apa beliau meninggalkan banyak harta warisan buatku? Apa ada emas? Uang?" Tanya Surya terus terang karena di pikiran bodohnya, yang paling ia inginkan saat ini adalah banyak harta dan uang.
"Apa yang Tuan Adit wariskan untuk keturunannya jauh lebih berharga dari sekadar harta." Mata peri itu terlihat berkedip-kedip menggemaskan saat berbicara, sehingga bikin Surya jadi semakin gelisah.
"Tuan Adit mewariskan teknik kultivasi ganda yang tak ternilai harganya untukmu, Surya," kata peri itu lagi.
"Bagaimana cara memperolehnya?" Kejar Surya tak sabar.
"Teknik kultivasi itu sudah tertanam di dalam tubuhmu. Mengalir dalam setiap aliran darahmu dan menunggu untuk diaktifkan. Tapi, karena kamu habis terluka dan tubuhmu sedang tidak stabil setelah kehilangan banyak darah, teknik kultivasi itu belum bisa diaktifkan dan baru bisa aktif setelah kamu melakukan kultivasi ganda denganku ...."
Seolah ada kekuatan aneh yang menguasai tubuhnya, tiba-tiba Surya bangkit berdiri dan menerkam tubuh peri itu sebelum dia selesai bicara.
"Kamu mau ngapain? Cepat lepaskan aku!" Peri itu menjerit panik dengan suara melengking tinggi ketakutan.
Tapi, Surya yang bodoh dan sudah terbakar gairah hanya mendengar kata 'cepat' saja, yang membuatnya jadi semakin menggila karena mengira peri itu tak sabar untuk bercinta dengannya.
Surya merobek pakaian tembus pandang si peri dan melahap buah ranum di dada peri itu secara bergantian dengan brutal seperti orang kelaparan.
Bersambung .....
Daftar bab
77 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








