
- Jumlah kata
- 78.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
400 tahun lalu istana Olimpus dijadikan sebagai tempat berkumpulnya para Dewa dan Dewi. Terjadi sebuah pemberontakan dari wilayah iblis yang dipegang Hades, membuat peperangan besar terjadi antara Dewa dengan ras iblis. Mata Dewa Apollo melihat kebenaran, masa depan telah terungkap, para dewa meninggalkan perang begitu saja tanpa jejak. ••• 400 tahun kemudian perang masihlah berlanjut. Ras manusia semakin kuat, iblis juga semakin licik, dan apa yang dilihat Apollo juga masih menjadi teka-teki. Anak-anak yang diramalkan telah dilahirkan setelah berbagai upaya telah dikorbankan. Kallen Megaphentes adalah seseorang yang lahir dari ras iblis, pergi menjelajah dengan tekad sebagai raja iblis, dipertemukan dengan manusia bernama Jericho Jecho seorang ketua venator. Perjalanan mereka menjadi pemburu iblis masih panjang, tekad mereka untuk membongkar teka-teki dunia masih belum cukup kuat, dan benarkah sejarah ditulis dengan benar?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pertemuan Di Olimpus
Kabut menggantung rendah di Gunung Thanatifóros. Puncaknya menjulang tinggi membelah langit. Asap tipis keluar dari celah bebatuan raksasa. Dari kedalaman terdengar suara raungan yang memaksa siapapun untuk mundur.
Di puncaknya terdapat pintu obsidian. Tinggi, lebar dan begitu megah. Diapit oleh dua patung raksasa memegang pedang.
Tidak ada yang tahu apa yang berada di balik pintu itu. Hingga, satu kilatan cahaya berhasil menembus gumpalan awan besar, melintas dengan cepat menuju pintu obsidian.
Tidak lama dari itu, suara dentuman keras dan terompet terdengar dari kejauhan, sehingga burung-burung berterbangan menyambut para tamu.
Suara itu dari Olimpus, tempat para Dewa berkumpul.
Gunung Thanatifóros berada di wilayah Punohu, di bagian tertinggi Benua Orchid.
Aula Olimpus terbentuk dari pilar-pilar marmer yang melayang di udara, diselimuti cahaya emas yang tak pernah padam.
Terdapat beberapa patung Dewa Dewi yang memutari aula, kursi-kursi yang dibentuk sesuai selera mereka sebagai bukti kekuasaan tiap-tiap dari mereka, serta segala atribut yang dipenuhi warna emas.
Di tengahnya, sebuah meja bundar terbentang, dipenuhi oleh beberapa kertas dekret yang sudah terbuka.
Zeus duduk di tahta tertinggi. Matanya menyapu seluruh ruangan dan tangannya mengetuk kursi beberapa kali.
“Dia belum datang?” tanya Zeus. Ia melirik pintu utama yang masih tertutup, lalu menghela napas, situasi ini sangat hening karena tidak ada yang membalas pertanyaannya.
Beberapa Dewa terlihat menoleh ke pintu utama, sama-sama mengharapkan kedatangan salah satu Dewa yang ditunggu Zeus.
“Mungkin, Kakakmu itu tidak akan sempat datang, Zeus,” seru Iris sambil menyeringai. Dewa tengil itu mulai menunjukkan taring.
Zeus menoleh. Menatap Dewa muda yang berani menatapnya langsung. Ia tarik rambut putih panjangnya, lalu dibuang begitu saja ke lantai dan sepatunya menginjak helaian rambutnya itu. Seketika cahaya oren dan suara ‘ctak-ctak’ muncul, petir kecil keluar dari surai rambutnya yang tertimpa kakinya.
“Dia akan datang,” ujar Zeus. Kelereng hitamnya bergulir menatap Iris tajam setelah mengawasi kursi kakaknya.
Zeus merasa tidak terima kakaknya dipertanyakan mengenai kehadirannya, apalagi yang bicara adalah Dewa yang sering kali meremehkan pihak lain.
Poseidon terlihat tidak bisa diam di tempat duduknya, sesekali terlihat ingin berdiri dan hendak pergi, ia ingin sekali menjemput kakaknya dari dunia bawah.
“Benarkah?” Iris mengangkat alis.
“Yang kuingat, Hades seperti tidak pernah menghargai waktu kita, selalu datang paling akhir,” lanjut Iris sambil mengangkat salah satu tangannya se atas bahu dan menarik helaian rambutnya ke belakang.
“Dia sedikit sibuk,” balas Poseidon dingin.
Anteros terkekeh di atas tempat duduknya, lalu berkata, “Sibuk menghitung mayat?”
Poseidon langsung melempar tongkat trisulanya ke depan Anteros, bercak-bercak air muncul dari lantai aula, dan aura mencekam langsung saja muncul.
“Jaga mulutmu!” Peringat Poseidon. Dia berdiri dari kursinya, menghadap Anteros dengan tubuh tegap. Pakaiannya berkibar seperti diterpa angin.
“Kau sedang membicarakan salah satu dari tiga dewa penguasa!” Poseidon menunjuk Anteros dengan jari telunjuknya. Sorot matanya bak elang, dan wajahnya sangat kaku, menyatakan bahwa dirinya tidak ingin dibantah.
Anteros menatap trisula yang menancap tepat di depan kakinya dengan tatapan bergetar. Pelan-pelan ia menunjukkan senyum pahit dan menatap Poseidon seperti kucing minta pengampunan.
“Tenang, tenang, aku hanya bertanya,” ucap Anteros. Kedua tangannya berada di depan dada dan bergerak ke kanan serta ke kiri bergantian. Keringat dingin keluar tanpa ia sadari.
Wajah para Dewa dan Dewi mulai cemas. Mereka tentu juga takut menjadi bahan amarah para petinggi. Mereka tidak mau berbicara, tetapi di dalam hati mereka mengumpati dua dewa yang cari gara-gara.
“Kita tidak perlu mendebatkan, ini, kan?” Hermes menyela, dia tidak bisa diam melihat keributan yang terjadi, terlebih melihat beberapa dewa muda yang ketakutan.
“Hades adalah Dewa Penguasa dunia bawah, tugasnya tidak semudah kita. Dia harus menjaga segel iblis dan terkadang harus menghakimi mereka. Jadi, tidak perlu diperdebatkan tentang kedatangan Beliau, kan?” jelas Hermes. Ia menatap Anteros, menyuruhnya untuk memahami situasi secara tidak langsung.
Apollo menarik helai rambutnya ke belakang telinga, menatap keributan itu dengan tatapan malas, lalu ia berkata, “Meski yang ingin kamu ketahui adalah alasan mengapa iblis tetap bisa keluar dari segel, itu adalah pertanyaan yang kurang ajar.”
Anteros terbelalak. Menatap Apollo tajam. Dewa satu itu seperti membaca isi hatinya. Ah, ia teringat, Apollo adalah salah satu dewa yang bisa melihat masa depan melalui mimpinya, mungkin dewa itu sudah menebak isi hatinya lewat mimpinya.
Di sisi lain Iris terdiam. Duduk tenang di atas kursi tanpa berani menatap beberapa Dewa besar yang mulai angkat bicara. Nyalinya tiba-tiba ciut.
“Dia datang.” Zeus menghantamkan trisulanya ke lantai hingga udara di sekitar mereka bergetar, menyuruh seluruh dewa untuk berhenti bertengkar dan fokus pada siapa yang akan datang.
Poseidon menggeram pelan. Tangannya melambai ke atas, memanggil kembali senjatanya, lalu duduk dengan perasaan jengkel.
Hermes kembali tenang. Apollo menghadap depan. Athena dan Panacea tertawa pelan.
Kriet!
Pintu dengan lapisan emas serta hiasan berlian terbuka. Bunyi pintunya seolah menyejukkan telinga para penghuni aula, seketika seluruh pasang mata menatap ke sumber suara.
Cahaya matahari menyerobot masuk.
Bayangan dua sosok terbentuk memanjang menghiasi marmer putih di bawah.
Yang pertama berjalan masuk tanpa terburu-buru.
Rambut hitam panjangnya jatuh melewati bahu. Hiasan daun cemara emas melingkari kepalanya. Jubah hitam menjuntai hingga menyentuh lantai, dihiasi ornamen gelap yang berkilau ketika terkena cahaya.
Dia Hades.
Di belakangnya, seorang pria bertanduk hitam melangkah masuk, mengikuti Hades, Dia Lucifer.
Pintu menutup dengan cepat, perlahan cahaya menghilang, dan seketika aula terasa lebih dingin.
Seorang Dewi yang tadi berbisik langsung menutup mulutnya.
Hades tidak mengatakan apa-apa. Ia berjalan menuju kursinya. Begitu ia duduk di tempat yang sudah disediakan, Lucifer mengambil posisi di belakangnya.
Zeus menatap kakaknya, sedangkan Hades membalas dengan anggukan kecil.
“Dia datang terlambat.”
“Tidak punya sopan santun.”
“Dia hanya membawa masalah.”
“Bahkan Zeus lebih pantas memegang tahta tertinggi.”
Bisikan kembali terdengar, suara mereka dibuat pelan, tetapi masih bisa didengar dengan jelas.
Lucifer menoleh. Matanya menyipit menatap mereka yang berani berbisik-bisik. Tangannya pelan-pelan mengepal, merasa tidak terima kalau Hades diperlakukan seperti sesuatu yang pantas dikomentari.
Hades sendiri tidak peduli.
“Tidak ada yang tahu rencana busuk apa yang akan dia lakukan,” curiga salah satu dewi.
Tangan Lucifer mengepal. Dia menoleh ke Hades, lalu berbisik, “Tuanku.”
“Berdirilah tegap,” perintah Hades tanpa menoleh sedikitpun ke arah Lucifer yang berdiri di sampingnya.
“Tapi mereka---“
“Lucifer,” tegur Hades dengan memotong langsung ucapan Lucifer. Kali ini ia menatap Lucifer.
Satu kata dari Hades membuat Lucifer langsung menutup mulut.
Poseidon yang duduk berseberangan mengembuskan napas panjang.
“Mereka benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti,” gumam Poseidon. Dia ingin melemparkan kembali senjatanya ke para Dewa yang berani berbicara kotor di aula ini.
Poseidon hendak membuka mulut. Namun, seseorang mendahuluinya.
“Bisakah kalian diam?” Ares berdiri.
Beberapa kepala langsung menoleh.
Tatapan tajam Ares menyapu seluruh meja.
“Kalau kalian punya keberanian untuk menghina penguasa dunia bawah, setidaknya punya keberanian untuk mengatakannya langsung di depan wajahnya,” seru Ares kemudian.
“Dan jangan menyeret kita ke dalam kebodohan kalian,” sungut Athena sambil menyilangkan kedua tangannya.
Aula mendadak sunyi. Mereka yang sejak tadi bergumam seketika membisu.
Hades mengangkat pandangan. Ares hanya tersenyum sinis. Athena tersenyum tipis.
“Bagus.” Zeus mengambil salah satu dekret dari meja.
“Sekarang, kalau semua orang sudah selesai bertingkah seperti anak kecil---“
“Mulai saja.” Suara Hades terdengar untuk pertama kalinya. Ia memotong ucapan adiknya begitu saja.
Zeus menatap Hades tidak percaya, padahal ia ingin menunjukkan karisma adik yang sayang kakaknya, tetapi sang kakak justru mendesaknya untuk tidak melakukan itu. Meski tidak terima, ia mengangguk patuh layaknya anjing.
“Baiklah. Kita mulai.” Zeus Kemudian menghela napas dan membuka dekret panjang. Seketika wajah manja Zeus berubah menjadi serius, tatapannya menajam dan raut wajahnya menjadi datar.
“Beberapa hari terakhir, Apollo menerima ramalan.” Zeus mulai membaca satu dekret dengan kertas berwarna emas.
Apollo yang sejak tadi diam mengangkat wajahnya, melirik Zeus tajam, ramalan kali ini tidak seperti biasanya.
Zeus meletakkan dekret kembali di atas meja dan mengambil yang lain. “Ramalan mengenai sebuah benda yang akan jatuh ke bumi.”
Anteros mengerutkan kening, lalu bertanya, “Benda?”
Apollo menjawab pelan, “Bukan sekadar benda.”
Apollo menatap mereka satu persatu, mulutnya kemudian bergerak dan berkata dengan kencang, “Meteor.”
Mereka semua langsung mengganti posisi duduk dan ekspresi. Ares langsung menegakkan punggung dan melumat bibirnya pelan.
Poseidon bersandar. Kepalanya berdenyut. Ia sudah diberi secuil informasi dari Zeus, tapi mendengar langsung dari Apollo, jantungnya terasa sesak.
“Seberapa besar?” Tanya Poseidon.
“Massanya cukup besar. Cukup untuk menghancurkan tiga wilayah sekaligus,” beritahu Apollo. Tatapannya turun ke meja, memperhatikan peta yang dibuka Zeus, lalu ia menjentikkan jari.
Peta di atas meja seketika terbakar, asapnya membuat para dewa merasa tidak nyaman, tetapi Apollo menggunakan trik itu untuk menunjukkan seberapa besar efek kehancuran meteor itu. Peta tersebut berhasil membakar tiga wilayah besar, setelah itu apinya mati, dan meninggalkan bekas bakar yang menghitam.
Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang berani mengganti posisi duduk. Berkedip pun tak sempat. Bahkan Lucifer yang sejak tadi berdiri dengan wajah kesal akhirnya mengangkat kepala.
Zeus menggenggam dekret itu lebih erat. Situasi ini tidak bisa mereka abaikan.
Hermes langsung menghitung perbandingan. Wajah Athena memucat. Panacea berhenti bernapas dan pandangannya jatuh pada lantai.
Mereka semua telah paham maksud Apollo membakar peta itu. Pelan-pelan rasa takut merayap pada hati mereka, bukan karena tidak sanggup mati untuk melawan, tetapi merasa ragu bahwa apa mereka bisa menyelamatkan manusia dari malapetaka itu.
“Kau yakin?” Ares menelan ludahnya dengan paksa. Tenggorokannya tiba-tiba kering.
“Jika ramalan itu benar, kita punya waktu berapa lama?” bisik Zeus. Ia menyimpan rasa khawatirnya lebih dalam.
“Tidak akan lama,” ujar Apollo.
Zeus terdiam. Kali ini dekret yang ia pegang sudah tidak berbentuk.
Poseidon perlahan berdiri dan berseru, “Kita hancurkan sebelum mendekat!”
“Tidak semudah itu,” jawab Apollo. Ia menatap Poseidon lebih sengit, sebab menurutnya tidak semudah itu menghentikan meteor.
“Tidak, apa?” Ares menoleh ke Apollo. Wajahnya terlihat tidak ingin diajak bercanda.
“Aku melihat beberapa kemungkinan, dan itu kuyakini ada pemicunya,” terang Apollo.
“Pemicu?” Hermes mengangkat alisnya.
“Sihir seseorang? Memang ada sihir seperti itu?” Panacea menoleh ke sana-sini, meminta balasan.
“Setahuku, hanya satu kemungkinan, sihir Omniarch,” Athena berdiri, menatap semua Dewa dan Dewi yang ada di aula.
“Omniarch?”
Mereka semua membisikkan satu kalimat yang sama. Menatap Athena penuh selidik.
“Ya. Omniarch. Mereka yang mampu mengakses Authority milik God. Hak mutlak yang memungkinkan pemiliknya memaksakan kehendak Ilahi terhadap dunia,” jelas Athena.
Panacea berwajah bingung. Menatap Athena tidak mengerti, lalu bertanya lagi, “Mereka bisa melakukan apapun?”
“Tidak. Mereka hanya bisa melakukan apa yang diizinkan Authority yang mereka akses. Seperti Phersephone dan Apollo,” terang Athena sambil menatap Apollo dan Hades.
Apollo tidak bereaksi terhadap penjelasan Athena, ia justru langsung menoleh ke Hades; melihat bagaimana mimik wajah yang ditunjukkan suami Phersephone.
Semua melihat Hades, tetapi Hades sama sekali tidak menunjukkan pergerakan apapun, dia hanya membalas tatapan yang menatapnya dengan tatapan kosong.
“Siapa yang punya sihir istimewa itu selain mereka? Masih ada lagi?” Dionisos mengusap dagunya, berpikir keras kemungkinan pemilik sihir omniarch.
“Aku belum tahu,” balas Athena.
“Siapa memang?” Iris menggaruk kepala.
“Ada. Salah satu makhluk sakral. Rubah ekor sembilan.” Odin yang sejak tadi diam dan menjadi penonton langsung memberikan tanggapan.
Semua menoleh kepadanya.
“Aku akan menemuinya dan memberikan peringatan,” ujar Odin kemudian.
Cahaya keemasan terlihat samar di mata Apollo. Matanya mengawasi punggung Odin.
“Dalam pandanganku, kejadian itu akan menghancurkan sebagian besar wilayah, trauma besar manusia, dan kematian.” Apollo melanjutkan.
Odin yang semula hendak pergi dari tempat duduknya langsung berhenti. Kakinya menapak ke lantai marmer lagi. Menoleh segera ke Apollo.
Untuk beberapa saat, tidak ada seorang pun yang bergerak.
Di luar aula, angin menyapu puncak Thanatifóros. Jauh di balik pintu obsidian, sesuatu meraung dari dalam gunung.
Zeus berdiri dan berkata, “Kita harus selamatkan manusia.”
Hades tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap dekret di atas meja. Kemudian, sangat pelan, matanya beralih menuju pintu aula.
Untuk pertama kalinya, tidak seorang pun di Aula Olimpus yakin bahwa mereka mampu menyelamatkan dunia.
Daftar bab
61 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








