
Keturunan Terakhir Sang Legenda Kuno
tha4g|Bersambung
- Jumlah kata
- 45.9K
- Popular
- 373
- Subscribe
- 69
- Jumlah kata
- 45.9K
- Popular
- 373
- Subscribe
- 69
Sinopsis
Setelah kematian sang ayah, Ahmad berjuang menjadi tulang punggung keluarga dan samsak hidup sang ibu yang tidak terima keadaan. Kematian ayahnya itu ternyata menyimpan rahasia. Ayahnya ternyata menyimpan dua pusaka sakti peninggalan leluhur. Ahmad sebagai keturunan terakhir pusaka kuno itu pun dikejar oleh takdir. Banyak orang dari berbagai sekte ingin menguasai kedua pusaka kuno itu. Ahmad pun berjuang mempertahankannya hingga berhasil menaklukan beberapa sekte. Kemarin, Ahmad hanyalah anak yatim yang berjuang untuk hidup. Kini, ia menguasai seluruh dunia.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1.
Suara sengat listrik dari bola lampu lima watt yang tergantung meliuk di langit-langit kontrakan itu berdengung rendah. Cahayanya yang kuning redup menyingkap debu-debu tipis yang melayang di udara, menciptakan atmosfer muram di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter tersebut. Udara terasa pengap, berasap bau sisa minyak goreng dan ketakutan yang mencekam.
TAK!
Bunyi kayu ambles yang menghantam punggung bergema nyaring, disusul suara retakan halus dari balok jati tua bekas papan jemuran.
"Cuci piring saja tidak becus! Buat apa kamu hidup kalau cuma bikin rugi?!"
Ahmad (15 tahun) tersungkur ke depan. Wajahnya nyaris menghantam lantai semen tegel yang dingin dan basah oleh sisa air cucian. Batuknya yang parah mendadak kambuh tanpa bisa ditahan—suara gesekan saluran pernapasan yang menyempit itu terdengar menyedihkan, bagaikan embusan napas terakhir dari raga yang hampir habis.
Ahmad terbatuk-batuk hebat hingga dadanya naik-turun secara drastis, menyemburkan bercak darah tipis kemerahan di atas pecahan keramik putih yang berserakan.
Dada bagian kirinya menyengat hebat, seolah ada seribu jarum panas yang ditusukkan sekaligus ke organ paru-parunya. Penyakit kronis bawaan yang menggerogoti tubuhnya sejak bayi kini mengamuk, memotong pasokan oksigen ke otak dan membuat pandangannya berkunang-kunang. Warna sudut matanya perlahan menghitam, tubuhnya gemetar hebat menahan rasa sakit luar biasa dari dalam dan luar.
Namun, bukannya belas kasih atau kehangatan usapan tangan seorang ibu, balok kayu rapuh di tangan Ibu Rahmi justru kembali terangkat tinggi ke udara. Ujung kayu itu gemetar, searah dengan amarah yang membakar dada wanita paruh baya tersebut.
"I-ibu... maaf... Ahmad tidak sengaja..." bisik Ahmad parau.
Tangannya yang kurus kering dengan buku-buku jari yang menonjol gemetar hebat, mencoba merangkak mundur sambil memeluk kepalanya yang sudah meneteskan darah segar dari pelipis.
Ibu Rahmi berdiri di atas tubuh anaknya yang tergeletak. Napasnya memburu kasar, dadanya kempas-kempis diliputi emosi mentah. Matanya merah, cekung oleh kurang tidur berbulan-bulan, dan dipenuhi oleh kilatan kebencian yang teramat sangat. Di bawah remang lampu lima watt, paras Ibu Rahmi tidak lagi memancarkan kelembutan seorang ibu yang pernah menimang Ahmad sewaktu kecil.
Setiap kali wanita itu menatap Ahmad, yang terlihat di matanya bukanlah anak kandung yang melahirkannya dengan taruhan nyawa, melainkan sesosok monster tak berguna—sebuah benalu yang terus menggerogoti sisa-sisa napas dan ekonominya yang sudah sekarat.
BUK!
Pukulan kedua mendarat brutal di bahu kiri Ahmad. Pemuda itu memekik tertahan, giginya mengatup rapat hingga bibirnya berdarah agar suara jeritannya tidak terdengar sampai ke luar kontrakan.
Di sudut ruangan yang paling gelap, tersudut di antara tumpukan kasur busa tipis dan lemari plastik yang pintunya sudah terlepas, seorang anak perempuan meringkuk kecil.
Nisa—adik perempuan Ahmad yang baru berusia 12 tahun,memeluk erat kedua lututnya ke dada. Bajunya yang lusuh basah oleh air mata yang mengalir tanpa henti. Mulutnya dikatupkan rapat oleh jemari kecilnya sendiri. Nisa gemetar hebat, menyaksikan kakak nya dipukuli bagaikan hewan tebas. Ia sangat ingin berlari, melempar tubuhnya untuk melindungi sang kakak, namun pengalaman pahit mengajarinya bahwa bersuara sedikit saja hanya akan memindahkan balok kayu itu ke tubuhnya sendiri.
"Mas Ahmad... maafin Nisa... maafin Nisa..." jerit Nisa hanya di dalam hatinya, menangis dalam keheningan yang menyiksa.
Ibu Rahmi mencengkeram kerah baju Ahmad yang sudah bolong-bolong, memaksa pemuda ringkih itu menengadah.
"Lihat muka saya, Ahmad! Lihat!" bentak Ibu Rahmi dengan suara melengking yang menusuk telinga. "Piring itu di beli pakai uang! Minyak goreng pakai uang! Obat batukmu yang tidak pernah menyembuhkan itu juga pakai uang!
Ayahmu sudah mati! Dari mana saya harus cari uang kalau kamu cuma bisa merusak barang di rumah ini?!"
Ceceran darah segar dari pelipis Ahmad menetes perlahan, melewati pelupuk matanya dan jatuh ke pipinya yang tirus. Ahmad menatap mata ibunya. Tidak ada rasa dendam di mata pemuda 15 tahun itu. Yang ada hanyalah kedukaan yang amat dalam dan rasa bersalah yang mengubur jiwanya.
"Maafkan Ahmad, Bu..." kata Ahmad pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi benturan napasnya sendiri. "Nanti... nanti Ahmad ganti piringnya..."
"Ganti pakai apa?!" jerit Ibu Rahmi makin menjadi-jadi, menyentak kerah baju Ahmad hingga kainnya robek. "Mau ganti pakai tubuhmu yang penyakitan ini?! Dijual pun tidak ada orang yang mau beli anak sekarat seperti kamu!"
Ibu Rahmi menghempaskan kepala Ahmad ke lantai tegel dengan kasar. Ahmad merintih pendek. Pandangannya benar-benar mengabur sekarang. Dunia di sekitarnya seolah berputar. Suara teriakan ibunya perlahan terdengar menjauh, berganti dengan suara berdenging nyaring di dalam telinganya.
Wanita itu melempar balok kayu ke sudut ruangan hingga menimbulkan bunyi dentangan keras, lalu melangkah menuju dapur kecil dengan napas masih memburu. Ia mematikan kompor gas yang apinya menyala kecil, lalu duduk di atas kursi plastik yang salah satu kakinya sudah diikat karet ban. Ibu Rahmi menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan yang kasar dan pecah-pecah akibat sabun cuci murah. Bahunya mulai berguncang hebat. Isak tangis yang tertahan keluar dari celah jemarinya.
Ahmad masih terbaring kaku di lantai semen. Rasa dingin tegel perlahan meresap ke dalam kulitnya yang tipis, menyerap sisa-sisa hangat tubuhnya. Jahitan di badannya serasa mau lepas, tulang-tulangnya ngilu bagai diremukkan. Namun, bagi Ahmad, rasa sakit fisik ini masih jauh lebih mudah ditanggung daripada rasa sakit saat melihat ibunya menangis terisak dalam keputusasaan.
Ahmad memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam kegelapan di balik kelopak matanya, ia membiarkan rasa sakit itu menguasai dirinya. Ia tidak menangis. Sejak ayahnya meninggal tiga tahun lalu, Ahmad telah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menyulitkan ibunya dengan air mata.
Jika tubuhnya yang lemah dan penyakitan ini bisa menjadi pelampiasan atas segala derita dan kepahitan hidup sang ibu, maka Ahmad bersedia menjadi sasaran pukulan itu setiap hari.
Perlahan, dengan sisa kekuatan yang terhimpun di siku kakinya, Ahmad mulai menggerakkan jemarinya. Ia mengumpulkan pecahan piring keramik yang tajam satu per satu dengan tangan telanjang, membiarkan ujung keramik yang tajam menggores telapak tangannya hingga berdarah lagi. Bagi Ahmad, membersihkan kekacauan yang ia buat adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan malam ini sebelum tubuhnya benar-benar menyerah pada rasa sakit.
Darah dari kepalanya meluncur lambat, menetes tepat di atas cincin besi tua polos yang melingkar di jari manis tangan kirinya—sebuah cincin murah bagi orang lain,pemberian almarhum ayahnya yang tak pernah ia lepas. Namun malam itu, di bawah remangnya lampu lima watt dan keheningan kontrakan yang mencekam, cincin itu menyerap tetesan darah Ahmad tanpa menyisa bekas sedikit pun, memendarkan kilatan cahaya merah redup yang sangat tipis sebelum akhirnya padam kembali, tak disadari oleh siapa pun.
Daftar bab
35 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








