Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Keringat Panas Dingin Instruktur Gym

Keringat Panas Dingin Instruktur Gym

Pengangguran Bahagia | Tamat
Jumlah kata
72.4K
Popular
316
Subscribe
125
Novel / Keringat Panas Dingin Instruktur Gym
Keringat Panas Dingin Instruktur Gym

Keringat Panas Dingin Instruktur Gym

Pengangguran Bahagia| Tamat
Jumlah Kata
72.4K
Popular
316
Subscribe
125
Sinopsis
PerkotaanSlice of life21+HaremSelingkuh
Diterima bekerja di sebuah tempat gym, tugas Anton cukup jelas: menjaga kerapian area latihan dan menjadi instruktur angkat beban harian. Masalahnya hanya satu, mayoritas pengunjung di sana adalah wanita. Merekrut Anton sebagai instruktur mungkin keputusan tepat bagi pemilik gym, tapi tidak bagi kesehatan mental Anton sendiri. Melihat lekuk tubuh para pelanggan wanita yang terbungkus pakaian olahraga ketat dari jarak dekat setiap hari membuat darah mudanya bergejolak. Menjalankan tugas secara profesional mendadak jadi pekerjaan paling berat yang pernah ia hadapi.
Bab 1: Ujian Iman di Antara Legging Ketat

Menjadi instruktur gym dan penanggung jawab kebersihan di Fit & Glam Studio seharusnya menjadi pekerjaan impian bagi pemuda berusia dua puluh dua tahun dengan kadar hormon di atas rata-rata seperti Anton. Gajinya lumayan, fasilitasnya lengkap, dan bosnya tidak banyak tingkah. Masalah utamanya cuma satu: sembilan puluh persen anggota gym ini adalah wanita. Dan bukan sembarang wanita, melainkan jajaran perempuan perkotaan yang datang memakai sports bra minim serta legging sesak yang menempel ketat seperti kulit kedua.

Bagi pemilik gym, merekrut Anton yang bertubuh atletis, berwajah tampan khas lokal, dan berotot pas adalah keputusan bisnis yang jenius. Namun bagi kesehatan mental Anton, ini adalah bentuk penyiksaan secara perlahan.

Pagi itu, suara musik pop bertempo cepat membahana dari pengeras suara di sudut ruangan. Anton berdiri di dekat rak dumbbell, memegang kain lap microfiber dan botol pembersih semprot. Matanya menatap lurus ke depan, mencoba fokus pada noda keringat di permukaannya, tetapi indra penglihatannya terus diganggu oleh pemandangan di sekelilingnya.

Di depannya, seorang wanita berambut pirang ikal sedang melakukan gerakan rumanian deadlift. Setiap kali pinggul wanita itu terdorong ke belakang, kain legging warna merah muda yang digunakannya teregang maksimal. Anton meneguk ludah, merasakan tenggorokannya mendadak sekering Padang Sahara. Darah mudanya bergejolak cepat, mengirimkan sinyal berbahaya ke area bawah pinggangnya.

"Fokus, Anton, fokus," bisiknya pada diri sendiri, meremas kain lap di tangannya sampai buku-buku jarinya memutih. "Kamu di sini cari uang buat bayar kosan, bukan buat serangan jantung karena kebanyakan menahan napas."

Ujian imannya tidak berhenti di situ. Belum selesai ia menenangkan degup jantungnya, suara langkah kaki terdengar mendekat. Maya, salah satu anggota tetap yang terkenal paling rajin menggodanya, berjalan mendekat dengan senyum manis yang menyimpan niat tersembunyi. Pakaian olahraganya hari ini benar-benar menguji batas kesabaran: crop top hitam dengan potongan dada rendah yang memamerkan belahan dadanya yang mulus, berpadu dengan celana ketat senada yang membentuk lekuk pinggulnya secara sempurna. Bulir-bulir keringat halus berkilauan di kulit lehernya, menambah kesan sensual yang sangat pekat.

"Mas Anton," panggil Maya dengan nada suara agak manja, berhenti tepat di hadapan Anton. Bau parfum aroma vanila bercampur aroma tubuhnya yang hangat langsung menusuk indra penciuman Anton.

Anton dengan cepat menyembunyikan gestur tubuhnya yang mulai kaku. "Iya, Mbak Maya? Ada yang bisa saya bantu?"

"Ini loh, Mas," ujar Maya sambil menunjuk alat lat pulldown. "Bebannya agak berat, terus anglenya rasanya kurang pas di punggung aku. Bisa bantuin benerin posisi dudukku sebentar?"

Secara profesional, itu adalah tugasnya. Secara naluri pria dewasa, itu adalah jebakan batman. Anton menelan ludah lagi, lalu mengangguk pelan. "Bisa, Mbak. Mari saya lihat."

Maya duduk di atas bantalan alat, membelakangi Anton. Ia mulai memegang batang besi di atasnya. "Gini kan, Mas?"

Anton mendekat, berusaha menjaga jarak aman sesuai standar operasional yang sebenarnya tidak pernah tertulis. "Agak tegakkan sedikit dadanya, Mbak. Bahunya ditarik ke belakang."

"Aduh, susah deh Mas kalau cuma diomongin. Pegangin bahu aku dong, arahin langsung," minta Maya tanpa ragu, memalingkan wajahnya sedikit ke belakang sambil mengedipkan mata.

Secara internal, pikiran Anton sudah histeris. Otaknya meneriakkan kata bahaya, sementara tubuhnya merespons dengan ketegangan batin yang luar biasa. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Anton mengulurkan kedua tangannya. Ia menyentuh kedua bahu Maya yang terungkap bebas tanpa halangan kain. Kulit wanita itu terasa hangat, halus, dan sedikit licin karena keringat.

"B-begini, Mbak," kata Anton, suaranya sedikit serak. Ia memegang bahu Maya dan menariknya perlahan ke belakang.

Posisi itu memaksa Anton berdiri sangat dekat di belakang Maya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat jelas lekukan punggung hingga pinggul Maya yang meliuk sempurna. Ketika Maya menarik batang beban ke bawah, dadanya terangkat naik, dan helaan nafas berat wanita itu terdengar sangat jelas di telinga Anton. Gesekan kecil antara kain celana Anton dan bagian belakang kursi tempat Maya duduk membuat syaraf-syaraf Anton makin teruji.

"Emm, enak banget posisinya kalau dibantu Mas Anton," gumam Maya pelan, sengaja mendesah sedikit saat menarik beban. "Tangan Mas Anton hangat ya."

Anton memejamkan mata sejenak, berdoa dalam hati agar jam kerjanya cepat selesai. Ia bisa merasakan darahnya berdesir hebat. Berada dalam jarak beberapa sentimeter dari tubuh wanita yang menarik dan penuh gairah adalah siksaan manis yang ingin ia akhiri sekaligus ingin ia nikmati.

"Dua kali ulangan lagi ya, Mbak. Tahan di bawah," ujar Anton, mencoba mengalihkan fokusnya sendiri.

"Oke, Mas... tahan ya," sahut Maya dengan suara berbisik yang sengaja diperlambat.

Setelah set selesai, Maya berdiri dan berbalik menghadap Anton secara mendadak. Jarak mereka kini hanya menyisakan beberapa inci. Anton secara refleks mundur satu langkah, berusaha menutupi bagian depan celana olahraganya yang mulai menegang dengan papan jalan yang sejak tadi ia pegang.

"Makasih ya, Mas Anton. Nanti kalau aku mau main alat yang lain, bantu lagi ya," kata Maya sambil mengusap keringat di lehernya dengan handuk kecil, sengaja membiarkan pandangannya turun sejenak ke arah pinggang Anton sebelum kembali menatap matanya dengan senyum penuh arti.

"S-sama-sama, Mbak. Sudah tugas saya," jawab Anton kaku.

Maya terkekeh pelan melihat kepolosan dan reaksi kaku Anton, lalu berjalan pergi meninggalkan area angkat beban dengan kibasan rambut dan ayunan pinggul yang sengaja diperlambat. Anton bernapas lega, menyandarkan punggungnya pada tiang besi di sebelahnya. Keringat dingin menetes dari pelipisnya. Pekerjaan ini benar-benar menguras stamina dan kestabilan mentalnya jauh lebih cepat daripada latihan squad lima set.

Ia berjalan menuju meja resepsionis untuk mengambil napas sejenak dan minum air putih. Baru saja satu tegukan air melewati kerongkongannya, pintu kaca depan studio terbuka.

Seorang wanita berpenampilan sangat elegan dan tegas melangkah masuk. Ia mengenakan set up pakaian olahraga premium berwarna ungu tua yang membungkus ketat tubuhnya yang berbentuk jam pasir. Garis leher bajunya terendah dibanding pengunjung lain, memamerkan belahan dada yang begitu padat dan berisi. Pinggulnya terbingkai sempurna oleh celana high-waist yang menonjolkan setiap lekuk tubuh bawahnya secara ekstrem.

Seluruh pandangan di dalam gym sempat tertuju padanya selama beberapa detik, termasuk Anton yang hampir saja tersedak air minumnya sendiri.

Wanita itu adalah Clarissa, pemilik baru Fit & Glam Studio yang baru saja mengambil alih kepemilikan minggu lalu, seorang pengusaha muda nan kaya raya yang terkenal sangat dingin, perfectionist, dan jarang berinteraksi langsung dengan karyawan bawahannya.

Clarissa berjalan melintasi area latihan dengan langkah anggun. Pandangan matanya yang tajam mengawasi setiap sudut ruangan, sebelum akhirnya berhenti tepat pada sosok Anton yang masih berdiri memegang botol air di dekat meja.

Dengan gerakan penuh percaya diri, Clarissa berjalan mendekati Anton. Suara tumit sepatu kets mahal milik wanita itu terdengar mantap di atas lantai karet gym. Anton berdiri tegak, mencoba memposisikan dirinya seprofesional mungkin, meski jantungnya kembali berdegup kencang melihat kecantikan dan keanggunan tubuh wanita di depannya.

"Kamu Anton, kan? Instruktur harian di sini?" tanya Clarissa dengan suara yang dalam, rileks, namun sangat dominan.

"Benar, Bu Clarissa. Ada yang bisa saya bantu?" jawab Anton berusaha tenang.

Clarissa menatap Anton dari ujung kepala sampai ujung kaki. Pandangannya meneliti bahu lebar Anton, dada bidangnya yang tercetak di balik kaus gym, lalu berhenti tepat di mata Anton. Senyum tipis yang sulit diartikan terukir di bibirnya yang terpoles lipstik merah menyala.

"Ikut saya ke ruang pribadi di lantai dua sekarang," kata Clarissa singkat tanpa beban.

Anton mengedipkan mata, terkejut. "Ke... ruang pribadi, Bu?"

"Iya. Ada latihan khusus yang perlu kamu pandu secara privat. Cuma kita berdua." Clarissa berbalik tanpa menunggu jawaban Anton, melangkah menuju tangga melingkar ke lantai atas sambil memberikan kerlingan mata yang membuat napas Anton tertahan seketika.

Lanjut membaca
Lanjut membaca