
Kuli Jadi Milyarder
Bulan Biru|Bersambung
- Jumlah kata
- 27.6K
- Popular
- 1.5K
- Subscribe
- 247
- Jumlah kata
- 27.6K
- Popular
- 1.5K
- Subscribe
- 247
Sinopsis
Dicampakkan di bawah hujan badai, Arya dihina bagai sampah oleh wanita yang dicintainya demi pria kaya. Namun, penghinaan itu berakhir di parit berlumpur saat darahnya mengaktifkan Sistem Evolusi Tak Terbatas. Dalam semalam, tubuhnya diubah menjadi wujud tirani yang sempurna. Berbekal kekayaan tanpa batas dan Mata Waskita, Arya bangkit dari kasta terendah untuk mengubah segalanya. Sekarang, giliran mereka yang berlutut di kakinya!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Dihina karena Miskin
Rintik hujan yang sedari tadi menggantung akhirnya tumpah, membasahi halaman Hotel Grand Nirwana.
Di bawah kerlip lampu neon mewah yang memantulkan genangan air, Arya berdiri mematung. Pakaiannya yang hanya berupa kemeja flanel pudar dan celana jins murah sudah basah kuyup. Namun, dinginnya hujan tidak sebanding dengan hantaman es yang baru saja menembus dadanya.
Di hadapannya, Siska berdiri di bawah payung besar yang dipegangi oleh seorang pria paruh baya berjas rapi. Wajah cantik Siska yang dulu selalu tersenyum manis pada Arya kini dihiasi gurat muak bercampur jijik.
"Kamu masih belum mengerti juga, Arya?" Suara Siska melengking, bersaing dengan gemuruh guntur.
Dia melemparkan kotak beludru merah kecil ke arah genangan air hujan, memercikkan kotoran ke kaki Arya.
Kotak itu terbuka, memperlihatkan sebuah cincin perak tipis seharga tiga ratus ribu rupiah yang Arya kumpulkan setelah menahan lapar berhari-hari.
"Aku ini butuh masa depan, bukan omong kosong! Lihat dirimu. Bau keringat, kotor, dan menyedihkan.” Bibir Siska mencibir. ”Kamu pikir cintamu itu bisa membayar cicilan mobil? Bisa membelikanku tas branded?"
Arya mengepalkan tangannya kuat-kuat, menatap wanita yang sudah ia pacari sejak bangku SMA itu. "Siska, aku baru saja mendapat pekerjaan tambahan. Aku janji, tahun depan kita..."
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Arya sebelum ia menyelesaikan kalimatnya. Cincin batu zamrud besar di jari Siska, pemberian pria buncit di sebelahnya, menggores tulang pipi Arya hingga kulitnya robek.
Darah segar menetes perlahan, bercampur dengan air hujan di wajahnya.
"Jangan berani-beraninya menyebut namaku dengan mulut miskinmu itu," desis Siska tajam.
Ia meludah tepat di ujung sepatu kets Arya yang solnya sudah mengelupas. "Pria di sebelahku ini adalah Direktur Utama PT. Cipta Megah. Satu kali makan siangnya saja setara gajimu setahun sebagai kuli. Mulai detik ini, anggap saja kita tidak pernah saling kenal. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi, atau aku akan menyuruh penjaga keamanan mematahkan kakimu!"
Siska membalikkan badan dengan anggun, masuk ke dalam kursi penumpang BMW seri terbaru yang hangat dan wangi.
Pria paruh baya itu memberikan tatapan merendahkan ke arah Arya, tersenyum mengejek, lalu menyusul masuk. Mobil mewah itu melesat membelah hujan, menyisakan cipratan air kotor yang kembali mengenai celana Arya.
Arya berdiri mematung di sana selama belasan menit, membiarkan air hujan turun deras menghapus sisa-sisa kenaifannya tentang dunia.
Di dunia ini, tanpa uang dan kekuasaan, kau tidak akan pernah dianggap sebagai manusia. Tak lebih berharga dari serangga yang pantas diinjak.
Dengan langkah gontai, Arya akhirnya berbalik. Ia berjalan menembus hujan sejauh lima kilometer, kembali menuju realitas hidupnya, kawasan kumuh pinggiran rel kereta api di sudut tergelap Jakarta.
Sesampainya di depan deretan kamar kos semi-permanen yang dindingnya terbuat dari triplek lapuk, Arya melihat sebuah siluet mungil duduk meringkuk di depan pintunya.
"Kak Arya?"
Gadis itu mendongak. Namanya Lina, mahasiswi yatim piatu yang menyewa kamar tepat di sebelah kamar Arya. Wajahnya pucat karena kedinginan, tetapi matanya yang bulat besar memancarkan kekhawatiran yang tulus.
Saat melihat wajah Arya yang babak belur dan berdarah, Lina langsung bangkit. Payung plastik murahan yang ia pegang terjatuh ke tanah.
"Ya ampun, Kak! Apa yang terjadi padamu? Kenapa wajahmu berdarah?" Lina menarik lengan Arya, memaksanya masuk ke dalam kamar kos yang hanya berukuran tiga kali tiga meter dan berbau apek.
Lina dengan cekatan mengambil kotak P3K dari atas lemari plastik. Ia mendudukkan Arya di tepi kasur kapuk yang tipis, mulai membersihkan luka di pipi pria itu dengan kapas dan antiseptik.
Jarak mereka begitu dekat.
Hembusan napas Lina yang hangat menyapu wajah Arya, membawa aroma sabun mandi melati yang murah tetapi menenangkan. Di balik kausnya yang kebesaran, tersimpan sosok wanita muda yang sebenarnya jauh lebih tulus dan cantik alami dibandingkan riasan tebal Siska.
Namun, mata Arya kosong. Ia menatap dinding triplek berjamur di depannya tanpa menyadari apa yang terjadi.
"Dia... dia menyakitimu lagi, Kak?" tanya Lina dengan suara bergetar. Hatinya ikut perih melihat pria yang selalu melindunginya dari preman kampung ini hancur berantakan.
"Semuanya sudah berakhir, Lin," sahut Arya serak, parau bak gesekan ampelas. "Dia benar. Aku ini hanya sampah di matanya."
Lina menghentikan tangannya. Air mata menggenang di pelupuk matanya saat menatap lekat-lekat rahang Arya yang mengeras. "Kakak bukan sampah! Kakak adalah pria pekerja keras dan paling baik yang pernah aku kenal. Perempuan itu saja yang sudah buta mata dan hatinya! Jika dia hanya menilai Kakak dari isi dompet, maka dia tidak pantas mendapatkan setetes pun air mata Kakak. Masih... masih banyak orang yang peduli dan menyayangi Kakak apa adanya."
Pipi Lina merona merah saat mengucapkan kalimat terakhir. Tangannya gemetar di atas lututnya, berharap pria di depannya ini akhirnya menoleh dan menatap matanya. Setidaknya menyadari perasaan yang telah ia pendam selama tiga tahun terakhir.
Arya akhirnya menoleh. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum hampa yang dipaksakan. Tangan kasarnya yang kapalan terangkat, menepuk pucuk kepala Lina dengan lembut.
"Terima kasih, Lin. Kamu memang adik kecilku yang paling baik. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku sudah gila hidup sendirian di kota ini."
Cahaya di mata Lina perlahan meredup. Adik kecil. Selalu hanya itu posisinya di mata Arya.
Apa boleh buta, ia pik menelan kekecewaannya dalam-dalam. "Aku buatkan mi instan rebus pakai telur, ya? Kakak harus makan dan istirahat. Besok pagi-pagi sekali Kakak harus ke proyek, kan?"
Arya mengangguk pelan. Pikirannya terlalu dipenuhi oleh dendam bercampur rasa tidak berdaya sehingga tidak menyadari ada luka lain yang baru saja ia goreskan di hati Lina.
Keesokan paginya, matahari bersinar terik seolah mengejek kesedihan semalam. Di lokasi proyek pembangunan apartemen mewah di pusat kota, debu semen berterbangan, bercampur dengan bau keringat asam puluhan pekerja kasar.
Arya mengayunkan palu godam raksasa menghancurkan sisa-sisa fondasi beton tua. Tanpa sarung tangan pelindung, telapak tangannya lecet dan melepuh, namun ia tidak peduli.
Rasa sakit di tangannya adalah pelarian terbaik dari rasa sakit di harga dirinya. Pekerjaannya adalah kuli panggul merupakan kasta terendah dalam hierarki proyek bangunan. Gajinya dihitung harian, hanya cukup untuk makan dua kali sehari dan membayar sewa kamar kumuhnya.
"Heh, Arya! Jangan kerja kayak orang mati! Tenaga loyo begitu berani minta bayaran penuh?!" Mandor Kasno, pria tambun dengan rokok yang tak pernah lepas dari bibirnya, berteriak sambil menendang ember semen di dekat Arya. "Angkat sisa puing itu ke bak truk, sekarang! Kalau saat istirahat siang belum beres juga, gajimu hari ini kupotong setengah!"
Arya mengusap keringat yang perih di matanya menggunakan lengan baju rompi proyeknya yang sudah sobek. Ia tidak menjawab, hanya memungut bongkahan beton tajam itu dengan tangan kosong.
Saat jam istirahat tiba pada pukul dua belas siang, Arya terduduk di bawah bayangan crane raksasa. Tubuhnya gemetar karena kelelahan ditambah perut yang kosong. Ia merogoh saku celananya, hanya tersisa uang dua ribu rupiah. Tidak cukup bahkan untuk membeli sebungkus es teh manis.
Tiba-tiba, sebuah bungkusan kertas cokelat berisikan nasi bungkus mendarat di pangkuannya.
"Makan, Bos. Jangan sampai mati di sini, repot yang mandiin jenazahmu nanti."
Bimo, sahabat karib Arya sesama kuli yang bertubuh kurus kering bagai lidi, duduk di sebelahnya sambil menyeringai. Gigi Bimo menguning karena terlalu banyak mengisap rokok lintingan murah.
Bimo juga sama miskinnya dengan Arya, merantau dari desa tanpa ijazah, bertarung nyawa setiap hari memanjat perancah bambu demi mengirim uang untuk ibunya yang sakit-sakitan di kampung.
"Aku tidak ada uang untuk menggantinya, Bim," tolak Arya lemah, menyodorkan kembali nasi bungkus itu.
"Halah, banyak omong kau. Aku tadi beli dua, lauknya tempe orek sama sambal teri. Sudah, makan saja!" Bimo memukul paha Arya. Ia melirik wajah sahabatnya yang babak belur. "Kulihat kau makin hancur saja hari ini. Ditolak lagi sama si Siska, ratu ular itu?"
Arya menunduk, membuka bungkusan nasi itu perlahan. "Dia memutuskan aku dan memilih pergi dengan Direktur Utama PT. Cipta Megah."
Bimo mendecih keras, meludah ke tanah kering. "Sudah kubilang dari dulu, Ya. Perempuan macam dia itu lintah darat berwujud manusia. Sedangkan kita ini berasal dari kasta lumpur. Sudah, lupakan saja. Cari perempuan yang mau diajak melarat bareng. Si Lina itu, kurang apa coba? Cantik, baik, perhatian sama kau. Matamu saja yang buta karena terlalu fokus menatap bintang, sampai tidak melihat berlian di depan kaki."
Daftar bab
25 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








