
- Jumlah kata
- 148.5K
- Popular
- 2.1K
- Subscribe
- 194
Sinopsis
Ramirius atau sering disapa rami adalah seorang pemuda desa biasa yang hidup sebatang kara setelah ditinggal mati kedua orang tuanya, hidupnya berubah setelah ia mendapatkan kekuatan ilahi di hutan jati keramat.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Anak desa Jati
Desa Jati tidak pernah benar-benar diam.
Bahkan saat matahari belum terbit, desa itu sudah batuk-batuk dengan suara lesung, ayam yang berkokok bersahutan, dan ibu-ibu yang memikul bakul menuju pasar. Tapi semakin kau berjalan ke utara, semakin suara itu menipis, digantikan oleh desau angin yang menyisir padi.
Di ujung utara itulah, desa berakhir.
Di sana terbentang hamparan sawah yang begitu luas, seperti permadani hijau yang dijahit langsung ke kaki langit. Inilah nadi Desa Jati. Padi-padi itu bukan sekadar tanaman; ia adalah kalender, tabungan, dan doa bagi hampir semua kepala keluarga di desa. Jika padi itu hijau, desa itu tertawa. Jika padi itu menguning, desa itu berpesta. Jika padi itu gagal, desa itu berpuasa.
Di sisi paling ujung sawah, tanah tiba-tiba terbelah oleh sebuah sungai.
Sungainya tidak terlalu dalam, tapi lebar dan berarus kuat, airnya berwarna coklat keruh setelah hujan. Orang tua-tua menyebutnya sungai putih . Tidak ada jembatan. Hanya beberapa batu besar yang licin yang dipakai sebagai pijakan oleh anak-anak penggembala. Dan tepat di seberang sungai putih, berdiri dinding yang lebih tua dari desa itu sendiri.
Hutan Jati Keramat.
Pohon-pohon jati di sana tumbuh tidak seperti jati pada umumnya. Batangnya besar-besar, dua-tiga pelukan orang dewasa, kulitnya hitam legam dan beralur dalam seperti kulit naga yang sedang tidur. Daunnya begitu rimbun hingga matahari siang pun hanya bisa masuk sebagai bintik-bintik cahaya. Tidak ada yang berani menebangnya. Tidak ada yang berani masuk lebih dari dua puluh langkah ke dalamnya.
"Di dalamnya ada penunggunya," kata Mbah Suro, orang tertua di Desa Jati, setiap kali anak-anak bertanya.
"Penunggu seperti apa, Mbah?"
"Yang tidak suka diterangi. Yang lapar jika dilupakan."
Sejak saat itu, tidak ada anak Desa Jati yang berani bermain di dekat Kali Wungu saat senja. Semua percaya, di dalam kepekatan Hutan Jati Keramat ada sesuatu yang memperhatikan mereka. Sesuatu yang misterius dan menakutkan.
Dan di antara batas antara sawah, sungai, dan hutan itulah, sebuah rumah reot berdiri sendirian.
Rumah Rami.
Jika rumah-rumah lain di Desa Jati berdinding bata dan beratap genteng merah yang rapi, rumah Rami adalah pengecualian yang menyedihkan. Dindingnya dari anyaman bambu yang sudah menghitam dimakan usia dan hujan, beberapa bagiannya bolong ditambal dengan karung goni. Atap rumbia di bagian dapur sudah miring, jika angin kencang sedikit saja, suaranya berderak seperti akan terbang. Satu-satunya yang masih kokoh adalah tiang kayu jati di empat sudutnya — kayu peninggalan ayahnya.
Ayahnya, seorang petani yang dihormati karena paling paham kapan harus menanam, meninggal tiga tahun lalu karena sakit di paru-paru. Ibunya menyusul beberapa bulan yang lalu. Demam tinggi yang tidak kunjung sembuh. Rami masih ingat betul malam itu. Tidak ada uang untuk memanggil mantri dari kecamatan. Ibunya hanya menggenggam tangannya erat-erat di atas dipan bambu, berbisik lirih, "Jaga tanah di belakang, Ram... itu satu-satunya yang tidak bisa diambil orang..."
Setelah itu, Rami benar-benar sebatang kara.
Umurnya baru dua puluh dua tahun. Usia di mana pemuda lain di Desa Jati sudah mulai dilirik untuk menjadi menantu, atau merantau ke kota untuk jadi kuli bangunan. Rami tidak punya keduanya. Ia hanya punya cangkul yang gagangnya sudah halus karena genggaman ayahnya, topi caping yang anyamannya sudah renggang, dan sepetak tanah di belakang rumah.
Sepetak tanah itu tidak besar, mungkin hanya seperempat dari sawah orang lain. Tanah peninggalan mendiang ayahnya. Tanah yang keras dan berbatu, yang bahkan rumput pun enggan tumbuh subur di atasnya. Tetangga-tetangga sudah menyarankannya untuk menjual saja.
"Buat apa kau pertahankan, Ram? Tanah itu kutukannya keras. Jual saja ke Pak kades, bisa buat modal merantau," kata Pak Karto suatu sore.
Rami hanya tersenyum tipis. Ia tidak menjualnya. Setiap pagi, sebelum matahari menyentuh pucuk jati keramat, ia sudah berada di sana, mencangkul. Keringatnya menetes ke tanah yang tidak berterima kasih itu. Telapak tangannya sudah kapalan, pecah-pecah, dan menghitam.
Pagi ini pun begitu.
Kabut tipis masih menggantung di atas sawah. Rami menyeret cangkulnya ke belakang rumah. Embun membuat kakinya yang telanjang basah dan dingin. Ia menatap sepetak tanahnya, lalu menatap ke utara — ke hamparan sawah milik orang lain yang menghijau subur, ke sungai putih yang mengalir tenang, dan ke Hutan Jati Keramat yang gelap dan diam.
Entah kenapa, pagi ini hutan itu terasa lebih dekat. Lebih memperhatikan.
Angin berembus dari arah hutan, membawa bau tanah basah dan kayu tua yang aneh. Bulu kuduk Rami berdiri.
Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir perasaan itu. Ia mengangkat cangkulnya tinggi-tinggi dan menghantamkannya ke tanah keras di hadapannya.
Trang!
Mata cangkul itu memantul. Tanah itu sekeras batu.
Rami menghela napas panjang. Perutnya berbunyi pelan. Di dapurnya hanya tersisa singkong rebus kemarin.
Daftar bab
111 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
111 bab








