

Joko Mahendra Pratama tidak pernah menyangka bahwa kemampuannya menulis karya ilmiah akan membawanya ke situasi seperti ini. Duduk di kamar kos yang sempit, di hadapan laptop dengan layar retak di sudut kiri bawah. Dikelilingi tumpukan buku yang semuanya sudah dia baca sampai habis. Bukan sekadar dibaca, tapi dipahami dan dicoret-coret di pinggir halaman.
Di depannya, file dokumen terbuka dengan judul "BAB 4 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN". Puluhan halaman angka dan tabel yang cukup membuat manusia normal muntah darah. Tapi bagi Joko, ini adalah kanvas, ladang emas, dan alasan kenapa dia bisa makan nasi padang tiga kali sehari. Tanpa perlu melihat dompetnya masih cukup tebal atau tidak.
Joko masih semester lima dan dia belum punya kewajiban mengerjakan skripsi sendiri. Tapi anehnya, dia sudah menyelesaikan puluhan skripsi orang lain. Semua berawal dari bangku SMA, ketika dia sering ikut lomba karya ilmiah tingkat provinsi dan nasional. Saat itu, Joko kecil sudah terbiasa menyusun latar belakang, merumuskan masalah, mengolah data, dan menulis kesimpulan dengan rapi.
Ketika dia masuk kuliah, kemampuannya semakin terasah. Dia membaca segala hal, dari metodologi penelitian sampai filsafat ilmu. Dia hafal struktur skripsi berbagai jurusan. Dan tanpa sengaja, suatu hari seorang kakak tingkat meminta bantuannya. Joko membaca draftnya, menggelengkan kepala, lalu memperbaikinya dalam semalam. Seminggu kemudian, kakak itu lulus dengan nilai memuaskan. Sejak itu, namanya menyebar dari mulut ke mulut.
Tapi Joko bukanlah kutu buku culun dengan kacamata tebal dan baju kaku. Wajahnya tampan dengan rahang tegas yang membuat cewek-cewek sering melirik. Matanya tajam dan otaknya cerdas. Rambutnya selalu rapi meskipun dia hanya menyisirnya dengan jari. Joko adalah bukti bahwa penggemar buku tidak harus terlihat seperti pertapa.
Dia bisa berdiskusi tentang Nietzsche sambil memakai kemeja flanel yang keren. Dia bisa menjelaskan teori Levi-Strauss sambil menyesap kopi dengan gaya keren. Dan dia membaca segalanya, bukan karena harus, tapi karena suka. Setiap buku baru dibelinya, dibaca dalam dua tiga malam, lalu disimpan rapi. Semua buku itu dibaca sampai halaman terakhir, sampai tidak ada kata terlewat.
Kemampuan membaca cepat ini membuat Joko sukses sebagai joki skripsi. Dia bisa menyerap materi dari berbagai disiplin ilmu dalam waktu singkat. Tapi ketika pertama kali kliennya tahu bahwa Joko masih semester lima, mereka selalu ragu.
"Serius, Mas? Mas masih semester lima? Kok bisa ngerjain skripsi S1?"
Joko selalu menjawab dengan senyum tipis. "Umur bukan patokan. Yang penting hasilnya."
Dan hasilnya memang tidak pernah mengecewakan. Skripsi yang dia kerjakan selalu rapi, sesuai format, dan disukai dosen pembimbing. Klien-kliennya lulus dengan nilai memuaskan. Dari mulut ke mulut, namanya semakin dikenal. Bayarannya pun naik dari lima ratus ribu per bab menjadi jutaan rupiah per proyek.
Kemampuan ini membuat Joko hidup berkecukupan, rekening tidak pernah kering. Tapi di balik semua itu, Joko menyimpan satu masalah besar. Dia jomblo di usia dua puluh tahunan, dengan segala kelebihan yang dia miliki.
"Kenapa saya bisa nolong puluhan orang lulus skripsi, tapi tidak bisa punya pacar?" Gumamnya sambil menatap noda air di langit-langit berbentuk pulau Sumatera. Pertanyaan itu selalu muncul di malam hari, saat dia sendirian dengan kopi dingin.
Malam ini, Joko sedang menyelesaikan bab lima skripsi seorang klien bernama Bang Roy. Mahasiswa semester sepuluh yang sudah tiga kali ganti judul skripsi. Judul terakhirnya tentang pengaruh motivasi terhadap produktivitas kerja karyawan di perusahaan keluarga. Judul yang begitu membosankan sampai Joko hampir tertidur saat mengetiknya.
Joko mengetik kalimat terakhir, lalu menekan tombol Ctrl+S dengan penuh penghayatan. Dia meregangkan tubuhnya yang kaku. Lalu dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan ke Bang Roy.
"Bang, bab lima sudah selesai. Silakan dicek dulu."
Balasan datang tidak sampai satu menit. Bang Roy mengirim voice note berdurasi dua menit yang isinya campuran antara ucapan terima kasih, tangisan haru, dan janji akan mentraktir Joko makan di restoran mahal.
"Gampang, Bang. Yang penting transferannya jangan lupa. Hahahaha."
Joko meletakkan ponselnya dan bersandar di kursi. Dia menatap langit-langit kamar, melihat noda air berbentuk pulau Sumatera, dan tiba-tiba merasa ada yang aneh. Noda itu sepertinya bertambah besar. Joko mengerutkan kening, tapi dia terlalu lelah untuk memikirkannya.
Dia bangkit, mengambil jaket, dan memutuskan keluar mencari udara segar. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi perutnya keroncongan. Joko mengunci pintu kamar dan menuruni tangga kos dengan hati-hati karena lampu koridor sudah mati sejak seminggu lalu.
Di halaman kos, motor matic kesayangannya terparkir di bawah pohon mangga. Motor hitam dengan goresan di samping kanan karena pernah jatuh menghindari anjing. Joko menyalakan mesin, lalu melaju keluar. Udara malam terasa dingin di wajahnya. Jalanan sudah sepi.
Joko menuju ke warung nasi goreng Pak Kumis di ujung jalan. Warung itu buka sampai jam dua pagi dan selalu ramai dikunjungi mahasiswa yang sedang begadang. Joko memarkir motornya, duduk di bangku plastik merah, dan memesan nasi goreng spesial dengan telur mata sapi.
Sambil menunggu, Joko memperhatikan sekeliling warung. Ada beberapa mahasiswa yang sedang makan sambil membuka laptop. Ada juga sepasang kekasih yang sedang berbagi satu piring nasi goreng, saling suap-suapan dengan ekspresi yang membuat Joko ingin muntah sekaligus iri. Dia mengalihkan pandangannya ke papan menu di dinding.
Tiba-tiba, seseorang menepuk pundaknya dari belakang. Joko menoleh dan melihat seorang perempuan tinggi dengan rambut panjang diikat kuncir kuda. Dia memakai kemeja putih yang dimasukkan ke dalam celana jeans, dan membawa tas selempang hitam. Joko mengenali wajahnya. Namanya Kak Rina, kakak tingkat di jurusannya yang sudah semester delapan.
"Joko! Lama nggak ketemu," kata Kak Rina sambil duduk di seberang Joko tanpa diminta. "Kamu masih sibuk jadi joki?"
Joko tersenyum tipis. "Sibuk biasa, Kak. Kakak sendiri gimana? Skripsinya sudah selesai?"
Kak Rina menghela napas panjang, ekspresinya berubah muram. "Belum, Jo. Itu masalahnya. Dosen pembimbingku minta revisi bab tiga lagi. Katanya metodologiku kurang kuat. Padahal sudah tiga kali aku revisi."
Joko mengangguk-angguk. "Bab tiga itu memang paling sering jadi masalah. Kakak dibimbing siapa?"
"Pak Hendra," jawab Kak Rina dengan nada putus asa. "Dosen yang katanya perfeksionis itu. Setiap bimbingan pasti ada saja yang salah. Kemarin aku disuruh ngulang dari awal karena katanya rumusan masalahku tidak konsisten dengan tujuan penelitian."
Joko mengangguk-angguk lagi. Dia tahu siapa Pak Hendra. Dosen senior yang terkenal galak, perfeksionis, dan tidak pernah puas dengan hasil kerja mahasiswanya. Banyak mahasiswa yang menyerah di tengah jalan karena tidak tahan dengan kritik-kritiknya yang tajam. Tapi Joko juga tahu bahwa skripsi yang lolos di bawah bimbingan Pak Hendra pasti berkualitas tinggi.
"Pak Hendra memang berat, Kak," kata Joko sambil menyesap teh panas. "Tapi kalau skripsinya lolos, nilainya pasti bagus. Kakak pakai metode apa?"
"Kuantitatif. Tapi Pak Hendra bilang sampelku kurang representatif. Aku bingung mau nambah sampel dari mana. Waktu semakin mepet, dan aku sudah mulai putus asa."
Joko memikirkan tawaran yang akan dia ajukan. Kak Rina adalah kakak tingkat yang cukup dikenal di jurusan. Kalau Joko berhasil membantunya, namanya akan semakin harum. Tapi di sisi lain, Joko juga tahu bahwa Kak Rina bukan tipe orang yang punya banyak uang.
"Kak, aku bisa bantu," kata Joko akhirnya. "Tapi aku harus lihat draftnya dulu. Kalau cuma masalah sampel, mungkin aku bisa cari solusi."
Mata Kak Rina berbinar. "Serius, Jo? Kamu mau bantu?"
"Tapi ada syaratnya," lanjut Joko sambil mengangkat satu jari. "Kakak harus bayar sesuai kemampuan. Aku nggak mau ngasih harga mahal ke kakak. Tapi jangan gratisan juga. Aku butuh uang buat beli buku dan hidup hedon. Hahahaha."
Kak Rina tertawa. "Oke, Jo. Aku bayar. Yang penting skripsiku selesai."
Joko mengangguk. "Besok kirim draftnya ke aku. Aku lihat dulu. Kalau bisa, kita ketemu minggu ini."
Kak Rina mengangguk-angguk lega. Dia memesan nasi goreng juga, dan mereka makan bersama sambil membicarakan hal-hal lain tentang kampus. Kak Rina bercerita tentang dosen-dosen yang semakin galak menjelang akhir semester, tentang teman-temannya yang sudah lulus dan sekarang bekerja, dan tentang betapa beratnya menjadi mahasiswa semester tua yang belum selesai. Joko mendengarkan sambil sesekali menimpali dengan komentar sarkastik yang membuat Kak Rina tertawa.
Di tengah obrolan, Joko menyadari sesuatu. Dia menikmati momen-momen seperti ini. Bukan karena uangnya, tapi karena dia bisa membantu orang. Meskipun dia masih semester lima dan belum mengerjakan skripsinya sendiri, dia sudah menjadi penyelamat bagi banyak orang. Dan itu membuatnya merasa berguna.
Setelah selesai makan, Kak Rina membayar nasi goreng Joko sebagai tanda terima kasih awal. Joko menolak, tapi Kak Rina bersikeras. Akhirnya Joko menyerah dan mengucapkan terima kasih.
"Minggu ini ya, Jo. Aku tunggu kabar baiknya," kata Kak Rina sambil menyalakan motornya.
"Tenang, Kak. Santai saja."
Kak Rina melaju pergi, menghilang di balik tikungan jalan. Joko menatap kepergiannya sebentar, lalu menyalakan motor maticnya sendiri. Dia melaju pulang ke kos, dengan perut kenyang dan pikiran yang mulai berputar. Bab tiga, metode kuantitatif, sampel kurang representatif, Pak Hendra yang perfeksionis. Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Malam itu, Joko tidur dengan perasaan puas. Dia sudah menyelesaikan satu proyek, dan sekarang dia punya proyek baru di deretan panjang kliennya. Klien barunya adalah kakak tingkatnya sendiri. Dan meskipun bayarannya tidak sebesar klien-klien lain, Joko merasa ada kepuasan tersendiri dalam membantu orang yang dia kenal.
"Besok pasti sibuk," gumamnya sambil menutup mata. "Tapi sibuk itu bagus. Sibuk berarti ada uang."
Dan dengan pikiran itu, Joko tertidur. Mimpi indah tentang skripsi yang selesai tepat waktu dan klien yang membayar lebih dari kesepakatan.