
Dukun Sakti Pemikat Janda
AgamYupi02|Bersambung
- Jumlah kata
- 85.3K
- Popular
- 1.0K
- Subscribe
- 244
- Jumlah kata
- 85.3K
- Popular
- 1.0K
- Subscribe
- 244
Sinopsis
Aksa Wicara adalah ahli spiritual jenius yang terkena kutukan misterius: gadis muda tidak akan pernah bisa mencintainya. Anehnya, kutukan itu justru membuat para janda tertarik kepadanya. Di siang hari, Aksa menjalani kehidupan sebagai mahasiswa sekaligus dukun yang menangani berbagai masalah gaib. Di malam hari, ia harus menghadapi hantu penasaran, roh pendendam, iblis, bahkan dewa mengerikan yang berkeliaran dan membuat masalah di dunia manusia. Di tengah teror supernatural dan harem para janda yang terus bertambah, Aksa perlahan menemukan rahasia mengerikan di balik kutukan yang mengikat hidupnya. Untuk mengembalikan kejayaan keluarganya, Aksa harus menaklukkan dunia gaib sekaligus menghadapi takdir yang telah mengincarnya sejak lahir.
Ulasan
1 ulasan
AgamYupi02
12/9/26 07:22
Suka cerita ini? Jangan lupa ulasannya. Semakin banyak ulasan, semakin memotivasi dalam menulis. Semakin termotivasi, semakin banyak bab yang diterbitkan setiap hari.
001 Aksa Wicara
"Ahn... Hnghhh..."
Pencahayaan remang-remang menembus kelambu kamar yang redup.
Seorang wanita tanpa sehelai benang pun duduk menunggangi tubuh pemuda di atas ranjang. Pinggulnya bergoyang naik dan turun secara berirama, menciptakan gelombang gairah yang membakar udara panas malam itu.
Keringat dingin menetes pelan dari lekuk leher mulus wanita tersebut, jatuh tepat di atas dada bidang sang pemuda.
Aksa menatap wajah wanita di atasnya dengan napas yang mulai memburu. Jemarinya yang kokoh mencengkeram erat pinggang ramping yang terus bergerak naik turun itu.
"Bibi Mei, aku mau keluar!"
"Hnghhh... Keluarkan di dalam! Ini hari amanku."
Pemuda itu menanggapi lewat tatapan mata, sementara cengkeraman tangannya di pinggul Bibi Mei makin mengencang. Tanpa ragu, ia menekannya turun dengan dorongan kuat yang sangat keras.
"Ahhh!"
Desahan wanita itu meledak kencang memecah kesunyian malam.
Tubuh mulus Bibi Mei mengejang hebat beberapa kali, lalu kehilangan seluruh tenaga hingga ambruk menimpa tubuh Aksa yang terlentang di bawahnya.
Payudaranya yang kenyal dan hangat menekan kuat dada bidang milik pemuda itu. Sentuhan fisik yang begitu intens seketika mengembalikan gairah Aksa yang baru saja dilampiaskan di tubuh wanita itu.
"Bibi Mei, aku—"
"Sstt, sekarang giliranmu yang bergerak."
Jari lentik Bibi Mei mendarat di bibir Aksa, menghentikan ucapan pemuda itu. Aksa mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis yang penuh gairah.
Dengan gerakan cepat dan tangkas, Aksa memutar posisi tubuh mereka seketika.
Kini tubuh Bibi Mei berada di bawah terkunci sepenuhnya. Kasur berderit kencang saat Aksa mulai memompa pinggulnya secara agresif dan tanpa ampun.
"Hnghh... Ahn... Bagus, lebih cepat, lebih keras, acak-acak diriku!"
Bisikan wanita itu bagaikan bahan bakar yang menyiram kobaran api.
Gerakan pemuda itu menjadi lebih liar dan tidak terkendali. Kedua tangannya memijat buah surga wanita itu dengan ketat, sementara lidahnya menjilati buah ceri milik Bibi Mei dengan rakus.
"Hnghhh..."
Desahan tertahan terus keluar dari mulut wanita itu saat kepalanya terlempar ke belakang. Jemari kakinya mencengkeram sprei kasur dengan amat kuat.
Sambil terus menggerakkan pinggulnya secara berirama dan penuh tenaga, pemuda itu terus merangsang wanita itu dengan penuh gairah yang membakar. Kenikmatan tiada tara yang mereka dapatkan membuat keduanya benar-benar lupa waktu.
Dunia seakan berhenti berputar hanya untuk menyaksikan pergulatan gairah di dalam kamar tersebut.
Saat mereka akhirnya sadar dan napas mereka mulai teratur kembali, sinar matahari pagi sudah melayang tinggi menembus ventilasi dan jatuh ke wajah mereka.
"Teknikmu luar biasa, sudah lama aku tidak merasa sepuas ini."
Bibi Mei mengusap keringat di dahinya sambil menatap Aksa dengan tatapan kagum. Senyum puas terukir jelas di wajah cantiknya yang merona merah.
"Bibi Mei juga."
Pemuda itu menjawab santai sambil menyandarkan kepalanya di kepala ranjang.
Wanita itu bangkit dari tempat tidur tanpa ragu. Ia mengenakan pakaiannya satu per satu dengan tenang lalu menatap Aksa kembali.
"Aku harus segera pergi bekerja. Kapan-kapan kita lakukan lagi, oke?"
Pemuda itu tersenyum tipis sambil mengangguk pelan.
"Dengan senang hati."
Wanita itu pun melangkah keluar kamar dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya.
Namanya Aksa Wicara, seorang mahasiswa semester empat yang belum lama ini genap berusia dua puluh tahun.
Secara fisik, penampilan Aksa jauh di atas rata-rata pria tampan pada umumnya. Garis rahangnya tegas, matanya tajam memikat, dan postur tubuhnya sangat proporsional.
Namun anehnya, sepanjang hidupnya, ia belum pernah berpacaran dengan seorang gadis sebaya satu kali pun.
Ada alasan khusus dan sangat misterius di balik masalah yang dialami pemuda ini.
Aksa baru mengetahuinya secara pasti saat ulang tahunnya yang kedelapan belas.
Kakeknya menjelaskan secara langsung bahwa ia telah dikutuk dengan kutukan tingkat tinggi, sehingga tidak akan pernah ada gadis muda yang mau menerimanya sebagai pasangan.
Kakeknya tidak menjelaskan siapa sosok kuat yang telah melimpahkan kutukan kejam itu kepadanya. Ia hanya bisa meminta maaf karena membuat Aksa harus menanggung beban kutukan berat tersebut.
Kakeknya juga bilang bahwa Aksa tidak perlu menyesal atau merasa bersalah karena tidak bisa meneruskan garis keturunan utama keluarganya.
'Kakek salah besar,' batin Aksa sambil menggelengkan kepala pelan.
'Aku memang tidak bisa memacari gadis, tapi setiap hari para wanita selalu mengantri untuk menghabiskan malam bersamaku.'
Aksa menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya dari sprei ke arah dinding kamar.
"Mantan istrimu hidup dengan baik, kau tidak perlu terus mengikutinya."
Aksa berbicara dengan nada suara yang sangat tenang dan santai.
Sekilas pandangan mata telanjang hanya akan melihat Aksa seorang diri di dalam kamar sunyi itu.
Namun bila kita mengubah perspektif dengan bantuan indera keenam, pemandangan mengerikan akan langsung terlihat jelas.
Sesosok pria paruh baya berdiri lesu tepat di dekat dinding kamar.
Tubuh pria paruh baya itu diselimuti oleh aura gelap yang sangat dingin dan membekukan. Kulitnya pucat pasi bagaikan mayat yang sudah lama membusuk, sementara kedua matanya menyala merah terang seperti warna darah segar.
"Mau marah kepadaku karena tidur bersama mantan istrimu? Ayolah, kalian sudah berbeda dunia, mantan istrimu juga wanita dan butuh tempat untuk melampiaskan."
Pria paruh baya itu tidak menjawab sepatah kata pun. Gelombang aura hitam di sekitarnya semakin berguncang hebat, membuat suhu udara kamar merosot drastis.
" Dibandingkan pria lain, aku cukup bertanggung jawab. Jadi jangan tatap aku dengan mata pembunuh itu."
Mata merah hantu itu makin berkilat penuh dendam kesumat.
Grr!
Raungan mengerikan bergema di dalam ruangan, menggetarkan kaca-kaca jendela.
Orraaa!
Pria paruh baya itu meraung seperti binatang buas yang kelaparan, lalu melesat kencang menerkam ke arah Aksa. Udara terbelah oleh tebasan cakar energi hitam yang sangat tajam.
"Kau tidak memberiku pilihan."
Aksa tidak bergerak dari posisinya di atas kasur.
Dalam waktu kurang dari satu milidetik, tangan kanan Aksa terulur ke depan secara kilat. Gerakannya sangat halus namun luar biasa cepat, memotong lintasan serangan musuh.
Brak!
Telapak tangan Aksa yang dilapisi energi spiritual murni berhasil menangkap tepat di kepala pria paruh baya itu di udara.
Kecepatan menerkam hantu itu seketika terhenti total. Gelombang kejutan terpancar dari titik benturan, menghempaskan benda kecil di sekitar mereka.
"Sulit juga meyakinkanmu, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan."
Otot-otot lengan Aksa mengencang seketika. Cengkeraman tangan Aksa meningkat hingga ratusan kali lipat secara mendadak.
Crak!
Di detik berikutnya, kepala pria paruh baya itu meledak hancur berkeping-keping akibat tekanan luap energi spiritual yang membakar.
Bum!
Ledakan spiritual kecil meletup. Disusul sisa tubuh pria paruh baya itu terhempas dan langsung berubah menjadi jutaan partikel hitam yang menghilang perlahan tersapu angin.
"Dasar hantu zaman sekarang, sukanya bikin masalah kepada manusia yang masih hidup. Kalau manusia itu salah, tidak masalah. Tapi kalau bikin masalah karena obsesi berlebihan bahkan setelah kematian, kalian harus secepatnya dikirim ke alam kematian."
Mata emas Aksa berkilau terang bagaikan kristal murni saat ia mengamati setiap sudut kamar yang kembali sunyi itu dengan tenang.
Pandangan tajamnya menyapu sudut-sudut gelap yang tersembunyi.
"Hal ini juga berlaku untuk kalian. Segera selesaikan urusan kalian di dunia ini lalu pergi ke alam kematian. Aku ingat penampilan kalian, lain kali kita bertemu dan kalian masih berkeliaran, aku akan mengirim paksa kalian ke alam kematian."
Aksa seperti orang gila karena bicara sendiri bagi orang awam yang tidak memiliki penglihatan gaib.
Padahal sebenarnya dia sedang menceramahi tiga sosok makhluk halus di ruangan itu: hantu wanita bergaun merah yang berdiri gemetar dekat pintu, hantu anak kecil yang meringkuk ketakutan di pojok ruangan, serta hantu pria botak yang duduk gemetaran hebat di atas lampu tidur.
Melihat nasib tragis hantu pria paruh baya yang baru saja dihancurkan tanpa sisa, semua hantu yang ada di kamar mengangguk cepat lalu pergi menghilang secara tergesa-gesa.
Aksa menghela napas panjang.
Ia menatap telapak tangannya yang masih memiliki noda hitam residu energi Hantu lawan dengan senyum tak berdaya.
"Sulit untuk bekerja dengan baik."
Keluarga Wicara merupakan keluarga kuno legendaris yang telah lama membudidayakan ahli spiritual generasi demi generasi.
Dulu, sebelum gempuran era modern yang mengikis kepercayaan mistis, Keluarga Wicara termasuk salah satu keluarga besar paling kuat dan sangat disegani oleh seluruh penduduk sekitar.
Namun era kejayaan mereka mereda dengan cepat seiring berjalannya waktu.
Hingga akhirnya garis keturunan mereka jatuh ke generasi Aksa, generasi terakhir yang diramalkan oleh para leluhur akan terputus total karena sebuah kutukan abadi.
Faktor utama penurunan kekuatan keluarga mereka adalah semakin rendahnya keahlian alami ahli spiritual yang lahir di dalam rahim Keluarga Wicara.
Padahal teknik latihan terbaik dan kitab-kitab rahasia tingkat tinggi telah diteruskan dari generasi ke generasi tanpa ada yang terlewat.
Namun entah mengapa, setiap perpindahan generasi pasti selalu terjadi satu kali penurunan kualitas bakat ahli spiritual secara signifikan.
Aksa adalah satu-satunya pengecualian luar biasa dalam sejarah kelam keluarga tersebut.
Ia sangat jenius dan memiliki bakat bawaan yang tiada tandingannya.
Aksa dapat menguasai semua teknik spiritual kuno yang diturunkan oleh para leluhur dalam waktu singkat, bahkan mampu membuat variasi teknik baru yang jauh lebih kuat berdasarkan peninggalan tersebut.
Sangat disayangkan dia dikutuk dengan kutukan tingkat dewa yang tidak bisa dipatahkan oleh siapapun, membuat semua orang percaya bahwa perjalanan panjang Keluarga Wicara akan segera tamat di tangannya.
Aksa berdiri tegak lalu mengenakan pakaiannya kembali dengan sangat rapi.
Ia merapikan diri di depan kaca rias, menatap bayangan dirinya sendiri.
"Jangan khawatir, Kakek. Aku pasti mengembalikan kejayaan Keluarga Wicara."
Dengan senyum tegas yang begitu tampan dan membakar semangat, Aksa melangkah meninggalkan kamar tersebut.
Bersambung...
Daftar bab
75 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








