
- Jumlah kata
- 72.2K

Raka Pratama tidak pernah membayangkan bahwa satu malam akan mengubah seluruh hidupnya. Di usia dua puluh dua tahun, Raka hanyalah seorang pemuda sederhana yang memiliki mimpi besar. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya, mendapatkan pekerjaan yang layak, membahagiakan kedua orang tuanya, dan membawa keluarganya keluar dari kehidupan yang serba kekurangan. Namun, hidup ternyata memiliki rencana yang berbeda. Kematian ayahnya secara mendadak membuat semua impian Raka runtuh. Tidak ada lagi sosok yang menjadi tulang punggung keluarga. Ibunya yang selama bertahun-tahun menderita sakit hanya mampu mengandalkan Raka, sementara adik perempuannya masih membutuhkan biaya untuk sekolah. Dalam satu malam, Raka terpaksa mengubur impiannya sendiri. Ia meninggalkan bangku kuliah dan mulai bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang. Menjadi buruh, pengantar barang, pelayan, hingga pekerjaan-pekerjaan berat lainnya dilakukannya tanpa mengeluh. Setiap pagi ia berangkat ketika sebagian orang masih tertidur, dan setiap malam ia pulang dengan tubuh yang nyaris tidak mampu berdiri. Tetapi perjuangan Raka tidak berhenti pada kemiskinan. Ia harus menghadapi orang-orang yang meremehkannya karena tidak memiliki uang. Ia dikhianati oleh orang yang selama ini dianggap sebagai sahabat. Ia kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Bahkan, ketika akhirnya mendapatkan kesempatan untuk mengubah hidup, kesempatan itu justru membawanya masuk ke dalam dunia penuh persaingan, keserakahan, dan pengkhianatan. Raka akan belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah menangis. Menjadi kuat berarti tetap berdiri ketika tidak ada seorang pun yang bersedia mengulurkan tangan. Di tengah perjalanan hidupnya, Raka bertemu dengan Alya, seorang perempuan yang perlahan melihat sisi Raka yang tidak pernah dilihat orang lain. Alya menjadi seseorang yang membuat Raka kembali percaya bahwa setelah begitu banyak kehilangan, mungkin masih ada alasan untuk memperjuangkan kebahagiaan. Namun hubungan mereka tidak mudah. Perbedaan kehidupan, kesalahpahaman, keluarga, masa lalu, dan orang-orang yang ingin menghancurkan Raka membuat hubungan mereka berkali-kali berada di ujung kehancuran. Sementara itu, Raka mulai menemukan bahwa kematian ayahnya mungkin menyimpan sebuah rahasia. Sebuah rahasia yang selama bertahun-tahun sengaja disembunyikan keluarganya. Semakin Raka berusaha mencari jawaban, semakin banyak kenyataan pahit yang terungkap. Orang yang selama ini ia percaya ternyata menyimpan kebohongan. Orang yang ia anggap sebagai musuh ternyata pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan ayahnya. Dan tanpa Raka sadari, perjalanan mencari kebenaran itu akan membawanya berhadapan dengan orang-orang yang jauh lebih kuat darinya. Dari seorang pemuda miskin yang hanya ingin bertahan hidup, Raka perlahan membangun dirinya sendiri. Ia belajar tentang kerja keras. Tentang kehilangan. Tentang cinta. Tentang pengkhianatan. Tentang memaafkan. Tentang keluarga.
Hujan turun sejak sore.
Bukan hujan deras yang disertai petir, melainkan hujan panjang yang membuat jalanan di depan rumah Raka Pratama berubah menjadi genangan. Atap seng rumah kecil itu berkali-kali mengeluarkan suara berisik ketika tetesan air menghantam permukaannya.
Raka duduk di depan meja belajarnya.
Sebuah buku kuliah terbuka di hadapannya, tetapi tidak satu pun kalimat yang berhasil masuk ke kepalanya.
Tangannya memegang pulpen, sementara matanya menatap halaman yang sama selama hampir sepuluh menit.
Pikirannya sedang melayang jauh.
Besok adalah hari terakhir pembayaran biaya kuliah.
Jika ia tidak membayar, namanya akan masuk daftar mahasiswa yang terkena penangguhan.
Raka menghela napas panjang.
Ia menatap layar ponsel murah yang terletak di samping buku.
Saldo rekeningnya hanya tersisa seratus dua puluh tujuh ribu rupiah.
Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membayar biaya kuliah satu bulan.
"Bagaimana, Nak?"
Suara ibunya terdengar dari belakang.
Raka segera menoleh.
"Belum, Bu."
Ibunya, Sari, berdiri di ambang pintu sambil membawa secangkir teh.
Perempuan itu sudah berusia hampir lima puluh tahun. Wajahnya terlihat lebih tua daripada usianya. Bertahun-tahun hidup dalam kesederhanaan membuat garis-garis lelah terlihat jelas di sekitar matanya.
Sari meletakkan teh di meja.
"Kamu sudah makan?"
Raka mengangguk.
"Sudah."
Ibunya tersenyum tipis.
"Kamu bohong."
Raka terdiam.
Ibunya memang selalu tahu.
Sejak ayahnya meninggal dua tahun sebelumnya, Raka sering mengatakan sudah makan meskipun sebenarnya belum.
Bukan karena ia tidak lapar.
Ia hanya tidak ingin makanan yang sedikit di rumah berkurang.
"Masih ada nasi, Nak. Ibu bisa buat telur."
"Nggak usah, Bu."
"Kenapa?"
"Aku masih kenyang."
Sari menatap anaknya cukup lama.
Kemudian ia mengangguk pelan.
"Kalau begitu, jangan tidur terlalu malam."
"Iya."
Sari berbalik hendak pergi.
Namun sebelum pintu tertutup, Raka memanggilnya.
"Bu."
Sari menoleh.
"Kenapa?"
Raka ingin mengatakan tentang biaya kuliahnya.
Ia ingin mengatakan bahwa mungkin dirinya tidak bisa melanjutkan kuliah.
Namun kata-kata itu berhenti di tenggorokannya.
"Aku... besok mungkin pulang agak malam."
"Kerja?"
Raka mengangguk.
"Teman punya pekerjaan tambahan. Katanya butuh orang."
Sari tersenyum.
"Hati-hati."
"Iya, Bu."
Pintu tertutup.
Raka kembali menatap buku di hadapannya.
Ia mengusap wajah.
Sebenarnya tidak ada pekerjaan tambahan.
Ia hanya belum tahu bagaimana cara mengatakan kepada ibunya bahwa ia mungkin harus berhenti kuliah.
---
Ayah Raka meninggal dua tahun lalu.
Serangan jantung.
Malam itu masih sangat jelas dalam ingatannya.
Ayahnya, Pratama, pulang dari tempat kerja seperti biasa. Lelaki itu bekerja sebagai sopir angkutan barang dan hampir seluruh hidupnya dihabiskan di jalan.
Malam itu ayahnya bahkan masih sempat bercanda.
"Kalau Raka lulus nanti, Ayah mau pensiun."
Raka yang saat itu sedang makan hanya tertawa.
"Pensiun mau ngapain?"
"Jadi orang kaya."
"Modalnya?"
"Modal doa."
Mereka tertawa bersama.
Itu adalah malam terakhir Raka mendengar suara tawa ayahnya.
Beberapa jam kemudian, Pratama mengeluh dadanya terasa sakit.
Awalnya mereka mengira hanya kelelahan.
Namun beberapa menit kemudian tubuh lelaki itu jatuh di ruang tengah.
Raka masih mengingat bagaimana ia berteriak meminta bantuan tetangga.
Bagaimana ia membawa ayahnya ke rumah sakit dengan kendaraan tetangga.
Bagaimana ibunya menangis sepanjang perjalanan.
Dan bagaimana seorang dokter akhirnya keluar dari ruang gawat darurat dengan wajah yang membuat Raka langsung memahami semuanya.
"Maaf, kami sudah berusaha."
Empat kata itu menghancurkan hidup mereka.
Sejak hari tersebut, Raka tidak pernah benar-benar menjadi anak yang sama.
Ia menjadi kepala keluarga sebelum waktunya.
---
Pagi berikutnya datang terlalu cepat.
Pukul lima, Raka sudah bangun.
Ia mencuci muka, mengenakan kaus sederhana dan celana jeans yang warnanya sudah memudar, lalu keluar rumah.
Udara pagi masih dingin.
Di dapur, ibunya sedang menyiapkan sarapan.
"Sudah bangun?"
"Iya."
"Makan dulu."
Raka melihat meja.
Hanya ada dua potong tempe dan nasi.
"Adik mana?"
"Masih tidur."
Raka mengambil satu potong tempe.
"Ini buat Ibu."
"Ambil saja."
"Ibu nanti makan?"
"Nanti."
Raka tahu ibunya berbohong.
Tetapi ia tidak membantah.
Ia mengambil satu potong tempe dan menyisakan satu untuk ibunya.
Setelah itu ia mengambil tas.
"Aku berangkat."
"Hati-hati."
Raka keluar.
Di jalan, ia berjalan menuju halte kecil sekitar lima belas menit dari rumah.
Hari itu ia harus kuliah sampai siang.
Setelah itu, ia berencana mencari pekerjaan apa pun yang bisa dilakukan.
Ia tidak peduli berapa bayarannya.
Yang penting ada uang.
Ketika sampai di kampus, suasana terlihat seperti biasa.
Mahasiswa berjalan sambil bercanda.
Beberapa orang sibuk mengerjakan tugas.
Ada yang duduk di kantin sambil tertawa.
Raka berhenti sebentar di depan gerbang.
Ia memandangi tempat itu.
Selama dua tahun terakhir, kampus adalah salah satu tempat yang membuatnya merasa bahwa hidupnya masih memiliki arah.
Ia ingin lulus.
Ia ingin bekerja.
Ia ingin membuktikan bahwa anak dari keluarga sederhana juga bisa memiliki masa depan.
Namun hari itu, untuk pertama kalinya, kampus terasa seperti tempat yang perlahan akan ia tinggalkan.
"Rak!"
Seseorang menepuk bahunya.
Raka menoleh.
"Bagas."
Bagas adalah teman dekat Raka sejak semester pertama.
Berbeda dengan Raka, Bagas berasal dari keluarga berada. Ia memiliki sepeda motor bagus, pakaian bermerek, dan tidak pernah terlihat memikirkan biaya hidup.
"Kenapa mukamu kayak orang belum bayar utang?"
Raka tertawa kecil.
"Memang belum bayar."
"Utang?"
"Utang sama kehidupan."
Bagas tertawa.
"Serius. Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Biaya kuliah?"
Raka terdiam.
Bagas langsung memahami.
"Belum ada?"
Raka menggeleng.
"Masih kurang."
"Berapa?"
Raka menyebutkan jumlahnya.
Bagas mengangkat alis.
"Segitu?"
"Iya."
"Kenapa nggak bilang dari kemarin?"
Raka tersenyum.
"Aku nggak mau merepotkan."
Bagas menghela napas.
"Kadang kamu terlalu keras kepala."
"Aku cuma nggak mau punya utang."
"Kalau pinjam sama teman bukan utang."
"Buatku tetap utang."
Bagas menatap Raka.
Kemudian ia berkata,
"Kalau kamu berubah pikiran, bilang."
Raka mengangguk.
"Terima kasih."
Mereka masuk ke gedung perkuliahan.
---
Siang hari.
Dosen baru saja keluar dari kelas ketika ponsel Raka bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Ibu: Raka, kalau sudah pulang jangan lupa beli obat. Obat Ibu tinggal dua.
Raka membaca pesan itu berkali-kali.
Ia melihat dompetnya.
Uangnya tersisa empat puluh ribu rupiah.
Obat ibunya membutuhkan tiga puluh lima ribu.
Ia hanya memiliki lima ribu untuk ongkos pulang.
Raka memasukkan ponselnya ke saku.
Ia berdiri.
"Rak, makan dulu," kata Bagas.
"Nanti."
"Mau ke mana?"
"Cari kerja."
Bagas mengerutkan kening.
"Sekarang?"
"Iya."
"Kuliahmu?"
"Aku bisa kejar nanti."
Bagas ingin mengatakan sesuatu, tetapi Raka sudah pergi.
Hari itu Raka berjalan dari satu tempat ke tempat lain.
Ia mendatangi sebuah restoran.
Tidak ada lowongan.
Ia mendatangi toko bangunan.
Pemiliknya membutuhkan pekerja, tetapi harus bekerja sejak pagi hingga sore setiap hari.
Raka tidak keberatan.
Namun gajinya baru dibayar setiap akhir bulan.
Ia membutuhkan uang hari itu.
Kemudian ia mendatangi gudang ekspedisi.
Di sana seorang mandor mengatakan membutuhkan pekerja bongkar muat.
"Berat," katanya.
"Saya bisa."
"Kerjanya sampai malam."
"Saya bisa."
"Bayarannya harian."
Raka langsung mengangguk.
"Saya mau."
Mandor menunjuk tumpukan kardus.
"Mulai sekarang."
Raka meletakkan tas kuliahnya.
Ia menggulung lengan baju.
Kemudian mulai bekerja.
Satu kardus.
Dua kardus.
Sepuluh.
Puluhan.
Tangannya mulai terasa panas.
Punggungnya sakit.
Keringat membasahi seluruh tubuh.
Tetapi setiap kali merasa lelah, Raka mengingat wajah ibunya.
Ia terus bekerja.
Menjelang malam, mandor menghitung uang.
"Ini."
Raka menerima enam puluh ribu rupiah.
Enam puluh ribu.
Bagi sebagian orang mungkin tidak banyak.
Namun bagi Raka, uang itu berarti obat ibunya.
Ia memasukkan uang ke dompet dan segera pergi.
Ia membeli obat.
Kemudian berjalan menuju halte.
Saat itulah hujan turun.
Raka berdiri di bawah atap toko sambil memandangi jalan.
Tidak ada payung.
Tidak ada kendaraan.
Ia akhirnya memilih berjalan.
Tas kuliahnya diletakkan di bawah jaket agar buku-bukunya tidak basah.
Sepatunya segera terendam air.
Namun ia terus berjalan.
---
Pukul sebelas malam.
Raka membuka pintu rumah.
Lampu ruang tengah masih menyala.
Ibunya tertidur di kursi.
"Bu."
Sari terbangun.
"Kamu pulang?"
"Iya."
"Sudah makan?"
Raka tersenyum.
"Sudah."
Padahal ia belum makan sejak pagi.
Raka memberikan obat.
"Ini."
Sari melihat kantong obat.
"Kamu beli?"
"Iya."
"Uangnya dari mana?"
"Kerja."
Sari langsung diam.
"Kamu kerja?"
Raka mengangguk.
"Di gudang."
"Kuliah?"
"Aku tetap kuliah."
Sari menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu capek?"
Raka tersenyum.
"Sedikit."
Sari mengusap kepala anaknya.
"Maaf."
Raka mengerutkan kening.
"Kenapa Ibu minta maaf?"
"Karena hidupmu jadi seperti ini."
Raka terdiam.
Kemudian ia duduk di samping ibunya.
"Bu."
"Hm?"
"Jangan pernah bilang begitu lagi."
Sari menatapnya.
"Aku memang harus berjuang. Itu bukan salah Ibu."
Air mata perlahan jatuh dari mata Sari.
Raka memeluk ibunya.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.
Hanya suara hujan yang terdengar dari luar.
---
Pagi berikutnya, hidup Raka berubah lagi.
Saat ia sedang bersiap berangkat, terdengar suara kendaraan berhenti di depan rumah.
Seorang lelaki berusia sekitar lima puluh tahun turun dari mobil.
Ia mengenakan kemeja rapi.
Raka keluar.
"Pak?"
Lelaki itu bernama Surya.
Ia adalah teman lama ayah Raka.
"Raka?"
"Iya."
Surya memandang rumah itu.
Kemudian menghela napas.
"Aku sudah lama ingin datang."
"Kenapa, Pak?"
Surya tidak langsung menjawab.
Ia mengambil sebuah amplop dari dalam tas.
"Ayahmu menitipkan sesuatu kepadaku sebelum meninggal."
Raka terdiam.
"Titip?"
"Iya."
"Apa?"
Surya menyerahkan amplop itu.
"Katanya, kalau suatu hari keadaan keluargamu benar-benar sulit, berikan ini kepada kamu."
Raka menerima amplop tersebut.
Tangannya gemetar.
Ia melihat tulisan tangan di bagian depan.
Untuk Raka.
Tulisan itu sangat dikenalnya.
Tulisan ayahnya.
"Ayah memberikan ini kapan?"
"Beberapa hari sebelum dia meninggal."
"Kenapa baru diberikan sekarang?"
Surya menatap Raka dengan ekspresi serius.
"Karena ayahmu berpesan agar aku tidak memberikannya sebelum waktunya."
Raka menatap amplop tersebut.
"Memangnya apa isinya?"
"Aku tidak tahu."
Raka membalik amplop itu.
Tertutup rapat.
Tidak ada nama lain.
Tidak ada alamat.
Hanya tulisan tangan ayahnya.
Surya kemudian berkata,
"Ada satu pesan lagi."
"Apa?"
"Jangan percaya semua orang yang mengaku mengenal ayahmu."
Raka mengangkat wajah.
"Apa maksudnya?"
Surya terdiam cukup lama.
"Suatu saat kamu akan mengerti."
Setelah mengatakan itu, Surya masuk ke mobil.
"Pak!"
Raka mengejarnya.
"Kenapa Ayah saya mengatakan begitu?"
Surya membuka kaca mobil.
"Karena ayahmu pernah membuat keputusan yang mengubah hidup banyak orang."
Mobil kemudian pergi.
Raka berdiri di tengah jalan.
Amplop masih berada di tangannya.
Untuk pertama kalinya sejak ayahnya meninggal, Raka merasa ada sesuatu yang tidak ia ketahui tentang lelaki itu.
Ia masuk ke rumah.
Ibunya sedang berada di dapur.
Raka menyembunyikan amplop tersebut di dalam tas.
"Nanti saja," gumamnya.
Ia belum siap membukanya.
Namun ia tidak tahu bahwa keputusan kecil untuk menyimpan amplop itu akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang mengubah seluruh hidupnya.
Hari itu Raka berangkat kuliah seperti biasa.
Ia masih mengira masalah terbesarnya hanyalah biaya kuliah.
Ia masih mengira perjuangannya hanya tentang mencari uang untuk membeli makanan dan obat.
Ia masih mengira kehidupan hanya sedang menguji kesabarannya.
Raka belum tahu bahwa dalam beberapa hari ke depan, satu demi satu masalah akan datang.
Ia belum tahu bahwa keluarganya menyimpan rahasia.
Ia belum tahu bahwa ayahnya meninggalkan masa lalu yang belum selesai.
Dan ia belum tahu bahwa jalan yang sedang ia tempuh akan membawanya jauh dari kehidupan sederhana yang selama ini ia kenal.
Namun satu hal yang Raka tahu.
Ia tidak boleh menyerah.
Karena di rumah kecil itu ada seorang ibu yang masih menunggunya pulang.
Ada seorang adik yang masih membutuhkan kakaknya.
Dan ada sebuah mimpi yang meskipun hampir mati, masih belum benar-benar ia kubur.
Raka berjalan menyusuri jalan menuju kampus.
Matahari pagi mulai muncul dari balik awan.
Langkahnya berat.
Tubuhnya masih lelah karena pekerjaan semalam.
Tetapi ia tetap berjalan.
Sebab hidup tidak pernah berjanji akan menjadi mudah.
Dan bagi Raka Pratama, hari itu bukanlah akhir dari sebuah kehidupan.
Hari itu adalah awal dari perjuangan hidupnya.
43 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.