
Keris Bayu Pembawa Pesona
vibekata|Tamat
- Jumlah kata
- 183.8K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 453
- Jumlah kata
- 183.8K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 453
Sinopsis
Nasib Bayu berubah drastis setelah dihina habis-habisan oleh Dewi, mantannya yang berpaling ke Danang, anak juragan tembakau kaya di desanya. Dalam keputusasaan, kakeknya meninggal dunia dan mewariskan sebuah keris kecil keramat yang tiba-tiba merasuk ke dalam dada Bayu. Pusaka gaib itu membawa tuah keberuntungan abadi dan pesona tak tertandingi, selama Bayu tidak memutarbalikkan pantangan keramat: dilarang menolak orang yang meminta tolong, bahkan jika itu musuhnya sendiri. Berbekal uang seadanya, Bayu memutuskan merantau ke kota besar demi mengejar cita-citanya. Perjalanan itu menjadi awal petualangan barunya yang penuh gairah. Tanpa diduga, Bayu justru terdampar dan tinggal di sebuah rumah kos eksklusif yang dihuni oleh lima wanita cantik dengan daya pikat luar biasa. Ada karyawan bank yang seksi dan dewasa, gadis keturunan Tionghoa yang elegan, wanita berparas Arab yang anggun, mahasiswi manis yang polos, hingga ekspatriat asal Jepang yang menggemaskan. Kehadiran Bayu di antara lima wanita cantik ini tidak hanya membawa kepuasan dan rezeki melimpah, tetapi juga memicu dinamika hubungan yang makin panas. Akankah tuah keris Bayu mampu menaklukkan hati mereka semua sekaligus mengantarkannya menjadi pria paling beruntung di kota?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Awal Duka dan Lirikan Liar di Bus Malam
Hari kelulusan SMA yang harusnya jadi momen paling membahagiakan malah berubah jadi harinya kehancuran hidupku. Di saat teman-teman lain sibuk coret-coret baju dan konvoi motor, aku cuma bisa berdiri terpaku di pinggir lapangan, menatap sosok cewek yang selama dua tahun ini mengisi hariku. Dewi.
Jujur saja, Dewi itu kembang sekolah yang bikin semua cowok rela antre. Parasnya manis dengan mata bulat yang selalu terlihat menggoda. Tubuhnya benar-benar impian setiap pria, sangat proporsional dengan lekuk pinggul yang mekar indah dan dua buah melon segar yang selalu membusungkan seragam ketatnya. Setiap kali dia berjalan, ayunan pinggulnya selalu berhasil mengunci pandangan siapapun.
Tapi hari itu, di depan mataku sendiri, Dewi berdiri sambil menggandeng lengan Danang. Si anak juragan tembakau kaya raya yang terkenal tengil.
"Kita putus, Bayu," ucap Dewi tanpa beban. Tatapannya dingin, tidak ada lagi rasa cinta di sana. "Aku butuh masa depan yang jelas. Kamu cuma anak yatim piatu yang nggak punya apa-apa. Danang bisa kasih aku semuanya."
Genggaman tanganku mengepal erat. Dadaku sendiri terasa sesak seperti dihantam batu besar. Melihat Dewi tersenyum manis lalu menyandarkan sepasang melon miliknya yang membusung ke lengan Danang benar-benar memicu rasa sakit yang luar biasa. Mereka berlalu begitu saja, meninggalkanku yang berdiri sendirian dalam kehancuran.
Belum selesai rasa sakit hati itu mereda, penderitaanku makin bertambah saat pulang ke rumah. Kakek, satu-satunya keluarga yang aku miliki, menghembuskan napas terakhirnya di atas balai-balai bambu. Sebelum memejamkan mata untuk selamanya, kakek menatapku penuh penyesalan. Tiba-tiba, dari dalam dada kakek muncul kilatan cahaya keemasan. Sebuah keris kecil seukuran jari perlahan keluar menerobos dadanya tanpa meneteskan darah sedikit pun, lalu melayang dan mendarat tepat di atas telapak tanganku.
"Bayu... simpan ini," bisik Kakek dengan napas tersedak. "Selama ini keris pusaka ini mati dan tidak memberikan tuah apa pun pada Kakek karena Kakek pernah tiga kali melanggar pantangannya akibat dendam masa lalu... Sekarang keris ini mencari pemilik barunya. Dengarkan Kakek, kamu dilarang keras menolak permintaan tolong dari siapa pun yang memohon padamu, bahkan jika itu musuhmu sendiri. Kalau kamu melanggarnya lebih dari tiga kali, tuah pusaka ini bakal mati selamanya seperti yang Kakek alami."
Begitu Kakek menghembuskan napas terakhir, keris kecil di tanganku mendadak meleleh menjadi aliran cahaya hangat dan seketika merasuk tepat ke dalam dadaku. Ada gelombang energi dahsyat yang menjalar ke seluruh pembuluh darah, membuat staminaku memuncak hebat. Tuah pusaka yang puluhan tahun mati kini bangkit dan hidup sepenuhnya di dalam tubuhku.
Setelah proses pemakaman Kakek selesai, aku membuat keputusan bulat. Tidak ada lagi alasan untuk bertahan di desa yang penuh kenangan pahit ini. Aku menjual sisa peninggalan Kakek, mengemas baju ke dalam ransel, lalu berjalan menuju terminal untuk naik bus malam menuju kota besar.
Di dalam bus AC yang dingin dan remang-remang, aku memilih duduk di barisan tengah. Tak lama kemudian, seorang wanita muda melangkah masuk. Penampilannya benar-benar membuat mataku tak bisa berkedip. Dia mengenakan atasan kemeja tipis yang dua kancing atasnya dibiarkan terbuka, serta rok pendek yang memamerkan paha mulusnya yang putih bersih.
Ukuran bagian depannya luar biasa menonjol, seperti dua buah semangka besar yang membusung kencang dan seolah siap meletup dari balik kemejanya. Pinggulnya padat dan melengkung indah saat dia berjalan di lorong bus.
Begitu matanya menatapku, wanita itu mendadak menghentikan langkah. Ada kilatan aneh di matanya, sebuah pandangan nakal dan penuh gairah yang seolah tersedot oleh aura pesona dari dalam tubuhku. Efek dari tuah keris di tubuhku rupanya mulai bekerja secara alami.
Dia tersenyum manja, lalu tanpa ragu memilih duduk tepat di sebelahku. Keharuman aroma tubuhnya yang manis dan sensual langsung menyeruak, memenuhi indra penciumanku.
"Boleh duduk di sini, Mas?" bisiknya dengan suara yang terdengar sangat basah dan menggoda.
"Boleh, Mbak. Silakan," jawabku mencoba tetap tenang, meski jantungku sudah berdebar kencang.
Wanita itu sengaja merapatkan duduknya hingga paha mulusnya yang hangat menempel erat pada pahaku. Setiap kali bus berguncang melewati jalanan berlubang, bagian samping dari dua buah semangka miliknya yang empuk dan kenyal bergoncang naik dan turun, tanpa sengaja bergesekan keras dengan lengan atasku. Sensasi kehangatan yang menjalar secara alami benar-benar memicu gejolak hebat di area bawah perutku. Batang kayuku di dalam celana mendadak menegang keras dan membesar dengan cepat.
Wanita di sampingku rupanya menyadari perubahan itu. Melalui pantulan kaca jendela bus yang gelap, matanya yang liar menatap lurus ke arah bagian bawah celanaku yang membentuk tonjolan keras. Bukannya menjauh, dia justru makin mendekatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di bahuku. Tangannya yang lembut secara perlahan mulai merayap naik, mengelus paha dalamku dengan gerakan memutar yang sangat halus.
Napasnya mulai terdengar memburu dan berat. Hembusan angin hangat dari bibirnya bergesekan langsung dengan kulit leherku, membuat bulu kudukku berdiri seketika. Gesekan lembut jemarinya yang lentik makin berani menelusuri kain celanaku, seolah sedang menghitung ukuran kekerasan dari batang kayu yang sudah memuncak panas di dalamnya.
"Mas... kok hangat banget, sih?" bisiknya lirih, hampir berupa helaan napas yang sarat akan gairah. Mata indahnya yang terpejam sebagian menengadah, menatap tepat ke bibirku dengan tatapan yang sangat haus.
Aku menelan ludah dengan susah payah. Pesona dari keris di dalam dadaku seperti menarik wanita ini tanpa ampun. Bagian bawah tubuhku makin berdenyut kencang, menekan ketat kain celana jins yang kupakai. Gesekan dari sepasang semangka miliknya yang begitu kenyal di lenganku dan elusan jarinya yang terus bergerak naik membuat pikiranku hampir rasionalnya hilang seketika.
Tangannya kini sudah berada tepat di atas tonjolan keras itu. Dengan lembut namun pasti, jemarinya memberikan remasan halus yang membuat desahan kecil lolos dari celah bibirnya sendiri. Kaca jendela bus yang remang-remang menjadi saksi bisu bagaimana jemari wanita ini berjuang keras menahan gairah yang mendadak membakar tubuhnya.
"Namaku Rini..." bisiknya lagi, seraya menarik tanganku untuk diletakkan tepat di atas paha mulusnya yang terbuka bebas, membawa telapak tanganku bergerak makin naik menuju pangkal pahanya yang sangat hangat.
Lampu dalam bus mendadak dimatikan oleh sopir, menyisakan kegelapan yang remang dan dingin di sepanjang jalur tol malam. Namun di sudut kursi kami, suhu tubuh Rini makin membara. Matanya yang liar menatapku tajam di balik kegelapan, seolah memberikan isyarat bahwa malam panjang di dalam bus ini baru saja dimulai, dan batang kayuku sudah sepenuhnya siap untuk menerobos masuk serta menaklukkan dalam-dalam gua kenikmatan yang sudah menantinya.
Daftar bab
160 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
160 bab








