

Kalau hidup punya tombol undo, Dimas mungkin sudah menekannya berkali-kali sejak tiga bulan terakhir. Sayangnya, hidup bukan aplikasi pengolah dokumen. Tidak ada tombol untuk membatalkan keputusan buruk, mengembalikan pekerjaan yang hilang, atau menampar teman pengkhianat melalui layar komputer. Jadi, pada usia dua puluh dua tahun, Dimas hanya bisa menerima kenyataan bahwa dirinya sedang berada pada fase kehidupan yang menurut motivator disebut proses menuju kesuksesan, tetapi menurut pemilik kos disebut nunggak dua minggu.
Tiga bulan sebelumnya, kehidupan Dimas sebenarnya cukup normal. Ia bekerja sebagai admin di sebuah perusahaan distributor kecil di kota tempatnya merantau. Pekerjaannya tidak bergengsi, gajinya juga tidak cukup untuk membuatnya berdebat soal investasi properti, tetapi setidaknya setiap akhir bulan ada uang masuk ke rekening. Ia bisa membayar kos, membeli makan, mengisi bensin, dan sesekali nongkrong bersama beberapa teman di warung kopi. Masalah muncul ketika seorang teman kerjanya melakukan kesalahan pada pencatatan transaksi perusahaan. Entah karena takut dimarahi atau memang sudah merencanakannya, kesalahan itu dilemparkan kepada Dimas. Bukti digital diubah, percakapan dipotong, dan Dimas yang tidak pandai menjilat atasan akhirnya menjadi orang paling mudah dikorbankan.
Dia dipecat.
Tidak ada pesangon besar.
Tidak ada adegan bos mengejarnya ke parkiran sambil berteriak, "Dimas! Tunggu! Kami ternyata salah!"
Yang ada cuma satpam yang mengembalikan kartu identitasnya.
"Sabar, Mas."
Dimas memasukkan kartu itu ke dompet.
"Pak."
"Iya?"
"Kalau saya enggak sabar, boleh mukul orang?"
Satpam menggeleng.
"Enggak."
"Ya sudah. Berarti memang harus sabar."
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Dimas sempat melamar pekerjaan ke beberapa tempat. Ada yang tidak membalas, ada yang memanggil wawancara lalu menghilang, dan ada pula yang menawarkan gaji sedemikian kecil sampai Dimas sempat curiga dirinya sedang mendaftar sebagai pekerja atau justru diminta berdonasi tenaga. Pada akhirnya dia berhenti menunggu keberuntungan datang melalui lowongan kerja.
Dia mulai berdagang barang bekas.
Awalnya cuma sebuah kipas angin rusak yang dibelinya Rp35.000 dari penghuni kos sebelah. Setelah dibersihkan dan kabelnya diperbaiki, kipas itu dijual Rp75.000.
Untung Rp40.000.
Dimas menatap uang itu hampir satu menit.
Bukan jumlahnya yang membuatnya terharu.
Dia baru sadar bahwa kipas rusak ternyata lebih menghargai kerja kerasnya daripada perusahaan lamanya.
Sejak itu dia mulai berburu barang bekas. Televisi, kipas, kursi, meja, telepon genggam lama, speaker, besi, kabel, rak, bahkan rice cooker yang tutupnya sudah tidak jelas berada di mana. Barang yang masih bisa diperbaiki akan diperbaiki. Yang tidak bisa diperbaiki akan dibongkar dan dijual komponennya.
Tidak banyak.
Namun cukup untuk bertahan.
Setidaknya begitu teorinya.
Hari itu matahari terasa seperti memiliki dendam pribadi terhadap Dimas. Sejak pagi ia mengendarai motor tuanya berkeliling beberapa kawasan mencari barang. Di belakang motor terdapat keranjang sederhana yang diikat menggunakan tali.
Isinya tidak terlalu membanggakan.
Satu kipas angin.
Dua speaker rusak.
Sebuah printer tua.
Beberapa kilogram kabel.
Dan satu blender tanpa gelas.
Dimas sendiri tidak tahu kenapa dia membeli blender tanpa gelas.
Penjualnya bilang murah.
Dimas tergoda.
Sekarang dia menyesal.
Menjelang tengah hari, Dimas menghentikan motornya di sebuah warung kopi sederhana dekat lapangan sepak bola. Tempat itu sudah menjadi salah satu markas tidak resmi dirinya dan dua temannya.
Bukan karena kopinya istimewa.
Alasannya jauh lebih ekonomis.
Boleh duduk lama.
Seorang pria berkaus hitam yang sudah duduk di bangku kayu mengangkat tangan ketika melihat Dimas.
Namanya Arif.
"Woi! Juragan barang antik datang!"
Dimas memarkir motor.
"Barang bekas."
"Sama saja."
"Beda. Kalau barang antik harganya mahal. Kalau barangku mahal sedikit, pembelinya kabur."
Arif tertawa.
Dimas duduk dan meletakkan dompetnya di atas meja.
"Kopi, Pak. Yang murah."
Pemilik warung menoleh.
"Semua kopi di sini murah."
"Yang paling murah dari yang murah."
"Air putih sana."
"Jangan begitu, Pak. Saya pelanggan."
"Pelanggan utang."
Arif langsung terbahak.
Dimas memandang pemilik warung dengan wajah cemberut.
"Utang saya berapa?"
"Tiga puluh dua ribu."
Dimas membuka dompetnya. Beberapa lembar uang lusuh terlihat di dalamnya. Ia menghitung pelan, lalu mengambil uang Rp50.000.
"Bayar sekalian."
Pemilik warung menerima uang itu.
"Wah, dapat rezeki?"
Dimas menunjuk motor.
"Lihat itu."
Arif ikut menoleh.
"Blendernya enggak ada gelasnya."
Dimas langsung diam.
"Jangan dibahas."
"Siapa yang beli blender tanpa gelas?"
"Saya."
"Kenapa?"
"Karena murah."
"Mau buat apa?"
Dimas berpikir.
Lama.
"Entahlah."
Arif kembali tertawa.
Dimas menyeruput kopi yang baru datang. Panasnya membuat bibirnya maju beberapa senti.
"Pelan-pelan," kata Arif.
"Aku tahu."
"Mukamu kayak ikan."
Dimas menurunkan gelas.
"Kalau kamu terus menghina calon orang kaya, nanti kalau aku sukses kamu enggak aku kasih pinjaman."
"Kalau kamu sukses, aku yang traktir kopi sebulan."
Mata Dimas menyipit.
"Jangan sembarangan berjanji."
"Kenapa?"
"Aku catat."
Dimas benar-benar mengambil ponsel.
Arif buru-buru menarik tangannya.
"Eh, enggak usah dicatat!"
Mereka kembali tertawa.
Bagi Dimas, momen seperti itu cukup membuat hidup terasa tidak terlalu buruk. Tidak punya pekerjaan tetap memang membuatnya sering cemas, tetapi setidaknya dia masih memiliki kebebasan. Tidak ada atasan yang mengawasi, tidak ada laporan bulanan, tidak ada teman kerja yang bisa menjadikannya kambing hitam.
Yang ada hanya dirinya, motor tua, barang bekas, dan pertanyaan abadi mengenai besok makan apa.
Setelah hampir satu jam nongkrong, Arif pergi karena ada urusan. Dimas sebenarnya berniat melanjutkan perjalanan, tetapi matahari semakin panas. Lapangan sepak bola di sebelah warung terlihat sepi. Di pinggir lapangan berdiri beberapa pohon besar yang memberikan bayangan cukup luas.
Dimas memandang pohon.
Kemudian memandang motornya.
Kemudian melihat jam.
Pukul satu lewat.
"Setengah jam," pikirnya.
Kesalahan pertama manusia sering dimulai dari kalimat itu.
Dimas membawa tas selempangnya, berjalan menuju pohon, lalu menjadikan tas tersebut sebagai bantal. Rumput cukup kering. Angin bertiup pelan. Dari kejauhan terdengar kendaraan berlalu-lalang.
Nyaman.
Terlalu nyaman.
Lima menit kemudian, Dimas tertidur.
Sepuluh menit kemudian, dia mendengkur.
Lima belas menit kemudian, mulutnya terbuka.
Dan tepat pada saat itulah...
sesuatu terjadi jauh di luar bumi.
Di tempat yang bahkan tidak dapat disebut langit, ribuan gugusan bintang tampak seperti butiran debu. Sungai cahaya mengalir di antara pulau-pulau raksasa yang mengambang di kehampaan. Istana berlapis emas berdiri di atas awan, sementara makhluk-makhluk dengan aura mengerikan terbang melintasi ruang tanpa membutuhkan sayap.
Di tengah salah satu pulau terapung berdiri sebuah bangunan sederhana.
Sederhana menurut standar penghuni tempat itu.
Kalau dipindahkan ke bumi, mungkin satu tiangnya saja cukup untuk membuat para arkeolog bertengkar selama seratus tahun.
Di dalam ruangan berbentuk lingkaran, seorang kakek tua berambut putih duduk di depan tungku berwarna keemasan. Janggutnya panjang hingga hampir menyentuh lantai. Jubah putih keemasannya dipenuhi pola bintang.
Tangannya bergerak perlahan.
Api berwarna biru, merah, putih, lalu hitam bergantian mengelilingi tungku.
Di belakangnya berdiri tiga sosok berjubah perak.
Tidak seorang pun berani berbicara.
Sudah sembilan hari mereka menunggu.
Bukan sembilan hari bumi.
Sembilan hari di tempat itu setara dengan waktu yang jauh lebih panjang bagi dunia manusia.
Akhirnya kakek itu membuka mata.
BOOOOM!
Seluruh pulau terapung bergetar.
Cahaya emas menembus atap bangunan dan membelah awan.
Salah satu sosok berjubah perak menahan napas.
"Berhasil?"
Kakek itu tidak menjawab.
Tungku perlahan terbuka.
Dari dalamnya muncul sebutir pil.
Ukurannya tidak lebih besar dari kelereng.
Namun ketika pil itu muncul, bintang-bintang di langit seakan meredup.
Kakek tua tersebut berdiri.
Tangannya sedikit gemetar.
Kemudian...
dia tertawa.
"HAHAHAHAHA!"
Tiga sosok di belakangnya saling berpandangan.
Kakek itu semakin keras tertawa.
"HAHAHAHAHA!"
Air matanya keluar.
Kepalanya mendongak.
"SATU JUTA TAHUN!"
Ia mengangkat kedua tangan.
"SATU JUTA TAHUN AKHIRNYA BERHASIL!"
Salah satu sosok berjubah perak maju.
"Yang Mulia, apakah ini benar-benar..."
Kakek itu segera memasang wajah serius.
"Benar."
Semua orang diam.
Kakek menunjuk pil yang melayang di atas tungku.
"Pil Nirwana Sembilan Semesta."
Sosok berjubah perak menelan ludah.
"Pil yang hanya bisa disempurnakan setelah seluruh bahan utamanya mencapai siklus satu juta tahun?"
"Benar."
"Yang mampu membuat tubuh dan jiwa penerimanya..."
"Jangan diteruskan."
Kakek mengangkat tangan.
"Nama beberapa efeknya saja bisa membuat hukum alam mendengar."
Ketiga sosok itu langsung menutup mulut.
Kakek mendekati pil tersebut dengan hati-hati.
Wajahnya terlihat puas.
Selama satu juta tahun dia mengumpulkan bahan.
Tiga ribu jenis tanaman langit.
Inti bintang mati.
Embun dari batas waktu.
Api pertama sebuah dunia.
Dan berbagai bahan yang namanya bahkan tidak mungkin diucapkan lidah manusia.
Semua hanya menghasilkan...
satu pil.
Satu.
Tidak ada cadangan.
Tidak ada versi ekonomis.
Tidak ada beli dua gratis satu.
Kakek mengulurkan tangan.
Pil itu turun perlahan.
Lalu salah satu pelayan di belakangnya bersin.
"Hacchii!"
Ruangan sunyi.
Pelayan itu membeku.
Kakek menoleh.
"Kamu..."
Gelombang kecil energi yang muncul akibat bersin tadi menyentuh pil.
Pil bergeser.
Sangat sedikit.
Hanya beberapa sentimeter.
Seharusnya tidak menjadi masalah.
Namun pada detik yang sama, celah ruang yang digunakan untuk menyalurkan energi tungku belum sepenuhnya tertutup.
Pil menyentuh celah tersebut.
Kakek menoleh kembali.
Matanya membesar.
"Eh?"
WUSSS!
Pil menghilang.
Semua orang membeku.
Kakek menatap tempat kosong di depannya.
Tiga pelayan menatap tempat kosong yang sama.
Sepuluh detik berlalu.
Tidak ada yang berbicara.
Kakek menunjuk celah ruang.
"Pilku mana?"
Tidak ada jawaban.
"PILKU MANA?!"
Seluruh pulau terapung berguncang.
Salah satu pelayan langsung berlutut.
"Yang Mulia! Pil itu sepertinya masuk ke Celah Seribu Alam!"
Wajah kakek memucat.
"Cari!"
"Baik!"
"CARI SEKARANG!"
Pil tersebut jatuh melewati ruang.
Satu alam.
Dua alam.
Puluhan.
Ratusan.
Ia menembus batas yang bahkan tidak bisa dilihat makhluk biasa.
Setiap kali melewati sebuah dunia, arah pil berubah sedikit.
Sampai akhirnya...
sebuah planet biru muncul.
Bumi.
Pil memasuki atmosfer.
Tidak terbakar.
Tidak melambat.
Tidak menimbulkan meteor.
Benda paling berharga yang pernah diciptakan sang kakek meluncur menuju sebuah wilayah padat penduduk.
Semakin rendah.
Melewati awan.
Melewati burung.
Melewati gedung.
Melewati atap rumah.
Menuju sebuah lapangan sepak bola.
Di bawah pohon...
Dimas masih tidur.
Mulutnya terbuka.
"Hrrr..."
Seekor lalat hampir masuk.
Dimas mengibaskan tangan tanpa bangun.
Lalat pergi.
Alam semesta seolah baru saja membersihkan landasan.
Pil turun.
Seratus meter.
Lima puluh meter.
Sepuluh meter.
Satu meter.
Dimas mendengkur.
"Hrrr... khhh..."
TUK!
Pil masuk tepat ke mulutnya.
Dimas mengernyit.
Lidahnya bergerak.
Lalu refleks menelan.
Glek.
Selesai.
Satu juta tahun penantian.
Ribuan bahan langka.
Harta yang dipersiapkan untuk makhluk penjaga semesta.
Dituntaskan oleh seorang pedagang blender tanpa gelas...
dalam satu kali telan.
Dimas menggaruk pipi.
"Hmm..."
Kemudian melanjutkan tidur.
Di alam jauh, kakek pengolah obat berdiri di depan sebuah cermin raksasa.
Permukaan cermin menampilkan lintasan pil.
Salah satu pelayan menunjuk.
"Kami menemukannya!"
Kakek mendekat.
"Di mana?"
"Alam tingkat rendah."
"Siapa yang mengambilnya?"
Pelayan memperbesar gambar.
Terlihat lapangan.
Pohon.
Dan seorang pemuda tidur.
Kakek mengerutkan kening.
"Itu siapa?"
"Manusia."
"Kenapa dia tidur?"
Pelayan diam.
"Saya... tidak tahu."
"Pilnya?"
Gambar diputar beberapa detik.
Mereka melihat pil jatuh.
Masuk ke mulut Dimas.
Glek.
Ruangan kembali sunyi.
Kakek berkedip.
"Putar lagi."
Pelayan menurut.
Pil jatuh.
Glek.
"Lagi."
Glek.
"Sekali lagi."
Glek.
Kakek perlahan duduk.
Wajahnya kosong.
"Dia..."
Tangannya menunjuk Dimas.
"...memakan pilku sambil tidur?"
Pelayan mengangguk sangat pelan.
"Sepertinya demikian."
Kakek memegang dada.
Pelayan panik.
"Yang Mulia!"
"Satu juta tahun..."
"Tenang!"
"SATU JUTA TAHUN!"
Kakek berdiri.
"DAN DIA MAKAN SAMBIL MENDENGKUR?!"
Dimas terbangun hampir satu jam kemudian.
Hal pertama yang dia rasakan adalah haus.
Hal kedua adalah leher pegal.
Hal ketiga...
mulutnya terasa manis.
Dimas duduk.
"Apa tadi aku makan permen?"
Ia mencoba mengingat.
Tidak ada.
Dia meraba saku.
Kosong.
Dimas mengangkat bahu.
"Mimpi kali."
Ia berdiri, membersihkan rumput dari celana, lalu mengambil tas.
Tidak ada petir.
Tidak ada suara misterius.
Tidak ada tulisan melayang yang mengatakan Selamat, Anda memperoleh kekuatan.
Dimas tetap Dimas.
Setidaknya menurut dirinya.
Dia berjalan kembali menuju warung.
Pemilik warung sedang menyapu.
"Bangun, Mas?"
"Iya."
"Nyenyak?"
"Lumayan."
"Ngoroknya sampai sini."
Dimas berhenti.
"Serius?"
"Serius."
"Kenapa enggak dibangunin?"
"Gratis hiburan."
Dimas cemberut.
Dia menuju motor, memasang tas, kemudian memeriksa barang bawaannya.
Kipas masih ada.
Speaker masih ada.
Printer masih ada.
Blender tanpa gelas juga, sayangnya, masih ada.
Dimas menghidupkan motor.
Mesin batuk beberapa kali.
"Ayo."
Mesin mati.
"Jangan bikin malu."
Dicoba lagi.
Mesin menyala.
Dimas tersenyum.
"Nah, begitu."
Ia melaju meninggalkan lapangan tanpa mengetahui bahwa struktur tubuhnya sedang berubah.
Di dalam darahnya, cahaya keemasan yang tidak terlihat mulai menyebar.
Melewati jantung.
Tulang.
Otot.
Otak.
Kemudian menembus sesuatu yang bahkan tidak dapat dijelaskan ilmu kedokteran.
Jiwa.
Pil tidak sedang memperkuat tubuh Dimas.
Ia sedang menulis ulang aturan yang berlaku terhadap keberadaannya.
Racun kehilangan hak untuk meracuninya.
Penyakit kehilangan hak untuk merusaknya.
Kekuatan mental kehilangan hak untuk memasuki pikirannya.
Kutukan kehilangan hak untuk melekat.
Serangan fisik kehilangan hak untuk melukai.
Dan jauh lebih dalam...
kematian mulai kehilangan hak untuk mengambilnya secara paksa.
Tetapi semua proses itu berlangsung tanpa rasa sakit.
Dimas malah sedang memikirkan hal lain.
Blender.
"Kalau beli gelasnya terpisah masih untung enggak, ya?"
Sore menjelang ketika Dimas tiba di tempat penyimpanan barang bekas yang ia sewa murah. Bukan gudang sebenarnya. Lebih tepat disebut garasi tua yang pemiliknya malas menggunakan.
Ia menurunkan barang satu per satu.
Ketika mengangkat printer, tangannya terpeleset.
Printer jatuh.
Tepat mengenai jempol kakinya.
BRAK!
Dimas membeku.
Biasanya kejadian seperti itu membutuhkan rangkaian ritual berupa melompat satu kaki, memegang jempol, mengumpat dalam hati, lalu mempertanyakan kenapa manusia diciptakan memiliki saraf rasa sakit.
Tetapi sekarang...
tidak sakit.
Dimas melihat printer.
Kemudian jempolnya.
"Hah?"
Dia menggerakkan jari.
Normal.
"Ringan kali printernya."
Dimas mengangkat printer.
Berat.
Dia mengernyit.
Namun tidak terlalu memikirkannya.
Beberapa menit kemudian dia mencoba membuka ikatan kabel menggunakan cutter. Tangannya terpeleset.
Mata cutter mengenai telunjuk.
Dimas refleks menarik tangan.
"Aduh!"
Dia menunggu rasa perih.
Tidak ada.
Dimas melihat jarinya.
Tidak luka.
Dia menggosoknya.
"Tumpul?"
Cutter diarahkan ke kardus.
SRET!
Kardus langsung terbelah.
Dimas diam.
Dilihatnya cutter.
Dilihatnya jari.
Cutter.
Jari.
"Jangan-jangan kulitku tebal gara-gara sering kena matahari."
Penjelasan itu sama sekali tidak ilmiah.
Namun cukup memuaskan Dimas.
Ia melanjutkan bekerja.
Malamnya, setelah mandi dan makan nasi bungkus, Dimas duduk di kamar kos. Kamar itu sederhana. Kasur, lemari plastik, kipas kecil, meja, beberapa pakaian, dan berbagai barang yang menunggu dijual.
Dimas mengambil dompet.
Uangnya tinggal sedikit setelah belanja barang hari ini.
Ia menghitung.
"Seratus..."
Kemudian berhenti.
Alisnya naik.
Dimas menghitung lagi.
"Dua ratus... tiga ratus..."
Semakin dihitung, wajahnya semakin aneh.
Satu juta rupiah.
Tepat.
Dimas yakin tadi siang uangnya tidak sebanyak ini.
Ia mengeluarkan semuanya.
Menghitung lagi.
Rp1.000.000.
"Dari mana?"
Dimas mencoba mengingat.
Mungkin ada hasil penjualan yang lupa dihitung?
Tidak.
Mungkin uang terselip?
Tidak mungkin sebanyak ini.
Dia memeriksa setiap lembar.
Asli.
Setidaknya terlihat asli.
Dimas mengambil Rp100.000 dan meletakkannya di meja.
Sisa di dompet Rp900.000.
Dompet ditutup.
Dimas berdiri untuk mengambil air minum.
Sekitar sepuluh detik.
Ia kembali.
Entah kenapa tangannya membuka dompet lagi.
Dimas membeku.
Ada uang tambahan.
Dia menghitung.
Rp1.000.000.
Dimas melihat Rp100.000 di meja.
Lalu uang di dompet.
"..."
Ia mengambil Rp500.000.
Dompet ditutup.
Dibuka.
Satu juta.
Dimas mulai berkeringat.
Ia mengambil seluruh uang.
Dompet kosong.
Dimas mengangkatnya.
Mengguncang.
Tidak ada apa-apa.
Dibalik.
Kosong.
Ia bahkan memasukkan jari ke setiap bagian.
"Kosong."
Dimas menutup dompet.
Menaruhnya di meja.
Mundur dua langkah.
Menatap benda itu seperti sedang menunggu bom meledak.
Sepuluh detik.
Ia maju.
Membuka.
Rp1.000.000.
Dimas langsung menjatuhkan dompet.
"ASTAGA!"
Dia mundur sampai punggungnya menabrak tembok.
Dompet itu tergeletak dengan polos di lantai.
Tidak bergerak.
Tidak mengeluarkan asap.
Tidak tertawa.
Namun bagi Dimas, benda itu mendadak lebih menyeramkan daripada film horor.
Ia menelan ludah.
"Jangan-jangan..."
Dimas melihat kanan-kiri.
Suara mengecil.
"...uang tuyul?"
Tiba-tiba lampu kamar berkedip.
Tik.
Gelap.
Dimas membeku.
"Ya Tuhan."
Lampu menyala lagi.
Tik.
Dimas langsung mengambil dompet menggunakan ujung sapu.
"Kalau memang ada yang tinggal di dalam, kita bicara baik-baik."
Tidak ada jawaban.
"Saya orang miskin. Jangan dijadikan tumbal."
Tetap diam.
Dimas memberanikan diri mengambil dompet.
Kemudian ponselnya berbunyi.
TING!
Dimas hampir melempar keduanya.
"Apaan lagi?!"
Sebuah notifikasi bank muncul.
Dimas membuka.
Matanya langsung membesar.
Ada dana masuk ke rekening.
Nominalnya membuat Dimas merasa mungkin dirinya masih tidur di lapangan.
Rp100.000.000.
Seratus juta rupiah.
Dimas tidak bergerak.
Dia memeriksa angka nolnya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima...
Dia menghitung ulang.
Tetap seratus juta.
Dimas membuka aplikasi perbankan.
Saldo tersedia benar-benar bertambah.
Tangannya mulai dingin.
"Ini..."
Belum selesai.
Pada saat yang sama, jauh dari kamar kos Dimas, di sebuah rumah besar yang dipenuhi dupa, seorang pria tua sedang duduk bersila.
Di depannya terdapat mangkuk berisi air hitam.
Pria itu bukan orang biasa.
Sudah puluhan tahun ia berurusan dengan hal-hal yang tidak dapat dilihat manusia kebanyakan.
Malam itu ia sedang melakukan ritual sederhana untuk seseorang.
Namun ketika asap dupa berputar, air dalam mangkuk tiba-tiba bergetar.
Pria tua itu membuka mata.
"Apa?"
Permukaan air berubah.
Sebuah cahaya muncul.
Sangat jauh.
Sangat tipis.
Tetapi begitu pria itu mencoba melihat lebih dalam...
DUARRR!
Mangkuk pecah.
Api dupa padam.
Pria tua itu terlempar ke belakang.
"Ugh!"
Darah menetes dari hidungnya.
Dua murid yang menunggu di luar berlari masuk.
"Guru!"
Pria tua itu mengangkat tangan.
"Jangan mendekat."
Tatapannya gemetar.
Selama puluhan tahun, baru kali ini ia mengalami sesuatu seperti itu.
Dia hanya mencoba melihat.
Hanya melihat.
Namun sesuatu di kejauhan seperti menolak keberadaannya.
"Apa yang Guru lihat?"
Pria tua itu menelan ludah.
"Aku tidak tahu."
"Makhluk?"
"Tidak."
"Roh?"
"Bukan."
"Lalu?"
Pria tua itu menatap mangkuk yang sudah pecah.
"Manusia."
Kedua muridnya terdiam.
"Manusia?"
Pria tua mengangguk.
"Tetapi..."
Wajahnya perlahan memucat.
"...aku tidak bisa melihat takdirnya."
Sementara manusia-manusia yang memahami dunia gaib mulai merasakan keganjilan, Dimas masih duduk di lantai kamar kos.
Di tangan kanan ada ponsel.
Di tangan kiri ada dompet.
Rp100 juta di rekening.
Rp1 juta di dompet yang selalu kembali.
Dimas terdiam cukup lama.
Kemudian dia mengambil kalkulator.
100.000.000 × 30.
Hasilnya:
3.000.000.000.
Mata Dimas semakin besar.
Tiga miliar sebulan jika uang itu benar-benar muncul setiap hari.
Ia kembali menghitung.
100.000.000 × 365.
36.500.000.000.
Dimas menjatuhkan ponsel ke kasur.
"Tiga puluh enam setengah miliar..."
Dia menatap langit-langit.
Kemudian dompet.
Kemudian ponsel.
Kemudian dompet lagi.
Setelah hampir satu menit terdiam, sebuah kesadaran besar akhirnya muncul.
Wajah Dimas berubah sangat serius.
"Berarti..."
Dia menelan ludah.
"...mulai besok kalau nongkrong, aku enggak perlu pura-pura ke toilet pas waktunya bayar."
Prioritas hidup seseorang memang berbeda-beda.
Dimas mengambil uang Rp50.000 dari dompet.
Menutupnya.
Membuka.
Satu juta.
Bibirnya mulai membentuk senyum.
Ia mengambil Rp500.000.
Menutup.
Membuka.
Satu juta lagi.
Senyumnya semakin lebar.
Kemudian tiba-tiba hilang.
"Tunggu."
Dimas teringat sesuatu.
Kalau ini memang uang gaib...
Bagaimana kalau ada harganya?
Bagaimana kalau suatu malam ada makhluk datang meminta bayaran?
Dimas memeluk lutut.
"Jangan-jangan nanti jam dua belas malam ada yang mengetuk pintu."
TOK! TOK! TOK!
Dimas meloncat.
"AAAA!"
Dari luar terdengar suara penghuni kos sebelah.
"Mas Dimas!"
Dimas memegang dada.
"APA?!"
"Motornya digeser sedikit! Saya mau keluar!"
Dimas mengembuskan napas panjang.
"IYA!"
Ia bangkit sambil mengomel.
"Bikin jantung copot."
Dimas keluar kamar untuk menggeser motor.
Ia tidak tahu bahwa kalimat tersebut sekarang hampir mustahil terjadi secara harfiah.
Jauh di atas dunia manusia, suasana jauh lebih kacau.
Kakek pengolah obat berdiri di depan cermin dimensi dengan wajah yang sudah tidak bisa digambarkan antara marah, sedih, ingin tertawa, atau ingin mengundurkan diri dari kehidupan.
"Bisa diambil kembali?"
Salah satu pelayan memeriksa susunan cahaya.
Wajahnya semakin tegang.
"Yang Mulia..."
"Jawab."
"Pil sudah larut."
Kakek menutup mata.
"Pisahkan dari tubuhnya."
Pelayan tidak menjawab.
Kakek membuka mata.
"Kenapa diam?"
"Tidak bisa."
"Kenapa?"
"Pil itu tidak hanya menyatu dengan darah."
Kakek mengerutkan kening.
Pelayan memperbesar citra Dimas.
Ribuan garis emas terlihat mengelilingi tubuh pemuda itu.
Kemudian semuanya masuk lebih dalam.
Menuju sesuatu yang tidak terlihat.
Pelayan berbisik.
"Sudah menyatu dengan jiwanya."
Kakek mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya sejak kejadian pil hilang, wajahnya benar-benar serius.
"Secepat itu?"
"Seharusnya tidak."
"Lalu kenapa?"
Pelayan melihat data.
Kemudian wajahnya berubah aneh.
"Mungkin..."
"Apa?"
"...karena dia menelannya dalam kondisi tidur."
Kakek menatap pelayan.
"Apa hubungannya?"
"Tidak ada perlawanan kesadaran. Tubuhnya menerima seluruh energi tanpa penolakan."
Kakek perlahan menoleh ke arah citra Dimas.
Pemuda itu sedang menggeser motor sambil menguap.
Kakek terdiam.
Satu juta tahun.
Selama satu juta tahun ia memperhitungkan berbagai kemungkinan.
Kondisi tubuh penerima.
Kekuatan jiwa.
Kesiapan mental.
Ritual penyerapan.
Formasi perlindungan.
Meditasi.
Pengendalian energi.
Ternyata cara paling sempurna menyerap pilnya adalah...
tidur sambil mangap.
Sudut bibir kakek bergerak.
Kemudian bahunya berguncang.
"Yang Mulia?"
Kakek menunduk.
"He..."
"Yang Mulia?"
"Hehehe..."
Lalu kepalanya mendongak.
"HAHAHAHAHAHA!"
Air matanya keluar lagi.
Para pelayan bingung.
"Yang Mulia!"
"Satu juta tahun!"
Kakek tertawa sambil menangis.
"Aku menghabiskan satu juta tahun mencari metode penyerapan sempurna!"
Ia menunjuk Dimas.
"TERNYATA CUMA PERLU TIDUR!"
Namun tawanya mendadak berhenti.
Cermin dimensi berubah merah.
Sebuah simbol muncul.
Kakek memandang simbol itu.
Senyumnya lenyap.
"Tidak mungkin."
Salah satu pelayan maju.
"Ada apa?"
Kakek tidak menjawab.
Ia menyentuh cermin.
Sederet hukum kosmik muncul.
IKATAN TUBUH: SEMPURNA
IKATAN JIWA: SEMPURNA
PERLINDUNGAN FISIK: ABSOLUT
PERLINDUNGAN MENTAL: ABSOLUT
PERLINDUNGAN SPIRITUAL: ABSOLUT
Kemudian muncul satu baris terakhir.
Kakek membaca.
Wajahnya perlahan pucat.
"Ini..."
Pelayan ikut membaca.
Tubuhnya langsung kaku.
Baris itu hanya terdiri dari beberapa kata.
Namun cukup untuk membuat makhluk yang telah hidup jutaan tahun kehilangan kemampuan berbicara.
OTORITAS KEMATIAN: DITOLAK.
Pelayan menoleh.
"Yang Mulia..."
Kakek tidak menjawab.
"Apakah itu berarti manusia tersebut..."
"Diam."
"Tapi kalau benar..."
"Kubilang diam."
Untuk pertama kalinya, tangan kakek gemetar.
Karena dia akhirnya menyadari sesuatu yang tidak pernah masuk dalam perhitungannya.
Pil Nirwana Sembilan Semesta tidak sekadar memperkuat Dimas.
Pil itu telah mengenali Dimas sebagai pemilik sempurna.
Artinya, sejak detik itu, bukan hanya manusia yang akan kesulitan menyentuhnya.
Bukan hanya senjata.
Bukan hanya racun.
Bukan hanya kutukan.
Bahkan hukum-hukum tertentu yang seharusnya berlaku terhadap semua makhluk hidup...
mulai kehilangan kekuasaan atas dirinya.
Dan di bumi, manusia yang baru saja memperoleh kondisi mustahil tersebut sudah kembali masuk ke kamar.
Dimas duduk di kasur.
Mengambil ponsel.
Melihat saldo Rp100 juta sekali lagi.
Kemudian tersenyum kecil.
"Besok aku beli gelas blender."
Begitulah keputusan besar pertama manusia yang baru saja membuat hukum kematian kehilangan sebagian wewenangnya.
Membeli gelas blender.
Namun Dimas belum tahu bahwa malam itu bukan hanya rekening dan dompetnya yang berubah.
Di sudut gelap lorong kos, sesuatu yang sudah berada di sana selama bertahun-tahun perlahan membuka mata.
Sosok perempuan berambut panjang menggantung terbalik dari langit-langit.
Selama ini tidak seorang pun mampu melihatnya.
Tidak seorang pun mampu mendengarnya.
Dan tidak seorang pun pernah membuatnya takut.
Sampai malam ini.
Makhluk itu menatap pintu kamar Dimas.
Aura tak terlihat merembes keluar dari balik pintu.
Sosok perempuan itu gemetar.
Perlahan...
ia mundur.
Namun terlambat.
Pintu kamar terbuka.
Dimas keluar sambil membawa handuk.
Ia berhenti.
Matanya menyipit.
Untuk pertama kalinya setelah menelan Pil Satu Juta Tahun, pandangannya menembus batas yang selama ini memisahkan manusia dan makhluk tak kasatmata.
Dimas melihat ke atas.
Perempuan pucat berambut panjang itu masih menggantung terbalik.
Mereka saling menatap.
Dua detik.
Tiga detik.
Dimas membuka mulut.
Makhluk itu juga membuka mulut.
"AAAAAAAAAAAA!"
Dimas berteriak.
"AAAAAAAAAAAA!"
Makhluk itu ikut berteriak.
Dimas langsung berhenti.
Wajahnya berubah bingung.
"Lho?"
Makhluk itu masih gemetar.
Dimas menunjuk dirinya sendiri.
"Kok kamu ikut teriak?"
Perempuan itu perlahan menunjuk Dimas balik.
Bibir pucatnya bergerak.
"K-kamu..."
Dimas menelan ludah.
"Kenapa aku?"
Makhluk itu menatap aura yang mengelilingi tubuh Dimas.
Kemudian mengucapkan sesuatu yang membuat bulu kuduk Dimas berdiri.
"Kamu... sebenarnya manusia apa?"
BERSAMBUNG — BAB 2