
Jejak Kultivasi Sang Pendekar Muda
Naskah Semesta 🧸|Bersambung
- Jumlah kata
- 94.8K
- Popular
- 837
- Subscribe
- 103
- Jumlah kata
- 94.8K
- Popular
- 837
- Subscribe
- 103
Sinopsis
Niatnya hidup tenang di Dunia Abadi, seorang remaja malah terlempar ke dunia modern dan terjebak di dalam tubuh pemuda biasa. Tanpa kekuatan sakti dan tanpa tahu kenapa dia bisa nyasar ke sini, satu-satunya cara untuk pulang cuma satu: dia harus mulai latihan dari nol untuk mengumpulkan kekuatannya lagi, sambil membongkar rahasia misterius di balik perpindahan jiwanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1
"Lho! Kok kayak ada yang ngintip!"
Teriakan melengking itu memecah kesunyian malam di kompleks perumahan elite daerah Citraland, Surabaya. Tak lama kemudian—BUMM!—suara benda berat jatuh menghantam rumput taman dengan keras.
"Aduh, remuk kabeh badanku…"
Damar—atau yang kini jiwanya terjebak di tubuh ini—meringis kesakitan. Ia mencoba berdiri, tapi kakinya sempoyongan bagai orang mabuk berat.
"Gawat! Guru ditangkap sama Siluman Naga Merah, aku harus cepat-cepat…" Damar mengusap matanya, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Lho? Ini di mana?"
Bukannya berada di depan Mulut Gua Naga Api seperti yang ia ingat, ia malah berdiri di halaman sebuah rumah megah berpilar tinggi. Begitu menoleh ke belakang, ada deretan rumah mewah serupa. Di kejauhan, lampu-lampu pencakar langit Kota Surabaya menyala terang benderang, memantulkan gemerlap kota metropolitan di bawah langit malam.
Pikirannya kacau seketika.
Seingatnya, ia sedang mengejar jejak siluman hingga masuk ke dalam Gua Naga Api. Tapi ia tak sengaja menginjak jebakan pusaka purba, membuat tanah di bawahnya ambrol. Harusnya ia jatuh ke ceruk lahar, tapi kenapa saat mendarat… malah ada di tengah kota asing ini?
Di Alam Kadewatan, tak pernah ada peradaban yang bentuknya seperti ini!
Belum sempat rasa bingungnya terjawab, mendadak kepala Damar dihantam rasa sakit luar biasa. Ribuan memori asing yang bukan miliknya merangsek masuk secara paksa, membuat otaknya serasa mau pecah. Ia hanya bisa berlutut, memegangi kepala sambil menahan napas sampai rasa pening itu berangsur mereda.
"Bagas? Nama bocah ini Bagas?"
Damar mengelus dadanya, hampir saja memaki lisan. Dari ingatan baru itu, ia tahu kronologi konyol yang menimpa pemilik tubuh ini.
Si Bagas ini ternyata baru pulang main game dari warnet jam dua malam. Sampai di rumah, dia sadar kuncinya ketinggalan. Karena malas membangunkan orang rumah, dia nekad memanjat pipa besi di samping dinding vila lantai dua. Tapi apes, pas di tengah jalan, dia tak sengaja melirik ke jendela tetangga sebelah yang gordennya agak terbuka.
Di dalam, ada cewek yang lagi siap-siap mandi. Terkejut karena kaget ada yang menjerit, pegangan Bagas terlepas. Dia jatuh meluncur dari lantai dua, kepalanya terbentur batu, dan tewas seketika—tepat di saat jiwa Damar terlempar masuk mengisi raga kosong ini!
"Tunggu dulu…"
Wajah Damar langsung pucat pasi begitu teringat potongan memori terakhir Bagas: bayangan kulit seputih melati dan lekuk tubuh tanpa busana milik cewek tetangga itu.
Sebagai murid padepokan yang cerdas, Damar tahu betul… ia dalam bahaya besar!
Vila tempatnya berdiri ini adalah milik kakek Bagas. Dan persis di sebelahnya, cuma dipisahkan gang selebar dua meter, adalah vila keluarga Maheswari. Cewek yang diintip Bagas tadi adalah Bunga, kembang sekolah di SMA ternama Surabaya yang terkenal galak dan dingin.
"BAGAS! MATI KOWE YA!"
Suara jeritan melengking yang sarat amarah itu membuyarkan lamunan Damar.
Damar merinding. Begitu menoleh, ia melihat seorang gadis bergaun tidur putih—wajahnya persis seperti di ingatan Bagas—sedang berlari kencang memotong gang perumahan. Tangan halusnya menggenggam erat sebuah pisau buah stainless steel, sementara matanya menyala-nyala penuh dendam.
"Mampus, kabur!"
Damar tahu betul, jika di dalam Alam Kadewatan, gadis belia macam ini cukup ia sentuh dengan satu jentikan jurus tenaga dalam. Tapi raga Bagas ini benar-benar ringkih! Ototnya lembek, napasnya pendek, dan tak ada seujung kuku pun sisa ilmu kanuragan di dalamnya. Ditikam sekali pakai pisau buah itu, tamatlah riwayatnya!
Tanpa pikir panjang, Damar memutar badan dan melangkah seribu jurus menuju gerbang luar kompleks perumahan.
"Nggak bisa bersembunyi di area vila ini, terlalu terbuka. Harus cari tempat ramai!" batinnya.
Sementara itu, Bunga mengejarnya bagai kesetanan.
Tadi malam dia cuma ingin mandi air hangat untuk melepas lelah. Siapa sangka, saat baru saja melepas pakaian, matanya menangkap bayangan cowok tetangga tengil itu sedang nangkring di pipa air luar jendela!
Bocah mesum itu benar-benar mengintipnya mandi!
Saking paniknya, Bunga menjerit dan membuat Bagas jatuh. Tapi rasa malu dan marahnya tak bendung lagi. Hari ini, kalaupun tidak bisa menyerahkannya ke polisi, minimal dia harus memberi pelajaran berdarah pada tetangga tak tahu diri itu!
"Berhenti gak kamu, Gas! Jangan kabur!" teriak Bunga.
Mereka berdua melesat melewati pos satpam kompleks. Si satpam muda yang lagi asyik nonton TV cuma menoleh sekilas, menyengir pelan. "Halah, bocah pacaran jaman saiki bertengkar jan aneh-aneh wae," gumam si satpam tanpa niat melerai.
"Aduh… raga ini kok rempah banget, sih? Lari semene wae wis megap-megap!"
Damar terengah-engah, dadanya serasa terbakar. Namun, bagaimanapun juga, di dunianya dulu ia dijuluki 'Raja Langkah Perkasa' karena langganan lolos dari kepungan puluhan pendekar tingkat tinggi. Kalau sampai ia tertangkap dan tewas di tangan cewek belia berpisau dapur, bisa tertawa para dewa di langit!
Mengandalkan memori Bagas, Damar terus menyusuri trotoar hingga akhirnya sampai di kawasan yang penuh dengan pendar lampu neon berwarna-warni.
Jalan Mayjend Sungkono—area hiburan malam.
Suasana di sini riuh rendah. Suara musik dentum-dentum terdengar dari berbagai kelab malam dan pub. Orang-orang berseliweran dengan pakaian serba minim dan gaya nyentrik.
Damar menyelinap cepat di antara kerumunan. Ia menoleh ke belakang. Bunga masih terlihat jauh di ujung jalan, tapi cewek itu terpaksa melambatkan langkahnya dan menyembunyikan pisau buah itu di balik lipatan gaunnya agar tidak memicu kepanikan warga.
"Aneh-aneh wae… lagian si Bagas kan cuma mau manjat karena gak bawa kunci. Nggak sengaja liat kok amukannya kaya siluman banteng," gumam Damar membela diri. "Tapi… harus diakui, mulus juga sih tadi…"
Damar dengan cepat menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Ayo fokus! Ini bukan waktunya memikirkan yang tidak-tidak!"
Ia harus segera mencari tempat sepi untuk bermeditasi, mengecek apakah ada sisa energi batin di tubuh ini agar ia bisa mulai melatih kanuragannya dari nol.
Namun, baru saja Damar mau berbelok menuju area pemukiman sepi di belakang kawasan hiburan malam itu, telinganya yang tajam menangkap suara samar dari dalam sebuah gang gelap.
"Tolong… Lepasin! Ojo ditahan!"
Damar menghentikan langkahnya. Suara jeritan ketakutan itu bersumber tak jauh darinya.
"Lho? Itu kan suaranya si kembang sekolah tadi?"
Damar mengernyitkan dahi. Ia tak menyangka Bunga benar-benar nekad menyusulnya sampai ke kawasan malam semacam ini. Bagi gadis muda berkulit halus dan berparas jelita, berjalan sendirian di gang remang-remang kawasan hiburan malam Surabaya sama saja menyerahkan diri ke mulut buaya.
Niat awalnya Damar ingin cuek saja. Toh, cewek itu tadi berniat menancapkan pisau ke dadanya. Tapi memikirkan kalau Bunga sampai bernasib buruk gara-gara mengejarnya, nurani sang pendekar dalam diri Damar merasa tidak tenang.
"Duh, nambah-nambahi urusan wae…"
Sambil menghela napas panjang, Damar memutar arah langkahnya, menyelinap perlahan memasuki gang gelap yang dingin itu.
Daftar bab
68 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








