

{Pernikahan yang hancur selalu dimulai dari satu kebohongan kecil.}
Anton memutar perlahan pangkal gelas kristal di tangannya. Cairan merah marun di dalamnya bergerak mengikuti ritme putaran jemarinya.
Matanya yang tajam bak elang mengawasi dari sudut aula utama. Dia berdiri sedikit menjauh dari kerumunan, membiarkan bayangan pilar marmer menyembunyikan sosok tingginya yang dibalut jas pesanan khusus.
Lampu gantung raksasa memantulkan cahaya keemasan ke seluruh penjuru ruangan. Denting gelas dan tawa basa-basi menggema, menciptakan harmoni palsu dari sebuah pesta perayaan perusahaan yang dikemas terlalu berlebihan.
Bagi Anton, pesta seperti ini hanyalah papan catur berskala besar. Tempat di mana manusia memamerkan ilusi kebahagiaan mereka.
Dan malam ini, tatapan Anton telah terkunci pada satu bidak yang paling menarik.
Di seberang ruangan, berdiri seorang wanita dengan gaun malam berwarna gelap yang mencetak sempurna lekuk tubuh jam pasirnya. Kulit pucatnya tampak sangat kontras, memancarkan keanggunan alami yang tidak membutuhkan riasan tebal.
Devi.
Anton sudah membaca profil wanita itu berulang kali sebelum datang ke tempat ini.
Namun, ada yang salah dengan postur tubuh wanita cantik itu. Bahu Devi sedikit menurun. Tangannya bertaut gelisah di depan perut, dan senyum yang sesekali dia berikan kepada tamu yang lewat terlihat sangat dipaksakan.
Dia adalah sebuah mahakarya yang diletakkan di tempat yang salah.
Tepat di sebelah Devi, berdirilah sang suami. Riko.
Anton menyipitkan mata, menilai pria berusia tiga puluh empat tahun itu dengan tatapan merendahkan.
Postur Riko sedikit membungkuk. Kemeja di balik jasnya tampak sesak menahan perut yang mulai membuncit. Kantung mata tebal menghiasi wajah pria itu, menunjukkan kelelahan yang tidak ada hubungannya dengan kerja keras, melainkan kebiasaan buruk yang menumpuk.
Sepanjang sepuluh menit Anton mengawasi, Riko tidak sekali pun menatap wajah istrinya. Pria itu terus menunduk, sibuk mengetik sesuatu di layar ponselnya dengan kening berkerut.
{Pria bodoh. Memegang berlian di tangannya, namun sibuk mencari batu kerikil di tempat lain.}
Anton meneguk sisa anggur di gelasnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas, membentuk seringai tipis yang sangat berbahaya.
Pertunjukan sesungguhnya akan segera dimulai.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
Devi menggigit bagian dalam pipinya, berusaha mengalihkan rasa canggung yang mulai mencekik leher.
Suara musik klasik yang dimainkan secara langsung di atas panggung terasa seperti suara bising yang menyakitkan telinga. Dia tidak mengenal siapa pun di pesta perayaan perusahaan ini.
Dia hanya datang karena Riko memaksanya, berdalih bahwa membawa istri akan memberikan citra baik di depan dewan direksi.
Namun, sejak mereka melangkahkan kaki melewati pintu utama, Riko seolah melupakan keberadaannya.
"Mas, bisakah kita duduk di meja sebelah sana?"
Devi mencoba bersuara. Tangan putihnya terulur, menyentuh pelan lengan jas suaminya. "Kakiku mulai sakit karena terus berdiri."
Riko tidak menoleh. Jari pria itu masih menari cepat di atas layar ponsel.
"Tunggu sebentar. Aku sedang membalas pesan dari klien penting."
"Tapi kita sudah berdiri di sini hampir setengah jam," balas Devi dengan nada memohon yang sangat pelan. Dia tidak ingin menarik perhatian orang lain.
Barulah saat itu Riko mengangkat wajah. Tatapannya dipenuhi kilatan rasa terganggu. Kantung matanya yang menghitam membuat ekspresi pria itu terlihat semakin keras.
"Bisa tidak kamu bersabar sedikit, Devi? Kamu pikir aku di sini untuk bersenang-senang? Aku sedang bekerja!" desis Riko tertahan.
Devi menelan ludah. "Aku tahu, Mas. Tapi setidaknya temani aku mengambil minuman, atau perkenalkan aku pada—"
"Jangan bersikap manja," potong Riko cepat. Pria itu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dengan gerakan kasar. "Kamu wanita dewasa, pergilah ambil minumanmu sendiri. Jangan membuatku terlihat seperti pengasuh anak di depan rekan kerjaku."
Riko merapikan kerah jasnya yang sedikit miring, lalu menatap lurus ke arah sekelompok pria berkemeja rapi di dekat meja prasmanan.
"Direktur keuangan ada di sana. Aku harus bicara dengannya. Jangan mengikutiku dan jangan membuat kekacauan."
Tanpa menunggu jawaban Devi, Riko membalikkan badan dan melangkah pergi, meninggalkan istrinya berdiri sendirian di tengah lautan manusia yang tidak dia kenal.
Devi menatap punggung suaminya yang perlahan menjauh dan menghilang ditelan kerumunan.
{Selalu seperti ini. Aku selalu menjadi pajangan yang ditinggalkan saat dia sudah tidak membutuhkannya.}
Rasa sesak menjalar di dada Devi. Dia menundukkan kepala, menatap ujung sepatu hak tingginya yang terasa semakin menyiksa.
Kesepian ini bukan hal baru. Sudah berbulan-bulan Riko bersikap dingin dan tidak acuh. Sentuhan pria itu menghilang, digantikan oleh bentakan dan keluhan tentang betapa lelahnya dia bekerja.
Devi berusaha menjadi istri yang baik. Dia merawat rumah, merawat putri mereka, memastikan semua kebutuhan Riko terpenuhi. Namun, yang dia dapatkan hanyalah punggung yang berbalik menjauh.
Wanita itu menarik napas panjang, berusaha menahan genangan air mata yang mengancam akan jatuh. Dia tidak boleh menangis di sini.
Devi mengangkat wajahnya, memaksakan sebuah senyum palsu, dan bersiap melangkah menuju meja minuman.
Namun, sebelum dia sempat memutar tubuhnya, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu di hadapannya.
❖ ── ✦ ── 『✙』 ── ✦ ── ❖
"Pesta yang terlalu bising untuk wanita seanggun dirimu."
Suara bariton yang berat dan tenang itu menghentikan langkah Devi.
Dia mendongak, dan napasnya tertahan selama sekian detik.
Seorang pria asing berdiri tepat di hadapannya. Jarak mereka cukup dekat, namun tidak sampai melanggar batas kesopanan.
Pria itu memiliki rahang tegas yang tercetak sempurna. Jas pesanan khusus yang membalut tubuh atletisnya terlihat sangat mahal, memancarkan dominasi yang membuat siapa pun di sekitarnya akan merasa terintimidasi.
Namun, yang paling mengunci perhatian Devi adalah sepasang mata elang pria itu. Tajam, gelap, dan seolah mampu menguliti segala rahasia yang disembunyikan Devi di balik senyum palsunya.
Pria itu tersenyum tipis. Tangan kanannya terulur, menyodorkan sebuah gelas kristal berisi cairan merah terang.
"Anggur merah. Aku perhatikan kau belum memegang gelas apa pun sejak tadi."
Devi mengerjap, sedikit terkejut dengan perhatian tiba-tiba ini. "Oh... terima kasih."
Tangan Devi terulur ragu. Saat jemarinya mengambil alih gelas tersebut, kulitnya tidak sengaja bersentuhan dengan ruas jari pria itu.
Sebuah sengatan panas menjalari tangan Devi, membuatnya segera menarik tangannya kembali setelah gelas itu berpindah.
"Aku Anton," ucap pria itu, memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan untuk berjabat. Sebuah langkah yang sangat diperhitungkan agar Devi tidak merasa diinvasi terlalu cepat.
"Devi," balasnya pelan. "Suamiku... dia bekerja di perusahaan ini."
Anton mengangguk pelan. Ekspresinya tetap tenang, seolah dia sudah tahu segalanya.
"Begitu rupanya. Aku tidak sengaja melihat perdebatan kecil kalian tadi."
Wajah Devi langsung merona merah karena malu. Dia menundukkan pandangan, menatap pantulan dirinya di permukaan anggur.
"Itu... bukan perdebatan. Suamiku hanya sedang sangat sibuk. Banyak urusan pekerjaan yang harus dia selesaikan." Devi secara refleks mengucapkan naskah pembelaan yang sudah sering dia gunakan.
Anton tertawa pelan. Bukan tawa yang merendahkan, melainkan tawa yang terdengar sangat memaklumi.
"Kesibukan adalah alasan paling klise yang diciptakan pria untuk menutupi ketidakmampuannya menghargai apa yang dia miliki," ucap Anton dengan nada santai, namun setiap kata-katanya menghantam ulu hati Devi.
Devi mengangkat wajahnya dengan cepat. "Maaf?"
Mata gelap Anton menatap lurus ke dalam manik mata Devi. Tidak ada keraguan di sana. Hanya ada keyakinan mutlak yang membuat Devi merasa telanjang.
"Jika aku memiliki istri secantik dan seanggun dirimu, Devi, aku tidak akan membiarkanmu berdiri sendirian sedetik pun di ruangan yang penuh dengan predator ini."
Kalimat itu meluncur begitu mulus. Tidak terdengar seperti rayuan murahan, melainkan sebuah fakta absolut yang diucapkan oleh seorang pria yang tahu persis apa yang dia bicarakan.
Jantung Devi berdetak satu ketukan lebih cepat.
{Kapan terakhir kali Riko memujiku seperti itu? Kapan terakhir kali ada pria yang menatapku seolah aku adalah satu-satunya wanita di ruangan ini?}
Devi mencoba mencari kata-kata untuk membalas, namun tenggorokannya terasa kering. Validasi yang tiba-tiba ini menghancurkan sebagian dinding pertahanan yang dia bangun bertahun-tahun.
"Anda... terlalu berlebihan, Tuan Anton," balas Devi akhirnya, mencoba terdengar formal meski suaranya sedikit bergetar.
"Aku hanya menyatakan apa yang kulihat." Anton mundur setengah langkah, memberikan kembali ruang bernapas untuk wanita itu.
Insting predator Anton mengatakan bahwa ini adalah batas maksimal untuk pertemuan pertama. Jika dia menekan lebih jauh, mangsanya akan ketakutan dan lari. Dia harus menarik benangnya perlahan.
Anton merogoh saku bagian dalam jasnya, mengeluarkan sebuah kartu nama hitam pekat dengan cetakan huruf emas yang sangat minimalis.
Dia menyodorkan kartu itu ke hadapan Devi.
"Aku tidak bermaksud mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi terkadang, seseorang butuh teman bicara yang tidak terikat dengan kehidupannya sehari-hari."
Devi menatap kartu hitam itu. Logikanya berteriak keras menyuruhnya untuk menolak. Menerima kartu nama dari pria asing di belakang suaminya adalah sebuah kesalahan besar.
Namun, rasa sepi yang menggigit tulangnya mengalahkan logika itu.
Tangan putih Devi perlahan terulur. Ujung jemarinya sedikit gemetar saat dia menjepit kartu nama tersebut dan menariknya dari tangan Anton.
Anton tersenyum tipis. Senyum yang tidak disadari Devi sebagai tanda kemenangannya.
"Nikmati anggurmu, Devi. Kuharap sisa malam ini tidak terlalu menyiksamu."
Pria tinggi itu memberikan sedikit anggukan sopan, lalu membalikkan badan dan melangkah pergi, membelah kerumunan dengan karismanya yang tak terbantahkan.
Devi berdiri mematung di tempatnya. Gelas anggur di tangan kirinya, dan kartu nama hitam di tangan kanannya.
Dia menunduk, membaca sederet nama dan nomor telepon yang tercetak dengan tinta emas di atas kertas tebal tersebut.
Tangan Devi masih gemetar, namun untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir, wanita itu merasa dirinya hidup kembali.
{Pernikahan yang hancur selalu dimulai dari satu kebohongan kecil.}