
BENJAMIN si JURAGAN BUAH
MaxySkay|Bersambung
- Jumlah kata
- 65.2K
- Popular
- 900
- Subscribe
- 183
- Jumlah kata
- 65.2K
- Popular
- 900
- Subscribe
- 183
Sinopsis
⚠️ KHUSUS DEWASA 21+ ⚠️ Mohon bijak dalam memilih bacaan. Isi cerita hanya untuk pembaca yang sudah berusia 21 tahun ke atas.
Ulasan
4 ulasan
Ma Xy
2 hari yang lalu
Benjamin fans club... hihihi.. Parjo yg konyol.. hahaa. lanjutkan kakaaaaa .. like this.. buah yang manis biasanya yang besar dan bisa mantul mantul 😂😂😂
Ma Xy
2 hari yang lalu
seruuuu... buah buahanya banyak hahahaha.. Benjamin oh Benjamin.... keris Semar kuncung ahahahah 🤭🤭🤭🫣🫣
Episode 1
Langkah Benjamin berhenti di teras kayu yang berderit pelan. Amplop tebal di tangannya terasa berat—bukan hanya karena isinya, tapi karena nama yang tertulis di depannya: Sari.
Ia menelan ludah. Udara pagi lembap, memeluk tubuhnya yang hangat setelah berjalan jauh. Kemeja batiknya menempel di punggung, kancing teratas terbuka lebar.
Ia mengetuk pintu tiga kali. Suara tegas, berat, milik lelaki yang biasa dituruti.
“Sari? Ini Ben. Mau menyerahkan bayaran semangka.”
Hening.
Hanya suara air yang mengalir dari arah samping rumah—jernih, lembut, berirama tenang.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Ia melangkah turun dari teras, mengelilingi dinding rumah yang terbuat dari papan kayu tua. Celah-celah kecil membiarkan cahaya matahari masuk, dan suara air makin jelas, makin dekat.
Di sudut bangunan itu, pintu kamar mandi sedikit terbuka. Sinar emas menyelinap keluar.
Benjamin berhenti. Naluri lelakinya bangkit, menarik pandangannya sekuat tenaga ke celah itu.
Di sana, di balik kabut uap tipis, Sari berdiri membelakanginya.
Air mengalir turun membasahi kulitnya yang halus, menelusuri punggungnya yang lentik, membelok di pinggang yang ramping, jatuh ke betis yang jenjang. Rambutnya terurai panjang, basah, menempel di bahu, memantulkan cahaya seperti benang hitam berkilau.
Napas Benjamin tertahan di tenggorokan. Darahnya mendidih seketika, panas merambat dari dada ke seluruh ujung saraf. Ia tahu ia seharusnya pergi. Ia tahu ini salah. Tapi kakinya tak mau bergerak. Matanya tak sanggup berpaling.
Sari memutar tubuh perlahan. Wajahnya basah, bibirnya merah, matanya terpejam menikmati sejuknya air. Terlihat dua buah semangka yang terlihat begitu indah beradu dengan tetesan air yang begitu menyegarkan.
Jantung Benjamin berdegup kencang, berisik, seakan bisa didengar perempuan itu.
Ia mundur selangkah, menabrak dahan pohon pisang. Daun bergemerisik keras.
Sari tersentak. Matanya terbuka lebar, menatap lurus ke arah celah pintu itu.
“Siapa di sana?” suaranya bergetar, campuran kaget dan malu.
Benjamin menelan ludah, wajahnya memerah bukan karena panas matahari. Ia baru saja tertangkap basah mengintip perempuan yang ia kenal baik—janda yang mandiri, yang mengurus sawah sendirian, yang tak pernah mengeluh meski hidup berat.
Ia tak bisa kabur. Tak bisa pura-pura tak tahu.
“Maaf, Sari,” suaranya serak, berat, bergetar. “Aku tak bermaksud… pintunya terbuka sendiri.”
Dari balik papan kayu, terdengar suara kain disapu cepat ke tubuh. Keributan halus, napas yang terengah.
“Juragan Ben?” nada Sari masih gemetar, campuran tak percaya dan malu mendalam. “Kau… sejak kapan ada di sana?”
Benjamin mengeratkan genggamannya pada amplop itu, kertasnya terasa terlipat di telapak tangannya yang berkeringat.
“Sejak sebentar tadi. Aku mengetuk pintu depan, tak ada jawaban. Lalu aku… lewat sini.” Ia berhenti, menelan rasa bersalah yang menyesakkan. “Maafkan aku. Aku seharusnya tak melihat.”
Sari diam saja. Hanya suara napasnya yang terdengar, naik turun tak beraturan.
“Kau mau apa?” tanyanya akhirnya, pelan namun tegas.
“Bayaran semangka. Semua yang kupetik kemarin—satu hektar penuh.” Ia mengangkat amplop sedikit, meski perempuan itu tak bisa melihatnya. “Uangnya di sini. Lebih dari yang kita sepakati. Panennya melimpah.”
Tak ada jawaban segera. Benjamin membayangkan wajah Sari yang merah padam, tangan-tangannya yang meremas ujung kain penutup tubuh.
“Serahkan saja di bawah jendela depan,” ucapnya akhirnya. “Aku… aku akan ambil nanti.”
Ia mengangguk pelan meski tak ada yang melihat. Langkahnya berat meninggalkan tempat itu, seakan tanah menarik kakinya tetap di sana.
Di balik pintu kayu itu, Sari menempelkan punggungnya ke dinding, jantungnya berpacu gila. Ia mengenali suara itu—rendah, berwibawa, selalu membuatnya merinding setiap kali berbicara. Tapi kali ini beda. Ada getaran lain di sana. Ada keinginan yang tak disembunyikan sepenuhnya.
Ia menyentuh pipinya yang terasa terbakar. Ia tahu ia seharusnya marah. Ia seharusnya berteriak, menyuruhnya pergi dan tak pernah kembali. Tapi anehnya, tak ada amarah yang muncul. Hanya debaran yang tak biasa.
Benjamin berdiri di depan jendela depan, meletakkan amplop itu di ambang kayu, tapi tak langsung pergi. Ia menatap pintu utama yang tertutup rapat, pikirannya masih tertahan di pemandangan yang baru saja ia lihat—kulit Sari yang berkilauan terkena air, lekuk tubuhnya yang lembut, rambutnya yang jatuh indah.
Ia menggeleng, mencoba mengusir bayangan itu. Ia Juragan Ben, lelaki yang dihormati di desa ini. Tak pantas berperilaku seperti pemuda tak bertanggung jawab.
Namun pintu terbuka.
Sari berdiri di sana, berpakaian kebaya sederhana berwarna krem, rambutnya dikuncir rapi meski beberapa helai masih lepas basah. Wajahnya tenang, tapi matanya—mata itu menyimpan sesuatu, bercampur antara malu dan tantangan yang samar.
Ia melangkah maju, mengambil amplop itu dari tangan Benjamin yang terulur. Jari-jarinya menyentuh jari lelaki itu sekilas. Sentuhan itu hangat, listrik seketika menjalar ke lengan keduanya.
“Terima kasih,” ucapnya pelan, menunduk menyembunyikan wajah.
Benjamin tak menarik tangannya. Ia menatap wajah itu lekat-lekat, bibirnya terbuka ingin berkata sesuatu, tapi kata-kata tertahan di tenggorokan.
“Kau marah?” tanyanya akhirnya, jujur dan rendah.
Sari mengangkat wajah perlahan. Matanya bertemu dengan mata lelaki itu.
“Haruskah aku?” suaranya lembut namun menusuk tepat ke jantung. “Kau melihatku, Ben. Melihatku seutuhnya.”
Ia terdiam, menelan ludah. “Aku tahu. Dan aku malu. Bukan karena melihatmu—tapi karena tak bisa berhenti melihatmu.”
Darah merona di pipi Sari. Ia menatapnya lama, mencari kebohongan di sana, tapi tak menemukannya. Hanya kejujuran yang telanjang, sama telanjangnya seperti dirinya tadi di kamar mandi.
“Kau lelaki beristri?” tanyanya tiba-tiba, tajam.
Benjamin menggeleng tegas. “Belum. Dan tak pernah ada yang mengikatku.”
“Lalu kenapa kau melakukan ini?” Ia memeluk amplop itu di dada, seakan perisai. “Aku cuma janda biasa. Tak ada yang istimewa.”
Benjamin melangkah satu langkah mendekat sambil menunduk karena merasa bersalah, ujung rambutnya sedikit menyentuh tangan Sari. Sari tak mundur. Ia menatapnya tegak, meski napasnya tercekat.
“Kau salah,” ucapnya pelan, namun tegas. “Kau bukan sekadar biasa. Kau memelihara tanah ini sendirian, menumbuhkan manisnya buah yang tak bisa dibeli dengan uang. Dan tadi… tadi kau terlihat seperti surga yang tak pernah kucapai.”
Sari terdiam, bibirnya sedikit terbuka. Ia tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut lelaki seperti dia. Entah kenapa tiba-tiba hatinya terasa hangat. Seperti ada sesuatu yang menyusup perlahan dihatinya—juragan yang bisa memiliki siapa saja.
“Kau bicara manis,” bisiknya, tapi suaranya tak lagi menantang.
“Tak manis. Hanya benar.” Ia menatap bibir perempuan itu sekilas, lalu kembali ke matanya. “Aku akan pergi sekarang. Tak akan mengganggumu lagi.”
Ia berbalik, melangkah pergi perlahan, seakan menahan diri agar tak berbalik kembali.
Sari menatap punggungnya yang lebar, yang menjauh perlahan. Di tangannya, amplop itu terasa panas. Ia tahu ia seharusnya lega. Ia tahu ini yang benar. Tapi kakinya bergerak sendiri.
“Ben!” serunya.
Langkah lelaki itu terhenti. Ia berbalik perlahan.
Sari berdiri di ambang pintu, menatapnya dengan napas tertahan.
“Kau… kau akan datang lagi?” tanyanya, suara hampir hilang di embusan angin pagi.
Benjamin menatapnya lama, matanya gelap, dalam, penuh dengan sesuatu yang baru saja tumbuh dan tak mudah dipadamkan.
“Jika kau mengizinkan,” jawabnya pelan. “Aku akan datang lagi.”
Ia menunggu. Sari menggigit bibir bawahnya, lalu mengangguk pelan.
“Datanglah besok. Saat siang. Saat aku… saat aku sudah siap menyambutmu dengan layak.”
Senyum tipis muncul di bibir Benjamin—senyum yang menjanjikan banyak hal.
“Baik. Besok siang.”
Ia melangkah pergi, perlahan, menuju jalan setapak yang berdebu. Sari tetap berdiri di pintu sampai sosok itu hilang di balik rimbunnya kebun pisang.
Di kamarnya nanti, ia akan duduk diam di tepi tempat tidur, menyentuh bibirnya seakan masih terasa kehadiran lelaki itu, dan menyadari satu hal yang menakutkan: ia tak lagi ingin Benjamin pergi. Ia ingin dia tetap di sini, di dekatnya, bahkan jika itu berarti membuka pintu yang seharusnya tetap tertutup rapat.
Dan di sisi lain hutan, Benjamin berjalan dengan jantung yang masih berpacu, menyadari hal yang sama. Ia tak datang hanya untuk membayar semangka. Ia kembali karena sesuatu yang jauh lebih manis, jauh lebih berbahaya, dan jauh lebih mustahil untuk dilepaskan.
Daftar bab
51 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








