Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sentuhan Panas Kuli Panggul

Sentuhan Panas Kuli Panggul

arinda | Bersambung
Jumlah kata
25.7K
Popular
208
Subscribe
63
Novel / Sentuhan Panas Kuli Panggul
Sentuhan Panas Kuli Panggul

Sentuhan Panas Kuli Panggul

arinda| Bersambung
Jumlah Kata
25.7K
Popular
208
Subscribe
63
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifePria MiskinAnak Yatim PiatuHarem
Namaku Junaedi, tapi semua orang memanggilku Juned. Aku cuma pemuda kampung yang merantau ke Jakarta setelah nenekku meninggal. Dari kuli panggul di pasar, kenek, sampai akhirnya menjadi sopir, aku menjalani semuanya dengan satu tujuan: mengubah nasib. Tapi ternyata, bukan cuma hidupku yang berubah. Tubuhku yang terbentuk karena bertahun-tahun mengangkat barang membuat banyak wanita mulai memperhatikanku. Dari ibu-ibu pedagang sampai para janda di sekitar pasar, selalu saja ada yang mencari alasan untuk mendekat. Awalnya aku menganggap semua itu cuma candaan. Sampai aku sadar, semakin aku dikenal, semakin banyak wanita yang ingin mendapatkan perhatianku. Dan aku, Juned, tidak pernah menyangka kalau pesonaku justru akan membawaku ke dalam hubungan-hubungan yang jauh lebih rumit daripada sekadar pekerjaan di pasar.
Bab 1: Lelaki Pematang Sawah

Kaos oblong hitamku yang sudah tipis dan bolong-bolong kecil di bagian bahu terasa makin lengket di kulit. Keringat bercucuran deras dari dahi, menetes melewati alis, lalu jatuh ke tanah kering yang aku pijak. Matahari terik jam dua siang seperti persis di atas kepala, membakar tengkukku tanpa ampun.

"Satu... dua... angkat, Ned!" seru Kang Dudung dari ujung kayu.

Urat-urat di tanganku menegang keras. Aku mengambil napas dalam-dalam, menancapkan kedua kakiku yang cuma dibalut sandal jepit swallow tipis ke tanah, lalu mengerahkan seluruh tenaga untuk mengangkat gelondongan kayu jati berdiameter setengah meter itu ke bahu keduaku.

Gubrak!

Suara kayu beradu dengan papan bak truk tua meraung keras. Aku mengusap Keringat di dahi menggunakan lengan kaos, bernapas terengah-engah. Dada dan otot lenganku yang terbentuk alami karena saban hari mikul beban berat rasanya mau pecah.

"Gila kamu, Ned. Kayu sebesar itu kamu panggul sendirian cuma sekali ayun," celetuk Kang Dudung sambil menyodorkan teko seng berisi air putih dingin. "Pantesan ibu-ibu di RT 03 kalau kamu lewat pada teriak teriak. Badanku yang sudah kaya karung beras gini kalah jauh."

Aku cuma terkekeuh pelan, menerima teko itu dan meminumnya sampai tersisa separuh. "Biasa aja, Kang. Kalau nggak begini, mana bisa bikin dapur ngebul?"

"Bukan cuma dapur ngebul, Ned. Mata gadis-gadis kampung ini juga ngebul sama kamu," balas Kang Dudung sambil terkekeh bangga. "Tuh, liat di bawah pohon mangga."

Aku melirik sebentar ke arah pinggir jalan desa. Beberapa ibu-ibu dan anak gadis desa yang habis pulang dari sawah memang kelihatan berhenti sebentar, pura-pura kipas-kipas pakai topi caping sambil mencuri pandang ke arahku. Pas mataku bertemu pandang dengan mereka, beberapa dari mereka langsung salah tingkah dan saling bisik sambil tertawa kecil.

Aku mengalihkan pandangan, merasa risih tapi sudah terbiasa. Ketampanan atau badan tegap yang sering mereka bicarakan itu nggak ada harganya kalau aku nggak punya uang buat makan esok hari.

Selesai membongkar sisa kayu, aku menerima tiga lembar uang dua puluh ribuan yang agak lecek dari juragan kayu. Lumayan, enam puluh ribu rupiah untuk peluh seharian ini. Aku melangkah pulang melintasi jalan setapak desa, bermaksud mengganti bajuku yang sudah basah kuyup.

Langkahku terhenti begitu sampai di depan rumah panggung sederhanaku. Dari luar, terdengar suara batuk yang sangat berat dan menyiksa.

"Tenggorokannya makin sakit ya, Nek?" tanyaku penuh khawatir begitu melangkah masuk ke dapur.

Nenek Sarmi cepat-cepat menarik ujung kain sarung lusuhnya, menyapu bibirnya yang gemetar sebelum berbalik menatapku. Beliau tersenyum kecil, memamerkan sisanya beberapa gigi yang masih bertahan.

"Nggak apa-apa ned , gara gara asap kayu bakar tadi pas Nenek lagi rebus air," jawab Nenek pelan. tangannya yang keriput mengusap lenganku yang masih hangat bekas kerja. "Kamu sudah makan?"

"Belum, Nek. Nanti juned cari lauk dulu," kataku sambil menatap curiga ke arah tangan Nenek yang digenggam erat di balik kain sarung. Ada noda kemerahan yang samar-samar terlihat di lipatan sarung tua itu. "Nek, coba liat tangannya."

"Ah, kamu ini! Nenek nggak apa-apa, Ned. Udah sana mandi, kamu baunya udah kaya kambing kena ujan!" sergah Nenek cepat sambil menyembunyikan tangannya lebih dalam ke balik lipatan sarungnya dan berjalan tergesa menuju bilik kamar.

Aku cuma bisa menghela napas panjang. Aku tahu Nenek menyembunyikan sesuatu dariku. Sudah seminggu ini Nenek selalu mengelak tiap kali aku ajak ke mantri desa. Nenek takut biaya, padahal bagiku, keselamatan Nenek adalah segalanya.

Matahari mulai condong ke barat, mengubah warna langit menjadi keemasan. Setelah mandi dan memakai kemeja kotak-kotak lusuh yang paling mendingan, aku berjalan pelan menuju area pematang sawah di ujung desa.

Di sana, di balik saung tua yang tertutup rimbunnya pohon bambu dan tumpukan jerami, seorang gadis dengan terusan bunga-bunga kecil sudah duduk menungguku. Wajahnya bersih, kulitnya kuning langsat, dan matanya selalu berbinar tiap kali melihatku.

Mila. Anak tunggal Pak Sobri, Kepala Desa kami.

"Ned! Kok lama banget sih?" rengek Mila begitu aku memanjat naik ke atas saung. Suaranya halus tapi penuh nada cemas.

"Maaf, Mil. Tadi bantu bongkar kayu dulu sama Kang Dudung," jawabku sambil duduk di sudut saung, menjaga jarak beberapa jengkal agar tak terlalu dekat dengannya. "Kamu nggak dicariin bapak?"

"Bapak lagi ada rapat di balai desa sama orang-orang kota. Paling baru pulang agak malam," kata Mila. Dia mendekatiku, lalu tanpa ragu meraih tanganku. Jemarinya yang halus mengusap telapak tanganku yang kapalan keras. "Tangan kamu kasar banget hari ini, Ned... Pasti berat ya kerjaannya?"

Aku menarik tanganku pelan, merasa tidak enak. "Namanya juga kuli, Mil. Nggak kaya calon suami yang dijodohin bapakmu."

Mila merengut, matanya mulai berkaca-kaca menatapku. "Kamu ngomong apa sih, Ned? Kan aku udah bilang berkali-kali, aku cuma mau sama kamu. Nggak peduli kamu kuli, nggak peduli kamu nggak punya apa-apa."

"Tapi bapak kamu peduli, Mil," kataku lirih sambil menatap lurus ke arah hamparan padi yang menguning. "Pak Kades mana mau punya menantu yang cuma sanggup kasih makan dari hasil panggul kayu? Aku sadar diri."

"Tapi aku cinta sama kamu, Ned!" tegasknya setengah berbisik, menahan tangis. Mila nekad memegang kedua pipiku, memaksaku menatap matanya secara langsung. "Tubuh kamu gagah, kamu rajin, kamu jujur. Kamu cuma belum dapat kesempatan aja. Suatu saat kamu pasti bisa sukses, Ned. Aku yakin itu."

Tatapan matanya begitu tulus hingga dadaku terasa sesak. Perempuan senikmat dan secantik ini mencintaiku dengan sangat sederhana, tapi benteng di antara kami begitu tinggi untuk aku panjat saat ini. Aku memegang tangannya yang ada di pipiku, mengecup jemarinya dengan penuh rasa sayang.

"Sabar ya, Mil. Kasih aku waktu buat ngumpulin modal. Kalau uangku udah cukup, aku baru berani ketemu bapakmu," janji ku.

Mila tersenyum manis, air matanya menetes satu titik lalu ia usap dengan cepat. Ia menyenderkan kepalanya di bahuku yang lebar. Aroma harum dari rambutnya bertabrakan dengan bau tanah dan padi di sekitar kami, menciptakan momen paling damai yang pernah kurasakan sepanjang hari ini.

Namun, kedamaian itu tak bertahan lama.

Puk... Puk... Puk...

Suara derap langkah kaki dengan sepatu boot kulit yang berat mendadak menginjak tanah kering di bawah saung. Suaranya makin lama makin jelas dan mendekat dari arah jalan setapak.

"Siapa di atas saung jam segini?!"

Suara berat, berat, dan sangat akrab itu menggelegar dari balik semak bambu. Itu suara Pak Kades.

Seketika itu juga, tubuh Mila gemetar hebat. Wajahnya langsung pucat pasi, matanya membelalak menatapku dengan ketakutan luar biasa.

"Ned... Bapak..." bisik Mila dengan suara hampir tak terdengar, memegang erat bajuku.

Lanjut membaca
Lanjut membaca