
Tanteku Jadi Pemandu Hasratku Menuju Kedewasaan
RyanJo|Bersambung
- Jumlah kata
- 98.8K
- Popular
- 812
- Subscribe
- 203
- Jumlah kata
- 98.8K
- Popular
- 812
- Subscribe
- 203
Sinopsis
Sejak rumahnya mendadak sepi ditinggal dinas orang tua, malam-malam Raka (20) tak pernah lagi sunyi dari aroma bunga sedap malam milik Tante Maya (29), tetangga anggun yang hobi menguji ketahanan batin sang pemuda bujang dalam balutan daster sutra tipis. Namun di saat sentuhan nakal sang wanita dewasa perlahan menuntunnya menanggalkan kepolosan masa muda, rengekan cemburu sang sahabat masa kecil justru datang mengunci tubuhnya dalam pelukan yang menuntut kepastian. Sanggupkah Raka mempertahankan akal sehatnya saat bisikan napas hangat di balik daun pintu mulai menagih pembuktian dirinya sebagai pria sejati?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 - Ketukan Pintu dan Aroma Bunga Sedap Malam
BAB 1: Ketukan Pintu dan Aroma Bunga Sedap Malam
Pukul tujuh pagi di Perumahan Cempaka Residence selalu menyuguhkan ketenangan yang menyejukkan hati bagi siapa saja yang mendiaminya. Udara sejuk sisa embun subuh berembus perlahan melalui celah jendela kaca kamar Raka Adinata di lantai dua, membawa kesegaran dedaunan basah dari pepohonan rindang di sepanjang jalan kompleks.
Pemuda berusia dua puluh tahun itu baru saja selesai mengenakan kaus oblong abu-abu tipis dan celana jins santai setelah mandi pagi. Di hadapan cermin lemari jati tua peninggalan keluarga, Raka berdiri membisu seraya menatap pantulan dirinya yang perlahan mengalami perubahan fisik yang nyata.
Garis rahangnya yang dulu tampak bulat kini terlihat semakin tegas, kokoh, dan mulai menanggalkan sisa-sisa kesan remaja tanggung masa sekolah. Kedua pundaknya tampak jauh lebih bidang, mempertegas postur tubuh atletis yang tengah melangkah mantap menuju fase kedewasaan fisik seorang pria sejati.
Namun, binar manik mata hitam pemuda itu masih sering kali berkedip ragu di balik tatapannya yang teduh. Di balik pertumbuhan fisiknya yang pesat, batin Raka sering kali merasa belum sepenuhnya siap menyandang predikat sebagai pria dewasa yang mandiri.
Raka kerap terjebak dalam pusaran pikirannya sendiri, menimbang setiap hal remeh dengan kecemasan berlebih yang sering membuatnya salah tingkah di depan orang banyak. Rasa canggung itu kian terasa pekat karena sejak dua minggu lalu, kedua orang tuanya harus bertolak ke luar kota untuk menjalankan tugas dinas panjang selama beberapa bulan.
Rumah bertingkat dua bercat putih gading itu mendadak terasa begitu luas, sepi, dan teramat sunyi bagi seorang pemuda yang terbiasa hidup dalam kehangatan keluarga. Kesunyian yang membungkam seisi ruangan kerap membuat langkah kaki Raka terasa asing di atas lantai rumahnya sendiri.
Lamunan panjang Raka seketika buyar saat suara ketukan berirama lembut terdengar mengetuk daun pintu depan di lantai bawah. Ketukan itu terdengar tiga kali dengan jeda tempo yang sangat teratur, anggun, dan memiliki ketukan khas yang sudah sangat ia kenal di luar kepala.
"Raka? Kamu sudah bangun, Sayang?"
Suara panggilan itu mengalun begitu merdu menembus ventilasi kayu ruang depan, merambat perlahan menaiki anak tangga dan menyusup masuk ke kamar tidur Raka. Nada bicaranya terdengar sangat renyah, matang, dan memiliki getaran kehangatan feminin yang seketika membuat rongga dada pemuda itu berdegup kencang.
Pemilik suara merdu itu adalah Maya, seorang wanita berusia dua puluh sembilan tahun yang tinggal tepat di rumah sebelah kanan kediaman keluarga Raka. Sejak keberangkatan kedua orang tua pemuda itu ke luar kota, Maya secara sukarela mengambil peran sebagai sosok pengawas yang memastikan Raka tidak terbengkalai sendirian.
Raka segera meletakkan sisir rambutnya ke atas meja rias dengan gerakan tangan yang mendadak sedikit gemetar. Langkah kakinya bergegas menuruni anak tangga kayu satu demi satu, sembari tangannya berusaha merapikan bagian depan kaus oblongnya yang sedikit kusut.
Telapak tangan pemuda itu terasa dingin dan mengeluarkan butiran keringat tipis saat jemarinya mulai menyentuh gagang kunci kuningan pintu depan. Tenggorokannya mendadak terasa tercekat kering, sebuah reaksi fisik spontan yang selalu gagal ia kendalikan setiap kali harus bertatap muka dengan sang tetangga.
Klek.
Engsel besi berderit halus saat daun pintu ditarik terbuka perlahan ke arah dalam ruangan. Pemandangan yang tersaji di atas teras depan seketika merampas seluruh pasokan udara di paru-paru Raka, membuatnya mematung kaku di ambang pintu bagai patung pahatan.
Maya berdiri tepat di atas lantai ubin teras putih yang bersih, menyunggingkan senyuman manis nan anggun menyambut terpaan hangat cahaya matahari pagi. Kilau keemasan fajar membiaskan cahaya lembut di sepanjang permukaan kulit bahunya yang seputih porselen, memancarkan pesona wanita matang yang berada di puncak keemasannya.
Pagi ini Maya mengenakan busana terusan daster sutra modis selutut berwarna merah marun gelap dengan potongan leher rendah berenda tipis. Potongan busana rumahan yang pas di tubuh itu memperlihatkan lekuk dada yang padat berisi, garis leher jenjang, serta bentangan tulang selangka yang teramat memikat.
Rambut hitamnya yang ikal tebal sengaja digulung agak longgar ke belakang leher, menyisakan beberapa helai anak rambut basah yang menjuntai di dekat tulang pundaknya. Aroma pekat parfum bunga sedap malam bercampur keharuman sabun mandi mewah seketika menguar kuat menyapu indra penciuman Raka, menaklukkan saraf kesadarannya tanpa ampun.
"Selamat pagi, anak bujang pemalas yang baru bangun," sapa Maya seraya mengerlingkan sepasang matanya yang lentik alami.
Sudut bibirnya yang merekah segar tanpa polesan gincu tebal terangkat membentuk lengkungan senyum mematikan yang sanggup meremukkan logika pria mana pun. Di kedua belah tangannya yang mulus terawat, Maya menenteng sebuah rantang anyaman bambu kecil bertutup kain serbet bersih yang masih mengepulkan uap hangat.
"Pagi, Tante Maya," jawab Raka dengan nada suara yang tertahan di tenggorokan, terdengar serak dan sedikit bergetar.
Raka berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan pandangan matanya agar tetap terpaku pada manik mata sang wanita. Namun, lekuk siluet tubuh Maya yang matang, ramping, dan sintal di balik balutan kain sutra tipis itu terlalu nyata untuk diabaikan oleh naluri darah mudanya.
"Tante lagi, Tante lagi yang keluar dari mulutmu," cibir Maya dengan nada manja seraya melangkah maju satu tapak melewati batas ambang pintu teras.
Jarak di antara kedua tubuh mereka menyusut secara drastis, menyisakan ruang pembatas kurang dari setengah depa tangan. Raka seketika dapat merasakan radiasi hawa hangat yang memancar nyata dari tubuh wanita matang yang berdiri begitu dekat di hadapannya.
Maya mendongakkan kepalanya sedikit untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitam Raka yang bergerak liar menahan gugup. Tatapan sepasang mata lentik itu terasa begitu teduh, namun memancarkan kilatan misterius yang seolah mampu membaca seluruh gejolak rasa di dalam dada pemuda di hadapannya.
"Kapan kamu mau belajar panggil Mbak Maya seperti yang Mbak minta tempo hari, heh?" bisik Maya dengan intonasi suara yang sengaja direndahkan.
Hembusan napas hangat sang wanita beraroma manis daun mint menyapu lembut permukaan dagu dan jakun Raka, memicu getaran sensasi meremang yang menjalar cepat ke seluruh sumsum tulang belakangnya. Secara refleks, Raka memundurkan langkah kakinya setengah tapak ke belakang demi menenangkan gemuruh debar jantungnya yang kian tak terkendali.
"Kebiasaan dari waktu kecil susah diubah, Tan... maksud saya, Mbak Maya," sahut Raka terbata-bata seraya menggaruk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal.
Melihat tingkah canggung dan kepolosan pemuda bertubuh tegap di hadapannya, suara tawa kecil yang renyah dan merdu mengalun dari celah bibir Maya. Wanita berusia dua puluh sembilan tahun itu tampak sangat menikmati bagaimana pesona dewasanya sanggup melucuti seluruh ketenangan seorang pemuda gagah.
"Bagus kalau kamu masih ingat janji itu di kepalamu. Ayo kita masuk ke dalam, Mbak bawakan nasi liwet hangat sama oseng cumi asin cabai hijau kesukaanmu."
Tanpa perlu menunggu izin dari sang pemilik rumah, Maya melangkah santai melewati sisi tubuh Raka dan melenggang anggun menuju area ruang makan. Langkah kakinya yang tenang tanpa alas kaki membuat ujung daster sutra marunnya berayun lembut, mempertegas keelokan pinggulnya di setiap ayunan langkah.
Aroma bunga sedap malam yang tertinggal di udara seakan membentuk lorong tak kasat mata yang memaksa Raka untuk melangkah mengikutinya. Raka menarik napas panjang seraya mengembuskannya perlahan untuk menetralkan kepalanya yang mendadak terasa pening oleh luapan gairah muda.
Pemuda itu memutar tubuhnya, menutup daun pintu depan dengan gerakan pelan, lalu memutar kuncinya agar angin pagi tidak mengibaskan debu ke dalam ruangan. Di dalam keheningan lorong rumahnya, pandangan Raka terpaku memandangi siluet punggung ramping Maya yang mulai sibuk membuka bekal di atas meja makan kayu jati.
Di balik lubuk hatinya yang terdalam, sebuah tanda tanya besar mulai berbisik liar tanpa mampu ia bungkam lagi. Apakah limpahan perhatian yang begitu intim ini murni lahir dari naluri kasih sayang seorang tetangga baik hati, ataukah ada pintu terlarang menuju kedewasaan yang sengaja dibiarkan terbuka oleh wanita matang tersebut.
END OF CHAPTER.
Daftar bab
86 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








