
System Of The King Harem
Shobah|Bersambung
- Jumlah kata
- 83.6K
- Popular
- 333
- Subscribe
- 117
- Jumlah kata
- 83.6K
- Popular
- 333
- Subscribe
- 117
Sinopsis
Raka Aditya kehilangan pekerjaan, pacar, dan sahabatnya dalam rentang beberapa jam. Di kamar kos sempit dengan sisa saldo puluhan ribu rupiah, ponsel bututnya mendadak dibajak program asing. Layar retak itu memunculkan antarmuka merah yang menuntutnya melacak tujuh target perempuan. Tiap perempuan membawa bahayanya sendiri. Masing-masing menyimpan kepingan fakta tentang sindikat supernatural yang memburu Raka, terhubung langsung dengan tragedi tujuh tahun silam yang merenggut seluruh memorinya. Setiap misi yang tuntas justru membuka ancaman yang lebih berbahaya. Alih-alih membantunya bangkit dari kemiskinan, sistem di ponsel itu mengarahkan Raka langsung ke skenario pembantaian lama yang dulu gagal menewaskannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: TITIK NOL
Hujan deras mengguyur aspal tanpa tanda-tanda akan reda sejak sore tadi.
Raka Aditya menyeret langkah kakinya di sepanjang trotoar sempit pinggir jalan protokol. Genangan air keruh bercampur lumpur proyek galian sudah naik melewati mata kaki. Setiap kali ujung kakinya menjejak semen jalan yang pecah, air selokan yang dingin langsung membanjiri bagian dalam sol sepatu kanannya yang telah lama sobek menganga. Kaus kaki kumalnya basah kuyup, menempel lengket pada sela-sela jari kaki dan menimbulkan rasa geli yang menusuk. Jaket tudung berbahan katun tipis yang ia kenakan sudah lama menyerah pada derasnya air langit. Kain itu kini menempel berat pada kulit punggungnya yang dingin, sementara terpaan angin malam leluasa menembus serat-serat kain yang mulai lapuk, membuat seluruh badannya gemetar tak terkendali.
Ia terpaksa berjalan kaki hampir tiga kilometer dari halte bus kota terakhir. Dompet kanvas miliknya tertinggal di atas kursi bus kota nomor empat puluh tiga yang langsung melaju kencang begitu ia melompat turun di tengah gerimis lebat. Di dalam dompet itu hanya tersimpan kartu tanda mahasiswa yang masa berlakunya hampir habis, selembar uang pecahan sepuluh ribu rupiah yang kumal, dan beberapa lembar struk fotokopi materi kuliah. Bagi Raka, kehilangan sepuluh ribu rupiah pada tanggal tua seperti ini sama artinya dengan ancaman kelaparan nyata sampai lusa. Perutnya kosong melompong. Rasa perih yang melilit lambungnya sejak siang hari kini telah padam, berganti menjadi rasa mual tumpul yang mengendap di pangkal tenggorokan.
Tangan kanannya mendekap ponsel murah bekas yang layarnya penuh guratan retak seribu. Layar gawai itu sesekali berkedip redup dengan sisa daya baterai sembilan persen. Retakan kaca paling dalam membelah foto Sinta yang terpajang di layar kunci menjadi dua bagian yang patah. Foto itu diambil setahun lalu saat mereka makan es krim potong murah di pelataran alun-alun kota. Raka belum sempat menggantinya, atau mungkin sudut hatinya yang paling keras kepala masih menolak mengakui bahwa foto itu sudah tidak ada artinya lagi.
Raka terus melangkah menundukkan kepala. Rambutnya lepek menutupi dahi dan mata, basah oleh air hujan yang mengalir turun ke leher. Ia sengaja tidak mempercepat langkahnya. Melangkah tergesa-gesa pun percuma saja. Di kamar kosan tidak ada siapa pun yang menunggu kepulangannya, tidak ada segelas teh hangat, dan tidak ada sisa makanan di atas meja.
Gedung kos bertingkat dua dengan dinding bercat hijau lumut yang mengelupas itu tampak gelap gulita saat Raka berbelok memasuki mulut gang sempit. Lampu neon panjang di teras depan sudah pecah sejak awal minggu lalu, dan bapak kos tidak pernah punya niat untuk sekadar membeli bohlam pengganti yang murah. Halaman kosan tergenang air comberan dangkal yang dipenuhi puntung rokok basah, terapung di antara deretan sandal jepit berdebu milik para penghuni lantai bawah.
Raka meniti anak tangga semen luar yang licin berlumut dengan sangat hati-hati agar tidak tergelincir. Tiba di depan pintu kamarnya di lantai dua, ia merogoh saku celana jeans yang basah dan mengeluarkan anak kunci kamar yang batangnya agak bengkok. Ia harus menggoyang silinder kunci itu dua kali ke arah kiri, lalu menyentaknya dengan kuat sebelum gerendel besi yang berkarat itu akhirnya menyerah dan bergeser. Engsel pintu tua itu berderit nyaring, memecah kesenyapan lorong lantai dua yang pengap.
Begitu daun pintu terdorong terbuka, aroma lembap semen basah bercampur bau apek pakaian kotor langsung menyergap rongga hidungnya. Di atas lantai plesteran semen yang dingin, tiga ember plastik ditaruh berdekatan. Ketiganya sudah terisi hampir setengah penuh oleh air hujan yang terus menetes dari plafon tripleks yang jebol dan menghitam akibat jamur menahun. Suara tetesan air itu berdentang teratur: tik, tik, tik, memantul di dinding kamar berukuran tiga kali tiga meter yang terasa seperti liang kubur.
Raka melepas tas ransel kanvasnya yang basah kuyup, lalu mencampakkannya begitu saja ke sudut lantai dekat tumpukan kardus mi instan yang telah kosong. Tanpa repot-repot melepas jaketnya yang dingin, ia merebahkan seluruh bobot tubuhnya ke atas kasur busa tipis di lantai. Punggungnya langsung beradu dengan tonjolan per kawat yang menusuk dari balik robekan sprei kusam. Matanya terpaku menatap lingkaran hitam rembesan air di langit-langit yang perlahan bertambah lebar.
"Sialan," gumamnya pelan ke arah langit-langit yang bocor. Suaranya serak, kering, dan berat.
Ia merogoh saku celananya sekali lagi untuk menyelamatkan ponsel sebelum air hujan benar-benar merusak sirkuit internal gawai itu. Layar sentuh yang retak menampilkan dua bilah notifikasi baru yang masuk beberapa puluh menit lalu.
Pemberitahuan pertama berasal dari akun resmi tim rekrutmen PT Maju Bersama. Raka mengusap layar dengan ujung jempolnya yang dingin untuk membuka pesan surel tersebut.
Yth. Saudara RakaAditya,
Terima kasih atas partisipasi Anda dalam rangkaian proses seleksi posisi Staf Administrasi di kantor operasional kami. Berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap berkas serta wawancara kerja yang telah dilaksanakan kemarin lusa, dengan berat hati kami sampaikan bahwa kualifikasi Anda saat ini belum memenuhi kriteria kebutuhan divisi kami.
Kami mendoakan kesuksesan untuk langkah karier Anda di masa depan.
Hormat kami,
Tim Rekrutmen PT Maju Bersama
Raka mendenguskan tawa pendek yang getir. Di baris salam pembuka, nama depannya diketik menyatu tanpa spasi dengan nama belakang: RakaAditya. Itu draf standar dari aplikasi perekrutan otomatis yang disebar ke ratusan pelamar kerja yang bernasib sama buruknya dengan dirinya. Peluang pekerjaan bergaji dua juta rupiah per bulan yang ia harapkan untuk menyambung hidup kini sirna tanpa bekas. Padahal dua malam berturut-turut ia rela begadang menghafalkan jawaban wawancara di depan cermin lemari yang buram, sambil meminjam kemeja putih milik kawan kuliahnya yang kerahnya sudah menguning.
Notifikasi kedua berasal dari aplikasi WhatsApp. Deretan pesan singkat dari Sinta yang dikirim sekitar pukul sembilan malam.
Sinta: Raka, kita udahan aja ya. Aku capek.
Sinta: Aku butuh kepastian buat masa depan. Kamu tahu sendiri kondisimu sekarang gimana, kuliah belum kelar dan kerjaan tetap nggak punya. Aku nggak bisa terus-terusan nunggu kamu mapan.
Sinta: Tadi sore aku udah ke kosanmu buat ambil baju dan barang-barangku pas kamu lagi keluar wawancara. Kuncinya kutinggal di atas meja kecil depan.
Sinta: Maaf kalau bikin kamu kaget, tapi sekarang aku udah jadian sama Bima. Kami udah bareng tiga bulan ini.
Raka mematung menatap layar gawainya. Tatapannya kosong.
Bima. Teman satu angkatannya di fakultas. Orang yang sama yang motor bebeknya sering meminjam bensin dari tangki motor Raka, kawan yang sering menumpang tidur beralas karpet tipis dan makan mi instan sepiring berdua di kosan ini saat kiriman uang dari kampungnya mandek. Tiga bulan lalu, saat Raka rela menahan lapar dua minggu demi membelikan sepasang sepatu kanvas murah sebagai hadiah ulang tahun Sinta, perempuan itu ternyata sudah menjalin hubungan di belakang punggungnya bersama Bima.
Raka meletakkan ponselnya di atas dada. Suara air yang menetes ke dalam ember plastik terus mengalir dengan ritme yang sama. Rongga dadanya terasa hampa. Tubuhnya terlalu lelah, sendi-sendinya terlalu nyeri, bahkan hanya untuk sekadar memukul dinding semen atau berteriak melampiaskan amarah.
Dengan gerakan lambat, jarinya kembali menggeser layar untuk membuka aplikasi perbankan digital.
Saldo Rekening: Rp45.230
Empat puluh lima ribu dua ratus tiga puluh rupiah. Angka itu tidak pernah bergeser sejak lima hari yang lalu. Uang itu hanya cukup untuk membeli nasi bungkus dua kali di warteg seberang kampus, atau lima bungkus mi instan ditambah sebungkus rokok eceran. Sementara itu, tagihan sewa kamar kos sudah menunggak dua bulan penuh. Tadi pagi, bapak kos sudah menyelipkan secarik kertas peringatan bertinta merah di bawah pintu, memberi batas akhir sampai hari Sabtu sebelum kunci kamarnya diganti dan barang-barangnya dikeluarkan paksa ke pinggir selokan.
Raka memejamkan mata rapat-rapat. Kamar kos itu pengap dan berbau tanah basah. Di luar jendela, gemuruh hujan menghantam atap seng kosan tanpa jeda sedikit pun. Kepalanya berdenyut nyeri, dihimpit oleh kenyataan bahwa esok pagi ia akan terbangun tanpa pekerjaan, tanpa kekasih, tanpa uang cadangan, dan tanpa tempat tinggal yang pasti.
Tiba-tiba terdengar sebuah denting pendek di samping bantalnya.
Bunyinya sangat jernih, menyerupai benturan logam tipis pada kaca kristal, berdengung ganjil di dalam kamar kos yang lembap.
Ting.
Raka membuka mata perlahan. Layar ponsel di samping kepalanya menyala dengan sendirinya. Cahayanya bukan putih redup seperti biasanya, melainkan pendaran warna merah tua yang berdenyut lambat persis detak jantung.
Raka meraih gawai itu. Layar sentuhnya terkunci total. Tombol volume maupun tombol daya sama sekali tidak memberikan reaksi saat ia coba menekan paksa. Suhu baterai di bagian punggung ponsel mendadak naik drastis, terasa hangat membakar kulit telapak tangannya yang dingin.
Lalu, sebaris teks putih dengan pendaran tepi merah muncul perlahan di tengah layar:
[MEMINDAI KANDIDAT YANG SESUAI DI SEKITAR LOKASI...]
Raka menatap layar itu dengan dahi berkerut rapat. Bodi plastik ponselnya kian memanas.
[SUBJEK TERDETEKSI: RAKA ADITYA]
[USIA: 22 TAHUN]
[STATUS SOSIAL: SANGAT RENDAH]
[KONDISI FINANSIAL: F]
[KARISMA: D]
[KEKUATAN FISIK: E]
[ASMARA: GAGAL TOTAL]
Raka melotot membaca rangkuman data di depannya. "Aplikasi malware pinjol mana lagi ini?"
Ia menekan tombol daya lebih dari sepuluh detik untuk mematikan paksa sistem operasi ponselnya. Layar itu sama sekali tidak padam. Teks di depannya justru bergulir lebih cepat seolah menertawakan upayanya.
[HASIL ANALISIS: TARGET MEMENUHI SYARAT POTENSI DASAR.]
[MEMULAI TAUTAN SISTEM KE DALAM JARINGAN NEURAL...]
[PROSES TUNTAS 100%]
[HAREM DESTINY SYSTEM RESMI TERIKAT DENGAN JIWA HOST.]
Raka terkekeh getir ke arah langit-langit kamar. "Destiny system? Mau nipu siapa malam-malam begini, hah?"
Ponsel di genggamannya mendadak bergetar dua kali dengan sentakan yang cukup bertenaga hingga membuat ujung jari tangannya kebas kesemutan.
[MISI PERTAMA DITERBITKAN.]
[TARGET: EVAKUASI SEORANG WANITA DALAM ANCAMAN BAHAYA FISIK.]
[LOKASI: RADIUS 600 METER DARI POSISI SEKARANG.]
[BATAS WAKTU: 30 MENIT.]
[HADIAH PENYELESAIAN: RP10.000.000 TUNAI.]
Pandangan mata Raka terpaku lekat pada angka nominal di baris hadiah misi. Sepuluh juta rupiah tunai. Uang sebesar itu cukup untuk melunasi dua bulan tunggakan sewa kos, melunasi biaya kuliah yang tertunda, membeli sepasang sepatu kerja yang layak, dan menjamin makan tiga kali sehari selama berbulan-bulan ke depan.
Di sudut kanan atas layar ponsel, angka digital berwarna merah terang mulai bergerak mundur:
Raka bangkit dan duduk tegak di tepi kasur busa. Seluruh nalar sehatnya menolak kegilaan ini. Gawai murahnya mungkin saja terinfeksi virus tebusan atau program peretas lokal yang sedang mempermainkannya. Namun tepat di tengah layar retak itu, kini muncul peta radar sederhana berlatar hitam legam dengan jarum kompas berwarna merah menyala. Ujung jarum itu bergetar pelan, menunjuk mantap ke arah belokan gang luar tempat pangkalan ojek biasa mangkal di dekat jalan raya.
Raka menatap genangan air di dalam ember plastik, lalu melirik kembali angka hitung mundur yang terus berkurang detik demi detik. Jika ia tetap diam meringkuk di kasur ini, besok hidupnya tetap tidak memiliki jalan keluar.
Raka menyambar kembali jaket tudungnya yang masih lembap dan berbau hujan. Ia memasukkan ponsel ke dalam saku celana jeans, menarik napas panjang untuk menenangkan dadanya yang berdegup kencang, lalu mendorong pintu kamar kos hingga terbuka lebar.
Di luar gang, jalanan aspal tampak sepi dan basah oleh genangan air hujan yang memantulkan kerlip lampu jalan. Raka mengencangkan tali sepatunya yang sobek, lalu mulai melangkahkan kaki menerobos dinginnya malam, bergerak cepat mengikuti arah jarum kompas di layar ponselnya.
[BERSAMBUNG]
Daftar bab
59 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








