

Aroma manis vanila bercampur antiseptik adalah hal pertama yang menggelitik indra penciuman Steven.
Kelopak matanya terasa berat, namun saat perlahan terbuka, pandangannya langsung disuguhi pemandangan yang sama sekali tidak dia duga.
Tepat di atasnya…
Seorang perempuan muda berwajah manis sedang membungkuk untuk memeriksa selang infus. Seragam perawat rumah sakit swasta bertaraf internasional itu membalut tubuhnya dengan sangat pas, bahkan sedikit terlalu ketat di bagian dada yang kini berada tepat beberapa jengkal di depan wajah Steven. Lekuk tubuh ramping dengan pinggul padat itu bergoyang pelan saat sang perawat merapikan tiang infus.
Detik itu juga, ada reaksi biologis aneh yang menjalar cepat di tubuh Steven.
Jantungnya berdegup lebih kencang, memicu bunyi monitor medis di samping ranjang mendadak berbunyi lebih cepat:
BIP BIP BIP
Steven mengernyit bingung. Sebagai pria berusia lima puluh tahun yang sudah melewati masa pubertas puluhan tahun lalu, kenapa dorongan hormon ini terasa begitu liar dan meledak-ledak hanya karena melihat belahan dada seorang perawat?
"Oh, syukurlah... Anda sudah sadar," suara perawat itu terdengar lembut dan
mendesah lega. Dia tersenyum manis, memamerkan sepasang lesung pipi.
Steven menelan ludah, mencoba membasahi tenggorokannya yang sekering padang pasir.
"Di mana... aku?" bisik Steven serak.
Perawat itu mengulurkan tangan halusnya, mengusap pelan kening Steven dengan sentuhan hangat yang membuat bulu kuduknya meremang.
"Tenang, Tuan Soni. Anda sudah aman di kamar VIP Rumah Sakit Medika," ujar perawat itu dengan nada menenangkan yang profesional, meski senyumnya tampak menyimpan sedikit rasa canggung yang manis.
Kening Steven berkerut dalam.
"Soni? Siapa Soni?"
Perawat itu terkekeh pelan, mengira pasiennya masih mengalami disorientasi akibat obat bius. "Benturan di kepala Anda lumayan keras, Tuan Soni. Wajar kalau masih sedikit pusing. Sebentar ya, saya panggilkan dokter."
Steven tidak mempedulikan dokter. Pandangannya justru jatuh ke tangan kanannya sendiri yang tergeletak di atas selimut putih.
Jemari itu panjang, berkulit kencang, dengan urat-urat tangan yang menonjol tegas khas anak muda yang rajin berolahraga. Dan yang paling mengejutkan, tidak ada cincin pernikahan emas tebal yang melingkari jari manisnya selama hampir dua dekade.
Steven mengangkat tangan itu, meraba pipi dan rahangnya sendiri.
Tidak ada kulit kendur.
Tidak ada kerutan di sudut mata atau leher yang mulai berlipat.
Semuanya terasa padat, mulus, dan muda.
"Tunggu," potong Steven saat perawat itu hendak berbalik keluar. Suara yang meluncur dari kerongkongannya terdengar lebih ringan, parau, dan berenergi—bukan suara bariton serak pria setengah abad miliknya.
"Kaca… kaca..."
"Eh, Kaca? Untuk apa, tuan?”
"Sekarang." Nada bicara Steven lebih tegas, refleks kepemimpinan seorang konglomerat yang terbiasa memerintah tanpa bantahan.
Perawat itu tertegun sejenak oleh aura dominan yang tiba-tiba terpancar dari pemuda di ranjang itu. Dengan sedikit gugup, ia merogoh saku roknya yang ketat, mengeluarkan cermin bedak lipat kecil, lalu menyerahkannya ke tangan Steven.
"I-ini, tuan."
Steven membuka cermin itu.
Cahaya lampu ruangan memantulkan wajah yang paling tidak ingin dia lihat seumur hidupnya.
Rahang kokoh dan tegas. Alis tebal yang sedikit berantakan. Sepasang mata cokelat terang dengan sorot liar khas pemuda urakan. Dan sehelai poni coklat gelap yang jatuh menutupi perban di keningnya.
Itu wajah Soni.
Anak kandungnya sendiri.
Anak manja yang selama ini ia anggap sebagai aib keluarga dan parasit kekayaan.
Tangan Steven bergetar hebat.
Jantungnya berdegup gila-gilaan.
"Sial..." desis Steven pelan.
"Tuan Soni? Anda kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya perawat itu cemas, kembali mendekat dan tanpa sadar mencondongkan tubuhnya ke ranjang hingga aroma parfumnya kembali menyapu hidung Steven.
Sebelum Steven sempat merespon kegilaan yang menimpa akal sehatnya, layar televisi LED 55 inci di dinding kamar rawat mendadak menampilkan bunyi denting darurat berita nasional.
BREAKING NEWS.
Layar kaca menampilkan foto hitam-putih seorang pria berwibawa berusia lima puluh tahun berbalut setelan jas formal terbaiknya, berhiaskan pita hitam di sudut gambar.
Foto itu adalah foto Steven Darmawan.
Foto dirinya sendiri.
Presenter berita dengan nada suara muram membacakan laporan langsung dari layar kaca:
“Kabar duka menyelimuti lantai bursa dan dunia usaha nasional pagi ini. Pendiri sekaligus Komisaris Utama Darmawan Group, Steven Darmawan, dinyatakan meninggal dunia di lokasi kejadian akibat kecelakaan tunggal fatal di Tol Lingkar Luar dini hari tadi...”
Perawat di samping ranjang menatap layar TV itu dengan ekspresi iba, lalu menoleh menatap Steven dengan tatapan penuh simpati.
“...Pihak kepolisian mengkonfirmasi korban tewas seketika akibat cedera parah di sisi kemudi. Sementara itu, putra tunggal Steven Darmawan, Soni Darmawan, dilaporkan hanya mengalami luka ringan dan sedang menjalani perawatan di rumah sakit.”
Steven mematung.
Matanya beralih dari layar televisi yang menyiarkan kematian dirinya sendiri, kembali ke cermin kecil di tangannya yang menampilkan wajah putranya yang berusia dua puluh enam tahun.
Steven menarik napas panjang, menatap bayangan wajah Soni lekat-lekat.
"Kalau Steven Darmawan sudah mati..." batin pemuda di cermin itu dengan senyum getir yang sangat dingin. "...berarti siapa aku sekarang?"
Pintu kamar rawat VIP tertutup pelan saat perawat manis tadi pamit keluar sebentar untuk mengambil obat dan berkas rekam medis.
Tinggal Steven seorang diri di dalam ruangan.
Steven menatap langit-langit kamar rumah sakit dengan napas berat. Sensasi memiliki tubuh pemuda dua puluh enam tahun ini benar-benar ganjil. Tidak ada nyeri sendi di lutut, tidak ada pegal linu di punggung, dan detak jantungnya berdegup dengan ritme yang begitu bertenaga.
Pandangannya tertuju pada nakas di samping ranjang. Di sana, tergeletak sebuah iPhone edisi terbaru dengan casing hitam berlambang banteng emas khas mobil sport mewah.
Ponsel Soni.
Steven meraih benda pipih itu. Layar menyala, dan sistem Face ID langsung memindai wajahnya tanpa hambatan. Ikon gembok terbuka dengan sekali klik.
"Bagus, setidaknya muka anak ini masih ada gunanya," gumam Steven sinis.
Namun, begitu beranda utama terbuka, bola mata Steven hampir melompat keluar dari rongganya.
Layar ponsel itu bagaikan medan perang digital.
Ada lebih dari sembilan puluh notifikasi pesan belum terbaca, ratusan panggilan tak terjawab dari nomor-nomor tanpa nama, dan puluhan grup obrolan dengan nama-nama konyol:
SCBD Night Kings.
Balap Liar PIK.
VIP Table Angels.
Afterparty Senopati.
Steven membuka aplikasi pesan berwarna hijau dengan dahi berkerut dalam. Satu per satu dia baca isi pesan yang masuk.
Cindy Club: Sayang, kenapa kamu ngilang sih? Kan janjinya mau bayarin open table temen-temenku?
Jessica Model: Soni, tas Chanel yang kemarin kita liat di Plaza Indonesia udah kamu transfer belum? Katanya mau kasih surprise :(
Rian Bengkel: Bro, knalpot Akrapovic pesenan lu udah nyampe bengkel. Total 45 juta, ditunggu transferannya biar bisa langsung pasang di Porsche lu!
Steven mengusap wajahnya dengan kasar. "Anak sialan... isinya cuma perempuan, mabuk, sama foya-foya!"