
Tabib Dewa Dari Penjara Garuwana
Budi.K|Bersambung
- Jumlah kata
- 52.7K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 198
- Jumlah kata
- 52.7K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 198
Sinopsis
Dijebak dan dipenjara selama lima tahun karena membela mantan kekasihnya, Zaher Alvanson akhirnya menghirup udara bebas dengan membawa warisan ilmu kultivasi dan pengobatan luar biasa. Namun, kepulangannya justru disambut derita: kaki sang ayah terancam diamputasi, sementara keluarganya terjerat utang ratusan juta akibat ulah rentenir licik yang ingin memaksa adiknya menikah. Menolak tunduk pada nasib, Zaher mengandalkan energi sejati dan ramuan obat ajaib untuk menyembuhkan ayahnya serta membalikkan keadaan. Kini, ia melangkah ke kota untuk membuktikan kehebatannya di hadapan orang-orang berkuasa yang memandangnya sebelah mata.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Krek... Brakk!
Pintu besi tebal Penjara Kabupaten Garuwana yang berkarat itu terbuka secara perlahan.
Zaher Alvanson melangkah keluar dengan pakaian kasual lusuh yang pernah ia kenakan lima tahun lalu.
Di batas pintu, ia berbalik sejenak dan melambaikan tangannya kepada para napi yang menatapnya dari balik jeruji.
"Sampai jumpa, Saudara Zaher! Jangan pernah kembali ke tempat terkutuk ini lagi!" teriak salah seorang napi senior.
"Terima kasih untuk segalanya, Zaher! Jaga dirimu di luar sana!" sahut yang lain.
Zaher mengangguk pelan, menyunggingkan senyum tipis. Ia berbalik dan menghirup udara kebebasan.
Lima tahun... Lima tahun yang berharga hilang begitu saja karena pengkhianatan yang sangat keji.
Kenangan pahit lima tahun lalu mendadak teringat di benaknya. Saat itu, ia baru saja dinyatakan lulus dan diterima di universitas bergengsi.
Dalam sebuah pesta reuni, ia memergoki seorang pemuda kaya bernama Xendra Orgito yang berniat memperkosa Catherine Lawson, gadis yang saat itu sangat ia cintai sebagai kekasihnya.
Zaher yang ingin menjadi pahlawan langsung menerjang maju. Namun, Xendra yang murka tidak tinggal diam. Dengan kejam, Xendra menghantam kepala Zaher menggunakan botol anggur hingga pecah dan bahkan menikam perutnya dengan pisau.
Dalam kondisi terdesak dan bersimbah darah, Zaher merebut pisau tersebut untuk membela diri dan melukai Xendra.
Tragisnya, ketika polisi datang, tak satu pun dari teman-teman yang hadir di sana mau bersaksi jujur untuknya. Mereka semua takut pada pengaruh dan kekayaan keluarga Orgito.
Bahkan Catherine, wanita yang ia pertaruhkan nyawanya, dengan dingin menunjuk wajah Zaher dan berkata: "Dialah yang menyerang Xendra duluan! Dia gila dan cemburu! Dia cuma pemuda miskin tak berguna yang mencoba mencelakai Tuan Xendra!"
Uang dan kekuasaan keluarga Orgito dengan cepat memutarbalikkan fakta. Zaher dijatuhi hukuman lima tahun penjara atas tuduhan penganiayaan berat.
“Catherine... Xendra… Kalian pikir, dengan membuangku ke penjara, hidup kalian akan tenang? Lima tahun ini tidak membuatku hancur. Sebaliknya, ini adalah awal dari kehancuran kalian!” batin Zaher. Matanya menatap tajam ke depan.
Zaher mengepalkan tangannya erat. Selama di penjara, secara tidak sengaja ia memperoleh warisan leluhur dari seorang tua misterius yang menjadi penghuni sel rahasia.
Warisan itu mencakup teknik kultivasi Kitab Suci Surgawi, prinsip-prinsip pengobatan ilahi, ilmu fengshui penataan ruang, hingga seni pembuatan jimat mukjizat.
Dalam waktu lima tahun, Zaher tak hanya menguasainya, tetapi juga berhasil menyerap energi sejati ke dalam seluruh pembuluh darahnya.
Ia bukan lagi Zaher yang lemah dan miskin. Ia adalah seorang master kultivasi yang baru terbangun!
"Zaher! Nak!"
Sebuah suara serak dan bergetar memecah lamunan Zaher. Di ujung jalan dekat gerbang penjara, tampak sebuah becak tua yang sudah berkarat dan merot-marot merapat ke pinggir jalan.
Di atas becak itu, seorang wanita paruh baya dengan rambut yang dipenuhi uban dan wajah yang dipenuhi kerutan melambaikan tangannya
Di sampingnya, duduk seorang gadis muda berwajah manis dengan pakaian yang sederhana.
"Ibu... Riri..." Seru Zaher.
Air mata Zaher menetes bahagia. Ia berlari menghampiri mereka dan langsung berlutut di tanah yang kotor di hadapan ibunya, Annie.
"Ibu! Anakmu yang tidak berbakti ini sudah pulang!" suara Zaher tersedak oleh rasa penyesalan dan rindu yang mendalam.
Annie bergegas turun dari becak, tangannya yang kasar meraba wajah Zaher dengan lembut. "Bangun, Nak... Bangun! Jangan berlutut! Kamu tidak salah apa-apa. Ibu tahu kamu anak yang baik... Maafkan Ibu yang tidak bisa melakukan apa-apa saat kamu dipenjara..."
"Kak Zaher, ayo bangun. Ibu terus menangis membayangkan hari ini. Ayo kita pulang, Kak," kata Riri Alvanson, sang adik, membantu kakaknya berdiri seraya menyapu air matanya sendiri.
Zaher berdiri dan memeluk ibu serta adiknya erat-erat. Melihat betapa lusuh dan kurusnya sang ibu, serta wajah Riri yang tampak menahan beban berat di usianya yang baru delapan belas tahun, hati Zaher seperti teriris pisau.
‘Ibu... Riri... Dulu aku tidak bisa melindungi kalian. Tapi mulai hari ini, aku bersumpah tidak akan membiarkan siapa pun menindas kalian lagi! Aku akan membawa keluarga kita hidup makmur dan dihormati semua orang!’ janji Zaher dalam hati.
Mereka bertiga kemudian naik ke atas becak tua itu. Zaher memandang Riri yang kini tumbuh menjadi gadis yang sangat manis.
"Riri, tahun ini kamu umur delapan belas tahun, kan? Bagaimana sekolahmu? Bukankah kamu seharusnya sudah kelas tiga SMA sekarang dan bersiap masuk kuliah?" tanya Zaher penuh harapan.
Riri menundukkan kepalanya, menyilangkan jari-jarinya dengan gelisah. "Kak... aku... aku berniat untuk berhenti sekolah."
Zaher terkejut. "Berhenti sekolah? Kenapa? Prestasi belajarmu dari dulu selalu yang terbaik! Kenapa tiba-tiba mau berhenti?"
"Riri! Jangan bicara sembarangan!" tegur Annie cepat dengan nada cemas, menatap Riri dengan isyarat mata agar adiknya itu diam. "Zaher, jangan dengarkan adikmu. Dia cuma becanda."
"Bu, aku tidak buta. Ada sesuatu yang kalian sembunyikan dariku, kan? Dan... di mana Ayah? Kenapa Ayah tidak ikut menjemputku?" tanya Zaher, matanya menatap tajam ke arah ibunya dan Riri
"Ayah... Ayah sedang ada urusan di rumah, Kak," jawab Riri terbata-bata, tidak berani menatap mata Zaher.
"Urusan apa yang lebih penting daripada menjemput anaknya yang baru keluar dari penjara setelah lima tahun?" tanya Zaher dengan rasa cemas
Ia memegang pundak adiknya. "Riri! Katakan yang jujur pada Kakak! Apa yang terjadi pada Ayah?!"
Mata Riri memerah, air matanya akhirnya menetes. "Kak... Ayah... Ayah mengalami kecelakaan kerja tiga minggu lalu! Kakinya tertimpa besi berat dan patah tulang parah!"
"Apa?! Lalu bagaimana keadaan Ayah sekarang?" dada Zaher berdesir hebat.
"Kaki Ayah membusuk karena infeksi… Dokter di Rumah Hospital Garuwana bilang... kaki Ayah harus diamputasi! Kalau tidak, infeksinya akan menyebar dan mengancam nyawa Ayah!" Kata Riri sambil terisak.
"Lalu kenapa kalian tidak memberitahuku?!" seru Zaher dengan mata memerah.
"Ayah yang melarang kami, Kak! Ayah takut... Ayah takut kabar ini akan jadi pukulan berat buat Kakak yang baru mau keluar dari penjara. Ayah sengaja menyembunyikannya..." jawab Riri sambil menangis sesenggukan.
Mendengar hal itu, air mata Zaher mengalir makin deras, bercampur dengan rasa marah dan penyesalan.
Ayahnya yang tua rela menahan derita keputusasaan demi memikirkannya!
"Turunkan aku!" Zaher melompat dari atas becak.
Tanpa ragu, ia mengambil alih kemudi becak tua itu. "Ibu, Riri, naik! Kita ke rumah sakit sekarang juga!"
Zaher mengerahkan sedikit energi sejati ke dalam otot-otot kakinya. Seketika, becak tua yang kayuhannya berat itu meluncur deras bak angin di sepanjang jalan raya Kabupaten Garuwana, meninggalkan debu yang membumbung tinggi menuju rumah sakit.
Brak!
Pintu ruang rawat kelas tiga Rumah Sakit Kabupaten Garuwana terdorong keras. Bau obat-obatan yang menyengat langsung tercium hidung Zaher.
Di atas ranjang besi, terbaring seorang pria paruh baya yang sangat kurus. Wajahnya pucat pasi, dan kedua kakinya dibalut kain kasa tebal yang mengeluarkan bau tak sedap. Pria itu adalah Gio Alvanson, ayah Zaher.
"Ayah!" Zaher berlari dan langsung berlutut di samping ranjang ayahnya.
Gio yang tadinya memejamkan mata menahan sakit, perlahan membuka matanya. Ketika melihat wajah putranya, tangisnya langsung pecah.
"Zaher... Anakku... Kau sudah kembali, Nak… Maafkan Ayah... Ayah tidak berguna... Ayah bahkan tidak bisa menjemputmu..." Gio memeluk kepala Zaher dengan tangannya yang gemetar dan kurus kering.
"Tidak, Yah! Ayah jangan bicara seperti itu! Ini semua salah Zaher!" pangkas Zaher dengan suara bergetar.
Di saat suasana haru menyelimuti keluarga itu, pintu kamar terbuka kembali. Seorang dokter pria muda bersetelan jas putih masuk dengan gaya angkuh, memegang map dokumen. Di belakangnya, melangkah seorang dokter wanita berusia 20-an tahun yang memiliki paras sangat cantik, anggun, dan memancarkan aura dingin yang memesona.
Dokter wanita itu adalah Letisya, dokter kepala termuda di Rumah Sakit Garuwana yang sangat jenius. Sedangkan dokter pria di sampingnya adalah Vino, dokter spesialis bedah yang menangani Gio.
"Ekhem!" Vino berdehem keras, memutus momen haru keluarga Alvanson dengan wajah tidak sabar. "Keluarga pasien Gio Alvanson, bisakah kalian tidak membuat kebisingan di sini? Ini rumah sakit, bukan pasar."
Vino melangkah mendekat, lalu melemparkan selembar kertas dan pulpen ke atas meja kecil di dekat ranjang.
"Ini surat persetujuan tindakan operasi amputasi. Infeksi pada tulang kering dan jaringan otot kedua kaki Pak Gio sudah sangat parah. Jaringan sarafnya sudah mati. Jika tidak segera diamputasi hari ini, racun pembusukan akan masuk ke aliran darah dan memicu kegagalan organ. Segera tanda tangani!" desak Vino dengan nada memerintah.
Annie yang baru tiba bersama Riri memandang surat itu dengan tangan gemetar. "Dokter... apakah... apakah benar-benar tidak ada cara lain selain memotong kaki suami saya? Kalau kakinya dipotong, bagaimana dia bisa bekerja lagi?"
Vino menghela napas malas, memutar matanya. "Ibu, jangan bebal! Secara medis Barat, ini satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya. Jangan sampai karena kecintaan Ibu pada kaki suami Ibu, Ibu justru membunuhnya! Tanda tangani sekarang juga, kami harus bersiap masuk ruang operasi!"
Annie meneteskan air mata. Dengan pasrah dan gemetar, ia meraih pulpen untuk membubuhkan tanda tangan.
"Tunggu! Jangan ditandatangani!" Ucap Zaher menghentikan gerakan tangan Annie. Zaher melangkah maju dan memegang tangan ibunya.
Vino mengerutkan dahi dengan murka. "Hei, anak muda! Siapa kamu berani campur tangan? Jangan menghalangi prosedur medis!"
Zaher tidak memedulikan Vino. Ia memejamkan mata sejenak, mengerahkan energi sejati dari dalam dantian-nya menuju kedua matanya.
Seketika, pandangan mata Zaher berubah, ia kini memiliki 'Penglihatan Tembus Pandang' mukjizat!
Pandangannya menembus kain balutan dan kulit kedua kaki ayahnya. Zaher dapat melihat dengan jelas struktur tulang yang retak serta pembuluh darah yang tersumbat oleh darah kotor dan nanah.
Jaringan ototnya memang membengkak hebat, tetapi garis saraf utamanya ternyata belum mati total. Hanya tersumbat oleh pembekuan darah parah.
Zaher membuka matanya kembali. Tatapannya menjadi sangat tajam.
"Kaki Ayahku tidak perlu diamputasi!" tegas Zaher dengan nada tak terbantahkan.
Sontak, seluruh ruangan menjadi gempar! Annie, Riri, dan Gio menatap Zaher dengan terperanjat. Bahkan Dokter Kepala Letisya yang sejak tadi diam, kini menaikkan alisnya dan menatap Zaher dengan rasa ingin tahu.
"Apa kamu bilang?! Tidak perlu diamputasi? Anak muda, apa kamu mengerti medis? Saya ini lulusan kedokteran terbaik dan dokter spesialis di sini! Hasil rontgen dan pemindaian laboratorium menunjukkan bahwasanya jaringan kakinya sudah mati! Kamu mau sok tahu di depanku?" Vino tertawa sinis, meremehkan.
"Saya tidak sok tahu. Saya tahu persis kondisi kaki Ayah saya. Pembusukan itu terjadi karena penyumbatan meridian dan pembekuan darah di pembuluh utama. Jika aliran darahnya dibuka dan racunnya dikeluarkan, kakinya bisa pulih sepenuhnya," balas Zaher tenang namun dingin.
"Hahaha! Aliran darah? Meridian? Dari mana kamu belajar istilah konyol itu? Dari novel silat?" Vino tertawa makin keras, tatapannya penuh penghinaan.
"Saya mempelajarinya dari seorang master pengobatan tradisional selama lima tahun terakhir," jawab Zaher jujur.
"Pengobatan tradisional? Tabib gadungan maksudmu?!" potong Vino tajam.
Ia kemudian memandang pakaian Zaher yang lusuh dan mengenali logo kecil pada tas kain yang dibawa Zaher. "Tunggu... bau pakaianmu ini... Kamu... kamu mantan narapidana yang baru keluar dari Penjara Garuwana, kan?!"
Mendengar kata 'mantan narapidana', suasana ruangan makin tegang.
Vino tersenyum puas, merasa berada di atas angin. Apalagi hal ini terjadi di hadapan Letisya, wanita berparas jelita yang selama ini diam-diam ia taksir dan coba pikat.
Vino ingin menggunakan momen ini untuk menjatuhkan Zaher sedalam-dalamnya dan memamerkan kehebatannya di depan Letisya.
"Cacing seperti kamu, seorang narapidana sampah, berani mempertanyakan ilmu medis moderen dan keahlianku di rumah sakit ini?!" bentak Vino menunjuk wajah Zaher dengan jijik.
"Pengobatan tradisional itu cuma mitos Kuno dan ilmu gaib Ketinggalan zaman yang membodohi masyarakat! Kalau kamu tidak tahu apa-apa tentang kedokteran, tutup mulutmu dan biarkan orang profesional bekerja! Jangan sampai ketidaktahuanmu malah membunuh ayahmu sendiri!" Ucap Vino ketus.
Daftar bab
43 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








