
Sistem Pembalik Takdir
RUDZHAR|Bersambung
- Jumlah kata
- 44.5K
- Popular
- 242
- Subscribe
- 30
- Jumlah kata
- 44.5K
- Popular
- 242
- Subscribe
- 30
Sinopsis
Raka hanyalah seorang anak yang menjadi korban perceraian orang tuanya. Ayahnya pergi, ibunya berubah, dan hidupnya dipenuhi kesepian. Sampai suatu hari, sebuah Sistem Pembalik Takdir muncul. Dengan satu sistem di tangannya, Raka bertekad mengubah nasibnya, membalas semua penderitaan, dan merebut kembali kebahagiaan yang pernah hilang. Dulu dia tidak bisa memilih takdirnya. Sekarang, takdir yang harus mengikutinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Bandung. 2026
“GLEGARRR!”
Suara guntur menggelegar membelah langit malam. Angin kencang mencambuk hujan deras seperti ribuan cambuk tak kasatmata. Tetesan air menghantam tempat sampah logam di pinggir jalan dengan brutal, menimbulkan suara dentangan nyaring yang berpadu dengan gemuruh hujan di tengah malam.
Guntur menggelegar berkali-kali sampai memekakkan telinga. Lampu jalan berwarna kuning redup berkedip-kedip, sementara kilatan petir putih keperakan menjadi salah satu dari sedikit sumber cahaya di dunia yang sedang diguyur hujan.
Hujan turun tanpa henti, seolah langit Bandung sedang menumpahkan seluruh isinya malam itu.
“Gila, cuacanya...”
Setelah mengunci motor listriknya pada tiang lampu di pinggir jalan, Raka menundukkan kepala dan berlari masuk ke gedung secepat mungkin. Sepatunya menginjak genangan air sambil mulutnya terus menggerutu.
“Sial!”
“Listriknya mati?”
“Serius?”
Raka menaiki dua lantai tanpa melihat sedikit pun cahaya di lorong. Perasaan tidak enak langsung muncul di dalam dadanya.
Dia terus menaiki tangga tua dan sempit menuju lantai enam.
Begitu sampai di depan pintu, Raka segera membukanya. Dia masuk lalu mencoba menyalakan lampu dengan menekan sakelar beberapa kali.
Klik.
Klik.
Klik.
Tidak ada apa-apa.
Bagian terakhir dari harapannya pun akhirnya benar-benar padam.
“Haaah...”
“Beneran mati listrik.”
“Padahal gue udah ngebayangin bikin mi instan pakai sosis banyak, telur, ceker ayam, sama kornet buat ngangetin badan.”
Raka menghela napas panjang.
“Sekarang semuanya nggak bisa.”
Setelah melipat jas hujannya di depan pintu, dia masuk ke kamar kecilnya.
Dalam kegelapan, Raka meraba-raba lemari sampai menemukan setengah batang lilin.
Dengan gerakan yang sudah terbiasa, dia menyalakan lilin itu lalu meletakkannya di atas meja.
Cahaya kecil dari lilin membuat ruangan yang gelap gulita sedikit terlihat.
Raka melepas jaket dan celananya yang basah, lalu mengambil sebungkus roti isi krim dan sosis dari rak makanan.
Dia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
TIK... TAK... TIK... TAK...
Hujan deras menghantam kaca jendela tua.
Suara itu justru membuat kamar kecil Raka terasa semakin sepi.
Raka menyandarkan kepala di lengan sofa. Sambil menggigit besar rotinya, dia membuka WhatsApp dan masuk ke bagian Status.
Awalnya dia masih melihat-lihat dengan santai.
Sampai akhirnya muncul unggahan dari teman-teman sekolah lamanya.
Ada yang memamerkan surat penerimaan kuliah.
Ada yang mengunggah foto acara syukuran karena diterima di kampus.
Ada juga yang sedang liburan setelah lulus sekolah bersama teman-temannya.
Perlahan, kunyahan Raka melambat.
Roti yang awalnya terasa lembut dan enak mendadak terasa sulit ditelan.
Kalau orang tua gue nggak bercerai...
Kalau dulu gue bisa sekolah seperti anak-anak lain...
Mungkin sekarang gue juga sudah jadi mahasiswa baru, ya?
Di kamar yang hanya diterangi cahaya lilin dan layar ponsel, wajah Raka terlihat muram.
Dia menatap berbagai Status WhatsApp itu dalam diam.
Tulisan-tulisan yang muncul di layar semuanya dipenuhi kebahagiaan.
Entah kenapa, melihatnya justru membuat dadanya terasa sesak.
BZZT! BZZT!
Saat Raka sedang melamun, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar.
Dia hampir saja menjatuhkannya ke wajah sendiri.
Raka segera tersadar.
Matanya langsung tertuju pada notifikasi dari aplikasi jasa antar tempat dia bekerja.
Kesedihannya seketika terlupakan.
Dia langsung bangkit dari sofa.
[Akun Anda sementara tidak dapat menerima pesanan.]
[Penerimaan pesanan dapat dilanjutkan pada 17 Juli 2026 pukul 22.00.]
[Alasan: Tiga keluhan berturut-turut mengenai sikap pelayanan dalam satu minggu.]
“ANJIR!”
“Mereka beneran ngeblokir akun gue?!”
Raka menatap layar ponselnya dengan mata melotot.
Akunnya ternyata dibekukan selama satu hari.
Begitu mengingat tiga ulasan buruk dan keluhan yang diterimanya minggu ini, amarah yang sejak tadi tertahan langsung meledak.
Disuruh nganter nasi, dia nolak kasih ulasan jelek.
Komplain!
Disuruh ambil paket, dia nolak kasih ulasan jelek.
Komplain!
Disuruh ngangkut sampah, dia nolak kasih ulasan jelek.
Komplain!
Yang paling menyebalkan, menurut sistem aplikasi, ketiga keluhan itu dinyatakan valid!
“Emang di dunia ini nggak ada keadilan?!”
“Ada hukum nggak, sih?!”
“Satu order cuma dibayar enam ribu rupiah!”
“Gue udah nganter makanan lo, masih disuruh ngangkut dua karung beras masing-masing hampir dua puluh lima kilo ke lantai tujuh?!”
“Eksploitasi macam apa ini?!”
“Zaman penjajahan aja mungkin mandor nggak sejahat ini!”
“Bangsat!”
“Pelanggan sialan!”
“Aplikasi brengsek!”
“CS-nya juga ah, sudahlah!”
Dada Raka naik turun karena emosi.
Tanpa sadar, roti yang masih setengah dimakannya diremas sampai hancur di tangan kiri.
Kalau Raka melihat pemberitahuan pemblokiran itu sepuluh menit sebelumnya, mungkin dia hanya akan kesal.
Tapi sekarang...
Dia benar-benar marah.
Karena yang paling menyakitkan bukanlah pemblokiran akunnya.
Melainkan perbandingan.
Mereka semua sama-sama berusia delapan belas tahun.
Teman-temannya punya orang tua yang bisa menjadi sandaran. Mereka sebentar lagi akan masuk kampus dan menikmati masa muda yang seharusnya menjadi masa paling indah dalam hidup.
Sementara Raka?
Dia tidak punya siapa-siapa.
Tanpa orang tua yang bisa diandalkan, dia hanya bisa bertahan hidup seperti rumput liar.
Tumbuh sendirian.
Berjuang sendirian.
Bahkan harus memaksa dirinya sendiri menjadi tempat berlindung.
Masa muda Raka...
Mungkin sudah berakhir sejak hari pertama dia mulai memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang.
TING!
Saat amarah Raka mencapai puncaknya, suara notifikasi yang sangat jelas tiba-tiba terdengar di dalam kepalanya.
Di saat yang sama, sebuah layar transparan seperti teknologi dari film fiksi ilmiah muncul di depan matanya.
[Pada usia 13 tahun, nilai akademik Anda sangat bagus dan selalu berada di peringkat atas sekolah.]
[Namun, Anda tidak pernah benar-benar merasa bahagia. Penampilan Anda yang menarik sering kali justru mendatangkan berbagai masalah yang tidak perlu.]
[Pada usia 14 tahun, kehidupan Anda berubah drastis. Hubungan kedua orang tua Anda semakin buruk hingga akhirnya mereka bercerai.]
[Ibu Anda pergi ke luar negeri tanpa membawa apa pun, sementara Anda memilih tinggal bersama ayah.]
[Pada usia 15 tahun, ayah Anda tidak sanggup menghadapi kesepian. Demi mengejar cinta, dia pergi begitu saja dan menghilang dalam semalam.]
[Sejak saat itu, Anda hidup seorang diri.]
[Tanpa siapa pun yang bisa dijadikan sandaran, Anda hanya mampu bertahan dengan bantuan sekolah, guru, dan teman-teman.]
[Pada usia 16 tahun, Anda menyelesaikan sekolah menengah dan memilih berhenti melanjutkan pendidikan untuk masuk ke dunia kerja.]
[Anda meninggalkan kampung halaman di Jakarta dan pergi ke Bandung.]
[Dengan uang beberapa ratus ribu rupiah di saku, Anda mulai berusaha mencari nafkah sendiri di kota ini.]
[Pada usia 17 tahun, Anda pernah bekerja sebagai pencuci piring di rumah makan, mengangkut barang berat di proyek pembangunan, menjadi pelayan di tempat hiburan malam, bahkan mengenakan kostum maskot di pinggir jalan demi mendapatkan uang.]
[Di tengah malam, Anda melihat kehidupan orang-orang kaya yang menghamburkan uang seolah tidak ada habisnya.]
[Ketika fajar datang, Anda juga melihat kehidupan orang-orang biasa yang harus menghitung setiap rupiah demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.]
[Pada usia 18 tahun, tepat ketika Anda resmi menjadi orang dewasa, Anda memilih untuk mengenakan “jaket orange” dan menjadi pengemudi jasa antar, berkeliling melewati jalan-jalan dan gang-gang Kota Bandung...]
[Selama tiga tahun terakhir, Anda telah melihat berbagai sisi kehidupan.]
[Anda telah merasakan hangat dan dinginnya dunia, sekaligus menahan berbagai tatapan meremehkan dan ejekan yang tak terhitung jumlahnya.]
[Anda seperti rumput liar yang hanyut mengikuti arus kehidupan, terapung sendirian tanpa tempat untuk berpijak.]
[Sekarang, Anda akan diberikan kesempatan untuk mengubah takdir hidup Anda.]
[Raka, apakah Anda bersedia?]
[mempertaruhkan segalanya demi hidup Anda sendiri?]
Raka menatap kosong ke layar cahaya yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
Dia mengucek matanya berkali-kali.
Layar itu tetap berada di sana.
Tidak menghilang.
Bahkan setelah matanya terasa perih karena digosok, layar transparan tersebut masih melayang dengan tenang.
“Si... Sistem?”
Raka terdiam.
Sebagai pembaca novel yang sejak dulu gemar membaca cerita fantasi dan sistem, dia langsung memahami apa yang sedang terjadi.
Dalam sekejap, amarah yang sebelumnya memenuhi dadanya menghilang seperti air laut yang ditarik kembali oleh ombak.
Jantungnya mulai berdetak semakin cepat.
Mengubah takdir hidup gue?
Mempertaruhkan segalanya demi hidup gue sendiri?
Menghadapi pertanyaan dari sistem itu, Raka tidak membutuhkan waktu sedikit pun untuk berpikir.
“Gue bersedia!”
Suaranya tidak keras.
Namun, setiap kata yang keluar terdengar sangat tegas.
Raka tidak tahu cobaan seperti apa yang harus dia hadapi setelah menerima kesempatan ini.
Dia juga tidak tahu perubahan seperti apa yang akan terjadi di masa depan.
Apakah hidupnya akan menjadi lebih baik?
Atau justru semakin buruk?
Tapi lalu kenapa?
Memangnya masih bisa lebih buruk dari sekarang?
Dia sudah seperti rumput liar yang terjebak di tanah tandus.
Setiap hari dia hanya berlari ke sana kemari.
Bekerja keras sekadar untuk bertahan hidup.
Dan semua itu sudah menghabiskan hampir seluruh tenaga yang dia punya.
Tidak ada orang tua untuk diandalkan.
Tidak punya ijazah tinggi.
Tidak punya keahlian khusus.
Masa depan?
Raka bahkan tidak bisa melihat sedikit pun harapan di sana.
Tapi sekarang...
Kesempatan untuk mengubah nasibnya telah muncul tepat di depan mata.
Kesempatan yang mungkin membuatnya tidak perlu lagi menundukkan kepala di hadapan orang lain.
Kesempatan untuk berdiri tegak.
Kesempatan untuk hidup dengan harga diri.
Apa pun harganya, dia harus merebut kesempatan tersebut.
Tiga tahun hidup sendirian telah mengajarkan Raka sebuah pelajaran penting.
Di masyarakat ini...
Kalau seseorang kaya, perkataannya dianggap benar.
Kalau seseorang miskin, perkataannya dianggap angin lalu.
Punya uang, lo adalah bos.
Nggak punya uang?
Bahkan untuk menjadi penjilat pun lo belum tentu mendapatkan kesempatan.
Katanya hidup itu seperti hutan rimba?
Omong kosong!
Lo butuh tambang emas dulu kalau mau bertahan hidup di dalam rimba!
Uang tunai yang benar-benar bisa digunakan adalah tempat berlindung paling kokoh dalam kehidupan.
Raka teringat saat berusia enam belas tahun.
Waktu itu, ketika meninggalkan rumah, dia dengan penuh percaya diri mengatakan kepada teman-temannya bahwa suatu hari nanti dia pasti akan menjadi orang besar.
Sekarang usianya sudah delapan belas tahun.
Setiap kali mengingat perkataan itu, dia hanya ingin menertawakan dirinya sendiri.
“Dulu gue pede banget, ya.”
Setelah datang ke Bandung, Raka akhirnya benar-benar memahami satu hal.
Mencari uang itu sulit.
Dan hidup...
Benar-benar menyebalkan.
Awalnya Raka mengira hidup hanya terdiri dari hal-hal sederhana.
Pakaian.
Makanan.
Tempat tinggal.
Transportasi.
Hal-hal kecil yang dilakukan setiap hari.
Memangnya semua itu bisa ngapain ke gue?
Namun anehnya...
Ketika semua masalah kecil tersebut datang bersamaan, satu per satu menumpuk di atas kepalanya, Raka justru merasa seperti sedang dicekik sampai tidak bisa bernapas.
Inilah kenyataan.
Inilah kehidupan.
Saat emosi Raka masih bergolak, suaranya perlahan menghilang.
Layar cahaya yang sebelumnya melayang di hadapannya juga mulai memudar.
Sebagai gantinya, dua gambar besar perlahan muncul.
Salah satunya adalah sebuah menara emas yang menjulang tinggi dan berkilauan.
Yang lainnya adalah sebuah tongkat kerajaan yang memancarkan cahaya keemasan.
[Sistem Pembalik Takdir resmi diaktifkan.]
[Host: Raka]
[Usia: 18 tahun]
Layar cahaya kembali muncul di depan mata Raka.
Dia kemudian melihat menara emas yang seolah-olah menembus langit dan bumi itu bergetar perlahan.
[Misi Tantangan: Menurunkan berat badan sebanyak 15 kilo dalam 30 hari.]
[Hadiah Misi: Membuka Level 1 “Menara Kekayaan Emas”.]
[Tingkat Kekayaan Anda akan dinaikkan menjadi A9.]
Daftar bab
33 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








