
Toko Senjata Murahan Pengguncang Sekte
SAYA ADALAH|Bersambung
- Jumlah kata
- 74.8K
- Popular
- 369
- Subscribe
- 42
- Jumlah kata
- 74.8K
- Popular
- 369
- Subscribe
- 42
Sinopsis
Roy bersumpah meratakan perguruan raksasa yang telah mencuri pusaka leluhurnya dan mematahkan kedua tangannya. Mengabaikan cara memupuk tenaga batin konvensional yang butuh waktu puluhan tahun, Roy mengaktifkan sistem pandai besi aneh: ia bisa menciptakan senjata-senjata pusaka berkekuatan dewa dengan tampilan perabot rumah tangga butut. Mengacungkan panci gosong yang kebal serangan elemen dan sandal jepit pembelah gunung, Roy mendatangi markas musuh-musuhnya satu per satu sambil menagih ganti rugi bunga utang yang ia hitung secara asal-asalan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 — ARANG, TULANG, DAN KUALI RETAK
Asap pekat berbau jelaga dan karat memenuhi gubuk reyot di ujung Pasar Karang Tumaritis. Di dalam ruangan sempit berlantai tanah liat yang keras, Roy meniup pipa bambu ke arah bara api yang nyaris padam. Peluh membasahi pelipisnya, mengalir melewati rahang yang mengeras sebelum jatuh berdesis di atas lempengan besi tua.
Roy menatap kedua pergelangan tangannya. Di balik kulit sawo matang yang kasar, terdapat dua bekas luka melingkar yang mengerikan—jejak tulang yang pernah remuk tak bersisa tiga tahun silam.
Rasa nyeri itu masih sering kambuh saat malam dingin menusuk sumsum, seolah mengingatkannya pada suara tawa congkak para tetua Padepokan Tapak Mega. Mereka datang laksana badai, membumihanguskan rumah gubuk kakeknya, merampas Keris Pusaka Braja Mustika peninggalan leluhur klan mereka, lalu mematahkan kedua lengan anak muda yang bahkan belum tuntas membuka simpul dasar pernapasannya.
"Semut tidak berhak menyimpan permata kahyangan," ujar pria berjubah biru kelabu kala itu, sebelum tumit berbalut kain sutra menekan pergelangan tangan Roy hingga terdengar bunyi retakan yang memuakkan.
Roy menghela napas panjang, meniup sisa debu dari keningnya. Rasa dendam itu ada, membakar di dasar ulu hati seperti endapan belerang, tetapi Roy bukanlah pemuda dungu yang akan berlari menabrak dinding batu hanya demi mati konyol. Tapak Mega adalah perguruan raksasa penguasa Kadipaten Lembah Awan. Murid luarnya saja sudah melatih Ranah Napas Batin, sementara tetua mereka konon telah mencapai puncak Ranah Bara Sukma.
Untuk membalas mereka hari ini? Roy hanya akan menjadi abu sebelum sempat menyentuh gerbang padepokan.
"Setidaknya hari ini tanganku tidak gemetar lagi," gumam Roy pelan sambil menggerakkan jari-jarinya.
Kesembuhan kedua tangannya yang mustahil secara medis bukanlah keajaiban dukun desa. Semuanya berawal tiga pekan lalu, ketika ia tanpa sengaja menggoreskan darahnya pada landasan tempaan kuno yang tertimbun di sudut bengkel rongsokan peninggalan ayahnya. Sejak detik itu, sebuah kesadaran aneh menancap di benaknya.
Gong!
Sebuah dengung samar, terdengar seperti suara tabuhan genta perunggu dari masa silam, bergema lembut di kepalanya.
[Sistem Empu Ajaib Nusantara]
[Tuan Rumah: Roy]
[Ranah Pribadi: Napas Batin - Tingkat 1 (Penyelarasan Sendi)]
[Tungku Peleburan: Level 1 (Tungku Tanah Liat)]
[Bahan Tersedia: Besi Bekas Gerobak (Kualitas Rendah), Arang Kayu Randu]
[Tugas Pemula: Selesaikan tempaan perkakas pertama untuk mengikat resonansi spiritual.]
[Batas Waktu: Hari ini sebelum matahari terbenam.]
Roy mendengus geli melihat tulisan samar berwarna keemasan yang mengambang di sudut pandangnya. Huruf-huruf itu bergetar pelan, menyerupai ukiran aksara kuno di prasasti batu.
"Sistem Empu Ajaib..." gumam Roy seraya mengambil sebilah besi bekas poros gerobak yang sudah berkarat. "Namanya terdengar gagah luar biasa. Tapi kenapa bahan yang kau izinkan untuk kutempa pertama kali hanyalah rongsokan pasar begini?"
Sistem tentu saja tidak menjawab celotehannya. Kesadaran misterius itu dingin dan hemat bicara. Hanya ada getaran hangat yang mengalir dari landasan tempa menuju kedua lengannya, menstabilkan urat-urat nadi yang pernah cacat.
Roy meletakkan besi berkarat itu ke dalam bara api. Tangannya yang dulu lumpuh kini bergerak dengan kepekaan yang luar biasa. Setiap kali jemarinya menyentuh palu bergagang kayu asam, ia dapat merasakan getaran serat logam, kandungan kotoran di dalam bijih besi, serta titik rapuh yang tersembunyi.
Ting! Ting! Ting!
Irama denting logam mulai bergema di sudut pasar yang sepi. Roy memusatkan seluruh konsentrasinya. Sesuai petunjuk gaib yang mengalir ke benaknya, ia tidak sekadar memukul logam, melainkan mengalirkan embusan napas panjang dari diafragma, menarik hawa hangat di sekelilingnya untuk dimasukkan ke pori-pori lempengan panas.
Ini adalah teknik dasar pemurnian: melucuti karat fana, menanamkan kehendak sukma.
Besi poros gerobak itu perlahan memerah menyala, melunak di bawah pukulan palu Roy yang mantap. Roy mengira sistem akan menuntunnya membentuk sebilah pedang pendek, belati tajam, atau setidaknya mata tombak yang pantas disimpan seorang pendekar. Namun, ketika garis luar bentuk logam itu mulai membengkok melingkar, alis Roy terangkat tinggi.
"Tunggu dulu," Roy menghentikan ayunan palunya sejenak. Matanya menyipit. "Kenapa bentuknya melebar seperti mangkuk raksasa? Kenapa tepiannya melengkung keluar?"
Sistem tidak memberikan instruksi verbal, melainkan mendesak naluri Roy untuk terus memukul lekukan tersebut. Roy menggerutu, namun tangannya terus menari di atas paron. Ia melipat besi, menipiskan bagian tengah, lalu membentuk dua tonjolan kecil di sisi kiri dan kanan.
Dua jam kemudian, menjelang sore yang gerah, Roy mencelupkan hasil karyanya ke dalam bak berisi air rendaman dedaunan pacing tawar.
Cusssss!
Uap putih membubung tinggi, menebarkan aroma wangi kayu manis yang samar bercampur hawa besi panas. Ketika uap itu menipis, Roy mengangkat benda tersebut dengan sepasang penjepit panjang.
Roy menatap benda di tangannya dengan pandangan kosong.
Benda itu bulat. Bagian tengahnya cekung sedalam sejengkal. Di kedua sisinya terdapat kuping pegangan yang kokoh namun canggung. Permukaannya hitam legam akibat arang tempaan, sedikit berbintik-bintik kasar, dan tampak persis seperti alat penggorengan yang biasa digunakan pedagang tahu brontak di perempatan jalan.
"Sebuah wajan?" desah Roy, tidak percaya pada pandangannya sendiri. "Aku berkeringat darah selama dua jam, mempertaruhkan sisa napas batinku, hanya untuk menempa wajan penggorengan hitam?"
Tepat saat ia berniat melemparkannya kembali ke tumpukan abu, tulisan emas di pandangannya berkilat terang.
[Penempaan Berhasil!]
[Senjata Pusaka Tercipta]
[Nama: Wajan Hitam Pembakar Lemak]
[Bentuk: Wajan Dapur Bertelinga Dua]
[Tingkat: Pusaka Rendah (Setara Tingkat Tembaga)]
[Karakteristik Khusus: Menolak Gaya Tumpul, Menyerap Hawa Api, Menghantarkan Rasa Sakit Berlipat]
[Kemampuan Aktif: 'Tamparan Kuali Dapur' — Benturan permukaan wajan mampu memantulkan hantaman energi fisik dan meretakkan pertahanan lawan sebesar 30%.]
[Status Pembuat: Diakui sebagai karya pertama Empu Roy.]
[Hadiah Penyelesaian: Peningkatan Kapasitas Napas Batin, Pembukaan Kios Dagang.]
Aliran hawa sejuk seketika menjalar dari wajan itu melalui telapak tangan Roy, meresap ke rongga dadanya. Sendi-sendi lengannya berderak pelan tanpa rasa sakit. Ia merasakan udara di sekitarnya terasa sedikit lebih ringan untuk dihirup. Ranah Napas Batinnya yang selama ini tersendat di ambang kerapuhan kini berakar kokoh pada Tingkat 1.
Roy mengayunkan wajan itu pelan di udara. Bunyi desingan angin terdengar sangat tajam, sama sekali tidak mirip suara perabotan dapur biasa. Keseimbangan bobotnya luar biasa sempurna, seakan-akan wajan itu adalah perpanjangan dari tulang tangannya sendiri.
"Pusaka..." Roy terkekeh pahit, mengetuk permukaan wajan yang berdenting nyaring. "Jika tetua Tapak Mega melihatku menentang mereka dengan membawa wajan gosong, mereka mungkin tidak akan membunuhku karena takut, melainkan mati karena terpingkal-pingkal."
Tepat saat Roy hendak menaruh wajan aneh itu di atas amben kayu, pintu tripleks gubuknya yang rapuh tiba-tiba ditendang keras dari luar.
Brak!
Pintu bambu itu terlepas dari engsel kulitnya, jatuh berdebu ke tanah. Tiga sosok pria berbadan gempal melangkah masuk tanpa permisi. Mereka mengenakan rompi kulit berlumur minyak dengan ikat kepala merah kusam—tanda pengenal komplotan pemeras Pasar Tumaritis pimpinan Ki Rogobesi.
Pria yang berdiri di tengah, berkumis tebal dengan golok besar terselip di pinggang, meludah tepat di depan paron tempaan Roy.
"Heh, Roy Cacat!" suara pria itu menggelegar kasar. "Bulan baru sudah tiba dua hari lalu. Uang sewa lapak dan uang perlindungan untuk Ki Rogobesi belum kau serahkan. Kau pikir tanah bengkel rongsokan ini milik kakek moyangmu, hah?"
Roy tidak mundur selangkah pun. Ia meletakkan palunya pelan-pelan, namun tangan kirinya masih mencengkeram kuping wajan hitam yang baru saja selesai ditempa. Tatapannya menatap lurus ke arah pria berkumis tebal itu tanpa ada secuil pun rasa gentar.
"Jali," ucap Roy dengan nada datar dan tenang. "Pajak pasar resmi ditarik oleh pengurus kadipaten tiap pertengahan bulan. Ki Rogobesi hanya preman jalanan yang menumpang makan. Lagipula, bengkel ini memang tanah warisan keluargaku."
Jali mendengus murka. Urat-urat di lehernya mencuat. Ia adalah pendekar amatir yang baru saja berhasil membuka simpul Napas Batin Tingkat 1, merasa dirinya sudah cukup sakti untuk menginjak-injak rakyat jelata.
"Berani menjawab kau, bangsat lumpuh!" raung Jali seraya melangkah maju. Tangan kanannya terayun deras, melancarkan tinju lurus bertenaga hawa batin yang berdesis membelah udara, langsung mengarah ke rahang Roy.
Roy tidak menghindar. Alih-alih melangkah mundur, tubuhnya bergerak secara naluriah mengikuti aliran energi yang baru saja memantap di tubuhnya.
Alih-alih menangkis dengan tangan kosong, Roy mengangkat wajan hitam di tangannya seperti perisai bundar, menyodorkannya tepat ke arah lintasan tinju Jali.
Duaaanggg!
Suara benturan logam yang memekakkan telinga meledak di dalam gubuk sempit itu. Tinju Jali menghantam dasar wajan dengan telak. Namun, bukannya wajan itu hancur atau terlempar, gelombang kejut justru membalik seketika. Seluruh tenaga hantaman Jali terserap dalam sekejap mata, sebelum wajan hitam itu memantulkannya kembali dengan daya dorong ganda.
"Aaaargh!"
Bunyi gemeretak tulang jari yang patah terdengar sangat renyah. Jali terhuyung mundur dengan mata terbelalak liar, memegangi tangan kanannya yang kini terkulai bengkok tak wajar, sementara dua anak buah di belakangnya membeku kaku menatap wajan dapur yang bahkan tidak penyok sedikit pun.
Roy memiringkan kepalanya, menatap permukaan wajan hitamnya yang masih licin tanpa goresan, lalu menatap Jali dengan senyum tipis yang dingin.
"Pintu gubukku harganya dua keping perak," kata Roy pelan. "Debu yang kalian bawa mengotori tempaanku, itu tiga keping perak. Ditambah biaya kalian membuat telingaku berdenging..."
Roy mengangkat wajan itu sedikit lebih tinggi.
"...totalnya sepuluh keping perak. Mau bayar sekarang, atau kepalamu ingin mencicipi bagian belakang wajan ini?"
Daftar bab
57 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








