
- Jumlah kata
- 45.2K
- Popular
- 143
- Subscribe
- 16
Sinopsis
Mahesa Arya Pradipta, 35 tahun, adalah CEO perusahaan properti yang sukses. Di usia muda, ia sudah mengelola aset ratusan miliar tanpa bantuan ayahnya yang merupakan seorang pejabat tinggi. Ia mandiri, cerdas, dan dihormati.Tapi ada satu masalah: Mahesa adalah CEO paling usil dan gokil yang pernah ada. Dia suka nge-prank karyawannya dengan cara-cara konyol. Ada yang disuruh pakai baju terbalik, ada yang dikasih tugas aneh, ada yang fotonya diganti jadi foto paling jelek di ID card. Karyawannya sudah tidak tahu lagi apakah bos mereka ini jenius atau gila.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Mahesa Bos Usil
Mahesa Arya Pradipta sedang menangis. Bukan karena perusahaan bangkrut. Bukan karena bapaknya sakit. Bukan karena hartanya disita negara. Mahesa menangis karena kartun seekor anak anjing yang kehilangan induknya di tengah hujan deras.
Pukul enam pagi. Lantai dua puluh Menara Cakrawala seharusnya sunyi. Tapi di ruang rapat utama yang panjangnya dua belas meter, terdengar suara isak tangis yang menyayat hati. Proyektor menyala, menampilkan adegan anak anjing kartun yang berlari mengejar induknya sambil diiringi musik piano yang menyedihkan.
Mahesa duduk di ujung meja, memeluk bantal kursi, air matanya mengalir deras. Ia sudah menghabiskan dua tisu dari kotak di depannya. Matanya bengkak, hidungnya meler, dan kemeja birunya yang mahal kini ada bekas ingus di kerahnya.
"Siapa yang bikin film begini sih," gumam Mahesa pada layar. "Harusnya ada warning di awal, 'film ini bisa bikin orang dewasa menangis'. Ini tidak adil."
Ia mengambil tisu lagi, mengusap matanya, lalu memutar ulang adegan yang sama. Anak anjing itu kembali berlari mengejar induknya. Mahesa kembali menangis.
"Kasihan banget," isaknya.
Pintu ruang rapat terbuka pelan.
Mahesa tidak sadar. Ia terlalu sibuk menangis.
Alya, sekretaris pribadinya, berdiri di ambang pintu dengan tas di tangan. Ia membeku. Matanya beralih dari Mahesa yang menangis tersedu-sedu, ke layar yang menampilkan kartun anak anjing, lalu kembali ke Mahesa.
Alya menghela napas panjang, masuk ke ruangan, dan mengambil remote dari meja. Ia mematikan proyektor.
"Pak," ucap Alya datar.
Mahesa tersentak, langsung menghapus air matanya dengan lengan kemeja. Ia menatap Alya dengan wajah seperti anak kecil yang ketahuan mencuri kue.
"Alya! Kau... sejak kapan di situ?" tanya Mahesa, suaranya masih serak.
"Cukup lama untuk tahu bahwa Bapak menangis karena film kartun," jawab Alya, meletakkan tasnya di kursi dan menyalakan lampu ruangan. "Lagi. Ini ketiga kalinya minggu ini, Pak. Senin Bapak nangis karena iklan sabun yang ada kucingnya. Rabu nangis karena video anak kecil yang belajar naik sepeda. Dan sekarang, Jumat, nangis karena anak anjing kartun yang kehilangan ibunya."
"Ini bukan film kartun biasa, Alya," protes Mahesa, berdiri dan merapikan kemejanya. "Ini film tentang anak anjing yang kehilangan ibunya di tengah badai. Siapa yang tidak nangis lihat itu?"
"Orang normal yang berusia tiga puluh lima tahun dan memimpin perusahaan dengan dua ratus karyawan," jawab Alya tanpa menoleh. Ia membuka laptopnya dan mulai mengecek jadwal. "Pak, Bapak punya rapat direksi pukul sembilan. Bapak harus ganti kemeja. Yang ini ada bekas ingusnya di kerah."
Mahesa menunduk, memeriksa kemejanya, lalu meringis. "Oh. Ya. Oke." Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti dan menoleh dengan wajah memelas. "Alya, satu hal."
"Apa, Pak?"
"Jangan bilang siapa-siapa soal ini. Kalau Raka tahu, dia bakal bikin meme dan nyebarin di grup WhatsApp kantor. Terakhir kali dia bikin meme saya nangis, produktivitas lantai dua belas turun tiga puluh persen karena semua orang ketawa seharian."
Alya membatin dalam hati sambil menatap Mahesa dengan tatapan pasrah, 'Bapak sadar tidak kalau Bapak sendiri yang bikin produktivitas turun karena prank-prank Bapak?' Tapi yang keluar dari mulutnya hanya, "Siap, Pak. Rahasia aman."
Mahesa mengangguk puas, lalu keluar ruangan dengan langkah yang berusaha terlihat berwibawa meskipun matanya masih bengkak.
Di dalam hatinya, Mahesa merasa malu. Ia adalah Mahesa Arya Pradipta, CEO perusahaan properti yang membangun semuanya dari nol. Di usia tiga puluh lima, ia sudah mengelola aset ratusan miliar. Bapaknya, Arya Pradipta, adalah pejabat tinggi di kementerian yang namanya saja sudah cukup membuat para pengusaha gemetar. Tapi Mahesa tidak pernah pakai nama bapaknya. Ia membangun semuanya sendiri, dari ruangan kecil sebesar garasi, dengan modal tabungan kuliah dan laptop bekas.
Ia mandiri. Ia cerdas. Ia dihormati.
Tapi ia juga gampang nangis karena film kartun.
Paradoks, kata orang. Mahesa lebih suka menyebutnya "sisi manusiawi yang tidak bisa dikontrol".
Pukul sembilan, Mahesa kembali ke ruangannya dengan kemeja baru yang rapi. Rambutnya sudah disisir, wajahnya sudah tidak bengkak, dan ia terlihat seperti CEO yang seharusnya. Profesional, berwibawa, dan tenang.
"Alya. Ada apa hari ini?" tanya Mahesa, duduk di kursinya dan membuka laptop.
"Pak, ada hal penting yang harus saya sampaikan," ucap Alya, berdiri dan berjalan ke meja Mahesa. "Jam sepuluh, investor dari Grup Sentosa akan datang untuk menindaklanjuti kerjasama. Nilainya ratusan miliar."
Mahesa mengangkat alisnya. "Oh, yang itu. Raka sudah bilang. Tenang saja, aku akan bersikap profesional."
Alya menatap Mahesa dengan tatapan yang penuh keraguan. "Pak, definisi Bapak tentang 'profesional' itu apa?"
Mahesa berpikir sejenak. "Datang tepat waktu, pakai jas, dan tidak nge-prank orang selama minimal dua jam."
"Dua jam?" ulang Alya. "Pak, kegiatan ini itu bisa seharian."
Wajah Mahesa berubah pucat. "Seharian? Seharian tanpa nge-prank? Alya, itu penyiksaan. Itu melanggar HAM."
"Pak, ini ratusan miliar," ucap Alya tegas. "Bapak bisa tahan sehari saja, kan?"
Mahesa bersandar di kursinya, menatap langit-langit ruangan dengan ekspresi seperti orang yang baru saja dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. "Baiklah. Satu hari. Satu hari aku akan jadi CEO yang membosankan. Tapi setelah investor itu pergi, aku bakal nge-prank seluruh lantai dua belas sebagai kompensasi."
Alya tidak menjawab. Ia hanya kembali ke mejanya dan mulai menyiapkan dokumen. Dalam hati, ia berdoa agar hari ini berjalan lancar.
Pukul sepuluh tepat, pintu ruangan terbuka. Raka masuk dengan wajah tegang, diikuti oleh seorang pria berusia lima puluhan yang mengenakan setelan abu-abu gelap. Pria itu memiliki wajah yang keras, rahang yang tegas, dan mata yang menatap seolah sedang menghitung berapa banyak kesalahan yang bisa ia temukan dalam satu ruangan.
Namanya Pak Handoko.
Mahesa berdiri, memasang senyum terbaiknya, dan mengulurkan tangan. "Selamat pagi, eh selamat pagi menjelang siang, Pak Handoko. Selamat datang di Menara Cakrawala. Saya Mahesa Arya Pradipta."
Pak Handoko menjabat tangan Mahesa dengan cengkeraman yang kuat dan singkat. "Siang, Pak Mahesa. Saya dengar banyak hal tentang perusahaan ini. Saya harap kenyataannya sesuai dengan reputasinya."
"Tentu saja, Pak," jawab Mahesa, memberi gestur menuju kursi. "Silakan duduk. Kami sudah siapkan semua dokumen yang dibutuhkan."
Pak Handoko duduk, membuka tas kerjanya, dan mengeluarkan tumpukan dokumen. Mahesa dan Pak Handoko berbincang serius, kadang diselingi penjelasan dari Mahesa. Mereka berdua mulai membaca dokumen dengan teliti, sesekali mengangguk, sesekali mengernyit.
Mahesa duduk di seberangnya, bersikap tenang dan profesional. Alya menyajikan kopi untuk Pak Handoko, lalu kembali ke mejanya.
Sepuluh menit berlalu. Mahesa masih bersikap normal.
Dua puluh menit berlalu. Mahesa mulai mengetuk-ngetukkan jarinya di meja.
Tiga puluh menit berlalu. Alya melihat Mahesa melirik ke arah laci mejanya, tempat ia menyimpan koleksi stiker wajah konyol yang biasa ia tempelkan di punggung karyawan tanpa mereka sadari.
Alya menatap Mahesa dengan tajam dan menggelengkan kepala pelan.
Mahesa menarik tangannya dari laci, lalu menghela napas. Ia menatap Pak Handoko yang masih sibuk membaca dokumen dengan wajah serius tanpa ekspresi.
"Satu hari," gumam Mahesa pelan, nyaris tidak terdengar. "Hanya satu hari. Aku pasti bisa."
Tapi di dalam laci mejanya, stiker-stiker wajah konyol itu seolah memanggil namanya. Dan Mahesa tahu, godaan itu hanya akan semakin kuat seiring berjalannya waktu.
Di sudut ruangan, Alya diam-diam menyiapkan rencana cadangan. Karena ia tahu, dalam sejarah dua tahun ia bekerja dengan Mahesa, tidak pernah ada satu hari pun yang berjalan sesuai rencana.
Dan hari ini, dengan investor ratusan miliar yang tidak punya selera humor duduk di ruangan yang sama dengan CEO paling usil di Kota Valeria, Alya punya firasat bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat panjang.
Sementara itu, di ponsel Mahesa yang tergeletak di meja, notifikasi dari aplikasi streaming masuk. Judulnya: "Anak Kucing yang Kehilangan Ibunya di Hutan Ajaib." Mahesa melirik ponselnya sekilas, lalu cepat-cepat membalikkannya agar Pak Handoko tidak melihat.
"Satu hari," bisiknya lagi pada dirinya sendiri. "Hanya satu hari tanpa prank, tanpa nangis karena kartun, tanpa ulah. Aku pasti bisa."
Tapi jauh di dalam hatinya, Mahesa tahu bahwa janji pada diri sendiri adalah janji yang paling mudah dilanggar. Apalagi kalau janjinya adalah tidak nge-prank seharian.
Daftar bab
36 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








