
Mata Ajaib Pendekar Cakrawala
Aditya01|Bersambung
- Jumlah kata
- 45.8K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 252
- Jumlah kata
- 45.8K
- Popular
- 2.2K
- Subscribe
- 252
Sinopsis
Hayson bagai disambar petir saat mengetahui pacarnya diam-diam bertunangan dengan pria lain. Lebih parah lagi, wanita itu membuang cincin kayu warisan yang pernah diberikannya, lalu menyuruh tunangannya memukuli Hayson di depan umum. Namun, takdir berbalik. Cincin kayu yang sempat dibuang itu ternyata menyimpan rahasia besar. Kini Hayson mewarisi Ilmu Rahasia Cakrawala yang memberinya kemampuan mata tembus pandang. Dengan kekuatan barunya, Hayson siap membalas setiap penghinaan dan merebut kembali harga dirinya!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Ponsel diatas meja kerja berdengung nyaring, menampilkan deretan angka asing tanpa nama pemilik. Hayson merapikan stetoskop yang melingkar di lehernya sebelum menggeser ikon hijau di layar.
"Halo, apakah benar saya berbicara dengan Saudara Hayson Nugroho?" suara bernada datar di seberang sana langsung menyapa.
Hayson mengernyitkan dahi sembari membetulkan posisi duduknya. "Benar, saya sendiri. Maaf, ini dengan siapa?"
"Kekasih Anda, Miss Gaby Angela, saat ini sedang mengadakan pesta pertunangannya di Hotel Artena bersama pria lain," ujar suara itu tanpa ragu.
Hayson terkekeh kecil, menganggap ucapan tersebut sekedar lelucon tidak berbobot. "Maaf, jangan main-main. Saya sedang bertugas."
"Apabila Anda tidak percaya, silakan periksa pesan yang baru saja masuk," balas Penelepon singkat sebelum serta-merta memutuskan sambungan.
Ponsel Hayson bergetar menandakan sebuah pesan masuk. Jarinya bergerak membuka lampiran foto beresolusi tinggi yang menampilkan suasana ballroom mewah Hotel Artena lengkap dengan dekorasi megah. Di tengah ruangan, Gaby berdiri mengenakan gaun anggun, tersenyum manis sambil merangkul erat dengan seorang pria bertubuh jangkung.
Mata Hayson membelalak menatap deretan foto tersebut. Jarinya gemetar saat memperbesar gambar wajah wanita yang sangat dia kenali itu.
"Ini... tidak mungkin rekayasa," gumam Hayson pada ruangan yang hening.
Dia meneliti tiap detail foto, memastikan pencahayaan dan bayangan di sana untuk mencari kejanggalan. Namun, seluruh gambar itu terpampang sangat nyata tanpa celah.
Tanpa membuang waktu, Hayson segera menghubungi nomor kekasihnya. Panggilan pertama sempat tersambung, tetapi mendadak ditolak sebelum diangkat. Hayson mencoba menghubungi kembali, namun kali ini hanya suara operator yang terdengar.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Hayson meletakkan ponselnya di meja dengan nafas memburu. Dadanya terasa sesak mendadak, menahan amarah yang kian memuncak.
"Tenang, Hayson. Gaby pasti memiliki alasan yang belum sempat disampaikan," bisiknya pada diri sendiri, berusaha meredam gejolak di dada. "Pasti ada kesalahpahaman di sini. Gaby tidak mungkin melakukan hal sekeji ini."
Namun, kenyataan di layar ponselnya terlalu menyengat untuk diabaikan. Malam sebelumnya mereka masih menghabiskan waktu bersama, bertukar janji manis dengan penuh kehangatan. Mereka telah sepakat bahwa begitu masa magangnya di rumah sakit ini selesai, kedua pihak keluarga akan bertemu untuk membahas pernikahan.
Hayson melepas jas putih dokter magangnya dan meletakkannya di atas kursi kerja. Dia melangkah cepat keluar dari ruang medis, menyusuri koridor menuju pintu keluar rumah sakit.
"Pak, tolong antarkan saya ke Hotel Artena. Segera," pinta Hayson begitu melompat masuk ke dalam taksi yang berada di depan area rumah sakit.
Sopir taksi mengangguk dan segera memacu kendaraannya membelah kepadatan jalan raya. Di sepanjang perjalanan, Hayson hanya menatap kosong ke luar jendela, sementara jarinya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Taksi berhenti tepat di depan lobi megah Hotel Artena. Hayson melangkah keluar setelah menyerahkan beberapa lembar uang kertas tanpa mempedulikan kembalian.
Dua orang petugas keamanan berbadan tegap langsung menghalangi langkahnya di depan pintu ballroom. "Mohon maaf, Bapak. Acara ini bersifat privat dan hanya khusus bagi para undangan."
"Tolong singkirkan tangan Anda," ucap Hayson dengan nada rendah namun penuh penekanan. Dia mendorong bahu salah satu petugas hingga terhuyung, lalu menerobos masuk ke dalam ruangan.
Gemerlap lampu kristal dan alunan musik di dalam ballroom seketika terganggu oleh kehadiran Hayson. Seluruh mata tamu undangan yang mengenakan pakaian formal langsung tertuju pada sosok Hayson yang berdiri acak-acakan di ambang pintu.
Di atas panggung utama, Gaby berdiri bersanding anggun dengan seorang pria. Tangan mereka saling bertaut erat di hadapan pembawa acara.
Langkah Hayson terhenti sejenak, dadanya seolah dihantam beban berat. Wajah pria di samping Gaby sangat tidak asing baginya—Dito Alxero, Tuan Muda Ketiga dari Grup Alxero. Pria yang tiga hari lalu sempat berselisih dengannya di sebuah pusat perbelanjaan.
Saat mata mereka saling bertumbuk, wajah Gaby sempat memucat. Dia terlihat panik dan gelisah selama beberapa detik. Namun, dengan cepat ekspresi itu menghilang, berganti menjadi tatapan dingin dan penuh ketidaksenangan. Gaby justru menggenggam jemari Dito dengan lebih erat.
Hayson melangkah perlahan mendekati panggung, mengabaikan bisik-bisik dari para tamu di sekelilingnya.
"Gaby... bisakah kamu memberikan penjelasan mengenai semua ini?" suara Hayson terdengar serak, berusaha menahan emosinya. "Tolong jelaskan padaku, Gaby. Jika kamu memiliki alasan yang rasional, aku bersedia mendengarkannya. Aku akan memaafkanmu."
Gaby menghela napas panjang, menatap Hayson dari atas panggung dengan dagu terangkat tinggi.
"Penjelasan apa lagi yang kamu harapkan, Hayson?" ujar Gaby dengan nada dingin dan penuh penekanan. "Kamu bisa menyaksikan sendiri dekorasi di ruangan ini. Hari ini adalah hari pertunanganku."
"Tetapi kita telah menjalin hubungan selama tiga tahun, Gaby! Kita bahkan merencanakan pernikahan kita!" seru Hayson dengan suara yang mulai bergetar.
Gaby terkekeh pelan, sebuah tawa anggun namun terasa amat asing di telinga Hayson. "Rencana pernikahan? Bersamamu? Sungguh sebuah angan-angan yang berlebihan."
Seorang pria paruh baya yang merupakan ayah Gaby maju melangkah, menunjuk wajah Hayson dengan raut wajah penuh penolakan. "Anak muda, ketahuilah posisi dirimu! Kamu hanyalah seorang dokter magang tanpa latar belakang yang jelas, bagaimana mungkin kamu membandingkan dirimu dengan Tuan Muda Dito?"
"Benar sekali," timpal ibu Gaby yang berdiri di samping suaminya. "Putri kami berhak mendapatkan jalan hidup yang terhormat, bukan masa depan yang serba terbatas bersamamu. Sebaiknya kamu segera meninggalkan tempat ini sebelum semakin mempermalukan diri sendiri."
Kasak-kusuk para tamu undangan kian terdengar jelas di seluruh penjuru ruangan.
"Siapa pria itu? Mengapa dia berani membuat keributan di acara resmi Grup Alxero?" bisik seorang wanita bergaun mewah di barisan depan.
"Saya dengar kabar dia hanya seorang dokter magang biasa. Sungguh tidak tahu diri mencoba mengacaukan pertunangan ini," sahut pria di sebelahnya dengan senyum sinis.
Di tengah kehebohan tersebut, Dito Alxero hanya berdiri tegak dengan menyunggingkan senyum tipis. Matanya menatap Hayson dengan pandangan meremehkan, seolah sedang menyaksikan sebuah tontonan hiburan di hari bahagianya sendiri.
"Hayson, dengarkan aku baik-baik," ujar Gaby seraya melangkah turun beberapa anak tangga panggung, mendekati posisi Hayson berdiri.
Gaby menyilangkan tangannya di dada, menatap Hayson dari atas ke bawah dengan pandangan penuh penilaian. "Dapat bersanding dengan Dito adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan besar bagiku. Dia memiliki segalanya. Sementara kamu? Kamu tidak memiliki latar belakang maupun pencapaian apa pun. Kamu sama sekali tidak pantas berdiri di sisiku."
"Gaby... bagaimana mungkin kamu berubah menjadi sosok yang begitu asing seperti ini?" Hayson menggelengkan kepala, seolah tidak percaya dengan wanita yang selama tiga tahun ini dicintainya.
Gaby memajukan tubuhnya sedikit, memangkas jarak lalu berbisik dengan suara amat pelan yang hanya dapat didengar oleh Hayson.
"Apakah kamu ingin mengetahui kebenaran yang sesungguhnya?" bisik Gaby dengan ukiran senyum tipis di bibirnya. "Sejak awal aku mendekatimu hanya karena parasmu yang cukup menarik. Aku hanya menjadikan hubungan ini sebagai sarana hiburan belaka, Hayson."
Hayson membeku di tempatnya, matanya menatap Gaby tanpa berkedip.
"Namun saat ini aku sudah mulai bosan," lanjut Gaby dengan bisikan suara yang begitu dingin. "Kamu terlalu sederhana, tidak memiliki pengaruh, dan tidak dapat memberikan keuntungan apapun bagi masa depanku. Oleh karena itu, sebaiknya kamu segera angkat kaki dari sini dan jangan pernah merusak acara pertunanganku dengan Dito."
Gaby kembali melangkah mundur, berdiri dengan tegak di samping Dito dan melemparkan senyum manis sambil merangkul lengan pria terpandang tersebut. Sementara itu, Hayson berdiri terpaku di tengah kerumunan, menatap kedua orang di atas panggung dengan gejolak dada yang teramat berat.
Daftar bab
40 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








