
KITAB JANGKA Peramal Gadungan yang Membaca Takdir
WINA LUNARA|Bersambung
- Jumlah kata
- 32.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 32.8K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Arka Pradipta adalah peramal gadungan yang hidup dari kemampuan membaca manusia. Ia tidak memiliki kekuatan gaib, hanya mata tajam, mulut licin, dan banyak kebohongan. Sampai sebuah kitab kuno bernama Kitab Jangka mulai menulis ramalan yang tidak bisa ia jelaskan. Ketika tulisan itu mulai berkaitan dengan kasus orang-orang yang menghilang, Arka terpaksa menyelidiki berbagai kasus supernatural bersama Nara Wening, investigator yang skeptis terhadap takdir. Namun semakin dalam mereka mencari, semakin jelas bahwa Kitab Jangka tidak sedang meramalkan masa depan. Ia sedang menunjukkan anomali dalam takdir. Dan ada kelompok yang percaya bahwa takdir manusia dapat dikelola seperti sebuah sumber daya. Kini Arka harus memilih antara menerima takdir atau mengubahnya dengan membayar konsekuensinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1-Ramalan yang Tidak Pernah Ada
“Kalau lu terus duduk di sini, pelangganmu bakal mengira lu tutup.”
Arka mengangkat wajah dari ponselnya.
“Memang kenapa?”
“Karena lu sudah tiga puluh menit duduk di kursi itu.”
“Observasi.”
“Ngopi tiga kali?”
“Observasi mendalam.”
Mira meletakkan gelas di depan Arka sedikit lebih keras.
“Observasi apanya?”
“Pelanggan.”
“Siapa?”
Arka menunjuk sekeliling kedai.
“Semua.”
Mira menyilangkan tangan.
“Bahasa gampangnya?”
“Gua lagi mengamati calon pelanggan.”
“Hah?”
“Gua malas naik tangga.”
“Dasar.”
Arka tersenyum.
“Gua profesional, tau.”
“Bedanya apa sama penipu?”
“Penipu bikin rugi. Gua kagak.”
“Dengan tarif tiga ratus ribu?”
“Psikolog mahal, tau.”
Mira mendengus.
“Bisnis konsultasimu makin ngawur.”
“Ahh… Bukan konsultan tapi pembacaan pola kehidupan.”
“Wah, kedengerannya keren bangets.”
Arka mengangguk pelan.
“Makanya gua pilih lu sebagai rekan bisnis.”
“Lu ngerti sarkas gak sih? Lagian gua bukan rekan bisnis.”
“Iya, pemilik tempat, bos gua.”
“Lebih tepatnya orang yang membiarkanmu nyewa lantai dua karena lu bisa bayar tepat waktu.”
“Ahh, berarti kita rekan bisnis.”
“Tidak.”
“Kalau begitu ikatan emosional?”
“Juga tidak.”
Arka hendak menjawab ketika Mira melirik ke arah pintu.
“Ngomong-ngomong, ada satu.”
“Apa?”
“Calon pelangganmu.”
Arka mengikuti pandangannya.
Seorang pria paruh baya duduk sendirian di sudut dekat jendela. Kemeja putih rapi. Celana bahan gelap. Sepatu kulit. Rambut disisir teratur, tetapi tangannya berkali-kali masuk ke saku celana.
“Yang itu?”
“Iya.”
“Sudah pesan?”
“Americano.”
“Sendirian?”
“Dari tadi.”
“Berapa lama?”
“Dua puluh menit.”
Arka menyipitkan mata.
“Dia kelihatan gelisah.”
“Bukan cuma kelihatan.”
Mira mencondongkan tubuh.
“Americano-nya aja belum disentuh.”
Arka mengangguk.
“Dia juga sering melihat tangga.”
Mira tersenyum.
“Nah.”
Arka berdiri.
“Kenapa lu senyum begitu?”
“Karena gua penasaran berapa harga ramalan lu hari ini.”
“Ramalan? Lebih elegan dikit napa?”
“Penipuan?”
“Lebih legal.”
Mira tertawa.
“Naik sana, peramal.”
Arka merapikan kemejanya.
Mira menunjuk tangga.
“Jangan sampai mati di lantai dua.”
—
“Silakan duduk, Pak.”
Pak Suharto duduk perlahan.
“Pak Arka?”
“Betul.”
“Yang katanya bisa membaca…”
Arka tersenyum.
“Tidak semua hal perlu dibaca.”
Pak Suharto tampak bingung.
“Maksudnya bagaimana?”
“Kadang orang datang bukan hanya untuk mencari jawaban.”
“Lalu?”
“Biasanya mereka juga memastikan bahwa kekhawatirannya memang ada.”
Pak Suharto terdiam.
Arka menunjuk mangkuk berisi air jernih di tengah meja.
“Taruh tangan Bapak di dekat sini.”
Pak Suharto menurut.
Arka tidak menyentuh air.
“Tarik napas.”
Pak Suharto menarik napas.
“Buang perlahan.”
Ia menurut lagi.
“Sekarang jangan pikirkan apa yang ingin Bapak tanyakan.”
Pak Suharto menatap Arka.
“Ini agak sulit.”
“Ahhh...”
Hening.
Arka memperhatikan pergelangan tangan kirinya.
“Bapak baru kehilangan sesuatu.”
Wajah Pak Suharto berubah.
“Apa?”
“Sesuatu yang biasa Bapak pakai setiap hari.”
Pak Suharto menelan ludah.
“Jam.”
Arka mengangguk pelan.
“Jam tangan.”
“Iya.”
“Sudah lama?”
“Seminggu.”
“Dijual?”
Pak Suharto membeku.
“Bagaimana Bapak tahu?”
Arka menyandarkan tubuh.
“Bekasnya masih jelas. Tapi tidak ada jam pengganti.”
“…”
Arka berhenti.
“Apa Bapak sedang membutuhkan uang.”
Pak Suharto menatapnya seperti baru saja melihat sesuatu yang mustahil.
“Lanjutkan.”
“Bapak tidak kekurangan penghasilan.”
Pak Suharto mengernyit.
“Justru itu masalahnya.”
“Penghasilan ada. Tapi sesuatu menghabiskannya.”
“Utang?”
Arka diam.
Pak Suharto langsung mengangguk.
“Iya.”
Arka memperhatikan dompet kulit yang diletakkan di meja.
Tebal di bagian kartu. Tipis di bagian uang.
“Utang itu bukan milik Bapak sendiri.”
Pak Suharto menunduk.
“Anak saya.”
Arka tidak langsung menjawab.
“Anak laki-laki?”
“Iya.”
“Sudah dewasa.”
“Dua puluh tujuh.”
“Bapak sedang menanggung sesuatu untuknya.”
Pak Suharto mengusap wajah.
“Pinjaman.”
“Berulang?”
“Iya.”
“Dan kali ini lebih besar.”
Pak Suharto tertawa kecil, tetapi terdengar seperti hampir menangis.
“Pak Arka… saya sudah mencoba bicara ke mana-mana.”
“Belum selesai.”
“Apa?”
“Bapak bukan hanya takut kehilangan uang.”
Pak Suharto terdiam.
“Bapak juga takut kehilangan anak.”
Wajah pria itu runtuh.
“Saya tidak tahu harus bagaimana.”
Arka membiarkan keheningan bekerja.
“Bapak terlalu lama menanggung semuanya sendiri.”
Pak Suharto mengusap matanya.
“Istri saya juga tidak tahu.”
“Bukan karena Bapak tidak percaya padanya.”
Pak Suharto menatapnya.
“Bapak tidak ingin dia ikut khawatir.”
Beberapa detik berlalu.
Kemudian Pak Suharto mengembuskan napas panjang.
“Iya tepat seperti itu.”
Arka tersenyum tipis.
Pak Suharto mengeluarkan amplop dari tas.
“Berapa?”
“Tiga ratus.”
Pak Suharto menambahkan satu lembar lagi.
“Lima ratus.”
Arka menaikkan alis.
“Bapak yakin?”
“Saya merasa lebih ringan.”
Arka menerima uang itu.
“Kalau begitu, terima kasih.”
Pak Suharto berdiri.
“Saya boleh datang lagi?”
“Kalau memang perlu.”
Pak Suharto mengangguk, lalu berjalan menuju pintu.
“Pak Arka?”
“Ya?”
“Bapak benar-benar bisa melihat masa depan?”
Arka tersenyum.
“Kadang.”
Pak Suharto tersenyum lega.
“Terima kasih.”
Pintu tertutup.
Langkahnya menghilang menuruni tangga.
Arka menunggu beberapa detik sebelum mengembuskan napas.
“Lima ratus ribu,” gumamnya.
Dari lantai bawah, suara Mira terdengar.
“Penipu!”
Arka menatap mangkuk air di depannya.
“Profesional!”
Ia mengambil uang itu.
“Selama pelanggan pulang merasa lega dan gua dibayar, semua orang menang.”
Mangkuk Banyu Bening tetap diam.
Jati muncul tanpa mengetuk.
“Penipu.”
Arka yang sedang menghitung uang langsung menoleh.
“Kalau masuk ruangan orang lain, ketuk dong.”
“Kalau ruangan penipu?”
“Justru itu.”
Jati meletakkan dua gelas kopi di meja.
“Americano.”
“Punya gua?”
“Ya.”
Arka mengambil gelasnya.
“Thanks.”
“Jangan terima kasih. Gua cuma memastikan lu tidak mati kehausan sebelum membayar utang.”
“Gua punya uang.”
“Dari siapa?”
“Klien.”
“Korban.”
“Klien.”
“Yang tadi?”
“Namanya Pak Suharto.”
“Yang lu ramal anaknya punya utang?”
Arka mengangkat alis.
“Informasi dari mana?”
“Dia cerita di bawah.”
“Cepat juga.”
“Dia bilang lu luar biasa.”
Arka tersenyum puas.
“Dia bilang lu bisa membaca masa depan.”
“Lihat?”
“Padahal lu cuma melihat bekas jam tangan.”
Arka berhenti.
Jati menunjuk pergelangan tangannya sendiri.
“Bekasnya kelihatan dari lantai bawah.”
“Tidak semua orang memperhatikan.”
“Makanya gua bilang lu penipu.”
“Gua profesional.”
“Lu bahkan cuma menebak anaknya laki-laki.”
“Probabilitas.”
“Dia bilang sendiri namanya di telepon.”
“Informasi tetap informasi.”
Jati menyeruput kopi.
“Terus lu bilang istrinya tidak tahu.”
“Dia kelihatan seperti orang yang menyembunyikan masalah dari keluarga.”
“Semua orang yang punya utang begitu.”
“Berarti gua benar.”
“Bukan sakti.”
“Benar tetap benar.”
Jati terkekeh.
“Lu ini memang cocok jadi peramal.”
Arka menyandarkan badan.
“Namanya jasa konsultasi jiwa.”
“Lima ratus ribu?”
“Dia sendiri yang memberi.”
“Karena merasa lu sakti.”
“Karena dia merasa lega.”
“Nah. Itu penipuan.”
“Tidak. Gua tidak pernah bilang gua bisa melihat masa depan.”
Jati menatapnya.
“Di bawah dia tanya.”
“Gua jawab ‘kadang’.”
“Penipu.”
“Profesional.”
Jati menghela napas.
“Bulan ini sewanya naik.”
“Gua tahu.”
“Listrik juga.”
“Dan kopi yang lu minum terus.”
“Itu investasi.”
“Investasi apa?”
“Produktivitas.”
“Produktivitasmu menghasilkan lima ratus ribu sehari?”
“Kadang.”
“Kalau besok tidak ada pelanggan, gimana?”
Arka mengangkat bahu.
“Ya, kita tinggal berdoa.”
“Jangan bawa agama ke dalam bisnis penipuanmu.”
Arka tertawa.
“Sudah, pulang sana.”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Gua mau lihat apakah ada pelanggan terakhir.”
“Sudah tutup.”
“Belum jam sembilan.”
“Secara spiritual sudah.”
Jati baru hendak menjawab ketika terdengar bunyi langkah dari tangga.
Tok.
Tok.
Tok.
Keduanya diam.
Jati menoleh ke pintu.
“Masih ada orang?”
Arka mengernyit.
“Mira bilang kedai sudah tutup.”
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu.
Tidak ada ketukan.
Pintu terbuka perlahan.
Seorang kakek berdiri di sana.
Baju sederhana. Rambut putih. Wajah tenang.
“Masih menerima tamu?”
Arka tersenyum profesional.
“Kami sudah tutup.”
Kakek itu masuk.
“Saya bukan pelanggan biasa.”
Jati melirik Arka.
Kakek itu menatap Jati.
“Temanmu?”
“Sayangnya.”
Jati berdiri.
“Aku pulang.”
Kakek itu berkata pelan,
“Jangan.”
Jati berhenti.
“Kenapa?”
“Karena malam ini kau juga perlu mendengar.”
Jati menatap Arka.
“Ka.”
“Apa?”
“Ini pelangganmu?”
“Sepertinya.”
“Dia bayar?”
Arka tersenyum.
“Belum.”
Kakek itu duduk.
Tatapannya beralih ke Arka.
“Bacakan saya.”
Arka diam sejenak.
“Bapak mau tahu apa?”
“Yang seharusnya kau ketahui.”
Arka tertawa kecil.
“Wah, berat.”
“Coba.”
Arka mulai memainkan kebiasaannya.
“Bapak datang sendirian.”
“Ya.”
“Tidak membawa banyak barang.”
“Ya.”
“Tidak terlihat membutuhkan jawaban tentang uang.”
“Benar.”
“Berarti masalahnya keluarga?”
“Bukan.”
“Pekerjaan?”
“Bukan.”
“Jadi kesehatan?”
Kakek itu tersenyum.
“Bukan juga.”
Arka menatapnya lebih lama.
Biasanya orang memberi celah.
Mata bergerak.
Jari mengetuk meja.
Napas berubah.
Kakek ini tidak.
“Bapak sebenarnya sudah tahu jawabannya,” kata Arka.
“Bagaimana kau tahu?”
“Karena Bapak tidak membutuhkan jawaban.”
Kakek itu tersenyum.
“Bagus.”
Jati berbisik,
“Ka.”
“Apa?”
“Dia tahu.”
“Apa?”
“Dia tahu kau penipu.”
Kakek itu menatap Arka.
“Kau tidak bisa melihat masa depan.”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Kakek itu melanjutkan,
“Tapi itu bukan alasan saya datang.”
Arka menelan ludah.
“Saya datang karena kau akan melihat sesuatu.”
“Apa?”
“Bukan dengan matamu.”
Kakek itu mengeluarkan sebundel kain tua dari balik bajunya.
Arka mengerutkan dahi.
“Ini apa?”
“Bayaran saya.”
“Bapak bercanda?”
“Saya tidak membawa uang.”
“Bisa transfer.”
“Tidak.”
“QRIS?”
Kakek itu hanya tersenyum.
“Terima ini.”
Ia meletakkan kain itu di meja.
“Buka setelah saya pergi.”
“Kenapa?”
“Karena beberapa hal tidak bisa disaksikan terlalu banyak mata.”
Jati mundur selangkah.
Kakek itu berdiri.
Arka ikut berdiri.
“Pak.”
“Ya?”
“Setidaknya kasih tahu barang ini apa.”
Kakek itu memandangnya lama.
“Jangka tidak memberi jawaban.”
“Apa?”
“Jangka hanya menunjukkan apa yang salah.”
Lalu ia berjalan keluar.
“Pak!”
Tidak ada jawaban.
“Bapak!”
Langkah kaki menuruni tangga.
Kemudian lenyap.
Arka menatap Jati.
“Dia belum bayar.”
Jati menunjuk kain di meja.
“Itu bayarannya.”
Daftar bab
20 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








