
SISTEM TRAINER PERKASA
Red Inferno|Bersambung
- Jumlah kata
- 40.6K
- Popular
- 353
- Subscribe
- 87
- Jumlah kata
- 40.6K
- Popular
- 353
- Subscribe
- 87
Sinopsis
Terlahir kembali dari penderitaan. Damar Pradipta, pemuda gempal yang dulu selalu terintimidasi dan dipandang sebelah mata, menemukan titik balik hidupnya lewat sebuah aplikasi misterius di ponselnya. Melalui perjuangan fisik yang brutal dan panduan sistem tingkat tinggi, Damar merombak total metabolisme, bentuk tubuh, hingga kekuatan mentalnya secara mendasar. Perubahan drastis ini melambungkan kariernya menjadi seorang Personal Trainer bereputasi tinggi di gym elite. Dengan karisma maskulin, bentuk fisik sempurna, dan pemahaman anatomi mendalam, Damar bertransformasi menjadi sosok tangguh yang dihormati lawan dan memikat perhatian para wanita kelas atas di sekitarnya. Ini adalah kisah tentang pendewasaan, balasan takdir, dan dominasi seorang pria yang merangkak dari titik terendah menuju puncak kekuatan sejati.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: LUMPUR DI BAWAH PIJAKAN
Langit sore di atas Universitas Dirgantara mulai berbalut warna jingga kotor, seakan enggan menyinari koridor belakang kampus yang lembap dan sepi. Di sanalah Damar Pradipta menyeret langkahnya. Pemuda berusia dua puluh tahun itu bernapas terengah-engah, dadanya naik turun dengan berat seolah udara di sekitarnya terlalu kental untuk dihirup.
Bobot tubuhnya mencapai 110 kilogram. Daging berlebih menumpuk di lehernya, membuat kepalanya seolah tertanam langsung ke pundak yang terus membungkuk. Keringat dingin bercampur minyak mengilap di wajahnya yang kusam dan dipenuhi jerawat kemerahan. Kaos abu-abu pudar yang ia kenakan tampak melar dan basah di bagian ketiak serta punggung, memancarkan aroma apak yang membuat siapa pun secara instan menjaga jarak.
'Tubuh terkutuk ini...' bisik Damar dalam hatinya, meratapi setiap pijakan kakinya yang terasa membakar sendi paha. 'Hanya untuk berjalan naik satu lantai saja, rasanya seperti menyeret karung pasir di dalam lumpur.'
Damar menundukkan pandangannya, mencoba mengecilkan keberadaannya seperti serangga yang takut diinjak. Namun, nasib buruk tidak pernah melepaskan mangsanya begitu saja.
Tepat di ujung koridor, langkah Damar terhenti. Sekelompok mahasiswa dan mahasiswi populer tengah bersandar di dinding, mendominasi jalan dengan tawa dan obrolan arogan. Di sana berdiri Reno, kapten tim basket dengan kekayaan keluarga yang tak berseri, diapit oleh kaki tangannya, Dion dan Kevin. Di sebelah mereka, tiga gadis tercantik sekaligus paling berbisa di kampus—Sisca, Valerie, dan Gaby—tengah menatap layar ponsel dengan raut bosan.
Begitu sosok gempal Damar memasuki jarak pandang mereka, suasana riuh seketika mati.
Sisca, gadis bertubuh jam pasir dengan balutan pakaian bermerek yang menonjolkan lekuk dadanya, langsung mengerutkan kening. Jemarinya yang lentik naik menutupi hidungnya yang bangir. Raut wajahnya berubah menjadi topeng rasa jijik yang amat sangat.
"Ugh... bau sampah apa ini?" Suara Sisca melengking, memecah keheningan dengan nada merendahkan. "Reno, kenapa makhluk menjijikkan ini dibiarkan bernapas satu udara sama kita? Bikin mual aja."
Valerie dan Gaby tertawa mengejek, menatap Damar seolah ia adalah kotoran anjing yang menempel di sol sepatu mereka.
'Lihat mata itu...' Batin Damar bergetar hebat. Rasa hangat yang membakar menjalar di belakang matanya, menahan selapis air mata penghinaan. 'Sisca... kau menatapku seolah aku ini bangkai yang membusuk di jalanan. Kenapa? Hanya karena tubuhku seperti ini, aku bahkan tidak berhak lewat di depanmu?'
Mendengar keluhan kekasihnya, Reno menyeringai dingin. Insting mendominasinya bangkit. Ia melangkah maju, menghalangi jalan Damar yang berusaha menepi ke dinding. Di tangan Reno, terdapat segelas es kopi pekat yang baru setengah diminum.
"Maaf..." Damar bergumam pelan, suaranya parau dan bergetar. Kepalanya semakin menunduk, tak berani menatap manik mata tajam Reno.
"Maaf?" Reno mendengus. Tanpa peringatan, ia membalikkan gelas di tangannya.
Byuur!
Es kopi hitam pekat itu mengguyur tepat di atas kepala Damar. Cairan dingin dan lengket mengalir turun, membasahi rambutnya yang lepek, menetes melewati matanya, hingga meresap ke dalam kaosnya yang sudah lusuh.
'Dingin... tapi dada ini terasa terbakar,' raung Damar dalam diam, mengepalkan jemarinya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri. 'Tertawalah, Reno. Tertawalah selagi kamu masih bisa berdiri di atas kepalaku...'
"Ingat posisi dirimu, sampah," bisik Reno dengan senyuman provokatif yang amat dingin. "Hanya karena kamu bernapas di kampus yang sama dengan kami, itu sudah merupakan kesalahan besar."
Tawa pecah menggelegar di koridor itu. Namun, rasa malu belumlah cukup bagi Reno. Ia memberi isyarat melalui ekor matanya kepada Dion dan Kevin. Kedua kroninya itu langsung maju, mencengkeram kerah kaos Damar yang basah dan menyeret pemuda gempal itu menuju area belakang gedung tua yang terisolasi dari pandangan kamera pengawas.
Damar meronta lemah, namun tenaganya tak sebanding dengan cengkeraman Dion, seorang maniak gym berotot kekar.
Begitu mereka tiba di tanah berdebu di balik gudang, penyiksaan yang sesungguhnya dimulai.
"Ampun... aku tidak melakukan apa-apa..." Damar memohon dengan suara serak.
"Itu masalahnya, babi gemuk! Keberadaanmu saja merusak pemandangan!" Dion menggeram dan mengayunkan kakinya dengan tenaga penuh.
Bugh!
Ujung sepatu kets Dion menghantam keras perut gelambir Damar. Udara seolah terpompa keluar dari paru-parunya. Damar tersungkur keras ke tanah, memuntahkan cairan lambung bercampur es kopi. Belum sempat ia menarik napas, Kevin telah menginjak punggungnya, menahan tubuh gempal itu agar tak bisa bergerak.
Reno berjongkok di depan wajah Damar, menarik rambutnya dengan kasar hingga Damar mendongak paksa. Kepalan tinju Reno melayang. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Hantaman keras mendarat di rahang dan hidung Damar.
Darah segar berwarna merah gelap menyembur dari hidungnya, mengalir membasahi bibir dan dagunya yang gemetar. Tulang rusuknya terasa retak akibat tendangan susulan dari Dion. Rasa sakit yang tajam dan membutakan menusuk sumsum tulang belakangnya.
'Kenapa...?' Di balik pandangannya yang memerah oleh darah, batin Damar menjerit histeris. 'Hanya karena aku jelek? Hanya karena aku miskin dan tidak berdaya? Dunia ini benar-benar tidak memberi ruang sedikit pun untuk mereka yang lemah! Kalau begitu... kalau begitu untuk apa aku bersikap baik?!'
"Jangan pernah lagi berjalan di dekat kami, mengerti?" Reno meludah tepat di wajah Damar yang sudah babak belur.
Ketiga pemuda itu berdiri, membersihkan tangan mereka seolah baru saja menyentuh bangkai yang berpenyakit, lalu melenggang pergi meninggalkan Damar yang meregang nyawa dalam keheningan malam yang mulai turun.
Di bawah naungan langit yang kian menggelap, angin malam berhembus dingin. Damar terkapar bagaikan anjing ketakutan di atas tanah berdebu. Matanya membengkak parah, napasnya patah-patah layaknya benang rapuh yang siap putus kapan saja.
Dalam keputusasaan yang mengiris hati, tidak ada sebersit pun rasa kasihan yang ia dapatkan dari dunia. Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah kepahitan yang perlahan mengikis habis sisa kebaikannya sebagai manusia.
Saat jemarinya yang bergetar dan berlumuran darah meraba tanah berdebu, mencari pegangan untuk sekadar menopang tubuhnya yang hancur, tangannya menyentuh sesuatu yang keras dan dingin.
Damar memaksakan kelopak matanya yang bengkak untuk terbuka. Di balik genangan darahnya sendiri, tergeletak sebuah ponsel pintar hitam polos. Benda itu sangat tipis, dengan bingkai logam yang tampak futuristik dan asing, sama sekali tidak memiliki merek atau logo apa pun.
Secara refleks, jemari Damar yang berdarah mencengkeram layar ponsel tersebut.
Begitu cairan merah pekat itu menyentuh permukaan layarnya, sebuah getaran hebat merambat melalui telapak tangan Damar, menembus langsung ke aliran darahnya. Layar yang semula mati total, tiba-tiba menyala terang dengan pendar cahaya merah crimson.
Ponsel itu tidak menampilkan antarmuka biasa. Layarnya memproyeksikan jendela hologram transparan langsung ke retina matanya.
> [Mendeteksi Inang dengan Rekam Jejak Penderitaan Ekstrem.]
> [Kondisi Tubuh Inang: Kritis. Kerusakan Organ Dalam 38%. Akumulasi Lemak Berlebih 48%.]
> [Registrasi DNA Berhasil.]
> [Sistem 'Fitness God' Diaktifkan. Memulai Protokol Darurat: Penyembuhan Luka Dalam & Rekonstruksi Metabolisme Dasar.]
>
Damar tak sempat memahami apa yang ia baca. Sedetik kemudian, rasa sakit yang jauh lebih dahsyat dari pukulan Reno menghantam sekujur tubuhnya.
Ini bukanlah keajaiban magis yang turun dari langit tanpa harga. Ini adalah perombakan biologis paksa.
Tulang rusuknya yang retak berderit keras, dipaksa menyambung kembali dengan kecepatan tidak wajar. Sel-sel di dalam tubuhnya mendidih. Damar menggigit bibirnya hingga berdarah untuk menahan jeritan yang nyaris membakar tenggorokannya.
'Sakit... ini gila! Tapi persetan dengan rasa sakit ini!' amuk Damar di dalam batinnya, membiarkan dadanya diguncang gelombang rekaan sistem. 'Hancurkan! Remukkan semua tulang busuk ini! Kalau rasa sakit ini adalah harga yang harus kubayar untuk keluar dari neraka ini, hancurkan sekalian tubuh tua ini!'
Poripori kulitnya membuka lebar. Dari sana, cairan kental berwarna hitam legam berbau sangat busuk merembes keluar—itu adalah impuritas, racun, dan tumpukan lemak mati yang telah bertahun-tahun mengerak di dalam tubuhnya. Jerawat meradang di wajahnya mengering, mengelupas bersamaan dengan keluarnya kotoran tersebut.
Hampir sepuluh menit Damar disiksa oleh proses rekonstruksi itu, sebelum akhirnya rasa sakit itu memudar, digantikan oleh sensasi hangat yang menjalar di dada.
Layar merah itu kembali memunculkan teks baru:
> [Protokol Darurat Selesai. Impuritas Kulit dan Racun Metabolisme Telah Dibersihkan.]
> [Peringatan: Sistem tidak memberikan kekuatan secara instan. Fisik sejati harus ditempa dari penderitaan.]
> [Status Saat Ini: Metabolisme Pembakaran Lemak & Sintesis Otot Ditingkatkan 500%.]
> [Tugas Harian 01 Diterbitkan: Lakukan Jalan Cepat dan Jogging Ringan Selama 45 Menit. Sanksi Kegagalan: Pembatalan Pemulihan Organ.]
>
Damar perlahan membuka matanya. Pandangannya yang tadi rabun kini sejernih kristal. Ia menyeka sisa darah dan cairan kental hitam di wajahnya, terkejut saat menyadari kulit wajahnya tidak lagi berminyak dan bersisik.
Pemuda itu memungut ponsel misterius tersebut, mencengkeramnya erat hingga buku-buku jarinya memutih.
'Fisik sejati harus ditempa dari penderitaan, huh?' Damar menyunggingkan senyum tipis yang amat dingin—sebuah senyuman yang belum pernah ada di wajahnya selama bertahun-tahun. 'Bagus. Penderitaan adalah satu-satunya hal yang paling kupahami di dunia ini. Reno... Sisca... tunggu sampai aku berdiri di hadapan kalian lagi.'
Tujuh hari berlalu bagaikan siksaan di neraka dunia.
Damar tidak mendapatkan keajaiban tubuh berotot dalam satu malam. Namun, dengan efisiensi sistem yang melipatgandakan pembakaran lemaknya hingga 500%, hasil yang ia capai dalam seminggu setara dengan latihan brutal selama satu tahun penuh.
Setiap hari, tepat pukul empat pagi saat dunia masih tertidur, Damar sudah menyeret tubuhnya keluar dari kamar kos. Di bawah instruksi kejam dari layar sistem di ponselnya, ia berlari. Paru-parunya terbakar, kakinya nyaris lumpuh, namun ia terus memaksakan diri.
'Satu langkah lagi... satu kilometer lagi!' raung Damar di setiap hembusan napas Pagi yang dingin. 'Bayangkan wajah Reno saat dia bertekuk lutut! Bayangkan mata Sisca saat dia terpaksa mendongak menatapku!'
Saat pagi menjelang, ia melanjutkan siksaan dengan rutinitas kalistenik dasar di kamarnya yang sempit. Push-up, sit-up, plank—setiap tetes keringat yang jatuh ke lantai kayu kamarnya terasa seperti penebusan dosa atas masa lalunya yang lemah.
Hasilnya tidak mengkhianati penderitaan.
Hari demi hari, lemak setebal bantal di perut dan dadanya menyusut dengan kecepatan yang mengerikan. Pipi yang semula membulat laksana babi perlahan menirus, memperlihatkan garis rahang yang kaku dan tajam. Bahunya yang selalu membungkuk kini dipaksa tegak, menarik tulang punggungnya kembali lurus. Lemak yang terbakar memberi ruang bagi serat-serat otot dasar untuk memadat, tersembunyi di balik kulitnya yang kini bersih dan merona sehat.
Hingga tibalah pagi di hari ketujuh.
Pukul 05.30 pagi, kabut tipis sisa hujan semalam masih menyelimuti kompleks perumahan kos-kosan.
Tante Maya, wanita berusia tiga puluh delapan tahun yang merupakan pemilik kos tersebut, melangkah keluar ke teras rumahnya. Janda cantik tanpa anak itu mengenakan gaun tidur sutra selutut yang dibalut kardigan rajut tipis, mempertegas lekuk tubuhnya yang sangat terawat, padat, dan menggiurkan. Tangan kirinya memegang secangkir teh kamomil hangat, sementara tangan kanannya meraih sapu lidi.
Saat ia sedang menikmati udara pagi yang sejuk, ekor matanya menangkap sebuah pergerakan di ujung gang masuk.
Tante Maya menghentikan gerakan sapunya. Matanya terpaku pada sosok pria muda yang baru saja memasuki gang kosan dengan langkah lari yang ringan namun sangat bertenaga.
Pria itu mengenakan kaos olahraga hitam polos dan celana training abu-abu. Pakaian yang murah, namun menempel sempurna di tubuhnya. Bahu pria itu begitu lebar, menopang dada yang membusung tegap dan kokoh. Ayunan lengannya saat berlari memperlihatkan otot bisep yang mulai terbentuk padat, memancarkan aura maskulin yang sangat dominan.
Tante Maya menelan ludah secara tidak sadar. 'Sejak kapan ada pemuda dengan postur seindah itu di sekitar sini?' batinnya berteriak pelan.
Ia terus memperhatikan setiap langkah pemuda itu dengan tatapan salah fokus. Rambut pemuda itu sedikit basah oleh keringat, jatuh menutupi sebagian keningnya. Tidak ada napas terengah-engah dari pelari amatir; yang terdengar hanyalah ritme napas yang sangat tenang, dingin, dan terkendali. Jemari Tante Maya tanpa sadar meremas pegangan cangkir tehnya, merasakan getaran aneh yang sudah lama tak menelusup ke dadanya yang kesepian.
Pria jangkung berpostur tegap itu akhirnya memperlambat langkah dan berhenti tepat di depan pintu pagar besi kos-kosannya.
Ia mengusap peluh di lehernya yang kokoh, lalu memutar kepalanya, menatap lurus ke arah Tante Maya yang berdiri mematung di teras.
Manik mata sedingin es milik pemuda itu beradu dengan pandangan Tante Maya.
Tante Maya terperanjat. Jantungnya berdegup satu ketukan lebih cepat. Wanita matang itu benar-benar tidak menyadari, bahwa sosok pria beraura predator di depannya ini, adalah Damar—pemuda gempal kusam yang seminggu lalu jalannya selalu menyeret kaki dan menundukkan kepala.
'Reaksi yang menarik, Tante Maya...' Damar membatin, menyunggingkan senyum tipis yang tak terlihat saat melihat cangkir teh di tangan ibu kosnya berguncang pelan. 'Kau bahkan tidak mengenali cacing tanah yang biasa menyewa kamarmu.'
Daftar bab
36 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








