
Kalung perak sistem penguasa tak terbatas.
Killmonger|Bersambung
- Jumlah kata
- 25.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
- Jumlah kata
- 25.1K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 2
Sinopsis
Jatmiko Pranoto hanyalah mahasiswa miskin yang pendiam dan sering menjadi sasaran perundungan di kampus. Hidupnya semakin menderita karena ulah Bambang Suryono, ketua geng paling ditakuti di kampus sekaligus kekasih Sri Rahayu, wanita yang diam-diam telah lama dicintai Jatmiko. Suatu hari, Bambang dan anak buahnya membawa Jatmiko ke sebuah bukit terpencil. Di sana, Jatmiko mengalami penyiksaan brutal hingga tubuhnya berlumuran darah dan nyaris kehilangan nyawa. Setelah puas menyiksanya, Bambang meninggalkan Jatmiko begitu saja di dekat sebuah makam tua tanpa nama. Dalam kondisi sekarat, Jatmiko berusaha merangkak mencari pertolongan hingga tangannya menemukan sebuah kalung perak misterius. Ketika kalung itu melingkar di lehernya, sebuah suara menggema di kepalanya. [SISTEM PENGUASA TELAH DIAKTIFKAN!] Sejak saat itu, kehidupan Jatmiko berubah drastis. Ia memperoleh kekayaan melimpah, kekuatan luar biasa, dan berbagai kemampuan istimewa melalui misi-misi misterius. Kini, pria yang dahulu diinjak-injak mulai bangkit untuk mengubah takdirnya, merebut kembali harga dirinya, dan memperjuangkan cinta Sri Rahayu. Namun, setiap hadiah memiliki harga, setiap kekuatan membawa konsekuensi, dan rahasia di balik kalung perak itu ternyata jauh lebih mengerikan daripada yang pernah dibayangkannya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
Suara tawa memenuhi lorong belakang Gedung Fakultas Ekonomi Universitas Cakrawala Nusantara.
“Oi, Jatmiko! Berhenti dulu!”
Jatmiko Pranoto yang sedang berjalan sambil memeluk beberapa buku langsung menghentikan langkahnya. Ia mengenali suara itu. Suara yang selama dua tahun terakhir selalu menjadi pertanda bahwa hari buruknya akan semakin buruk.
Perlahan, ia menoleh.
Di ujung lorong berdiri Bambang Suryono bersama lima orang anggota gengnya.
Bambang mengenakan jaket mahal, jam tangan mengilap, dan sepatu yang harganya mungkin lebih besar daripada seluruh tabungan Jatmiko selama setahun.
Di sampingnya berdiri Darminto, lelaki bertubuh besar yang terkenal suka menyelesaikan masalah dengan kepalan tangan.
Bambang tersenyum miring.
“Katanya tadi kamu berani menolak permintaanku?”
Jatmiko menelan ludah. “Aku sudah bilang, uang itu untuk bayar kuliah, Bang. Aku nggak punya uang lebih.”
Senyum Bambang menghilang.
Dalam sekejap, Darminto maju dan merampas buku-buku dari tangan Jatmiko. Ia melemparkannya ke lantai, lalu menginjak salah satu buku hingga sampulnya tertekuk.
“Kalau ketua kita minta uang, berarti kamu harus kasih!” bentak Darminto.
Beberapa mahasiswa yang melintas memperlambat langkah. Ada yang menonton, ada yang berbisik, tetapi tak seorang pun berani mendekat.
Bambang memang bukan mahasiswa biasa.
Ayahnya seorang pengusaha properti yang memiliki hubungan dengan sejumlah pejabat daerah. Uang dan koneksi keluarganya membuat banyak orang memilih menundukkan kepala daripada mencari masalah dengannya.
Bahkan beberapa dosen pun tampak berhati-hati ketika berhadapan dengan Bambang.
“Aku cuma punya uang untuk makan sampai akhir minggu,” jawab Jatmiko pelan.
Bambang tertawa.
“Kalau begitu, puasa saja. Bukankah orang miskin harus pintar berhemat?”
Tawa anak buahnya segera menyusul.
Jatmiko mengepalkan tangan. Ia ingin melawan, tetapi bayangan pukulan yang pernah mendarat di wajahnya membuat keberaniannya kembali surut.
Selama ini, ia selalu memilih mengalah.
Bukan karena tidak memiliki harga diri, melainkan karena ia tidak ingin kehilangan kesempatan menyelesaikan kuliahnya. Ibunya di kampung telah bekerja keras agar dirinya bisa menempuh pendidikan tinggi. Setiap bulan, wanita itu mengirimkan uang seadanya, bahkan terkadang mengurangi kebutuhan makannya sendiri.
Jatmiko tidak sanggup membiarkan pengorbanan itu menjadi sia-sia hanya karena ulah seorang anak orang kaya.
Namun, hari itu, kesabarannya benar-benar diuji.
Bambang mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari dompetnya, lalu menjatuhkannya tepat di depan kaki Jatmiko.
“Ambil.”
Jatmiko memandang uang tersebut tanpa bergerak.
“Ambil, kataku!”
“Aku nggak butuh uangmu.”
Suasana mendadak hening.
Bahkan Darminto tampak terkejut mendengar jawaban itu.
Bambang melangkah mendekat. Matanya menyipit, seolah tidak percaya bahwa mahasiswa yang selama ini selalu menunduk berani membantahnya di depan orang lain.
“Apa yang baru saja kamu katakan?”
Jatmiko sadar dirinya telah melakukan kesalahan.
Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak ingin menarik kembali perkataannya.
“Aku bilang, aku nggak butuh uangmu.”
Plak!
Tamparan keras mendarat di pipinya.
Kepala Jatmiko terpelanting ke samping. Ia hampir kehilangan keseimbangan, tetapi tetap berusaha berdiri tegak.
Bambang mencengkeram kerah kemejanya.
“Sepertinya kamu sudah lupa tempatmu, Miko.”
Ia mendekatkan wajahnya.
“Dengar baik-baik. Di kampus ini, aku bisa membuat hidupmu nyaman. Tapi kalau aku mau, aku juga bisa membuatmu menyesal karena pernah dilahirkan.”
Jatmiko tidak menjawab.
Bambang melepaskan cengkeramannya dengan kasar.
“Pulang kuliah nanti, ikut kami. Ada urusan yang harus kita selesaikan.”
“Urusan apa?”
Bambang tersenyum dingin.
“Kamu akan tahu.”
Pukul empat sore, Jatmiko keluar dari gedung perkuliahan dengan wajah muram.
Pikirannya terus memikirkan ancaman Bambang. Ia ingin menghindar, tetapi ia tahu orang-orang itu tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.
Saat melewati taman kampus, langkahnya mendadak terhenti.
Di bawah pohon ketapang, seorang perempuan sedang duduk sambil membaca buku.
Rambut panjangnya tergerai melewati bahu. Wajahnya terlihat begitu tenang, sementara cahaya matahari sore menyentuh sisi pipinya.
Sri Rahayu.
Perempuan yang telah dicintai Jatmiko sejak semester pertama.
Sri bukan hanya cantik. Ia juga dikenal ramah, cerdas, dan tidak pernah merendahkan orang lain berdasarkan penampilan atau kekayaan.
Pernah suatu ketika, Sri membantunya mengumpulkan buku-buku yang berserakan setelah seseorang sengaja menjatuhkannya di kelas.
Sejak hari itu, Jatmiko mulai menyimpan perasaan yang tidak pernah berani ia ungkapkan.
Ia tahu dirinya bukan siapa-siapa.
Sementara Sri adalah kekasih Bambang Suryono.
Seolah menyadari keberadaannya, Sri mengangkat kepala.
“Jatmiko?”
Pemuda itu langsung gugup.
“I-iya?”
Sri tersenyum. “Kamu kenapa? Pipimu merah sekali.”
Jatmiko refleks menyentuh pipinya yang masih terasa perih.
“Nggak apa-apa. Tadi cuma terbentur.”
Sri mengernyit. Jelas ia tidak sepenuhnya percaya.
“Kamu yakin?”
Jatmiko mengangguk cepat.
Sebelum Sri sempat bertanya lagi, sebuah mobil sport hitam berhenti di jalan dekat taman.
Bambang keluar dari mobil.
Senyum Sri perlahan menghilang.
“Sayang, ayo pulang!” panggil Bambang.
Jatmiko menundukkan kepala.
Bambang merangkul bahu Sri, kemudian menatap Jatmiko dengan senyum penuh kemenangan.
“Ngapain kamu berdiri di sini? Mau mengganggu pacarku?”
“Tidak,” jawab Jatmiko cepat.
“Bagus. Ingat, orang seperti kamu sebaiknya tahu diri.”
Bambang membawa Sri pergi.
Namun, sebelum masuk mobil, Sri sempat menoleh ke arah Jatmiko. Tatapannya menyimpan sesuatu yang tidak bisa dipahami pemuda itu.
Mungkin kekhawatiran.
Atau mungkin hanya rasa kasihan.
Apa pun itu, Jatmiko tahu satu hal selama dirinya tetap seperti sekarang, ia tidak akan pernah memiliki keberanian untuk berdiri di samping perempuan yang dicintainya.
Dan tanpa disadarinya, kalimat itu akan segera mengubah seluruh kehidupannya.
Pukul lima sore.
Jatmiko berdiri di depan gerbang kampus ketika sebuah mobil hitam berhenti di hadapannya.
Pintu belakang terbuka.
Darminto menjulurkan kepala.
“Masuk!”
Jatmiko menatap mobil itu dengan cemas. “Kita mau ke mana?”
“Banyak tanya! Ketua sudah menunggu.”
Jatmiko ingin menolak, tetapi dua anggota geng lainnya sudah berdiri di belakangnya.
Ia akhirnya masuk.
Sepanjang perjalanan, tak seorang pun memberitahunya tujuan mereka. Mobil melaju meninggalkan keramaian kota, melewati jalanan sempit yang semakin lama semakin sepi.
Hampir empat puluh menit kemudian, mereka tiba di sebuah bukit yang ditumbuhi pepohonan lebat.
Di kejauhan terlihat sebuah bangunan tua yang sudah rusak. Jalan setapak menuju puncaknya dipenuhi batu dan akar pohon.
Jatmiko mulai merasa tidak nyaman.
“Kenapa kita ke sini?”
Darminto hanya tertawa.
“Sebentar lagi kamu akan tahu.”
Mereka membawanya menyusuri jalan setapak hingga tiba di sebuah tanah lapang di dekat tebing kecil.
Bambang sudah menunggu di sana bersama dua orang lainnya.
Begitu melihat Jatmiko, ia bertepuk tangan pelan.
“Selamat datang di tempat khususmu, Miko.”
Jatmiko memandang sekeliling. Tidak ada rumah. Tidak ada orang lain. Hanya pepohonan, batu-batu besar, dan sebuah makam tua yang nyaris tertutup semak belukar.
“Apa yang kalian inginkan dariku?”
Bambang berjalan mendekat.
“Tadi kamu mempermalukanku di depan mahasiswa lain.”
“Aku tidak bermaksud"
Buk!
Pukulan Bambang menghantam perutnya.
Jatmiko terjatuh sambil memegangi perut. Udara seakan terlepas dari paru-parunya.
“Jangan memotong pembicaraanku!”
Bambang menendang buku yang masih dibawa Jatmiko hingga terlempar ke semak-semak.
“Kamu tahu apa yang paling kubenci dari orang miskin sepertimu?”
Jatmiko berusaha bangkit.
“Kalian selalu berpura-pura punya harga diri, padahal tidak punya apa-apa!”
Darminto tertawa keras.
Bambang memberi isyarat.
Dua orang langsung mencengkeram lengan Jatmiko, sementara Darminto mulai menghujaninya dengan pukulan.
Jatmiko berusaha melindungi kepala, tetapi setiap kali ia jatuh, mereka menariknya kembali.
Pukulan demi pukulan menghantam tubuhnya.
Darah mulai mengalir dari sudut bibirnya.
“Cukup!” teriak Jatmiko. “Aku minta maaf!”
Namun, permohonan itu justru membuat Bambang semakin bersemangat.
“Sekarang kamu tahu cara meminta maaf?”
Bambang berjongkok di hadapannya.
“Mulai hari ini, setiap kali melihatku, kamu harus berlutut. Kalau tidak, nasibmu akan jauh lebih buruk daripada ini.”
Jatmiko terengah-engah. Tubuhnya terasa remuk.
“Aku tidak pernah mengganggumu,” bisiknya.
Bambang terdiam sejenak, kemudian tersenyum tanpa kehangatan.
“Itulah masalahnya. Kamu terlalu lama hidup seolah-olah keberadaanmu berarti.”
Ia berdiri dan menoleh kepada anak buahnya.
“Bawa dia ke dekat makam itu.”
Jatmiko meronta, tetapi tenaganya hampir habis.
Mereka menyeretnya ke arah makam tua di pinggir bukit.
Ketika melihat tebing berbatu di balik pepohonan, darahnya seolah membeku.
“Bambang, kumohon! Aku tidak akan melawanmu lagi!”
Bambang tidak menjawab.
Ia justru mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya ke dekat kaki Jatmiko.
“Lihat ke bawah.”
Jatmiko menoleh.
Di balik semak-semak terdapat lereng curam dengan bebatuan tajam. Jika seseorang terjatuh dari sana, kemungkinan untuk selamat sangat kecil.
“Tidak...” gumamnya.
Bambang mencengkeram kerah bajunya.
“Kamu punya dua pilihan. Berlutut dan bersumpah tidak akan pernah mendekati Sri, atau kami membuatmu menghilang dari kampus untuk selamanya.”
Jantung Jatmiko berdegup kencang.
Nama Sri membuatnya terdiam.
“Jangan libatkan dia,” katanya lirih.
Bambang tertawa.
“Jadi, kamu benar-benar menyukainya?”
Jatmiko tidak menjawab, tetapi ekspresinya sudah cukup.
Wajah Bambang berubah gelap.
“Kurang ajar. Jadi selama ini kamu berani memandangi pacarku?”
Ia menghantam wajah Jatmiko sekali lagi.
Kemudian, dengan satu dorongan kasar, Bambang membuat Jatmiko terhuyung menuju lereng.
Kaki Jatmiko menginjak batu yang rapuh.
Batu itu terlepas.
Tubuhnya kehilangan keseimbangan.
“Bambang!”
Tangannya berusaha meraih sesuatu, tetapi yang didapatkannya hanya udara kosong.
Dalam sekejap, tubuh Jatmiko tergelincir menuruni lereng berbatu.
Benturan demi benturan menghantam tubuhnya sebelum akhirnya ia terhempas ke dasar cekungan yang tersembunyi di balik semak-semak.
Dunia mendadak sunyi.
Dari atas bukit, Bambang menatap ke bawah.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Darminto mulai gelisah.
“Bang... dia jatuh cukup jauh.”
Bambang menelan ludah, tetapi segera memasang wajah dingin.
“Dia sendiri yang tidak bisa menjaga keseimbangan.”
“Bagaimana kalau dia mati?”
Bambang melirik tajam.
“Kalau ada yang bertanya, kita tidak tahu apa-apa. Paham?”
Anak buahnya mengangguk gugup.
Mereka segera meninggalkan tempat itu.
Tak seorang pun menyadari bahwa di dasar cekungan tersebut, Jatmiko masih bernapas.
Napasnya sangat lemah. Darah mengalir dari pelipisnya, sementara tangan kanannya terjepit di antara bebatuan.
Dengan sisa kesadarannya, ia mencoba menggerakkan tubuh.
Sakit.
Semuanya terasa sakit.
“Bu...” bisiknya, teringat ibunya di kampung.
Air mata mengalir dari sudut matanya.
Apakah hidupnya benar-benar akan berakhir seperti ini?
Ia belum sempat membalas pengorbanan ibunya.
Belum sempat mengungkapkan perasaannya kepada Sri.
Bahkan, ia belum pernah merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa rasa takut.
Saat pandangannya mulai menggelap, sebuah kilauan muncul di antara akar pohon di dekat makam tua.
Jatmiko memaksakan diri mengulurkan tangan.
Jarinya menyentuh sesuatu yang dingin.
Sebuah kalung perak.
Liontinnya berbentuk mata dengan ukiran aneh yang seolah bergerak ketika terkena cahaya.
Begitu kalung itu menyentuh kulitnya, suara dentingan terdengar di dalam kepalanya.
TING!
Jatmiko membuka mata.
Sebuah layar biru transparan muncul di hadapannya, melayang di tengah udara.
Barisan tulisan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya perlahan terbentuk.
PEMINDAIAN SELESAI.
KONDISI PEMILIK KRITIS.
SISA WAKTU KEHIDUPAN DIPERKIRAKAN: 7 MENIT.
Jatmiko terpaku.
“Apa... ini?”
Tulisan berikutnya muncul.
SISTEM PENGUASA TELAH MENEMUKAN PEMILIK YANG SESUAI.
APAKAH ANDA BERSEDIA MENUKAR TAKDIR ANDA DENGAN KEKUATAN YANG TAK TERBATAS?
Di bawah tulisan itu, muncul dua pilihan.
TERIMA
TOLAK
Jatmiko memandang layar tersebut dengan napas tersengal.
Ia tidak tahu apakah dirinya sedang bermimpi atau telah kehilangan kewarasan.
Namun, satu hal ia pahami.
Jika ia tidak melakukan sesuatu, beberapa menit lagi dirinya akan mati.
Dengan tangan gemetar, ia mengangkat telunjuknya.
“Kalau ini bisa menyelamatkanku...”
Ia menekan pilihan pertama.
KONTRAK DITERIMA!
SELAMAT DATANG, TUAN JATMIKO PRANOTO.
Layar biru itu mendadak berubah merah.
PERINGATAN: PEMILIK KALUNG TELAH MEMICU MISI PERTAMA.
MISI DARURAT: BERTAHAN HIDUP.
HADIAH: AKSES KEKUATAN AWAL SISTEM.
KONSEKUENSI KEGAGALAN: KEMATIAN PERMANEN.
Jatmiko menatap tulisan terakhir itu.
Sebelum ia sempat memahami maknanya, suara lain terdengar dari dalam kegelapan.
Suara yang berbeda dari suara sistem.
Suara seorang lelaki tua yang terdengar begitu dekat, seolah sedang berbisik tepat di telinganya.
“Jadi... akhirnya kalung itu memilih seseorang lagi.”
Jatmiko membeku.
Layar sistem berkedip liar.
PERINGATAN! ENTITAS TIDAK DIKENAL TERDETEKSI.
JANGAN MEMERCAYAI
Tulisan itu tiba-tiba terputus.
Seluruh layar menghilang.
Dan dari balik makam tanpa nama, sepasang mata merah perlahan terbuka.
Daftar bab
22 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








