
MANTRA PEMIKAT SANG INTEL
Inspirator Liar|Bersambung
- Jumlah kata
- 32.2K
- Popular
- 638
- Subscribe
- 154
- Jumlah kata
- 32.2K
- Popular
- 638
- Subscribe
- 154
Sinopsis
Lasmi langsung menganga. "Gila! Baru kali ini gue ngeliat batang kayak gini. Gede melengkung." Tangannya mulai mengelus pelan. Lalu ia bertanya lagi, "Ini.... Benjolan apa kak? Kok kayak ada pelornya?""Ini... Tiga biji pelor yang bisa bikin elu merem melek." Ucap Ronal. Lasmi menelan ludah.---->>>>> Kisah berlatar realitas rakyat lokal. Mengungkap segala macam kecurangan yang terjadi di sekitar kita.
Ulasan
4 ulasan
Firman Abdillah
31/10/26 09:12
langsung yang banyak kak update nya.......,.............................................................
Rubi
22/10/26 13:33
rajin update bang inspili, banyakin adegan hot nyaaa laah 🥵 jangan pelit pelit. semangat jadi intil eh... Intel nya Ronal 😚
Sang Mantan
Di dalam sebuah kafe remang-remang pinggir jalan tepat sebelum pintu masuk tol Kabupaten. Tempat sederhana yang hanya terbuat dari papan kayu dan agak sedikit kumuh.
“Jedub! Jedub! Jedub!” Suara bass music remix lokal terdengar sangat kencang di telinga. Semua orang di dalam ruangan itu menggoyangkan kepala menikmati alunan musik. Serta para wanita malam yang duduk di pangkuan para pria ikut bergoyang pelan sambil membelai wajah masing-masing pelanggannya.
“Hoy Nal! Lu jangan curang! Dari tadi masa lu terus yang menang!” Ujar seorang pria bernama Lukman dengan suara yang sudah sangat sengau akibat mabuk minuman alkohol bermerk kawakawa Blackcurrant.
“Ehehhe.... Ya elah bang. Ya namanya juga perjudian, sah-sah aja kan kalau saya yang narik terus. Masa enggak boleh kalau saya terus menang.” Jawab Ronal sangat santai dengan mata yang sudah sangat merah karena mabuk.
Namun, seorang pria bernama Ustman mencurigai gerak-gerik Ronal. Matanya menyipit tajam ke bagian tangan Ronal yang saat itu bersembunyi di balik meja. Lalu... “Woy! Ronal curang!”
Seketika itu juga semua orang yang ada di dalam ruangan itu langsung bangkit berdiri hendak menghajar Ronal. Akan tetapi, Ronal tidak kalah cepat dari mereka. Ia bangkit berdiri dan hendak pergi meninggalkan ruang remang-remang tersebut.
Saat suasana sudah mulai chaos, tiba-tiba terdengar letupan senjata api. “Dub! Dub! Dub!”
“Oy! Polisi!!!” Teriak Hasan begitu panik. Lalu mereka semua berhamburan ke sana kemari berlari menuju ke semak-semak yang ada di area belakang kafe remang-remang itu.
Seorang anggota polisi wanita ikut berlari mengejar salah satu dari mereka. Ya, hanya satu yang dikejar. Yaitu... Ronal.
Ronal terus berlari melewati semak belukar dengan napas yang terengah sampai akhirnya ia terjebak di sebuah gudang tua tak terpakai. Ia berhenti membungkuk mengatur napas. Sedangkan di belakangnya sudah berdiri sang polwan dengan menodong senjata ke arah Ronal sambil berkata, “Begerak, peluru ini bakal menembus betis kamu.”
Ronal mengangkat kedua tangannya dan berbalik pelan. Ia menatap pelan wanita cantik itu dan bertanya, “Apa aku diburu?”
Tanpa menurunkan senjata apinya, sang polwan menjawab, “Ya. Kamu diburu karena telah ikut berkecimpung aksi gelap di wilayah ini.”
Pandangan mata Ronal tetap datar. Pertanyaannya seolah ia tidak gentar. “Ada lagi?”
Tatapan mata sang polwan langsung menyipit tajam. “Kamu bagian dari mereka ya?"
Ronal langsung terdiam.
“Ikut aku ke kantor.” Ujar sang polwan. Lalu ia mendekati Ronal dan langsung memborgol tangannya.
Tanpa ada pertanyaan lagi, Ronal mengikuti polwan itu menuju ke sebuah mobil Pajero Dakar 4x4 hitam yang masih terparkir di lokasi operasi sebelumnya.
Begitu pintu mobil terbuka dan Ronal hendak masuk ke dalamnya, seorang lelaki dari dalam menyapa, “Hallo Letnan, apa kabar?”
Memasang wajah masam, Ronal terus masuk ke dalam mobil lalu duduk di kursi baris kedua. Ia tersenyum masam dan berkata, “Hemh! Jangan mengolok-olok saya dengan panggilan itu, pak komisaris.”
Sang AKP Doni yang duduk tepat di sebelah Ronal pun berkata, “Bukannya malah bagus ya. Saya masih menghargai anda sebagai anggota perwira meskipun....”
“Saya sudah dipecat. Tak usah singgung soal posisi itu lagi.” Sahut Ronal sangat cepat.
Mobil menyala, sang polwan mengambil kemudi. Ia berkata sebelum tancap gas, “Kamu harus memperbaiki citra sebagai pasukan tentara. Ronal.”
Doni langsung menyahut, “Ibu Rahma terlalu peduli kepada seorang kriminal seperti Ronal. Apakah ibu... Mau mencampur adukkan urusan pribadi di operasi ini dengan cara memberi sedikit nasehat?"
“Saya enggak bawa-bawa urusan rumah tangga. Pak komisaris.” Jawab Rahma agak kesal lalu mobil langsung tancap gas menuju ke kantor BAIS.
Selama perjalanan, suasana sangat hening dan cukup tegang. Ronal diam menatap luar kaca jendela dengan tatapan yang kosong. Sedangkan Doni mulai mengeluarkan kata-kata sarkastik, “Dua kali ditangkap istri sendiri. Hem... Saya suka heran, apa rasanya jadi lelaki yang justru dipecundangi istri sendiri.”
Namun, dengan santainya Ronal menjawab, “Saya tahu kenapa bapak bicara seperti itu. Mungkin karena iri." Lalu ia menoleh ke arah Doni. "Apa saya perlu mencarikan sosok perempuan yang bisa menangkap sang komisaris?"
Doni langsung terdiam. Ia menoleh tajam ke arah Ronal. Rahma juga melirik dari kaca cermin dalam kabin, lalu ia berkata, “Hanya profesional, tetap akan menangkap suami sendiri kalau dia salah.”
Doni menghela napas. Lalu bersuara pelan namun tetap sarkastik, “Huh... Ya. Mau bagaimana juga. Dia cuma mantan anggota. Ya.... Polisi jadi gampang menangkapnya.”
Ronal tetap diam menatap Doni. Sedangkan Rahma tetap fokus di kemudi. Suasana kembali sunyi. Hanya deru roda yang berputar di atas aspal menuju ke kantor BAIS.
Begitu tiba di kantor, mereka langsung menuju ke ruang rapat khusus.
Ketiganya duduk saling berhadapan membentuk lingkaran segitiga di meja bundar.
Doni memulai percakapan itu. “Saya rasa... Untuk saat ini saya bakal melupakan kasus-kasus kemarin. Kamu pasti tau kenapa kamu masuk dalam daftar pencariam orang."
Ronal langsung tersenyum miring. “Hemh. Sayang sekali Pak. Saya enggak tertarik diperalat oleh kepolisian. Kalau mau bawa saya ke lapas, ya bawa aja."
Namun Rahma mengerutkan keningnya dan memukul perut Ronal. “Bugh!”
Ronal meringis menahan pukulan itu.
Lalu Rahma berbisik pelan, “Kamu jangan angkuh. Ini demi kamu juga. Kenapa kamu ngomong kayak gitu.”
Ronal tersenyum sinis. “Hehehe. Oh... Jadi kamu udah mulai kompak sama musang satu ini?'
Rahma mengernyit. “Kamu ini ngomong apa sih?! Aku itu cuma enggak mau kamu luntang-lantung enggak jelas di tempat kayak gitu?! Ingat ya! Kamu ini Tentara! Bukan preman terminal.”
“Dulu... Itu dulu....” Jawab Ronal.
“Ekhem.” Doni berdeham. Lalu ia berkata, “Sudahi drama ini. Bisa kita lanjutkan ke topik utamanya?”
Rahma pun mulai melunak. “Maaf Pak. Saya terbawa suasana.” Ucapnya sedikit canggung.
Doni memberi sedikit tegasan. “Ronal... Kamu lagi ada di kantor BAIS. Bukan di terminal atau kafe remang-remang murahan itu. Jadi... Tolong jaga sikap.”
Akhirnya Ronal bersuara pelan. “Saya tetap enggak mau dijadikan alat."
“Terbukti melakukan perjudian, terbukti melindungi tempat hiburan malam tanpa izin resmi. Apa itu masih kurang untuk pertukaran tugas dari kami?” Ujar Doni.
Ronal diam beberapa saat menatap wajah Doni.
Lalu Rahma ikut bersuara, “Punya suami kalau dipenjara belasan tahun. Pasti bakalan bikin kangen belaian mesra.” Ucapan itu sampai membuat kedua mata Doni terbelalak menoleh ke arah Rahma sambil berkata, “Sepertinya... Pak Ronal memang memilih dipenjara.”
“Saya akan menyetujuinya. Pertukaran itu.” Jawab Ronal sangat cepat sambil menoleh ke arah istrinya.
Rahma tersenyum miring ke arah Ronal. Ia lalu berbalik dan berkata, “Bagus... Ayo ikut saya untuk misinya.”
Namun, sebelum Ronal pergi, suara Doni kembali terdengar sangat dingin. "Jangan mengkhianati badan intelijen."
Kata-kata itu sampai membuat Ronal menghentikan langkahnya. Namun, ia tidak membalas perkataan Doni. Tetap lanjut pergi mengikuti Rahma.
Daftar bab
31 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








