
Kasus Terakhir Detektif Muda
LinaSR|Bersambung
- Jumlah kata
- 1.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 1.3K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Arsenia Valendra, seorang detektif muda berusia 24 tahun, dikenal karena kecerdasannya dalam memecahkan berbagai kasus kriminal. Namun, hidupnya berubah ketika sebuah kasus pembunuhan misterius muncul dan seluruh bukti justru mengarah kepadanya. Berusaha membersihkan namanya, Arsenia mulai menyelidiki kasus tersebut secara diam-diam. Semakin jauh ia mencari kebenaran, semakin banyak rahasia kelam, pengkhianatan, dan teka-teki yang terungkap. Di balik semua kejadian itu, terdapat seorang pembunuh misterius yang selalu selangkah lebih maju darinya. Mampukah Arsenia mengungkap identitas sang pembunuh sebelum dirinya menjadi korban berikutnya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 — Mayat di Balik Ruang Terkunci
Hujan turun deras membasahi Kota Arvandia malam itu. Jalanan tampak lengang, sementara cahaya lampu kendaraan sesekali menembus kabut tipis yang menyelimuti kota. Di sebuah gedung apartemen mewah yang terletak di pusat kota, garis polisi telah terpasang di sekitar lantai dua puluh satu.
Sebuah kasus pembunuhan baru saja terjadi.
Namun, kasus kali ini bukan pembunuhan biasa.
Seorang pria bernama Adrian Mahendra, pengusaha ternama berusia empat puluh lima tahun, ditemukan tewas di dalam ruang kerjanya. Pintu ruangan terkunci dari dalam, jendela tertutup rapat, dan tidak ditemukan tanda-tanda seseorang memasuki ruangan tersebut secara paksa.
Yang lebih mengerikan, sebuah pisau tertancap tepat di dada korban.
"Bagaimana bisa seseorang membunuh korban di ruangan terkunci seperti ini?" tanya seorang polisi muda dengan wajah kebingungan.
"Entahlah. Kami sudah memeriksa seluruh ruangan, tetapi belum menemukan jalan masuk pelaku," jawab rekannya.
Di tengah kerumunan petugas, seorang perempuan muda berjalan mendekati lokasi kejadian. Rambut hitamnya diikat rapi, sementara kemeja putih dan celana panjang hitam yang dikenakannya membuat penampilannya terlihat sederhana tetapi profesional.
Namanya Arsenia Valendra.
Usianya baru dua puluh empat tahun, tetapi kemampuannya dalam mengungkap berbagai kasus kriminal telah membuat namanya dikenal di kepolisian.
"Detektif Arsenia sudah datang!" seru salah seorang petugas.
Arsenia hanya mengangguk kecil.
"Di mana korbannya?"
"Di dalam, Detektif."
Tanpa membuang waktu, Arsenia memasuki ruang kerja tersebut. Matanya langsung mengamati setiap sudut ruangan. Ia tidak terburu-buru menyentuh barang apa pun.
Di atas meja terdapat beberapa dokumen, sebuah gelas kopi yang belum habis, dan jam meja yang berhenti tepat pukul 21.15.
Arsenia berjongkok di samping jasad korban.
"Siapa yang pertama kali menemukan korban?" tanyanya.
"Sekretaris pribadi korban, namanya Dimas Pratama."
"Di mana dia sekarang?"
"Sedang dimintai keterangan di luar."
Arsenia kembali memperhatikan tubuh korban. Ada sesuatu yang membuatnya merasa janggal.
"Dokter forensik sudah memeriksa korban?"
"Belum sepenuhnya, tetapi perkiraan awal korban meninggal sekitar pukul sembilan malam."
Arsenia mengamati tangan kanan korban. Ada bekas tinta hitam pada jari telunjuknya.
"Ambil foto bagian ini. Jangan sampai ada yang menyentuhnya."
"Baik, Detektif."
Kemudian pandangannya beralih ke sebuah kertas kecil yang tergeletak di bawah meja.
Ia mengambilnya menggunakan sarung tangan.
Di atas kertas itu terdapat tulisan singkat.
JANGAN PERCAYA KEPADA ORANG TERDEKATMU.
Arsenia mengernyitkan dahi.
"Menarik sekali," gumamnya.
"Kenapa, Detektif?" tanya seorang polisi.
"Pembunuh ini sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Tetapi aku belum tahu kepada siapa pesan ini ditujukan."
Arsenia berdiri dan berjalan menuju pintu ruangan.
"Periksa semua rekaman CCTV gedung ini. Aku ingin mengetahui siapa saja yang datang dan pergi sejak sore tadi."
"Siap!"
-----------------------------------------------------
Beberapa menit kemudian, Arsenia menemui Dimas Pratama yang sedang duduk di ruang pemeriksaan.
Pria berusia tiga puluh tahun itu terlihat sangat gelisah. Kedua tangannya saling menggenggam, sementara keringat membasahi dahinya.
"Dimas Pratama?" tanya Arsenia.
"Iya, saya."
"Saya Arsenia Valendra. Saya ingin menanyakan beberapa hal mengenai kejadian malam ini."
Dimas mengangguk cepat.
"Kapan terakhir kali Anda melihat korban dalam keadaan hidup?"
"Sekitar pukul delapan lewat tiga puluh menit. Saat itu saya mengantarkan beberapa dokumen ke ruang kerjanya."
"Apakah ada orang lain di dalam ruangan?"
"Tidak ada. Hanya Pak Adrian."
"Apakah Anda mendengar sesuatu yang mencurigakan setelah meninggalkan ruangan?"
Dimas terdiam sebentar.
"Sebenarnya... saya mendengar suara benda jatuh sekitar pukul sembilan lewat sepuluh menit."
Arsenia langsung menatapnya.
"Kenapa Anda tidak menyampaikannya kepada petugas sebelumnya?"
"Saya takut disalahkan. Apalagi saya orang terakhir yang bertemu dengannya."
Arsenia mencatat sesuatu di buku kecilnya.
"Apakah korban memiliki musuh?"
Dimas tertawa hambar.
"Pak Adrian punya banyak musuh, Detektif. Beliau sering terlibat perselisihan dengan rekan bisnisnya."
"Siapa nama mereka?"
Dimas menyebutkan tiga nama.
"Rendra Wijaya, Kevin Mahardika, dan seorang perempuan bernama Clara Anindya."
Arsenia mengangkat wajahnya.
"Clara Anindya?"
"Iya. Dia mantan istri Pak Adrian."
Arsenia menutup buku catatannya.
"Baik. Untuk sementara Anda tidak boleh meninggalkan kota ini."
Dimas mengangguk.
Namun, sebelum Arsenia meninggalkan ruangan, pria itu tiba-tiba memanggilnya.
"Detektif..."
Arsenia menoleh.
"Ada apa?"
Dimas menatapnya dengan wajah pucat.
"Saya rasa... pembunuhnya bukan orang asing."
"Kenapa Anda berpikir begitu?"
Dimas menelan ludah.
"Karena sebelum meninggal, Pak Adrian pernah mengatakan bahwa seseorang dari masa lalunya akan kembali untuk menghancurkan hidupnya."
Arsenia terdiam beberapa detik.
"Terima kasih atas informasinya."
----------------------------------------------------
Pukul sebelas malam.
Arsenia kembali ke ruang kerjanya di kantor kepolisian. Di hadapannya terdapat beberapa foto tempat kejadian perkara, hasil pemeriksaan awal, serta daftar orang-orang yang memiliki hubungan dengan korban.
Ia mengambil secangkir kopi, lalu memperhatikan foto korban.
"Adrian Mahendra... siapa sebenarnya yang ingin membunuhmu?"
Tiba-tiba pintu ruangannya terbuka.
Seorang pria tinggi berusia dua puluh delapan tahun masuk sambil membawa sebuah map.
Namanya Rafael Adiwangsa, rekan kerja Arsenia yang sering membantunya menangani kasus-kasus rumit.
"Masih bekerja?" tanya Rafael.
"Seperti yang kamu lihat."
Rafael meletakkan map di atas meja.
"Aku sudah mendapatkan rekaman CCTV."
Arsenia langsung mengambil map tersebut.
"Bagus. Ada sesuatu yang mencurigakan?"
"Ada."
Rafael membuka beberapa lembar hasil cetakan rekaman.
"Pada pukul 20.47, seorang pria masuk ke lantai dua puluh satu. Wajahnya tertutup topi dan masker. Anehnya, dia tidak terlihat keluar dari gedung."
Arsenia memperhatikan gambar tersebut.
"Berarti dia masih berada di dalam gedung ketika korban ditemukan?"
"Itulah masalahnya. Kami sudah memeriksa seluruh lantai, tetapi tidak menemukannya."
Arsenia terdiam.
"Periksa semua akses menuju gedung. Lift barang, tangga darurat, bahkan jalur pemeliharaan."
"Baik."
Rafael hendak keluar, tetapi Arsenia kembali memanggilnya.
"Rafael."
"Ya?"
"Jangan sebarkan informasi mengenai pesan yang ditemukan di bawah meja korban."
Rafael mengangguk.
Setelah rekannya pergi, Arsenia kembali memandangi foto rekaman CCTV.
Entah mengapa, ia merasa pernah melihat postur tubuh pria tersebut.
Tetapi di mana?
-----------------------------------------------------
Keesokan paginya, sebuah kabar mengejutkan mengguncang kantor kepolisian.
Arsenia dipanggil oleh atasannya, Komisaris Darmawan.
"Silakan duduk, Arsenia."
Arsenia duduk di hadapan pria paruh baya tersebut.
"Ada apa, Pak?"
Komisaris Darmawan meletakkan sebuah map hitam di atas meja.
"Kamu harus melihat ini."
Arsenia membuka map tersebut.
Namun, baru beberapa detik melihat isinya, wajahnya langsung berubah.
Di dalam map terdapat foto dirinya.
Foto itu diambil ketika ia sedang memasuki gedung apartemen tempat Adrian Mahendra ditemukan tewas.
"Apa maksudnya ini?" tanyanya.
Komisaris Darmawan menarik napas panjang.
"Kami menemukan sidik jari milikmu pada pisau yang digunakan untuk membunuh Adrian Mahendra."
Arsenia membeku.
"Apa?"
"Selain itu, ada rekaman CCTV yang menunjukkan kamu memasuki gedung tersebut sebelum pembunuhan terjadi."
"Itu tidak mungkin! Saya baru datang setelah menerima laporan dari kantor!"
"Kami tahu kamu mengatakan demikian. Tetapi bukti yang ditemukan justru mengarah kepadamu."
Arsenia berdiri.
"Seseorang sedang menjebak saya."
Komisaris Darmawan menatapnya serius.
"Untuk sementara, kamu dinonaktifkan dari penyelidikan kasus ini sampai semuanya jelas."
Arsenia mengepalkan tangannya.
"Pak, saya tidak membunuh orang itu."
"Saya berharap kamu bisa membuktikannya."
Arsenia meninggalkan ruangan dengan pikiran kacau.
Seseorang telah merencanakan semuanya dengan sangat rapi.
Seseorang mengetahui identitasnya, mengetahui pekerjaannya, bahkan mampu membuat bukti yang dapat menghancurkan kariernya.
Tetapi siapa?
Saat berjalan melewati lorong kantor, ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Arsenia membuka pesan tersebut.
........................................................................................
PESAN DARI NOMOR TAK DIKENAL
Selamat pagi, Detektif Arsenia.
Kamu terlalu sibuk mencari pembunuh Adrian sampai lupa menjaga dirimu sendiri.
Jangan mencoba mencari tahu siapa aku.
Karena mulai hari ini, kamulah tersangka utama dalam permainan ini.
Dan permainan ini belum berakhir.
.........................................................................................
Arsenia membaca pesan itu berulang kali.
Kemudian sebuah foto masuk.
Foto tersebut memperlihatkan dirinya sedang duduk di ruang kerjanya malam sebelumnya.
Wajah Arsenia langsung menegang.
Seseorang telah mengawasinya.
Bukan hanya di lokasi pembunuhan, tetapi juga di kantor kepolisian.
Ia segera mengangkat kepala dan memandang sekeliling lorong.
Beberapa petugas berjalan seperti biasa. Tidak ada seorang pun yang terlihat mencurigakan.
Namun, dari kejauhan, seorang pria berpakaian hitam berdiri di dekat pintu keluar.
Pria itu menatap Arsenia selama beberapa detik.
Kemudian tersenyum tipis sebelum menghilang di balik pintu.
Arsenia segera berlari mengejarnya.
"Hei! Tunggu!"
Namun, ketika sampai di halaman gedung, pria itu sudah tidak terlihat.
Arsenia berhenti sambil mengatur napas.
Ponselnya kembali bergetar.
Satu pesan baru muncul.
"Satu kasus sudah dimulai, Arsenia. Mari kita lihat berapa lama seorang detektif jenius bisa bertahan ketika seluruh dunia menganggapnya sebagai pembunuh."
Arsenia menatap layar ponselnya dengan sorot mata tajam.
"Siapa pun kamu..." bisiknya.
"Aku akan menemukanmu."
Ia belum mengetahui bahwa pesan tersebut hanyalah awal dari rangkaian kejadian mengerikan yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Dan lebih buruk lagi, nama Arsenia Valendra ternyata sudah lama tercatat dalam sebuah berkas rahasia yang seharusnya tidak pernah ditemukan siapa pun.
BERSAMBUNG
Daftar bab
1 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Volume 1 · Volume 1
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.








